Makin kacau

"Hen, ponsel kamu bunyi terus dari tadi" ucap Desy.

"Biarin, aku lagi males bicara sama Sita" ucap Hendra, lalu mengaktivekan mode senyap di ponselnya.

"Kamu bilang tadi Sita, mempermalukanmu di depan keluargamu. Memangnya apa yang ia lakukan hingga kau tampak kesal seperti ini"

"Bayangkan saja, ia mengirim slip gajiku pada Rini adekku, mau ditaruh dimana mukaku. Scara tidak langsung ia mengatakan kalau aku numpang hidup sama dia saat ini"

"Mungkin dia ada alasan tersendiri untuk melakukan itu, kamu kan nggak nanya dia kenapa melakukan hal itu"

"Alasan apa?, ingin menelanjangiku didepan keluargaku sendiri" ucap Hendra emosi.

"Sudahlah Hen, jangan dibuat emosi bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Solo, disana ada sekaten, penerbangan dua jam dari sini sampai di solo jam sembilanan nanti kita habiskan malam disana" ucap Desy

"Ke Solo, sebenarnya Ide bagus juga. Sejenak aku bisa melupakan kisruh rumah tanggaku, masalahnya aku nggak ada duit"

"Soal itu gampang, pakai uangku dulu"

"Aku nggak enak Des, uang yang seratus juta itu aja aku belum tau kapan mau balikinya" ucap Hendra

"Jangan dipikirkan!, suamiku kaya, uang segitu nggak ada apa-apanya" ucap Desy.

"OK, kalau begitu kita langsung berangkat ke Solo, kita habiskan malam disana sembari nonton sekaten. Lebih baik aku matikan ponselku sekarang" ucap Hendra.

Keduanya benar-benar pergi ke Solo ikut penerbangan malam itu juga. Sampai di Solo jam sepuluh malam, setibanya disana mereka langsung berburu kuliner dan setelah itu ikut sekatenan sampai menjelang pagi. Pagi Harinya mereka kembali ke Jakarta dengan wajah riang gembira. Sepanjang malam Hendra bercerita tentang Istri, mertua dan adeknya.

Dengan setianya Desy mendengarkan dan sesekali memberi masukan.

Sampai di rumah jam Sepuluh siang, Sita tidak curiga sama sekali, ia masih berangapan jika suaminya tidur dirumah mertuanya.

"Mas, aku mau bicara!"

"Nanti saja, aku ngantuk sekali. Semalaman aku tidak tidur memikirkan masalah kita" ucap Hendra.

"Justru itu!, aku ingin bicara sebentar"

"Nanti saja, aku mau tidur" ucap Hendra.

Terpaksa Sita menunda, apa yang ingin disampaikan pada suaminya.Hingga malam Hendra baru bangun. Sita langsung mendekati suaminya.

"Mas, ada yang ingin aku sampaikan padamu"

"Apa soal utang Ibu lagi?," ucap Hendra sinis

"Kemarin siang aku dilabrak istri Pak Erwin, dia mengira aku selingkuhanya karena Pak Erwin meminjami uang aku sebanyak seratus juta, dan dia meminta uang itu segera dikembalikan" ucap Sita

Rasa bersalah kembali menghampiri Hendra, disaat-saat istrinya butuh dukungan moril darinya ia malah lari dan mencari kenyamanan bersama wanita lain, meskipun mereka tidak melangkah terlalu jauh paling hanya sampai ciuman saja.

"Maafkan aku" ucap Hendra lemah

"Aku berencana menjual rumah ini, untuk menbayar utang pada Pak Erwin, sebagian perabotan juga akan aku jual. Doni terancam gagal kuliah, kalau tidak segara dilunasi tungakan biaya kuliahnya" ucap Sita sambil menghela nafas.

Hendra bagai dihantam batu besar dikepalanya, selama ini ia hanya memikirkan harga dirinya saja, tanpa melihat bagaimana perjaungan istrinya agar dapurnya tetap mengepul belum lagi tuntutan dari keluarganya yang tak ada henti-hentinya.

"Terus kita mau tinggal dimana?, nggak mungkinkan kamu mau tinggal sama Ibu, kalau tinggal sama Mama terlalu jauh"

"Kita ngontrak rumah yang kecil aja" ucap Sita

Hendra hanya bisa menganguk, ia juga tak dapat berbuat apa-apa.Setelah mendengar cerita dari Sita, Hendra semakin merasa bersalah ia bisa membayangakan bagaimana malunya Sita dilabrak di depan umum dituduh sebagai selingkuhan laki-laki orang.

Keesokan harinya setelah pulang dari mengajar Hendra mampir kerumah Rini.Nampak mobil bertenger di depan rumah Rini, mobil ini dibeli dengan uang mertuanya, namun Sita harus menangung malu dilabrak istri orang.Parahnya sekarang ia harus meninggalkan rumahnya yang baru saja ia beli.Hendra bergegas masuk kerumah Rini untuk managih utang.

"Rin, kedatanganku kesini untuk menagih utang yang kau janjikan pada kami.Saat ini kami benar-benar butuh dan itu juga uang mertuaku" ucap Hendra

"Mas Hendra, Sekarang kok kamu ketularan istri kamu yang pelit itu sih, bagi-bagi kebahagiaan dikit kenapa itung-itung sedekah sama saudara sendiri" ucap Rini enteng.

"Rin, Masalahnya itu uang bukan punya kami. Itu uang punya Mama yang akan digunakan untuk melunasi utang biaya rumah sakit, sekarang Doni juga butuh uang itu untuk membayar biaya tungakan kuliah" ucap Hendra memcoba memberi pengertian pada adeknya.

"Mas Hendra udah nggak ngangap aku ini adekmu?, baik kalau begitu aku juga tidak akan mengangapmu saudara. Selama ini aibmu selalu aku tutupi karena kita saudara, tapi ini balasan Mas Hendra"

"Apa maksutmu Rin?, aib apa?" tanya Hendra tak mengerti kemana arah pemebicaraan Rini

"Kamu pikir aku tidak tau, kalau Mas Hendra selingkuh dengan teman Mas Hendra sendiri"

"Jaga bicaramu Rin, aku tidak pernah selingkuh!" elak Hendra.

"Lihat ini apa?" Rini memperlihatkan Foto dan Video diberbagai kesempatan Desy dan Hendra bersama, bahkan ada foto terakir dia menghabiskan malam bersama di Solo kemarin

"Kamu dapat dari mana ini, hapus semua aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Desy"

"Oh jadi namanya Desy, Mas Hendra tak perlu tau aku dapat dari mana Video dan foto ini, kalau Mas Hendra nekat masih terus menangih aku uang maka Foto dan Video ini akan aku kirim ke Mbak Sita, setelah itu" Rini sengaja mengantung kalimatnya karena Hendra tau kelanjutanya pasti Sita akan sangat marah dan membencinya. Ia sangat mencintai Sita dia juga tidak mau kehilangan Sita.

"Sekarang pilihan ada ditanganmu Mas, mau tetap nagih utang atau aku kirim foto-foto dan Video ini pada Mbak Sita" ancam Rini

"Brengsek kamu Rin, aku tolong kamu tapi ini balasanmu!, tega-teganya kau mau menghancurkan rumah tanggaku"

"Bukan aku yang menghancurkan rumah tangga Mas Hendra sudah hancur sejak kau selingkuh.Hanya saja, mbak Sita itu bodoh" ucap Rini mengejek

"Tutup mulutmu!, aku dan Desy hanya berteman"

"Mana ada temen menghabiskan waktu bersama di pasar malam, bahkan sampai sekatenan di Solo. Bukankah kalian punya pasangan masing-masing?"

Hendra tidak menjawab ia sudah mati kutu dihadapan Rini. Menagih hutang pada Rini ternyata sama saja dengan bunuh diri. Dengan langkah gontai ia kerumah Ibunya berharap ada sedikit pengertian dari Ibunya. Ia akan berterus terang tentang gajinya selama ini, dengan demikian ia berharap Ibunya mau mengerti posisinya dan sedikit membantunya. Motor Hendra melaju dengan kecepatan sedang, pikiranya jauh menerawang rumah tangganya kacau.Sepanjang jalan ia menangis tak tau apa yang harus ia lakukan biasanya kalau begini ia langsung akan kerumah Desy. Tapi kali ini ia tidak dapat lakukan karena Rini sudah tau semuanya pasti dia akan semakin menekan Hendra.

Tbc...

Bagaimana guys apakah Ibunya Hendra bersedia membantu Hendra, tunggu di part selanjutnya ya

Jangan lupa like, comment dan favorite ya

Episodes
1 Seatap dengan Mertua
2 Wacana pindah rumah
3 Pindah Rumah
4 Temen Curhat
5 Semakin nyaman
6 Sita sakit
7 Amel kecelakaan
8 Solusi sementara
9 Sita dilabrak
10 Lari dari masalah
11 Makin kacau
12 Skandal
13 Dilabrak mertua
14 Rizal
15 Makan malam bertiga
16 Huru hara
17 Makin terjerumus
18 Amel minta Dres
19 Tarno
20 Mulai curiga
21 Mulai menyelidiki Hendra
22 Waspada
23 Pengakuan
24 Dihadang Istri Erwin
25 Terbakar api cemburu
26 Rencana promil
27 Desy Hamil
28 Masalah baru
29 Kembali berulah
30 Tak dapat mengelak lagi
31 Memanas
32 Desy
33 Masih tentang Desy
34 Kena batunya
35 Pisah rumah
36 Rencana bercerai
37 Suami Desy pulang
38 Wali murid berdemo
39 Surat panggilan dari pengadilan agama
40 Sidang perdana
41 Sidang putusan
42 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43 Banting stir
44 Susah move on (Sumo)
45 Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46 Desy menikah dengan Hendra
47 Demo warga
48 Sita makin bersinar
49 Diambang batas
50 Terhalang restu
51 Masih belum dapat restu
52 Bertemu Alien
53 Lamaran untuk Amel
54 Keributan dipagi hari
55 Masih harus bersabar
56 Mamanya Sita kecelakaan
57 Kondisi Mamanya Sita membaik
58 Kejadian tak terduga
59 H-3
60 Sah
61 Sita Hamil
62 Dipermalukan
63 Ultimatum
64 Desy melahirkan
65 Fakta yang mengejutkan
66 Rendra putra kandung Yoga
67 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68 Cauvade sydrome
69 Tak terima
70 Diluar Nurul
71 Pelajaran berharga
72 Drama belum berakir
73 Terusir dari rumah
74 Nasib Hendra
75 Rini
76 Madu yang pahit
77 Kejutan ulang tahun
78 Masih tentang mantan
79 Wina mengamuk
80 Adu bogem mentah
81 Lupakan aku
82 Rini meminta maaf pada Sita
83 Semprawut
84 Pasrah
85 Marahan
86 Drama yang tak berujung
87 Aksi nekat Hendra
88 Tragis
89 Mulai menata diri
90 Situasi yang tidak kondusif
91 Memanas
92 Meminta untuk berpisah
93 Simalakama
94 Meminta waktu
95 Keputusan akhir
96 Aksi Wina
97 Adu domba
98 Rini di Demo
99 Hanya demi anak
100 Didatangi dept collector
101 Santet
102 Tidak puas
103 Pengobatan
104 Undangan pesta anggota DPR
105 Panik
106 Tragis
107 Boni di tahan
108 Rini kecelakaan
109 Cinta buta
110 Penangkapan Boni
111 Drama tak kunjung usai
112 Ending
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Seatap dengan Mertua
2
Wacana pindah rumah
3
Pindah Rumah
4
Temen Curhat
5
Semakin nyaman
6
Sita sakit
7
Amel kecelakaan
8
Solusi sementara
9
Sita dilabrak
10
Lari dari masalah
11
Makin kacau
12
Skandal
13
Dilabrak mertua
14
Rizal
15
Makan malam bertiga
16
Huru hara
17
Makin terjerumus
18
Amel minta Dres
19
Tarno
20
Mulai curiga
21
Mulai menyelidiki Hendra
22
Waspada
23
Pengakuan
24
Dihadang Istri Erwin
25
Terbakar api cemburu
26
Rencana promil
27
Desy Hamil
28
Masalah baru
29
Kembali berulah
30
Tak dapat mengelak lagi
31
Memanas
32
Desy
33
Masih tentang Desy
34
Kena batunya
35
Pisah rumah
36
Rencana bercerai
37
Suami Desy pulang
38
Wali murid berdemo
39
Surat panggilan dari pengadilan agama
40
Sidang perdana
41
Sidang putusan
42
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43
Banting stir
44
Susah move on (Sumo)
45
Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46
Desy menikah dengan Hendra
47
Demo warga
48
Sita makin bersinar
49
Diambang batas
50
Terhalang restu
51
Masih belum dapat restu
52
Bertemu Alien
53
Lamaran untuk Amel
54
Keributan dipagi hari
55
Masih harus bersabar
56
Mamanya Sita kecelakaan
57
Kondisi Mamanya Sita membaik
58
Kejadian tak terduga
59
H-3
60
Sah
61
Sita Hamil
62
Dipermalukan
63
Ultimatum
64
Desy melahirkan
65
Fakta yang mengejutkan
66
Rendra putra kandung Yoga
67
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68
Cauvade sydrome
69
Tak terima
70
Diluar Nurul
71
Pelajaran berharga
72
Drama belum berakir
73
Terusir dari rumah
74
Nasib Hendra
75
Rini
76
Madu yang pahit
77
Kejutan ulang tahun
78
Masih tentang mantan
79
Wina mengamuk
80
Adu bogem mentah
81
Lupakan aku
82
Rini meminta maaf pada Sita
83
Semprawut
84
Pasrah
85
Marahan
86
Drama yang tak berujung
87
Aksi nekat Hendra
88
Tragis
89
Mulai menata diri
90
Situasi yang tidak kondusif
91
Memanas
92
Meminta untuk berpisah
93
Simalakama
94
Meminta waktu
95
Keputusan akhir
96
Aksi Wina
97
Adu domba
98
Rini di Demo
99
Hanya demi anak
100
Didatangi dept collector
101
Santet
102
Tidak puas
103
Pengobatan
104
Undangan pesta anggota DPR
105
Panik
106
Tragis
107
Boni di tahan
108
Rini kecelakaan
109
Cinta buta
110
Penangkapan Boni
111
Drama tak kunjung usai
112
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!