"Tumben pagi-pagi kesini Don?" Tanya Sita yang masih bersiap-siap ke kantor sedangkan Hendra jangan ditanya pagi-pagi ia sudah menjemput Desy.
"Amel, mau pinjam baju mbak?"
"Kok nggak kesini sendiri, kan dia bisa milih baju mana yang ia suka" kata Sita.
"Mama lagi repot mbak, Amel suruh bantu-bantu"
"Ya udah, sini masuk!, mau pinjam baju apa?"
"Dres hijau sage, katanya untuk drescode acara temanya"
"Dres hijau sage? Aku nggak punya warna itu Don"
"Punya mbak, malah masih baru.Aku pernah lihat mas Hendra beberapa waktu yang lalu beliin kamu dres itu"
"Ah, enggak kok dia nggak pernah tuh beliin apa-apa buat mbak, selama menikah mbak mau apa-apa brli sendiri kok Don"
"Serius mbak?"
"Seriuslah"
"Apa mungkin mau buat kejutan untuk mbak Sita"
"Ah masa sih, ini aku buka lemarinya nggak ada apa-apa.Kalaupun beli apa-apa pasti aku taulah, rumah ini kan kecil mau nyimpen dimana dia" ucap Sita.
Doni mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aduh bagaimana ini mbak, aku juga lagi bokek. Mau minta Mama nggak enak, Amel pasti juga sungkan minta uang sama Mama, pasalnya Mama sudah habis duit banyak untuk operasi, terapi, biaya kuliahku, sekolah Amel"
"Mbak juga nggak pegang uang sama sekali, aduh gimana ini Don.Amel pasti kecewa sekali, Gini aja nanti mbak cari pinjeman baju teman mbak atau pinjem duit buat beli baju itu" ucap Sita pada akhirnya.
Sesampainya dikantor, Sita bertanya pada temanya yang ukuran badanya sama dengan dia, namun sanyangnya mereka tak punya baju yang dimaksud, ada yang punya, namun postur tubuhnya lebih pendek ada juga yang postur tubuhnya lebih gemuk.Sita memutar otak ia meminjam uang pada teman-temanya. Tanggal tua sama saja mereka juga tidak punya uang. Sita sangat gelisah ia tak ingin pinjam uang lagi pada Erwin, takut terjadi masalah lagi seperti kemarin.
"Ahh...aku coba hubungi Rizal aja, terpaksa aku pinjam uang sama dia" batin Sita. Ia sudah menebalkan muka pinjam uang pada Rizal, tak berselang lama Rizal langsung mentransfer uang ke rekening Sita.Namun Sita kaget karena Rizal mentransfer dua juta pada rekeningnya.
"Hallo Zal, ini nggak salah?, aku cuma pinjam sedikit aja buat beli baju adekku"
"Nggak apa-apa, nanti kalau kamu butuh yang lainya. Pakai itu aja dulu"
"Zal, aku nggak enak.Sebagian aku kembalikan lagi ini terlalu banyak nanti utangku tambah mengunung" ucap Sita
"Kamu tenang aja, kamu pakai uang itu dulu. Bayarnya kapan-kapan aja kalau kamu sudah punya uang"
"Makasih ya Zal," ucap Sita.
Sepulang dari Kantor Sita mampir ditoko baju untuk membelikan baju Amel.Tanpa sepengetahuan Sita, Hendra dan Desy juga berada di tempat yang sama.
"Mas Hendra, itu bukanya Istri kamu?" tanya Desy pada Hendra.
"Iya, gawat ini. Aku sembunyi di toilet dulu nanti kalau ada kesempatan kabur, aku langsung kabur ya, Kamu naik ojol aja" bisik Hendra.
Hendra segera melipir ke toilet, Semantara itu Sita melihat Desy ada di toko yang sama menghampirinya.
"Hai mbak Desy?, lagi cari apa?" tanya Sita.
"Cari baju cowok" ucap Desy
"Buat suaminya ya?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Sita.
"He..em, Sita sendiri lagi cari apa?"
"Nyariin baju untuk adekku mbak" ucap Sita.
Keduanya langsung berbelanja bersama Desy memlilihkan baju untuk Sita, Keduanya selesai berbelanja dan pulang bersama.Desy mengantarkan Sita sampai dirumahnya.
"Mbak Desy ayo mampir dulu" ucap Sita
"Nggak usah, nggak enak sama suamimu"
Sita tetap kekeh mengajak Desy masuk rumahnya, ia tak enak karena Desy sudah berbaik hati menemaninya berbelanja bahkan mengantarkanya pulang.Melihat Sita pulang bersama Desy Hendra sedikit kebingungan. Bagaimana harus bersikab, satu dihadapkan pada istri sahnya dan satunya lagi selingkuhanya.
"Malam Pak Hendra!" Sapa Desy
"Ma...malam Bu Desy" jawab Hendra kikuk.
"Mas, Mbak Desy ini tadi yang menemani belanja dan mengantar pulang" ucap Sita pada suaminya.
"Oh, terima kasih bu Desy sudah mengantar istri saya pulang" ucap Hendra basa-basi.
"Bu Desy, mari kita makan malam dulu sebagai ucapan terima kasih saya karena sudah menemani dan mengantar saya" ucap Sita dengan polosnya.
Tanpa malu Desy ikut gabung dan makan malam dirumah Sita.
"Mas, karena sudah malam sebaiknya antarkan bu Desy pulang kasian. Perempuan sendirian pulang" ucap Sita tanpa curiga sedikitpun.
Hendra langsung mengiyakan permintaan Sita, Hendra mengantar Desy sampai dirumahnya dengan menggunakan motor mereka berboncengan, sepanjang jalan keduanya bersendau gurau, tanpa mereka sadari mereka berpapasan dengan Doni yang hendak menuju rumah Sita.Sesampainya dirumah Sita Doni langsung menanyakan keberadaan Hendra, dan Sita menjawab Hendra lagi mengantar temanya.
"Ini ada yang tidak beres, perempuan tadi sudah dua kali aku melihat dia bersama Mas Hendra. Aku akan hack ponsel Mas Hendra, dengan begini aku tidak akan salah menduga-duga lagi" batin Doni.
"Don, ini bajunya Amel semoga dia suka" ucap Sita
"Makasih banget ya mbak, tadi Amel udah sempet ngambek" ucap Doni.
"Mbak tadi nyarinya dibantuin temenya mas Hendra yang diantar pulang tadi" ucap Sita
"Mbak, sebaiknya jangan terlalu percaya pada orang lain mbak, apalagi mbak belum lama kenal, hati-hati mbak" Doni memperingatkan, ia belum mengatakan kalau Desy adalah orang yang ia lihat dipasar malam bersama Hendra waktu itu.
"Kamu nggak boleh begitu Don, nggak baik berprasangka buruk pada orang lain apalagi orang itu udah nolong kita"
"Terserah mbak aja deh, aku pulang dulu. Ini Amel udah neror aku"
"Hati-hati di jalan, sampaikan salamku pada Mama dan Amel" ucap Sita
Sementara itu Hendra sudah sampai dirumah Desy. Saat hendak berpamitan Desy langsung menariknya kedalam, lalu ia membuka semua bajunya.Terjadilah malam laknat itu untuk kesekian kalinya.
"Kamu hebat Des, aku pulang dulu nanti Sita curiga" ucap Hendra saat hendak berpamitan.
"Padahal aku masih ingin bersamamu, mas" ucap Desy dengan nada manja
"Andai tidak takut pada Sita, sudah aku kurung kamu semalaman disini"
"Ya sudah, pulang sana nanti Sita nangis bombay kamu nggak pulang-pulang," ujar Desy.
Motor Hendra melaju dengan kecepatan tinggi ia takut Sita tambah curiga kalau kelamaan.
"Mas, kok pulangnya malam banget.Aku khawatir takut kamu kenapa-napa dijalan" ucap Sita cemas.
"Maaf sayang, tadi motor bu Desy mogok jadi aku nemeni kebengkel dulu" ucap Hendra tentu saja ia berdusta.
"Ya sudah, kamu kelihatanya capek banget mas?" tanya Sita.
"Iya, banget" ucap Hendra yang beneran kecapean sehabis bertempur dengan Desy.
Jangan lupa, like, comment dan favorite ya men temen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments