Sita yang sudah berada dirumah Mamanya tak menceritakan masalah yang dialaminya. Ia tak ingin Mamanya sedih, namun sebagai seorang yang melahirkanya tentu saja Mamanya Sita tau gelagat anaknya, namun ia tak mau ikut campur masalah rumah tangga anaknya.Ia juga tidak menanyakan ada masalah apa dengan anaknya.
"Sita, Sepertinya suamimu sudah datang untuk menjemputmu" ucap Mamanya Sita ketika mendengar suara motor parkir dihalaman rumahnya yang tak seberapa.Sebenarnya ia malas kembali lagi kerumah mertuanya yang ada hanya bikin darah tinggi. Karena tidak mau membebani pikiran Mamanya terpaksa Sita ikut pulang kembali ke kandang macan, kembali ke realita.
"Assalamualaikum Ma," Pamit Hendri lalu ia mencium takjim tangan mertuanya saat Hendak pulang membawa Sita. Hendri memang sangat menghormati Mamanya Sita.
Sepanjang perjalanan Sita hanya diam. Rasanya ingin protes, tapi nantinya suaminya juga tidak mau mendengarkanya.
"Rumah kok kayanya rame banget, siapa yang datang?" tanya Sita
"Paling Kak Rini dan anak-anaknya, mereka kangen sama Ibu kali dan kemungkinan menginap di sini" kata Hendra.
Dengan Malas Sita masuk kedalam rumah, ia masih ingat betul pada waktu ia keluar rumah, suasana rumah masih bersih dan tertata rapi berbanding terbalik dengan situasi saat ini padahal hanya beberapa jam ia singgah dirumah Mamanya rumah bak Kapal pecah.Bantal sofa berceceran dimana-mana, bekas air minum tumpah membajiri lantai, bekas snack bertebaran dimana-mana.Terdengar dari ruang tengah suara sedang tertawa sambil menonton TV. Sita terus melangkah keruang tengah suasana tak jauh beda plastik snack, roti dan kacang bertebaran dimana-mana dan bisa-bisanya mereka tertawa dan selonjoran santai melihat semua kekacauan ini.
"Astagfirullahhaladzim, ini rumah apa kapal pecah?"
"Sita, biasa aja kale! Ini rumah-rumah Ibuku sendiri mau ngapain juga bebas, dan kamu sebagai menantu yang numpang udah kewajiban kamu dong bersihin ini semua" ucap Rini Kakak Ipar Sita
"Mbak, memang benar ini rumah Ibu, tapi tolong dong ngertiin dikit, itukan ada tempat sampah, apa susahnya sih buanh sampah di tempat sampah? Aku juga cape mbak, tolong ngertiin dikit" ucap Sita
"Banyakan ngomong kamu!, dasar menantu nggak berguna, habis keluyuran pulang-pulang langsung ngoceh" maki Ibunya Hendra
"Maaf ya bu, saya bukan babu disini. Dan untuk kebutuhan sehari-hari" belum sempat Sita meneruskan ucapanya sudah dipotong oleh Hendra.
"Kak, tolong dong kerja samanya! Apa susahnya buang sampah" ucap Hendra.
Sita sudah nggak peduli lagi ia langsung masuk dapur, tengorakanya terasa kering. Begitu sampai di dapur alangkah terkejutnya dia piring, gelas numpuk diatas wastafel.
"Ya Tuhan!, ini apalagi?"
Sita berjalan ke dalam kamarnya dengan perasaan jengkel.
"Sita!, mau kemana kamu?, itu cucian piring segunung sebelum tidur beresin dulu!" perintah Ibunya
"Maaf bu, bukanya Ibu sendiri yang bilang tidak suka barang berantakan, kenapa setelah makan piringnya nggak dicuci?"
"Ohh...kamu berani nyuruh Ibu nyuci piring?" ucap Rini sambil melotot
"Hendra!, lihat kelakuan istri kamu! Bisa-bisanya dia nyuruh Ibu nyuci piring, dasar menantu nggak tau diri udah numpang, makan gratisan, cuma suruh bersih-bersih aja malas" ucap Rini
"Cukup ya Rin!, yang makan siapa? Kenapa harus saya yang bersihin?, dan soal numpang, iya saya memang numpang karena ikut suami dan untuk biaya hidup sehari-hari saya nggak pernah gratisan disini"
"Cukup!, diam kalian semua, apa nggak cape setiap hati ribut, dan kamu Rini. Disini nggak ada pembantu tolong sehabis makan bersihin" ucap Hendra.
Langsung menarik tangan istrinya ke kamar.
"Ya begitu kalau punya istri cantik, nggak bisa ngapa-ngapain selain dandan" ucap Rini sok tau
Sementara itu di dalam kamar Sita menangis, ia benar-benar nggak tahan dengan kelakuan mertua dan Kakak iparnya.
"Mas, aku dah nggak kuat tinggal sama Ibu, selalu saja dihina. Dibilang numpanglah, nggak modal lah, padahal mas tau sendiri seluruh kebutuhan rumah ini aku yang tanggung, apa susahnya mas jujur sama mereka.Aku nggak ingin jumawa cuma aku capek direndahin terus"
"Sekarang kamu maunya apa?" tanya Hendri
"Kita pindah dari rumah ini atau mas jujur tentang keuangan kita, tentang gaji Mas, sehingga mereka nggak nuduh aku yang ngabisin uang kamu, aku cape mas!, ok Fine aku nggak masalh bertaun-taun nangung biaya hidup rumah ini tapi aku juga manusia biasa yang punya batas kesabaran, yang selalu saja dihina dibilang benalu, faktanya aku yang nangung biaya hidup kalian sementara gaji kamu seratus persen kamu kasih ke Ibu hanya untuk keperluan Ibu sendiri"
"Kamu yang sabar dong, bagaimanapun juga dia Ibuku"
"Sampai kapan mas?, sedangkan kamu tau aku dihina, dicerca setiap saat kamu hanya diam saja, aku punya perasaan mas, kalau mas nggak mau nggak masalah aku bisa pulang ke rumah Ibu selamanya kalau terus-terusan di sini jiwaku bisa sakit"
"Jangan gitu dong sayang, ok aku pilih opsi pertama yaitu kita pindah rumah, tapi masalahnya aku juga nggak punya uang untuk beli rumah"
"Soal itu, kita bisa beli KPR biar kita nyicil"
"Tapi sayang aku nggak bisa bantu"
"Sudah ku tebak mas" Jawab Sita lemah
"Biar aku yang cicil, asal aku bisa pindah dari rumah ini".
"Ok, kalau begitu kapan kita mau cari?"
"Besuk, aku nggak mau lama-lama" ucap Sita
"Heeehhh" Hendra menghela nafas kasar, saat ini ia berada pada posisi sulit antara Ibu dan istrinya.Ia tidak bisa jujur soal penghasilan karena takut Ibunya kecewa, karena Ibunya selalu koar-koar ketetangga kalau gaji dia sebagai seorang PNS sangat banyak semua yang dibeli hasil kerja dia, padahal kenyataanya semua yang mereka beli di beli pakai uang Sita.
"Besuk aku tidak lembur, aku kan pulang cepat kita langsung ketemuan di rumah yang mau kita beli, maksutnya kita kredit" ucap Sita.Hendra hanya mengangguk menanggapi ucapan istrinya.
Sesuai dengan kesepakatan Hendra dan Sita, mereka akhirnya sepakat mencari rumah yang akan mereka tinggali, sampai malam mereka baru pulang. Sampai dirumah Sita langsung mendapat tatapan sinis dari mertuanya.
"Bagus ya, jam segini baru pulang.Udah kenyang kalian makan-makan diluar, kaya banyak duit aja pakai acara makan-makan"
"Bu, kami tidak makan-makan tadi kami ada sedikit kepentingan" ucap Hendra hati-hati
"Kepentingan apa?, diajak istri foya-foya ngabisin uang kamu?" tuduh Ibunya Hendra.
"Bu, bisa nggak tanya baik-baik kami baru aja pulang.Biarkan kami istirahat dulu" jawab Sita
"Diem kamu!, aku nggak ngomong sama kamu benalu tidak tau diri, bisanya cuma ngabisin uang lakinya aja, makan-makan nggak ingat orang tua. Ibu doain kalian sakit perut"
"Astagfirullah, istigfar Bu!" ucap Sita karena Hendra hanya diam saja
Tbc
Jangan lupa like comment dan favorite ya
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Four Lovely
suaminya lemah
2025-02-27
0