"Sayang...ada apa ini?,kenapa sampai rumah langsung marah-marah kaya gini?"
"Gimana aku nggak marah mas, kamu pakai uang Mama tanpa ijin terlebih dahulu. kemana uang Mama?"
"Emmm...itu anu"
"Itu, anu apa?"
"Sayang, maafkan aku uang itu dipinjam Ibu"
"Kenapa nggak bilang? Itu bukan hak kamu.kenapa kamu asal comot aja!" ucap Sita kesal
"Ibu itu cuma pinjam bukan minta sayang, secepatnya Ibu janji akan kembalikan"
"Oh ya, aku pegang kata-katamu. Kamu tau mas Amel kecelakaan? Pada saat kita butuh uang untuk operasi dan kamu tau apa yang terjadi ?aku begitu kaget saat melakukan pembayaran nggak ada uang sama sekali, kamu mikir nggak sih?, gimana rasanya jadi aku?"
"Apa? Amel kecelakaan?" Hendra kaget ia tak menyangka masalahnya akan menjadi serumit ini.
"Sekarang juga aku minta balikin uang itu sebelum Ibu tau, karena aku pinjam uang pak Erwin untuk operasi Amel" ucap Sita
"Kalau sekarang sepertinya nggak bisa, karena uang itu sudah dipakai Ibu"
"Ya, masa uang tiga ratus juta habis begitu saja dalam beberapa hari, pasti uang itu masih ada. Tolongkembalikan uang itu Mama sangat membutuhkan uang itu" Desak Sita
"Emm...masalahnya, uang itu sudah habis buat beli mobil Rini" ucap Hendra lirih
"Apa?, kamu pakai uang Mama untuk beli mobil, sedangkan Amel yang mau operasi saja harus pinjam uang tapi kamu seenaknya memimjamkan uang itu untuk beli mobil"
"Aku janji akan hubungi Ibu untuk mengembalikan uang itu"
"Aku nggak mau tau caranya bagaimana, uang itu harus segara kembali, aku nggak enak sampai harus pinjam uang pak Erwin" ucap Sita.
Setelah itu Hendra langsung menghubungi Ibunya untuk menagih utang, namun bukanya mengembalikan uang itu Ibunya malah menceramahinya panjang kali lebar.Hendra benar-benar pusing.
Pagi harinya Ibunya Hendra menyambangi kediaman Sita dan Hendra ia langsung memaki-maki Sita.
"Sita, kamu benar-benar tidak tau diri ya. Uang segitu aja kamu permasalahkan! Perhitungan banget kamu jadi orang" makinya
"Mas Hendra jelasin!, uang siapa yang kamu pakai. Kalau aku yang jelasin pasti Ibu tidak akan percaya"
"Ibu, kemarin uang yang aku pinjemi itu uang Mama"
"Hallah kamu pikir Ibu percaya, bualan kamu untuk menutupi sikab pelit istrimu itu?"
"Ibu, Hendra nggak bohong, itu memang uang Mama, beliau menjual warisanya dikampung dan uangnya dititipkan pada Sita"
"Nggak usah bohong kamu, lama-lama kamu ketularan istri kamu yang pelit itu" ucap Ibunya Hendra yang masih ngeyel
"Lihat ini bu, dokumen penjualan tanah milik Mama, Sekarang Ibu faham kan itu uang siapa?" ucap Sita yang kesal akhirnya ia memperlihatkan dokumen penjualan tanah milik Mamanya.
Sesaat Ibunya Hendra bungkam, namun bukan Ibunya Hendra kalau mengalah begitu saja.
"Ya mau uang Mama kamu, atau uang kamu sama aja kan, kita kan keluarga saling tolong menolonglah jangan egois!"
"Maksut Ibu apa ya?, kami mau minta uang itu kembali bukanya Mas Hendra juga sudah bilang ke Ibu kalau uang itu mau dipakai sekarang buat operasi Amel, tolong kerja samanyanya Bu, Mama butuh uang itu sekarang"
"Kamu ini pikir Ibu nggak tau, kalau adekmu sudah dioperasi dan sudah dipinjami uang sama Boss kamu, masalah selesai kan!"
"Ya masalahnya itu, uang pinjaman juga harus dibalikin dan kemarin pinjamnya juga hanya untuk biaya operasi aja, kalau untuk biaya rawat inap dan lain-lain belum kebayar" ucap Sita
"Ya kamu pinjam lagi aja ke boss kamu, selesai masalah"
Sita sangat gemas sekali berbicara dengan mertuanya, tak pernah ada ujung pangkalnya maunya selalu aja menang sendiri.Setalah puas ngomel Ibunya Hendra langsung pulang bahkan ia sama sekali tidak menengok Amel dirumah sakit.
"Sepertinya aku harus berbicara sendiri pada Rini, Mas Hendra juga tidak bisa diandalkan" batin Sita.
Hendra semakin pusing, dengan masalah yang ia hadapi. Seperti biasa ia langsung menghindari Sita ia berangkat pagi dan pulang selalu terlambat dengan alasan cari uang tambahan nyatanya ia malah kerumah Desy mencari kenyamanan disana.
"Mas, aku ada uang seratus juta kamu kasih ke istrimu dulu untuk mencicil uang Ibumu tapi kamu juga harus kejar Ibumu atau adekmu" ucap Desy.
"Makasih Des, kamu memang bis selalu diandalkan" ucap Hendra tanpa sadar memeluk Desy sesaat lamanya.
"Maafkan aku Des, sudah lancang memelukmu" ucap Hendra.
"Nggak apa mas, aku tau posisimu akan kupinjamkan bahuku untukmu" ucap Desy.
Hendra kembali memeluk Desy tanpa sadar keduanya terbuai setan Hendar tiba-tiba meraup bibir Desy dan Desy juga tidak menolaknya, beberapa saat lamanya mereka terlena dalam ciuman panas itu hingga akhinya Hendra sadar dan melepaskan pautan bibirnya.
"Maafkan aku, seharusnya kita tidak melakukan ini. Kita sama-sama sudah punya pasangan" ucap Hendra yang akhirnya tersadar.
"Aku juga minta maaf mas, aku juga malah terlena. Mungkin kamu berangapan kalau aku ini murahan" ucap Desy sambil terisak.
"Hei...jangan menangis Des, aku jadi merasa bersalah" ucap Hendra lalu memeluk Desy kembali.
"Kita jangan malangkah terlalu jauh lagi, takutnya kebablasan" ucap Hendra.lalu ia berpamitan dari rumah Desy. Ia segera pulang dan mentransfer uang dari Desy pada Sita.
Sesampainya dirumah Sita sama sekali tidak curiga pada Hendra, karena Hendra begitu sampai dirumah langsung mandi dan mencucj bajunya sendiri jadi Sita sama sekali tidak curiga. Hendra memang selalu membantu pekerjaan Sita karena Sita lebih banyak lembur dikantornya dari pada dia.
"Sayang tadi aku udah transfer uang seratus juta dari Ibu, sisanya akan diusahakan secepatnya" ujar Hendra.
"Iya makasih ya Mas, uang ini akan langsung aku transfer ke pak Erwin untuk membayar utang" ucap Sita
"Jangan dulu, sayang! itu untuk uang jaga-jaga Mama aja dulu jangan dibayarin utangnya dulu!"
"Maksut mas bagaimana?, itu aku utangloh mas, bukan minta kenapa kamu larang untuk dikembalikan?" tanya Sita.
"Nanti saja, uang boss kamu itu dikembalikan toh dia juga banyak uang, ini lagi diusahakan uangnya dikembalikan itu buat pegangan Mama aja dulu jangan kasih Boss kamu dulu" ucap Hendra, sebenarnya ia juga masih pusing untuk membayar sisanya Ibunya bersikeras tidak mau menjual mobilnya.Kalau uang itu langsung diberikan pada Bossnya nanti kalau Amel keluar dari rumah sakit ia akan kebingungan lagi cari uangnya.
"Ok, tapi kamu janji ya Mas, secepatnya kembalika uang itu minimal seratus juta lagi, Karena Doni juga butuh uang itu untuk bayar semesteran dan lain-lainya warung Ibu juga masih sepi"
"Iya Mas, Janji" ucap Hendra meskioun ia sendiri tidak yakin dengan apa yang diucapkanya.
Guys jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments