Hari ini Sita seharian dirumah, ia memasak makanan kesukaan Hendra.Sampai sore hari Hendra belum kelihatan batang hidungnya.Ponselnya juga dimatikan.
Sementara itu Hendra sepulang dari mengajar ia pergi ke toko baju, ia hendak membelikan baju untuk Desy karena selama ini Desy sudah banyak membantu dia.Tanpa sengaja Hendra bertemu dengan Doni.
"Ngapain kak ke toko baju perempuan?, mau bujuk mbak Sita biar nggak ngambek karena sudah kamu tuduh selingkuh?" sindir Doni.
"Diamlah Don!, jangan ikut campur!, ini urusan rumah tanggaku" ucap Hendra yang kesal dengan Doni.
"Terserah, tapi ingat Mas! Aku orang pertama yang akan mencarimu bila mbak Sita tersakiti" ucap Doni memberi peringatan pada Hendra. Lalu meninggalkan Hendra begitu saja.Hendra sedikit bergidik ngeri mendengar ancaman Doni, pasalnya ia tau persis siapa Doni.Laki-laki itu jika sudah marah akan gelap mata.
"Ah...peduli amat dengan Doni, ini kayanya pas dengan tubuh Desy, aku beli ini saja" guman Hendra.Kemudian ia membayar ke kasir, setelah itu ia pergi kerumah Desy untuk memberikan baju itu padanya sebagai ucapan terima kasih. Tak lama setelah itu ia langsung pulang. Sampai dirumah ia sudah melihat berbagai makanan kesukaanya sudah tersaji di meja makan.Jujur ia sangat lapar tapi gengsinya mengalahkan segalanya.
"Mas, ada yang ingin aku bicarakan" ucap Sita
"Nggak perlu!, bukanya sudah jelas aku masih marah sama kamu atas perselingkuhanmu"
"Berapa kali aku harus bilang kalau aku tidak selingkuh"
"Kamu kira aku percaya?, mana ada pertemanan laki-laki dan perempuan. Disana pasti ada setan yang nyempil" oceh Hendra.
"Ok, terserah kamu mau mendiamkan aku, atau memulangkan, tapi tolong lihat dulu Video rekaman CCTV ini dari situ kamu bisa lihat apa gang sebenarnya terjadi?" ucap lalu menyodorkan rekaman CCTV yang sudah diretas Doni.Hendra terdiam sesaat lamanya, rupanya ia hanya salah paham, Sita tidak pernah selingkuh seperti apa yang ia pikirkan. Kecemburuanya membuatnya buta, ia hafal betul watak Sita tidak mungkin menyelingkuhinya ia hanya ketakutan sendiri, Sita melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan dengan Desy.
"Maafkan aku Sita, aku terlalu cemburu padamu karena aku tidak ingin kau dekat dengan laki-laki manapun. Hatiku sangat panas saat melihat kau dibonceng oleh temanmu itu"
"Makanya lain kali dengerin penjelasanku dulu, aku jadi nggak enak sama Rizal, kamu main pukul aja" ucap Sita
"Asal kamu tau Rizal itu yang udah membeli rumah kita, udah bagus dia nggak ngusir kita karena kita masih tinggal di sini, eh malah Mas main hajar aja" lanjutnya.
"Maafkan aku Sita, aku sungguh menyesal" ucap Hendra benar-benar menyesal, karena pikiranya yang sempit bukanya mendengarkan penjelasan dari istrinya, ia malah lari ketempat Desy untuk curhat yang akhirnya kebablasan.
Hendra sudah bertekat ingin memperbaiki hubungannya dengan Sita. ia akan menjaga jarak dengan Desy demi keutuhan rumah tangganya. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.Rini adeknya sudah mengetahui perselingkuhanya dan ia juga mengantongi bukti.
"Sayang maafin aku, sebagai permintaan maafku bagaimana kalau malam ini kita makan diluar?, biar aku yang traktir" ucap Hendra yang sudah bulat untuk memperbaiki rumah tangganya.
"Tumben?"
"Ya, sekali-kali nggak apa-apa Yang" ucap Hendra
"Yakin, nanti aku nggak dilabrak Ibu?" tanya Sita memastikan
"Aku jamin 1000%, nggak akan"
"Memangya kita mau makan malam dimana?" tanya Sita
"Di angkringan mang engking, disana rame banget sanyang"
"Ok, aku siap-siap dulu" ucap Sita.
Sita memang mudah banget memaafkan seseorang, ia sudah melupakan tindakan Hendra beberapa hari yang lalu.Kini keduanya tiba di angkringan yang dimaksud Hendra.Hendra memesan makanan, sementara itu Sita menunggu sambil memainkan ponselnya. Saat sedang asyik makan tiba-tiba Sita melihat Desy.
"Mas, itu bukanya temanmu ya namanya bu Desy atau siapa aku lupa?"
"Mana?"
"Itu!" ucap Sita sambil menunjuk kearah Desy, jantung Hendra berdetak dua kali lebih cepat ia belum sanggup mempertemukan Desy dan Sita di satu tempat yang sama.
"Bu Desy, mari sini gabung sama kita" Sita malah memanggil Desy.Hal itu membuat Hendra kaget.
"Uhuk..." Hendra tersedak
"Mas, kamu kenapa?" tanya sita.
"Bu Desy, lagi sibuk biarin aja dia!, kita nggak usah ganggu dia" ucap Hendra.
"Saya lagi free kok Pak Hendra" ucap Desy yang membuat mata Hendra membulat sempurna
"Ah kamu Yang, bu Desy nggak sibuk kok dibilang sibuk" ucap Sita
"Glek" Susah payah Hendra menelan ludah, berada disatu tempat dengan Sita dan Desy membuat jantungnya tidak aman.
Tanpa malu-malu Desy langsung ikut gabung dengan Sita dan Hendra.
Suasana jadi canggung seketika.
"Kalian kok diem aja, bukanya kalian satu kantor ya?, kok kaya ketemu orang asing gitu sih?" tanya Sita.
Hendra benar-benar mati kutu dalam suasana ini. Sementara itu Desy tanpa rasa canggung dia langsung sok berakrab ria dengan Sita.
"Bu Desy, Suaminya kerja dimana?" tanya Sita mencairkan keadaan
"Jangan panggil saya Bu, panggil Desy saja agar lebih akrab" ucap Desy
"Baiklah, aku panggil mbak Desy aja ya, sepertinya usia saya dibawah mbak Desy"
"Begitu juga lebih baik" ucap Desy
"Tadi tanya apa?"
"Suami mbak Desy kerja dimana?"
"Suami saya seorang pelayar"
"Wah jarang ketemu dong, LDR ceritanya. Kalau kangen gimana? Apa nggak kesepian tinggal sendirian?" tanya Sita
"Uhuk..." mendengar pertanyaan Sita kembali Hendra tersedak.
"Kamu ini kenapa sih mas?, dari tadi kesedak melulu"
"Nggak apa-apa" ucap Hendra setenang mungkin
"Saya malah, nggak pernah merasa kesepian Sit," ucap Desy tanpa dosa.Ia langsung dapat hadiah pelototan dari Hendra.
"Kok, bisa?"
"Sayang, aku udah kenyang ayo kita pulang" Hendra memutuskan untuk membawa Sita menjauh dari Desy.Berada dalam satu meja bersama Desy dan Sita membuat jantung Hendra tidak aman.
"Mas ini, kenapa sih?, aku masih pingin ngobrol sama mbak Desy.Sepertinya orangnya asik"
"Ah...Sita bisa aja, memang bener sih, ada yang ngomong kaya kamu gini katanya aku membuat nyaman bila diajak ngobrol, kamu orang kedua yang ngomong begitu" ucap Desy
"Sialan!, bisa-bisanya dia bicara seperti itu" batin Hendra merutuki ucapan Desy.
"Oh ya, siapa mbak dia?" tanya Sita penasaran.
"Ayo kita pulang sayang" ucap Hendra seraya menarik tangan Sita.
"Mas, ini kenapa sih?"
"Hend, kamu kok buru-buru banget kayak nggak nyaman gitu, ada apa sih" ucap Desy memperkeruh suasana hati Hendra
"Mbak aku pulang duluan ya, Paksu dari tadi gelisah terus, mungkin dia mau BAB" canda Sita
"Sita, apa kamu masih bisa bercanda seperti itu kalau kamu tau, dia sudah berbagi peluh denganku" batin Desy
Tbc
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments