Rizal

"Kalian saling kenal?"

"Kamu Rizal kan?"

"Sita, kamu nggak berubah, masih seperti yang dulu"

"Apa kabar kamu Zal, anak kamu sudah berapa?"

Mendadak Wajah berubah masam Rizal mendengar pertanyaan Sita.

"Aku belum punya anak"

"Istri aja nggak punya, apalagi anak?" goda Doni

"Maaf aku nggak tau" ucap Sita

"Nggak apa-apa, dulu aku pernah menikah tapi hanya setahun lalu kita berpisah tanpa anak"

"Maaf ya, jadi korek luka lama kamu" ucap Sita tidak enak

"Hadeh....malah pada reunian, Aku dicuekin" ucap Doni.

"Sory, sory Don!. Gue nggak bermaksud cuekin elu"

"Gimana, mau minta berapa rumah itu?. Doni bilang rumah itu masih kredit jadi nanti aku yang terusin" ucap Rizal

Ketiganya terlibat pembicaraan yang serius. Hendra sudah kasih harga patokan dengan Sita sebelumnya.Tanpa menawar Rizal langsung menyetujuinya.Sita menghubungi suaminya untuk ketemu dengan Rizal dahulu tapi Hendra menolak karena alasan pekerjaan, yang penting bagi dia harga sudah sesuai yang ia mau toh Rumah itu juga milik Sita.

"Makasih ya Zal, udah bantu aku"

"Sama-sama"

Doni dan Sita akhirnya berpamitan pada Rizal. Semenjak pertemuan itu Rizal lebih sering berkomunikasi dengan Sita meski hanya lewat ponsel.Mendengar cerita dari Doni ia sangat prihatin dengan kondisi ekonomi Sita.

Semenjak kejadian hari itu Ibunya Hendra belum menampakkan batang hidungnya lagi. Hendra juga membatasi diri agar tidak terlalu dekat dengan Desy takut Khilaf lagi.Seperti biasa Hendra pulang duluan.Sementara itu Sita yang dalam perjalanan pulang tiba-tiba motornya mogok ditengah jalan.

"Sialan!, pakai mogok segala lagi. Mana bengkel jauh lagi, aku hubungi Mas Hendra saja biar jemput aku disini"

"Mas hendra ini kebiasaan banget ponselnya selalu saja Mati saat darurat begini, mana jalanan sepi lagi" Sita terus berguman. Kemudian ia menghubungi Doni, namun sayangnya Doni sedang ada pekerjaan di tempat yang jauh.

"Ya Tuhan, bagaimana ini?" guman Sita ia sebenarnya takut berada ditempat sepi seperti ini seorang diri.

Dari kejauhan nampak sepeda motor mendekat kearahnya.Sita ketakutan ia menunduk.

"Jangan sakiti saya, saya tidak punya apa-apa tolong pergi!" ucap Sita

"Mbak, mbak!, hei mbak kenapa?" tanya Penegemudi motor tadi.Sita mengangkat wajahnya.

"Sita!, ngapain kamu disini sendirian tempat ini sepi banget loh, bahaya buat kamu" ujar pengemudi motor itu yang ternyata adalah Rizal.

"Rizal!, syukurlah itu kamu. Aku kira kamu orang jahat. Motorku mogok Zal aku sudah coba hubungi suamiku mungkin ponselnya mati, kebiasaan dia. Sedangkan Doni sedang bepergian"

"Ini sudah malam ayo aku antar pulang" Ucap Rizal menawarkan diri. Kemudian Rizal menuntun motor Sita dan Sita mengemudi motor Rizal sampai di bengkel terdekat, apesnya motornya harus ditinggal karena antrian lumayan banyak. Rizal memutuskan untuk mengantar Sita sampai dirumah.

Sementara itu Hendra yang dirumah sedang cemas memikirkan Sita yang tak kunjung pulang, ia mondar-mandir kesana kemari, tak lama kemudian terdengar suara motor memasuki rumahnya. Ia melihat Sita diantar oleh seoarang laki-laki, darahnya seketika mendidih ia tidak rela Sita dibonceng laki-laki lain, berbagai spekulasi berkeliaran dikepalanya ia takut Sita seperti dirinya menghabiskan malam bersama laki-laki lain.

"Assalamaualaikum Mas" Sapa Sita begitu sampai si depan rumah, bukanya menjawab salam namum Hendra malah menatap Sita dan Rizal dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Bugh" sebuah bogem mentah mendarat di pipi Rizal.

"Mas kamu apa-apaan sih?" ucap Sita yang tidak enak pada Rizal

"Dari mana saja kamu?, kenapa pulang? Kenapa tidak menginap saja dengan laki-laki itu?" maki Hendra.

"Mas?, kamu ini ngomong apa?"

"Ngomong apa-ngomong apa?, sudah berapa lama kalian berhubungan dan berapa kali kalian tidur berdua" Emosi Hendra langsung meledak.

"Plak..." Sita menampar Hendra

"Kamu pikir aku perempuan murahan begitu?"

"Terus apa namanya kalau kamu, jalan dengan laki-laki lain sampai malam begini?" ucap Hendra meninggi

"Mas, saya bisa jelasin. Kami tidak ada hubungan apa-apa? Tadi itu"

"Tadi itu apa?, habis mampir dari hotel?"

"Plak" kembali Sita menampa Hendra

"kalau bukan karena Rizal, mungkin aku sudah pulang entah bagaimana keadaanku, motorku mogok dan untung Rizal lewat lalu mengantarku pulang"

"Yang dikatakan Sita benar Mas, kami hanya berteman dan juga jarang ketemu tadi aja kebetulan" ucap Rizal mencoba menjelaskan

"Mana ada pertemanan laki-laki dan perempuan, kalau laki-laki dan perempuan berteman maka setan akan bergabung dengan kalian, jadi stop jangan pikir aku akan percaya begitu saja" ucap Hendra. Ia membayangkan pertemananya dengan Desy yang harus berakhir di ranjang

Hati Sita ngilu mendengar penuturan Hendra.

"Sekarang kamu masuk!" perintah Hendra.

"Dan kamu pergilah!, sebelum kesabaranku habis" ucap Hendra.

Mau tidak mau Rizal meninggalkan tempat itu, ia tidak mau Sita disakiti Hendra.Ia akan datang lagi kesini ketika emosi Hendra sudah reda dan menjelaskan semuanya.Sepeninggal Rizal Hendra mengamuk semua perabotan di pecahkannya.Sita sampai ketakutan dan menangis melihat Sita menagis Hendra berhenti lalu pergi ia takut kalap dan menyerang Sita. Hendra menuju rumah Desy. Sampai disana ia curhat dengan Desy lagi-lagi ia melakukan dosa dengan Desy untuk yang kedua kalinya.

Suasana berbeda kini dirasakan Sita, ia menangis semalaman. Hatinya sakit mendengar tuduhan Hendra padanya, Pagi hari saat ia terbangun Hendra belum pulang.

"Lagi-lagi setiap kali ada masalah pasti kabur" guman Sita.

Tak lama kemudian terdengar suara motor dari depan rumah, rupanya Hendra pulang, ia sama sekali tidak menyapa Sita kecemburuanya membuat ia buta. Ia sudah mandi di tempat Desy kini ia pulang hanya untuk ganti baju lalu berangkat berkerja lagi.Sita mendekati Hendra, namun lagi-lagi Hendra mengacuhkan Sita.

Hari ini Sita memutuskan untuk ijin tidak bekerja, otaknya sedang buntu gara-gara pertengkaran semalan, tak lama setelah Hendra berangkat kerja Doni datang. Semalam Rizal menceritakan keributan yang terjadi pada Doni.

"Mbak, maafkan aku semalam benar-benar tidak bisa menjemputmu" ucap Doni

"Nggak apa-apa Don, nanti kalau suasab hati maa Hendra sudah membaik pasti mbak juga akur lagi, kamu nggak usah merasa bersalah begitu" ucap Sita

"Mbak aku sudah meretas CCTV sepanjang perjalanan Mbak pulang kerja, tolong nanti perlihatkan pada suami bodohmu itu" ucap Doni kesal.

"Makasih Don, kamu sampai repot-repot meretas CCTV hanya untuk mbak" ucap Sita penuh haru.

"Kalau nggak gini, suami bodohmu itu pasti berpikir kalau mbak selingkuh, dengan adanya bukti ini bisa membungkam mulutnya yang nggak berguna itu. Kalau istrinya di bully saudara sama Ibunya diam saja giliran diantar orang mulutnya gede banget" oceh Doni yang kesal dengan Iparnya

Tbc

Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen

Episodes
1 Seatap dengan Mertua
2 Wacana pindah rumah
3 Pindah Rumah
4 Temen Curhat
5 Semakin nyaman
6 Sita sakit
7 Amel kecelakaan
8 Solusi sementara
9 Sita dilabrak
10 Lari dari masalah
11 Makin kacau
12 Skandal
13 Dilabrak mertua
14 Rizal
15 Makan malam bertiga
16 Huru hara
17 Makin terjerumus
18 Amel minta Dres
19 Tarno
20 Mulai curiga
21 Mulai menyelidiki Hendra
22 Waspada
23 Pengakuan
24 Dihadang Istri Erwin
25 Terbakar api cemburu
26 Rencana promil
27 Desy Hamil
28 Masalah baru
29 Kembali berulah
30 Tak dapat mengelak lagi
31 Memanas
32 Desy
33 Masih tentang Desy
34 Kena batunya
35 Pisah rumah
36 Rencana bercerai
37 Suami Desy pulang
38 Wali murid berdemo
39 Surat panggilan dari pengadilan agama
40 Sidang perdana
41 Sidang putusan
42 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43 Banting stir
44 Susah move on (Sumo)
45 Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46 Desy menikah dengan Hendra
47 Demo warga
48 Sita makin bersinar
49 Diambang batas
50 Terhalang restu
51 Masih belum dapat restu
52 Bertemu Alien
53 Lamaran untuk Amel
54 Keributan dipagi hari
55 Masih harus bersabar
56 Mamanya Sita kecelakaan
57 Kondisi Mamanya Sita membaik
58 Kejadian tak terduga
59 H-3
60 Sah
61 Sita Hamil
62 Dipermalukan
63 Ultimatum
64 Desy melahirkan
65 Fakta yang mengejutkan
66 Rendra putra kandung Yoga
67 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68 Cauvade sydrome
69 Tak terima
70 Diluar Nurul
71 Pelajaran berharga
72 Drama belum berakir
73 Terusir dari rumah
74 Nasib Hendra
75 Rini
76 Madu yang pahit
77 Kejutan ulang tahun
78 Masih tentang mantan
79 Wina mengamuk
80 Adu bogem mentah
81 Lupakan aku
82 Rini meminta maaf pada Sita
83 Semprawut
84 Pasrah
85 Marahan
86 Drama yang tak berujung
87 Aksi nekat Hendra
88 Tragis
89 Mulai menata diri
90 Situasi yang tidak kondusif
91 Memanas
92 Meminta untuk berpisah
93 Simalakama
94 Meminta waktu
95 Keputusan akhir
96 Aksi Wina
97 Adu domba
98 Rini di Demo
99 Hanya demi anak
100 Didatangi dept collector
101 Santet
102 Tidak puas
103 Pengobatan
104 Undangan pesta anggota DPR
105 Panik
106 Tragis
107 Boni di tahan
108 Rini kecelakaan
109 Cinta buta
110 Penangkapan Boni
111 Drama tak kunjung usai
112 Ending
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Seatap dengan Mertua
2
Wacana pindah rumah
3
Pindah Rumah
4
Temen Curhat
5
Semakin nyaman
6
Sita sakit
7
Amel kecelakaan
8
Solusi sementara
9
Sita dilabrak
10
Lari dari masalah
11
Makin kacau
12
Skandal
13
Dilabrak mertua
14
Rizal
15
Makan malam bertiga
16
Huru hara
17
Makin terjerumus
18
Amel minta Dres
19
Tarno
20
Mulai curiga
21
Mulai menyelidiki Hendra
22
Waspada
23
Pengakuan
24
Dihadang Istri Erwin
25
Terbakar api cemburu
26
Rencana promil
27
Desy Hamil
28
Masalah baru
29
Kembali berulah
30
Tak dapat mengelak lagi
31
Memanas
32
Desy
33
Masih tentang Desy
34
Kena batunya
35
Pisah rumah
36
Rencana bercerai
37
Suami Desy pulang
38
Wali murid berdemo
39
Surat panggilan dari pengadilan agama
40
Sidang perdana
41
Sidang putusan
42
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43
Banting stir
44
Susah move on (Sumo)
45
Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46
Desy menikah dengan Hendra
47
Demo warga
48
Sita makin bersinar
49
Diambang batas
50
Terhalang restu
51
Masih belum dapat restu
52
Bertemu Alien
53
Lamaran untuk Amel
54
Keributan dipagi hari
55
Masih harus bersabar
56
Mamanya Sita kecelakaan
57
Kondisi Mamanya Sita membaik
58
Kejadian tak terduga
59
H-3
60
Sah
61
Sita Hamil
62
Dipermalukan
63
Ultimatum
64
Desy melahirkan
65
Fakta yang mengejutkan
66
Rendra putra kandung Yoga
67
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68
Cauvade sydrome
69
Tak terima
70
Diluar Nurul
71
Pelajaran berharga
72
Drama belum berakir
73
Terusir dari rumah
74
Nasib Hendra
75
Rini
76
Madu yang pahit
77
Kejutan ulang tahun
78
Masih tentang mantan
79
Wina mengamuk
80
Adu bogem mentah
81
Lupakan aku
82
Rini meminta maaf pada Sita
83
Semprawut
84
Pasrah
85
Marahan
86
Drama yang tak berujung
87
Aksi nekat Hendra
88
Tragis
89
Mulai menata diri
90
Situasi yang tidak kondusif
91
Memanas
92
Meminta untuk berpisah
93
Simalakama
94
Meminta waktu
95
Keputusan akhir
96
Aksi Wina
97
Adu domba
98
Rini di Demo
99
Hanya demi anak
100
Didatangi dept collector
101
Santet
102
Tidak puas
103
Pengobatan
104
Undangan pesta anggota DPR
105
Panik
106
Tragis
107
Boni di tahan
108
Rini kecelakaan
109
Cinta buta
110
Penangkapan Boni
111
Drama tak kunjung usai
112
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!