Makan malam bertiga

Hari ini Sita seharian dirumah, ia memasak makanan kesukaan Hendra.Sampai sore hari Hendra belum kelihatan batang hidungnya.Ponselnya juga dimatikan.

Sementara itu Hendra sepulang dari mengajar ia pergi ke toko baju, ia hendak membelikan baju untuk Desy karena selama ini Desy sudah banyak membantu dia.Tanpa sengaja Hendra bertemu dengan Doni.

"Ngapain kak ke toko baju perempuan?, mau bujuk mbak Sita biar nggak ngambek karena sudah kamu tuduh selingkuh?" sindir Doni.

"Diamlah Don!, jangan ikut campur!, ini urusan rumah tanggaku" ucap Hendra yang kesal dengan Doni.

"Terserah, tapi ingat Mas! Aku orang pertama yang akan mencarimu bila mbak Sita tersakiti" ucap Doni memberi peringatan pada Hendra. Lalu meninggalkan Hendra begitu saja.Hendra sedikit bergidik ngeri mendengar ancaman Doni, pasalnya ia tau persis siapa Doni.Laki-laki itu jika sudah marah akan gelap mata.

"Ah...peduli amat dengan Doni, ini kayanya pas dengan tubuh Desy, aku beli ini saja" guman Hendra.Kemudian ia membayar ke kasir, setelah itu ia pergi kerumah Desy untuk memberikan baju itu padanya sebagai ucapan terima kasih. Tak lama setelah itu ia langsung pulang. Sampai dirumah ia sudah melihat berbagai makanan kesukaanya sudah tersaji di meja makan.Jujur ia sangat lapar tapi gengsinya mengalahkan segalanya.

"Mas, ada yang ingin aku bicarakan" ucap Sita

"Nggak perlu!, bukanya sudah jelas aku masih marah sama kamu atas perselingkuhanmu"

"Berapa kali aku harus bilang kalau aku tidak selingkuh"

"Kamu kira aku percaya?, mana ada pertemanan laki-laki dan perempuan. Disana pasti ada setan yang nyempil" oceh Hendra.

"Ok, terserah kamu mau mendiamkan aku, atau memulangkan, tapi tolong lihat dulu Video rekaman CCTV ini dari situ kamu bisa lihat apa gang sebenarnya terjadi?" ucap lalu menyodorkan rekaman CCTV yang sudah diretas Doni.Hendra terdiam sesaat lamanya, rupanya ia hanya salah paham, Sita tidak pernah selingkuh seperti apa yang ia pikirkan. Kecemburuanya membuatnya buta, ia hafal betul watak Sita tidak mungkin menyelingkuhinya ia hanya ketakutan sendiri, Sita melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan dengan Desy.

"Maafkan aku Sita, aku terlalu cemburu padamu karena aku tidak ingin kau dekat dengan laki-laki manapun. Hatiku sangat panas saat melihat kau dibonceng oleh temanmu itu"

"Makanya lain kali dengerin penjelasanku dulu, aku jadi nggak enak sama Rizal, kamu main pukul aja" ucap Sita

"Asal kamu tau Rizal itu yang udah membeli rumah kita, udah bagus dia nggak ngusir kita karena kita masih tinggal di sini, eh malah Mas main hajar aja" lanjutnya.

"Maafkan aku Sita, aku sungguh menyesal" ucap Hendra benar-benar menyesal, karena pikiranya yang sempit bukanya mendengarkan penjelasan dari istrinya, ia malah lari ketempat Desy untuk curhat yang akhirnya kebablasan.

Hendra sudah bertekat ingin memperbaiki hubungannya dengan Sita. ia akan menjaga jarak dengan Desy demi keutuhan rumah tangganya. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.Rini adeknya sudah mengetahui perselingkuhanya dan ia juga mengantongi bukti.

"Sayang maafin aku, sebagai permintaan maafku bagaimana kalau malam ini kita makan diluar?, biar aku yang traktir" ucap Hendra yang sudah bulat untuk memperbaiki rumah tangganya.

"Tumben?"

"Ya, sekali-kali nggak apa-apa Yang" ucap Hendra

"Yakin, nanti aku nggak dilabrak Ibu?" tanya Sita memastikan

"Aku jamin 1000%, nggak akan"

"Memangya kita mau makan malam dimana?" tanya Sita

"Di angkringan mang engking, disana rame banget sanyang"

"Ok, aku siap-siap dulu" ucap Sita.

Sita memang mudah banget memaafkan seseorang, ia sudah melupakan tindakan Hendra beberapa hari yang lalu.Kini keduanya tiba di angkringan yang dimaksud Hendra.Hendra memesan makanan, sementara itu Sita menunggu sambil memainkan ponselnya. Saat sedang asyik makan tiba-tiba Sita melihat Desy.

"Mas, itu bukanya temanmu ya namanya bu Desy atau siapa aku lupa?"

"Mana?"

"Itu!" ucap Sita sambil menunjuk kearah Desy, jantung Hendra berdetak dua kali lebih cepat ia belum sanggup mempertemukan Desy dan Sita di satu tempat yang sama.

"Bu Desy, mari sini gabung sama kita" Sita malah memanggil Desy.Hal itu membuat Hendra kaget.

"Uhuk..." Hendra tersedak

"Mas, kamu kenapa?" tanya sita.

"Bu Desy, lagi sibuk biarin aja dia!, kita nggak usah ganggu dia" ucap Hendra.

"Saya lagi free kok Pak Hendra" ucap Desy yang membuat mata Hendra membulat sempurna

"Ah kamu Yang, bu Desy nggak sibuk kok dibilang sibuk" ucap Sita

"Glek" Susah payah Hendra menelan ludah, berada disatu tempat dengan Sita dan Desy membuat jantungnya tidak aman.

Tanpa malu-malu Desy langsung ikut gabung dengan Sita dan Hendra.

Suasana jadi canggung seketika.

"Kalian kok diem aja, bukanya kalian satu kantor ya?, kok kaya ketemu orang asing gitu sih?" tanya Sita.

Hendra benar-benar mati kutu dalam suasana ini. Sementara itu Desy tanpa rasa canggung dia langsung sok berakrab ria dengan Sita.

"Bu Desy, Suaminya kerja dimana?" tanya Sita mencairkan keadaan

"Jangan panggil saya Bu, panggil Desy saja agar lebih akrab" ucap Desy

"Baiklah, aku panggil mbak Desy aja ya, sepertinya usia saya dibawah mbak Desy"

"Begitu juga lebih baik" ucap Desy

"Tadi tanya apa?"

"Suami mbak Desy kerja dimana?"

"Suami saya seorang pelayar"

"Wah jarang ketemu dong, LDR ceritanya. Kalau kangen gimana? Apa nggak kesepian tinggal sendirian?" tanya Sita

"Uhuk..." mendengar pertanyaan Sita kembali Hendra tersedak.

"Kamu ini kenapa sih mas?, dari tadi kesedak melulu"

"Nggak apa-apa" ucap Hendra setenang mungkin

"Saya malah, nggak pernah merasa kesepian Sit," ucap Desy tanpa dosa.Ia langsung dapat hadiah pelototan dari Hendra.

"Kok, bisa?"

"Sayang, aku udah kenyang ayo kita pulang" Hendra memutuskan untuk membawa Sita menjauh dari Desy.Berada dalam satu meja bersama Desy dan Sita membuat jantung Hendra tidak aman.

"Mas ini, kenapa sih?, aku masih pingin ngobrol sama mbak Desy.Sepertinya orangnya asik"

"Ah...Sita bisa aja, memang bener sih, ada yang ngomong kaya kamu gini katanya aku membuat nyaman bila diajak ngobrol, kamu orang kedua yang ngomong begitu" ucap Desy

"Sialan!, bisa-bisanya dia bicara seperti itu" batin Hendra merutuki ucapan Desy.

"Oh ya, siapa mbak dia?" tanya Sita penasaran.

"Ayo kita pulang sayang" ucap Hendra seraya menarik tangan Sita.

"Mas, ini kenapa sih?"

"Hend, kamu kok buru-buru banget kayak nggak nyaman gitu, ada apa sih" ucap Desy memperkeruh suasana hati Hendra

"Mbak aku pulang duluan ya, Paksu dari tadi gelisah terus, mungkin dia mau BAB" canda Sita

"Sita, apa kamu masih bisa bercanda seperti itu kalau kamu tau, dia sudah berbagi peluh denganku" batin Desy

Tbc

Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen

Episodes
1 Seatap dengan Mertua
2 Wacana pindah rumah
3 Pindah Rumah
4 Temen Curhat
5 Semakin nyaman
6 Sita sakit
7 Amel kecelakaan
8 Solusi sementara
9 Sita dilabrak
10 Lari dari masalah
11 Makin kacau
12 Skandal
13 Dilabrak mertua
14 Rizal
15 Makan malam bertiga
16 Huru hara
17 Makin terjerumus
18 Amel minta Dres
19 Tarno
20 Mulai curiga
21 Mulai menyelidiki Hendra
22 Waspada
23 Pengakuan
24 Dihadang Istri Erwin
25 Terbakar api cemburu
26 Rencana promil
27 Desy Hamil
28 Masalah baru
29 Kembali berulah
30 Tak dapat mengelak lagi
31 Memanas
32 Desy
33 Masih tentang Desy
34 Kena batunya
35 Pisah rumah
36 Rencana bercerai
37 Suami Desy pulang
38 Wali murid berdemo
39 Surat panggilan dari pengadilan agama
40 Sidang perdana
41 Sidang putusan
42 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43 Banting stir
44 Susah move on (Sumo)
45 Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46 Desy menikah dengan Hendra
47 Demo warga
48 Sita makin bersinar
49 Diambang batas
50 Terhalang restu
51 Masih belum dapat restu
52 Bertemu Alien
53 Lamaran untuk Amel
54 Keributan dipagi hari
55 Masih harus bersabar
56 Mamanya Sita kecelakaan
57 Kondisi Mamanya Sita membaik
58 Kejadian tak terduga
59 H-3
60 Sah
61 Sita Hamil
62 Dipermalukan
63 Ultimatum
64 Desy melahirkan
65 Fakta yang mengejutkan
66 Rendra putra kandung Yoga
67 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68 Cauvade sydrome
69 Tak terima
70 Diluar Nurul
71 Pelajaran berharga
72 Drama belum berakir
73 Terusir dari rumah
74 Nasib Hendra
75 Rini
76 Madu yang pahit
77 Kejutan ulang tahun
78 Masih tentang mantan
79 Wina mengamuk
80 Adu bogem mentah
81 Lupakan aku
82 Rini meminta maaf pada Sita
83 Semprawut
84 Pasrah
85 Marahan
86 Drama yang tak berujung
87 Aksi nekat Hendra
88 Tragis
89 Mulai menata diri
90 Situasi yang tidak kondusif
91 Memanas
92 Meminta untuk berpisah
93 Simalakama
94 Meminta waktu
95 Keputusan akhir
96 Aksi Wina
97 Adu domba
98 Rini di Demo
99 Hanya demi anak
100 Didatangi dept collector
101 Santet
102 Tidak puas
103 Pengobatan
104 Undangan pesta anggota DPR
105 Panik
106 Tragis
107 Boni di tahan
108 Rini kecelakaan
109 Cinta buta
110 Penangkapan Boni
111 Drama tak kunjung usai
112 Ending
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Seatap dengan Mertua
2
Wacana pindah rumah
3
Pindah Rumah
4
Temen Curhat
5
Semakin nyaman
6
Sita sakit
7
Amel kecelakaan
8
Solusi sementara
9
Sita dilabrak
10
Lari dari masalah
11
Makin kacau
12
Skandal
13
Dilabrak mertua
14
Rizal
15
Makan malam bertiga
16
Huru hara
17
Makin terjerumus
18
Amel minta Dres
19
Tarno
20
Mulai curiga
21
Mulai menyelidiki Hendra
22
Waspada
23
Pengakuan
24
Dihadang Istri Erwin
25
Terbakar api cemburu
26
Rencana promil
27
Desy Hamil
28
Masalah baru
29
Kembali berulah
30
Tak dapat mengelak lagi
31
Memanas
32
Desy
33
Masih tentang Desy
34
Kena batunya
35
Pisah rumah
36
Rencana bercerai
37
Suami Desy pulang
38
Wali murid berdemo
39
Surat panggilan dari pengadilan agama
40
Sidang perdana
41
Sidang putusan
42
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43
Banting stir
44
Susah move on (Sumo)
45
Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46
Desy menikah dengan Hendra
47
Demo warga
48
Sita makin bersinar
49
Diambang batas
50
Terhalang restu
51
Masih belum dapat restu
52
Bertemu Alien
53
Lamaran untuk Amel
54
Keributan dipagi hari
55
Masih harus bersabar
56
Mamanya Sita kecelakaan
57
Kondisi Mamanya Sita membaik
58
Kejadian tak terduga
59
H-3
60
Sah
61
Sita Hamil
62
Dipermalukan
63
Ultimatum
64
Desy melahirkan
65
Fakta yang mengejutkan
66
Rendra putra kandung Yoga
67
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68
Cauvade sydrome
69
Tak terima
70
Diluar Nurul
71
Pelajaran berharga
72
Drama belum berakir
73
Terusir dari rumah
74
Nasib Hendra
75
Rini
76
Madu yang pahit
77
Kejutan ulang tahun
78
Masih tentang mantan
79
Wina mengamuk
80
Adu bogem mentah
81
Lupakan aku
82
Rini meminta maaf pada Sita
83
Semprawut
84
Pasrah
85
Marahan
86
Drama yang tak berujung
87
Aksi nekat Hendra
88
Tragis
89
Mulai menata diri
90
Situasi yang tidak kondusif
91
Memanas
92
Meminta untuk berpisah
93
Simalakama
94
Meminta waktu
95
Keputusan akhir
96
Aksi Wina
97
Adu domba
98
Rini di Demo
99
Hanya demi anak
100
Didatangi dept collector
101
Santet
102
Tidak puas
103
Pengobatan
104
Undangan pesta anggota DPR
105
Panik
106
Tragis
107
Boni di tahan
108
Rini kecelakaan
109
Cinta buta
110
Penangkapan Boni
111
Drama tak kunjung usai
112
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!