Sita sekarang mulai mengawasi pergarakan suaminya, namun ia masih bersikab biasa saja.Jijik, itulah yang ia rasakan setiap kali mengigat percakapan suaminya dengan Tarno.
"Ya Tuhan, apa sebenarnya kurangku dimatamu Mas.Hingga kau menjadi belok seperti ini" batin Sita.
Sementara itu Doni, bulan ini dapat bonus banyak ia berencana mengajak adek dan Ibunya untuk berbelanja,ia juga mengajak Sita namun Sita menolaknya.Awalnya Mamanya tidak setuju untuk diajak jalan-jalan dan berbelanja dengan Doni dengan dalih, lebih baik uang itu ditabungkan untuk keperluan yang lain.
Tujuan pertama mereka adalah berbelanja di mall dan sekaligus mrngajak makan disana.Sesampainya di sana Doni meminta Mama dan adeknya membeli baju apa yang mereka inginkan.
"Mama kok, nggak ambil baju?, kenapa takut kurang uangnya?, tenang Ma, bulan ini Doni dapat bonus banyak kalau hanya buat beli baju aja masih sisa banyak Ma" bujuk Doni pada Mamanya agar mau membeli baju, ia kasian pada Mamanya baju hanya itu dan itu aja.
"Baju Mama masih banyak, biar Amel saja yang beli baju"
"Amel juga beli, tapi Mama juga harus beli. Mau ya Ma, sekali-kali nyenengin Doni gitu loh Ma"
"Kamu dan anak-anak Mama yang lain selalu bisa nyenenging Mama jangan khawatir itu"
"Beda Ma, ini Doni yang mau bikin Mama seneng"
"Kamu sudah bisa bikin Mama senang dan bangga, kamu bisa mandiri kuliah sambil kerja bahkan kamu bisa bantu-bantu Ibu membiayai adekmu" ucap Mamanya Doni.
Saat sedang asyik berdebat untuk menyenangkan sang Mama, ada sepasang mata yang tidak suka melihat hal itu, Siapa lagi kalau bukan Ibunya Hendra.Hatinya mendadak panas melihat keluarga Sita sedang asyik berbelanja sebelumnya ia juga melihat mereka makan di Mall itu juga.
"Wah....wah, besan, rupanya anda disini ngabisin uang menantu dan anak anda untuk bersenang-senang" ucap Ibunya Hendra.
"Apa maksud bu Wiwik?"
"Apa maksudnya?, orang bodoh aja tau kalau mertua dan adek ipar anak saya lagi sibuk ngabisin uang anak saya, nggak malu bu? Nggak bantuin bayar biaya sekolah kok nikmatin hasilnya" cecar Wiwik Ibunya Hendra.
"Cukup!, dari tadi saya diam saja, Saya pikir Ibu tidak akan sejauh ini memfitnah kami.Asal Ibu tau kami bukan keluarga Ibu yang menjadi benalu bagi anak dan menantunya. Satu jari anda mengarah pada kami dan empat jari anda mengarah pada diri anda sendiri. Camkan itu!" hardik Doni yang merasa kesal dengan sikab mertua Sita.
"Hallah sok-sokan, bukti udah jelas didepan mata masih aja mau ngelak.Dasar nggak tau malu!" maki Ibunya Hendra.
"Ibu yang nggak tau malu, harus ya saya bongkar kebobrokan Ibu dan keluarga disini.Tiap bulan minta jatah dari anaknya gaji yang harusnya untuk biaya makan anaknya malah diembat sendiri tanpa dosa, lebih parahnya lagi pakai uang kami tapi tak mau mengembalikan"
Wiwik terdiam, ia bagaikan tertampar cukup keras dari ucapan Doni.Banyak pasang mata yang melihat kejadian itu.Tak sedikit yang mencibir kelakuan mertua Sita yang sangaf keterlaluan itu.
"Ayo Ma, kita pergi disini.Kita harus menjaga kewarasan kita sendiri.Kita belanja ditempat lain saja, Tenang saja bonus gaji Doni lebih dari cukup" ucap Doni sengaja mengeraskan suaranya.
"Pergi sana!, aku sumpahi hidupmu nggak berkah, karena menghabiskan uang anakku yang PNS' maki Wiwik.
Doni hendak berbalik namun, Mamanya melarang dan mengandengnya pergi meninggalkan tempat itu.
"Sudah jangan diladeni, biarkan saja nanti juga capek sendiri" ucap Mamanya Doni
"Tapi Ma, perempuan kaya gitu kalau nggak dikasih pelajaran, semakin menginjak-injak kita"
"Mama tidak mengajarimu berani pada orang tua, walau bagaimanapun dia orang tua dan dia juga mertua kakakmu" Nasehat Mamanya Doni
"Andai, tidak ada Mama pasti sudah kusumpal mulut perempuan tua itu" batin Doni
Setelah itu Doni, Amel dan Mamanya langsung pergi dari tempat itu.Sedangkan Wiwik tampak kesal, ia merasa dipermalukan oleh Doni.Ia langsung laporan pada Rini. Mendapat lapiran dari Ibunya bukanya menasehati malah tambah mengompori Ibunya dan langsung menghubungi Sita untuk memaki-maki Sita.
Sita yang baru pulang dari Kantor langsung diteror oleh Rini, sumpah serapah, caci maki keluar dari mulut adek Iparnya itu.
"Hufttttt" Sita mengehela nafas
"Kenapa?, sepertinya berat banget" tanya Rizal yang kebetulan bertemu Sita di indo april sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari.Rizal adalah laki-laki yang sederhana meskipun ia kaya raya, namun ia lebih memilih frofesi sebagai seorang PNS padahal orang tuanya punya usaha yang banyak. Ia juga sangat menyayangi Mamanya, tak jarang ia disuruh belanja kebutuhan Mamanya di indo April.
"Enggak, Aku cuma cape aja Zal" ucap Sita yang semakin pusing dengan suami dan Keluarganya.
"Duduk dulu, ini juga masih hujan sembari nunggu hujan reda.Ini kopi buat kamu"
"Ok, makasih!, Zal. Boleh aku nanya sesuatu Zal"
"Boleh, kamu mau nanya apa?"
"Emmm....ini masalah temenku sih, kemarin dia tanya sama aku kalau suaminya itu selingkuh tapi selingkuh dengan sesama jenis gitu, menurutmu apa yang harus ia lakukan?" tanya Sita
"Emh...gimana ya Ta, agak rumit juga masalah temen kamu itu. Apa temen kamu itu sudah yakin kalau suaminya itu selingkuh dengan sesama jenis gitu, atau apa dia sudah pernah memergoki sendiri suaminya dengan pasangan gaynya itu?"
"Belum sih, cuma dia pernah baca Chat suaminya dengan sesama laki-laki mesra banget"
"Gini ya Sit, bisa saja temen suami kamu itu bukan penyuka sesama jenis, tapi dia sengaja menganti nama pacarnya dengan nama laki-laki agar ketika dia melakukan pangilan maka yang muncul nama laki-laki" ucap Rizal
"Begitu ya,?"
"Iya, sebaiknya temen kamu itu suruh selidiki terlebih dahulu, gali informasi lebih dalam agar tau apa yang sebenarnya terjadi"
"Iya deh, nanti aku kasih tau dia. Thanks ya saranya.Aku pulang dulu hujannya juga sudah reda, makasih sudah nemeni aku dan traktir kopi"
"Sama-sama, hati-hati ya!, maaf nggak bisa ngantar takut suamimu salah faham lagi kayak dulu" ucap Rizal.
"Iya, aku pergi dulu" pamit Ayu. Lalu ia menyalakan mesin motor maticnya ia mengemudikan dengan kecepatan sedang.Sampai dirumah ia sudah di hadang Hendra dengan tatapan horornya.
"Dari mana saja kamu?, jam segini baru pulang"
"Tadi habis pulang kerja langsung belanja, dan tiba-tiba hujan aku nggak bawa jas hujan jadi nunggu hujan reda dulu"
"Setidaknya kabari aku dulu, biar aku nggak cemas, hp kamu juga mati"
"Iya tadi kehabisan daya" ucap Sita singkat. Lalu ia menata belanjaanya di kulkas setelah itu dia mandi dan menyiapkan makan malam.setelah semuanya selesai dari tadi ia memperhatikan Hendra tidak pernah melepaskan ponselnya. Ia terus saja bermain ponsel.
Tbc
Jangan lupa like comment dan favorite ya men temen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments