Hari terus berlalu, Amel sudah diijinkan pulang dari rumah sakit. Uang yang dijanjikan Hendra sama sekali tidak ada, Sita benar-benar tidak enak pada Erwin.Hari ini Sita meeting diluar bersama Erwin disebuah restouran mewah.Ketika ditengah-tengah meeting Clien Erwin ijin ketoilet praktis disitu hanya ada Sita dan Erwin. Mendadak Istri Erwin datang dan langsung menampar Sita.
"Plak!"
"Mama!, apa yang kamu lakukan?" tanya Erwin yang kaget melihat Sita yang ditampar oleh istrinya.
"Ohhh...bagus ya pah, Papah lebih membela ****** ini" ucap Istri Erwin mengelegar sehingga semua orang menoleh kearah mereka.
"Sudah berapa kali, kamu tidur dengan suami saya?" tuduh Istrinya Erwin
"Maksud Ibu apa ya?"
"Kamu nggak usah belagak pilon, kamu kan yang namanya Sita?"
"Iya saya Sita"
"Bagus kamu ngaku, berapakali kamu tidur dengan suami saya hingga suami saya mau merogoh uang sampai seratus juta buat kamu, pake gaya apa kamu ******?" ucapnya lantang.
Sita menangis mendengar tuduhan Istrinya Erwin.
"Mama!, kamu ini apa-apaan?, Sita perempuan baik-baik. Kami disini lagi meeting kenapa kamu kacaukan, dan satu lagi, itu uang Papa pinjamkan untuk adeknya Sita yang kecelakaan"
"Bulshit, maling mana ada yang ngaku, hari ini dengan mata kepala saya sendiri menagkap basah kalian berdua sedang berkencan disini!" sewot Istrinya Sita.
"Mama!, cukup kita selesaikan dirumah. Sekarang Mama pulang!" usir Erwin
"Ibu Erwin uang terhormat, saya jelaskan pada anda bahwa saya hanya pinjam itupun terpaksa, dan saya juga bukan ****** seperti yang Ibu tuduhkan pada saya.jaga mulut anda!, dan untuk uang itu jangan khawatir secepatnya uang itu akan saya kembalikan!" ucap Sita lalu pergi dari tempat itu hatinya terlanjur sakit. Ia tidak melanjutkan meetingnya moodnya benar-benar berantakan.
Tak lama kemudian Clien Erwin kembali dari toilet, ia melihat di meja tempat ia makan siang sekaligus meeting tampak berantakan.Ia juga tidak melihat keberadaan Sita.
"Dimana Ibu Sita pak Erwin?, dan ini siapa kenapa tempat meeting kita berantakan?" tanya Clien Erwin.
Seketika muka Istri Erwin memucat, ia telah salah sangka ia mengira Erwin tengah berkencan dengan Sita.
"Maafkan saya Pak Aldy, Sita pulang terlebih dahulu mendadak keluarganya ada yang sakit" ucap Erwin menutupi keadaan.
"Kita batalkan saja kontrak ini, saya rasa tidak ada keseriusan dari pihak perusahaan Bapak" ucap Pak Aldy
"Pak jangan begitu pak, kita bisa bicarakan lagi" ucap Erwin yang tidak mau kehilangan kontrak kerjasama dengan Aldy ia bisa rugi banyak.
"Lihatlah meja tempat kita meeting!, seperti kapal pecah.Bu Sita juga pergi dan tiba-tiba muncul perempuan ini. Hal ini sudah dapat saya simpulkan bahwa anda tidak profesional, jadi saya minta maaf kontrak terpaksa saya batalkan" ucap Aldy lalu melangkah meninggalkan restouran itu tanpa melihat lagi kebelakang.Erwin yang mengemis-ngemis agar jangan dibatalkan kontraknya tidak digubrisnya sama sekali.
"Sekarang kamu puas?, Perusahaan rugi milyaran karena ulahmu?"
"Kok Papa jadi nyalahin Mama? Salahin selingkuhan Papa itu dong"
"Sekarang kamu ikut aku, agar kamu tau kemana uang itu dan setelah itu kamu akan aku pulangkan kerumah orang tuamu agar kamu bisa merenungi kesalahamu!" ucap Erwin lalu membawa Istrinya pada mertuanya dan menjelaskan semua yang telah istrinya lakukan, Mertuanya juga tau kalau Erwin meminjami uang Sita untuk biaya operasi adeknya karena saat itu Erwin sedang menjenguknya dan dokter sudah mengijinkan mertuanya pulang saat ia hendak pulang bersama mertuanya ia melihat Sita sedang menangis.
"Maafkan aku Mas, sudah salah sangka. Hiks...hikss"
"Kamu tau, akibat perbutan kamu bukan hanya perusahaan saja yang yang rugi, Sita juga menahan malu karena kamu permalukan dia didepan umum, sekarang kamu dirumah Papa dulu agar kamu bisa merenungi semuanya" ucap Erwin.
"Maafkan aku mas, aku janji tak akan mengulanginya lagi"
"Kamu pikir aku percaya, ini bukan kali pertama kamu bersikab seperti ini. Dan kali ini kamu benar-benar sudah keterlaluan!, kamu disini dulu sampai aku bisa melihat kau berubah kalau tidak entah bagaimana nasib rumah tangga kita" ucap Erwin. Ia langsung melangkah pergi meninggalkan istrinya yang masoh terisak.
•••••
Sementara itu setalah Sita sampai dirumah ia langsung menumpahkan kekesalanya dengan menangis. setelah ia puas menangis, ia berfikir harus menghuhungi Rini karena kalau di bicara dengan mertuanya dan Suaminya yang ada mereka malah ribut uang tidak didapat ia malah tambah stres.
"Hallo Rin," terdengar Sita menghubungi Rini
"Iya mbak, ada apa?"sahut Rini disebarang sana
"Rin, tolong kembalikan uang Mamaku saat ini mbak benar-benar butuh" ucap Sita.
"Mbak Sita, Rini belum ada uang. Lagian Mbak Sita pelit banget jadi orang, uang itu nggak seberapa yah dibanding dengan apa yang mbak Sita dapatkan dari mas Hendra selama ini" sahut Rini membuat Sita naik pitam, kepalanya sudah mau pecah gara-gara dilabrak istrinya Erwin malah sekarang Rini bukanya meringankan bebanya malah berkata seperti itu.
"Apa maksug kamu Rin?" tanya Sita emosi
"Apa maksutnya, Mbak Sita masih nanya?, mbak selama ini numpang hidup enak dirumah kakakku, hidup bergelimang harta tanpa susah payah"
"Jaga mulut kamu ya, siapa yang numpang sama kakak kamu, asal kamu tau selama ini aku yang biayain hidup kakakmu, uang kakakmu dikasih ke Ibu semua bahkan bensin kakakmu aku yang tanggung paham kamu" ucap Sita emosi
"Hallah Mbak Sita nggak usah ngelak, semua orang tau kalau kakaku itu seorang PNS sedangkan kakak cuma pegawai rendahan" ucap Rini meremehkan Sita.
"Sita kamu denger ya, kalau ini yang ngomong Ibu aku masih maklum karena ia sudah tua, tapi ini kamu yang ngomong, sebenarnya kamu pake otak nggak sih kalau ngomong kamu tau gaji PNS itu berapa? Ok kalau kamu nggak tau ini kamu lihat mbak kirimin daftar gaji PNS lengkap berdasarkan golonganya dan satu lagi ini slip gaji kakakmu, dari situ kamu bisa lihat berapa gaji kakakmu berapa yang dikasih Ibu, dari situ kamu bisa berpikir apakah aku selama ini hanya benalu seperti katamu dan Ibu" ucap Sita mengebu hilang sudah kesabaranya.
Kemudia ia mengirim daftar gaji PNS beserta tunjanganya, ia juga mengirim cicilan rumahnya.
"Pikir pake otak kamu sebelum kamu selalu bilang kalau aku benalu" ucap sita yang kadung Emosi.
Rini yang membaca daftar gaji yang dikirim Sita. Ia terdiam tapi bukan Rini namanya kalau tidak cari masalah baru ia langsung menghubungi Ibunya dan menceritakan apa yang baru saja alami tentu saja dengan versinya.Ibunya Hendra geram.
Tbc...
Jangan lupa like comment fan favorite ya men temen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments