Disela-sela kegiatan Doni kuliah menyelidiki Hendra dan Desy. Feelingnya sangat tajam.Ia mulai stalking medsos Desy, ada satu hal yang menarik perhatian dari postingan Desy.Memang foto itu tampak Desy sendirian memposting fotonya di salah satu kota, namun ada yang aneh dari foto itu, Doni mengotak-atik foto itu.Namun ia belum menemukan apapun.
Doni mendatangi Sita, ia mengutak-atik laptop Sita.Setelah itu ia kembalikan lagu pada Sita.
"Mbak sesekali cek, ponsel suamimu!" ujar Hendra.
"Itu namanya nggak sopan Don, ponsel itu milik pribadi dia, mbak nggak berhak mengutak-atiknya"
"Terserah mbak Sita saja, Sini aku ajarin jika suatu saat mbak sita ingin mengecek ponsel Mas Hendra tanpa harus memegang ponsel itu" ucap Doni.Sita sebenarnya malas, namun Doni terus memaksanya akhirnya ia mau, sekarang ia tau bagaimana cara membuka ponsel suaminya tanpa menyentuh ponsel suaminya.
"Aku percaya sama Mas Hendra. Tapi dari pada Doni maksa aku terus apa salahnya aku ikuti apa maunya, bisa kan nggak harus dilakuin" batin Sita
Hari terus berlalu, Hendra makin pintar mengatur waktu antara Sita dan Desy, Doni masih sibuk dengan tugas kuliahnya, praktis dia belum melakukan apapun untuk menyelidiki Kakak iparnya itu.
"Sita hari ini kan tanggal merah, Mama minta tolong kamu temeni Amel beli buku, Mama repot banget dan sepertinya Doni juga nggak bisa bantu, akhir-akhir ini dia sibuk banget kuliah sambil kerja" ucap Mamanya Sita.
"Iya Ma, nanti Sita kesitu untuk jemput Amel setelah Sita selesai beberes rumah"
"Mama tunggu ya, nanti dia ngambek kalau nggak ada yang anterin, Mama nggak tega dia jalan sendirian meskipun sudah SMA, Mama masih trauma dengan kecelakaan yang dia alami." ucap Mamanya di seberang telephone sana.
Setelah selesai pekerjaan rumahnya, Sita langsung menuju kerumah Mamanya untuk menemani Amel membeli buku.
"Mel, habis dari toko buku kita langsung pulang aja ya soalnya mbak mau setrika baju " ucap Sita pada adeknya.
"Iya mbak, gaji banyak kok hidupnya sengsara banget mbak " ucap Amel sambil cengegesan.
"Nggak boleh ngomong gitu!"
"Mbak nanti traktir ya?"
"Ok, tapi cuma jajan aja, nggak masalah tapi kalau beli baju mbak ngak ada uang, tau sendiri mbak cicilanya banyak" ucap Sita.
"Punya suami PNS kok hidup susah, cicilan banyak, padahal mbak gajinya lumayan loh" ucap Amel.
"Ah...sudahlah nggak usah bahas itu"
"Oh, ya mbak hari libur gini mas Hendra ngapain aja dirumah?"
"Dia nggak ada dirumah, ada kegiatan disekolah katanya"
"Banyak kegiatan, uangnya kemana aja sampai istrinya harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup" ucap Amel sewot.
"Husshh...sudah, jangan dibahas lagi walau bagaimanapun juga dia suami mbak" ucap Sita.
Tak lama kemudian mereka sampai di Toko buku yang dimaksud.Saat mereka sedang asyik belanja, Sita bertemu salah satu guru yang mengajar di sekolah Hendra mengajar.
"Bu Sita, disini juga?"Tanya Dian teman mengajar Hendra
"Iya bu, ini lagi nganter adek bungsu saya cari buku" ucap Sita.
"Oh, kirain sama Pak Hendra"
"Enggak bu, Kan suami saya ada kegiatan Camping disekolah sejak kemarin, oh ya Bu Dian kok nggak ikut?" tanya Sita.
"Camping?, perasaan nggak ada acara Camping bu"
"Masak sih, tapi suami saya bilangnya begitu, saya tanya bu Desy juga bilang begitu" ucap Sita.
"Beneran nggak ada acara Camping bu, Camping itu biasanya diadakan setahun sekali tanggal 14 agustus aja bu" ucap Bu Dian menjelaskan.
Sita terdiam. "Nggak mungkin Ibu Dian bohong, buat apa dia berbohong, lalu berarti Mas Hendra yang bohong dong" batin Sita.
"Ya sudah bu Sita, kalau begitu saya pulang duluan ya! Ini si kecil udah mulai rewel" ucap Bu Dian berpamitan pada Sita.
Sepeninggal Bu Dian, Sita lebih banyak bengong.
"Kak dari tadi bengong aja!, aku udah selesai ayo kita pulang" ucap Amel
Sita dan Amel langsung pulang, setibanya dirumah pikiran Sita menjadi tidak tenang, ia mencoba menghubungi ponsel Hendra namun naas ponselnya dimatikan.
"Tenang, Sita. Kamu harus tenang, Ok beberapa hari yang lalu Doni pernah mengajarinya membuka isi ponsel Hendra melalui laptop ini, Ok Bismillah"
Sita mulai membuka pesan satu persatu di ponsel Hendra, ia sama sekali tidak menemukam hal yang mencurigakan, Lalu ia membuka aplikasi G***k karena penasaran ia membuka aplikasi itu, karena setau dia, suaminya tak pernah mengunakan layanan itu.Betapa kagetnya ia saat ia tau ada Chat disana.
"Ini kenapa banyak banget Chat, apa dia suka pakai aplikasi ini?, tapi kapan dan kemana?" batin Sita.
Ia membuka satu persatu pesan disana, hanya ada satu orang yang intens berkomunikasi dengan suaminya yaitu Tarno.
"Tarno ini siapa?, kenapa banyak banget pesanya?" guman Sita.
Lalu ia membuka salah satu Chat suaminya denga Si Tarno ini.
Tarno : sayang aku kangen
Hendra : Sama aku juga kangen, kita cari waktu yang tepat ya
Mata Sita terbelalak lebar, ia tak sanggup lagi meneruskan membaca Chat suaminya dan si Tarno ini.
"Ya Tuhan, jadi selama ini Mas Hendra itu menyimpang, dia belok?" guman Sita sembari menutup mulutnya. Ia berangapan bahwa Hendra berpacaran dengan sesama jenis. Ia menjadi Ilfeel denga suaminya.
"Aku nggak nyangka kalau mas Hendra penyuka sejenis" Sita kembali berguman ia tidak jadi membuka Chat suaminya. Ia merasa jijik membayangkan.
"Apa hari ini dia pergi dengan Si Tarno itu?" berbagai pertanyaan bersliweran dikepala Sita.
Niatnya pulang untuk menstlika baju, diurungkannya setelah ia melihat pesan dari Tarno dan suaminya.Malam hari Hendra baru pulang, Sita berpura-pura tidak tau kalau sekolah tempat mengajar Hendra tidak ada acara Camping.
"Baru pulang Mas?,"
"Iya,Capek banget aku" ucap Hendra.
"Kelihatanya seru banget ya mas, Campingnya. Apa semua guru harus ikut kok sampai kamu bela-belain hari libur Campinga?" pancing Sita
"Iya, semua harus ikut karena wajib" ucap Hendra berdusta sangat lancar selancar jalan tol, karena sudah terbiasa berbohong.
"Wah, nggak bisa ijin ya?, kalau punya anak kecil kaya bu Dian itu apa juga wajib ikut mas?" Sita kembali memancing karena ia ingin tau sejauh mana suaminya berbohong.
"Ya iyalah, namanya juga wajib. Udah dulu ya aku mau mandi dulu habis itu makan dan langsung tidur" ucap Hendra enteng.
"Enak saja, setelah seharian menghabiskan waktu sama Tarno, ia langsung mau nyuruh siapan makan , makan tuh angin!. Menyebalkan sekali.Mulai sekarang aku nggak boleh percaya sama dia termasuk Mbak Desy bisa-bisanya dia kerja sama dengan mas Hendra membohongiku" batin Sita
Setelah selesai mandi Hendra membuka tudung saji, naas tak ada apapun disana.
"Sayang kok nggak ada makanan?"
"Aku nggak masak mas, kan aku dirumah sendirian tadi aku jajan" ucap Sita enteng.
"Terus aku gimana?"
Tbc...
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments