"Mas, akhir-akhir ini kamu sering banget berangkat pagi-pagi" tanya Sita
"Iya, Mas kan udah bilang kalau ada rapat pagi, kadang juga senam"
"Sering banget yah, padahal dulu jarang malah hampir nggak pernah"
"Kurikulum baru, banyak tuntutan sebagai pengajar kita juga harus ready setiap saat" ucap Hendra.
"Maafin aku Sita, terpaksa bohong. Tenang aja aku nggak selingkuh kok, aku hanya butuh temen bicara" batin Hendra
"Tok...tok...tok" terdengar pintu diketuk
"Siapa itu mas, malam-malam begini datang" tanya Sita
"Entahlah!, Mas keluar dulu" ucap Hendra
sambil melangkah keluar kamar untuk membukakan pintu.
"Ceklek" pintu dibuka.
"Ibu, kenapa malam-malam begini kemari dan nggak ngabarin?, Bapak mana?"
"Ibu mau ikut kamu aja, Ibu lagi males sama Bapak kamu" ucap Ibunya Hendra.
"Ibu, kalau punya masalah itu diselesaikan, bukanya lari"
"Kamu nggak suka, Ibu datang kerumahmu?"
"Bukan begitu bu,"
"Mas, siapa yang datang" tanya Sita dari dalam kamar.
Hendra kebingungan menjawab pertanyaan Sita, Karena menunggu lama Sita akhirnya keluar dilihatnya Ibu mertuanya tengah di ruang tamu dengan muka masam, Lalu ia mendekati dan mencium tangan Ibu mertuanya.
"Ibu mau tinggal sama kalian" ucap Ibunya Hendra tiba-tiba
"Apa maksutnya ini?" batin Sita mendadak pening mendengar mertuanya mau ikut bersamanya, ia sudah membayangkan hari-hari suram bakal ia lalui bersama mertuanya.
"Mohon maaf sebelumnya bu, kamar kami cuma satu. Kalau Ibu disini Ibu tidurnya dimana?" tanya Sita hati-hati.
"Ya dikamar kalian lah, dimana lagi? Kalian kan bisa tidur dimana aja.Ibu sudah tua kalau tidur di luar masuk angin"
"Heeeh" terdengar helaan nafas dari Sita, ia melirik suaminya. Tak ada pembelaan sama sekali.
"Ngapain aku cape-cape kredit KPR kalau ujung-ujungnya Ibu ikut batin Sita"
Tanpa permisi Mertua Sita langsung masuk kamar mereka dan tidur disana.
"Mas ini gimana sih?, mana kamu cuma diem aja lagi"
"Terus kamu maunya gimana?, aku usir Ibu begitu? Dia itu Ibuku loh"
"Ya nggak gitu juga sih Mas, tapi kamu tau sendiri alasanku pindah. Tabunganku aku kuras semua aku aja masih pinjam uang hasil pembagian warisan Mama dikampung"
"Kan, uang ditabungan kamu masih banyak!"
"Yang ada di Atm itu uang Mama semua, dia nitip karena nggak punya rekening" ucap Sita
Mereka memutuskan untuk tidur diruang tamu setelah pembicaraan yang panjang dan lebar, Hendra bangun lebih dahulu untuk membuat kopi lalu mandi.
"Kok buat kopi sendiri?, mana istrimu?" tanya Ibunya Hendra.
"Masih tidur bu, dia kecapean kayanya. Lagian cuma buat kopi aja kok Hendra bisa lakuin sendiri, Ya sudah bu Hendra mandi dulu" ucap Hendra.
Ibunya Hendra sangat geram melihat Sita yang masih tertidur pulas di atas sofa.Sebenarnya hari juga masih gelap adzan subuh juga belum berkumandang, namun ia jengkel sendiri melihat Hendra membuat kopi seorang diri, harusnya Sita yang membuatkan.
Sementara itu Sita tengah terbuai dalam mimpi, semalaman ia tak dapat tidur menjelang pagi ia bisa tertidur karena dikerubutin nyamuk.
"Byur..." Ibunya Hendra menguyur muka Sita dengan segayung air dari bak mandi.
"Bocor..bocor..bocor" teriak Sita
"Iya, yang bocor itu otak kamu! Suami sudah bangun bikin kopi sendiri kamu enak-enakan ngorok disini" oceh Mertuanya Sita.
"Ini jam berapa bu?, ini juga belum subuh dan kenapa Ibu siram Sita pakai air?" tanya Sita yang berusaha bersabar.
Melihat reaksi Sita yang masih linglung Ibunya Hendra langsung menarik lengan Sita sekuat tenaga.
"Bagun kamu kebo!, masak sana. Nggak malu apa kamu itu cuma benalu, sadar diri dong udah di beliin rumah itu harusnya kamu itu yang rajin, bangun sebelum suami bangun"
Kuping Sita terasa panas mendengar ucapan mertuanya.Andai saja ini bukan mertuanya sudah dilabrak perempuan tua tidak tau diri didepanya ini.
"Ada apa ini? Pagi-pagi kalian sudah ribut. Kepalaku rasanya mau pecah" ucap Hendra yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Istrimu ini, lihat kelakuanya jam segini masih enak-enakkan ngorok. Dia pikir dia siapa?" cerca Ibunya Hendra.
"Sita, Ibu, Bisa nggak sehari aja kalian tenang begitu"
"Mas, dari tadi aku juga nggak ngelawan Ibu loh" ucap Sita.
"Sudahlah pusing aku" ucap Hendra langsung pergi menyambar motornya.
"Mau kemana mas, pagi-pagi buta begini?" tanya Sita.
"Pergi, buat nenangin diri" ucapnya lalu melesat dengan motor bebeknya.
"Mas Hendra, kebiasaan banget kalau ada masalah malah lari bukanya menangkan aku sebagai istrinya yang terus dibully Ibunya, malah main kabur aja, sebaiknya aku cepat-cepat masak lalu pergi kekantor agar kewarasanku tetap terjaga" batin Sita
Sementara itu Hendra ternyata pergi kerumah Desy untuk menjemputnya, Desy tinggal kontrakan seoarang diri suaminya seorang pelayar, dia juga belum punya momongan praktis dia tinggal sendiri di sebuah perumahan yang bisa dibilang cukup mewah bagi masyrakat desa setempat.
"Kok tumben banget jemputnya pagi banget, aku aja belum mandi loh mas.Tapi aku sudah masak kita sarapan dirumah aja, tunggu sebentar aku mandi dulu" ucapnya.Hendra hanya tersenyum mendengar ucapan Desy.
Setelah itu, Desy bergegas mandi dan menemani Hendra.
"Seger banget!"
"Iya, ini masaknya barusan tapi beli sayurnya udah kemarin sore"
"Bukan sayurnya"
"Lalu?"
"Lupakan!"
"Pasti ada masalah?, ada apa lagi mas?" tanya Desy
"Ibu menginap dirumahku, dan sepertinya Sita nggak begitu suka"
"Menurutku ya Mas, sebaiknya mas bicara pelan-pelan pada Ibu, toh dia masih ada Bapak dirumah kasian Bapak kalau ditinggal sendirian dirumah.Aku rasa istrimu agak keberatan dengan keberadaan Ibumu jadi sebaiknya mereka jangan tinggal satu atap" ucap Desy bagai oase di gurun pasir, adem dan menenangkan.Ia selalu nyaman bila bertukar pikiran dengan Desy, Padahal semalaman Sita juga sudah memintanya untuk bicara baik-baik pada Ibunya dia tidak mengubrisnya, entah mengapa kalau Desy yang bicara dia mau mendengarkan.
"Makasih ya Des,kamu memang teman yang bisa diandalkan, setelah bicara dengan kamu, pikiranku agak plong tadi kepalaku rasanya mau pecah"
Setelah sarapan mereka berangkat bersama dengan sepeda motor milik Hendra tapi sebelum sampai di sekolah tempat mereka mengajar Desy turun untuk mengambil motor yang ia titipkan diparkiran yang jauh dari sekolah tempat mereka mengajar, agar mereka tidak kelihatan pergi dan pulang bareng.
"Aku duluan ya" ucap Hendra
"Sampai jumpa lima menit lagi, hehehe" ucap Sita.
Keduanya tertawa bersama sebelum akhirnya berpisah selama lima menit dan bertemu kembali di sekolah tempat mereka mengajar.
"Setalah ini aku harus bicara sama Ibu" batin Hendra.
Tbc
Selama ini kemana aja Hen, hadeh otor jadi ikutan gedek
Jangan lupa like comment da favorite ya men temen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
✨✨✨~*I'M ANTAGONIS*~✨✨✨
udahlah minta cerai aja/Skull/
2025-02-25
1
✨✨✨~*I'M ANTAGONIS*~✨✨✨
lucu bgt sih lo
2025-02-25
0
Ranny
kalau menurut ku mending sita sama Hendra cerai saja lagian juga sita terlalu bodoh buat menanggung semua kebutuhan rumah tangga nya enakkan di Hendra dong...
2024-02-11
1