Kesal marah campur jadi satu, inilah yang membuat Sita tidak betah dirumah mertuanya.Hendra yang dikira akan membelanya, setidaknya jujur tentang keadaan sebenarnya, tapi nyatanya laki-laki ini hanya diam demi menjaga perasaan Ibunya.
Sesampainya dikamar Sita baru ingat bahwa siang tadi paketnya datang.Paket skincare online yang selalu ia beli di melalui aplikasi online, disitu ia melihat bahwa penerimanya adalah Ibu mertuanya bergegas ia keluar untuk mengambil skincare itu karena punyanya sudah habis sama sekali.
"Bu, tadi terima paket Sita?" tanya Sita
"Iya, kenapa?"
"Sekarang paketnya dimana?"
"Sudah aku kasih ke Rini, emangnya kenapa?"
"Itu punyaku Bu, bukan punya Rini"
"Hallah kamu ini pelit banget jadi orang, sama saudara sendiri aja peritungan banget"
"Ibu kenapa, main kasih-kasih aja paket Sita. Itu paket punyaku ya bu bukan punya Ibu kenapa Ibu main kasih aja"
"Dasar pelit, lagian beli bedak juga pakai uang Hendra, nggak ada salahnya aku kasih ke Rini, toh Rini adeknya.Hendra pasti setuju-setuju aja. Nggak kaya kamu, pelitnya nggak ketulungan"
"Bu, paket itu punya Sita sendiri, Sita beli pakai uang Sita sendiri" ucap Sita jengkel
Hendra keluar dari kamar mandi melihat keributan di dapur.
"Ada apa lagi ini?," tanya Hendra
"Itu istri kamu, perhitungan banget sama saudara sendiri. Masalah bedak aja diributin, Ok nanti Ibu belikan di warung sebelah" ucap Ibunya Hendra enteng
"Yang, kamu yang sabar ya?. Nanti beli lagi aja" ucap Hendra.seolah mau membelikan skincare aja.Hendra menarik tangan istrinya diajak menjauh dari Ibunya mau tak mau Sita mengikuti suaminya.
"Mas, tolong segara bicara pada Ibu kalau kita mau pindah, nanti kalau aku yang bicara Mas tau sendiri,bagaimana nanti reaksi Ibu?"
"Iya, Mas akan bicara sama Ibu. Pelan-pelan ya sabar. Mungkin ini butuh proses Ibu tentu saja pasti menolak tapi Mas akan usahakan demi kebaikan kita bersama"
Beberapa hari setepahnya setelah mencari waktu yang tepat, disaat suasana hatin Ibunya Hendra sedang membaik, karena Hendra baru saja gajian. Hendra mengajak Ibunya berbicara.
"Ibu, Hendra mau bicara"
"Bicaralah!, ada apa?" tanyanya
"Aku dan Sita mau pindah rumah"
"Apa?, enggak-enggak bisa gitu dong, kamu nggak boleh pindah biar aja istrimu pindah sendiri"
"Nggak bisa gitu dong bu, Bagaimanapun juga Hendra dan Sita suami istri jadi harus terus bersama"
"Oh...jadi sekarang kamu lebih mentingin perempuan itu?, perempuan yang baru saja hadir dalam hidupmu dibandingkan Ibumu yang sejak dulu, merawat dan membesarkanmu hingga sekarang kau bisa jadi orang sukses seperti ini?"
"Bukan begitu bu, Ini demi kebaikan Ibu dan Sita. Hendra cape melihat Ibu dan Sita nggak akur"
"Dasar istrimu aja yang nggak tau diri, bisa-bisanya dia mau ngejahuin anak sama Ibunya, Pantas saja sampai sekarang kalian belum dikasih momongan, kelakuan istrimu aja kaya gini"
"Ibu, tolong ngertiin posisiku?"
"Kamu kasih pengertian ke istri kamu, jangan mau enaknya aja. Ibu tau dia ngajak kamu pindah agar bisa kuasai uang kamu semua, dasar perempuan benalu!"
"Astahfirullah Ibu, jangan berkata seperti itu"
"Lihat dirimu, bahkan kau lebih membela perempuan iru dibanding Ibu"
Ibunya Hendra kekeh tidak mengijinkan Hendra pindah, ia takut semua gaji Hendra akan dinikmati sendiri oleh Sita. setelah beberapa hari Hendra berbicara lagi dengan Ibunya, akhirnya dengan berat hati Ibunya mengijinkan Hendra untuk pindah.
Sita sangat bahagia setidaknya mulai hari ini dia tidak perlu menebalkan kupingnya mendengar hinaan demi hinaan yang dilontarkan mertuanya.
"Kamu senang sekarang?"
"Banget, setidaknya aku bisa bernafas lega. Kerjaanku sedang banyak-banyaknya yang mengharuskan aku lembur, aku nggak sangup kalau sampai dirumah masih harus mencuci baju seluruh anggota keluarga, belum lagi cucian mengunung, sampah dimana-mana itu semua membuatku stres mas"
"Aku senang kalau kamu bahagia" ucap Hendra
"Minggu ini kita keluar yuk, jalan-jalan" pinta Sita. Jalan-jalan adalah hal yang tidak pernah Sita lakukan selama tinggal dirumah mertuanya, kini ia bertekat untuk menikmati hari-harinya.
"Ayo!" ucap Hendra.
Hendra sangat mencintai Sita, namun ia juga sangat menyayangi Ibunya, kadang ia merasa di sebuah persimpangan antara Ibu dan Istrinya tapi ia lebih berat ke Ibunya. Setelah pindah rumahpun segala keperluan yang menanggung Nindy. Gajinya tetap diserahkan pada Ibunya.
Hari ini Sita benar-benar menikmati waktunya bersama suaminya.Seminggu sudah Sita meninggalkan rumah mertuanya.Hari ini suasana sangat cerah secerah hati Sita, sepulang dari kerja ia dikejutkan dengan kedatangan mertuanya.
"Ibu Apa kabar?" sapa Sita
"Seperti yang kamu lihat, Ibu masih hidup, kamu pikir Ibu akan mati begitu setelah kamu pergi dari rumah Ibu" sinis Ibu mertua Sita.
"Astagfirullah, sabar-sabar" batin Sita.
"Masuk bu," ucap Sita mempersilahkan mertuanya untuk masuk rumah. Ibunya Hendra langsung masuk nyelong bagai tuan rumah melihat-lihat rumah Nindy yang perabotnya masih baru semua.
"Gaya banget kamu pakai mesin cuci segala, memangnya tangan kamu sudah nggak bisa berfungsi?"
"Dengan mesin cuci, Sita bisa menghemat waktu bu" ucap Sita dengan lembut, walau sebenarnya hatinya geram dengan sikab mertuanya yang selalu ikut campur urusanya.
"Kerjaanya cuma ngabisin duit aja!, kamu kan punya tangan, nyuci pakai tangan napa?, kaya boss aja nyuci pakai mesin cuci" cerca Ibunya Hendra.
Sita menghela nafas, menghirup udara sebanyak-banyaknya agar tidak emosi mendengar ceramah mertuanya.
"Ini lagi, pakai blender segala. Sudah nggak kuat nguleg bumbu" cercanya
"Ini mendingan blender Ibu bawa pulang aja, Ibu sudah tua harusnya Ibu yang pakai bukan kamu" ucapnya
"Owalah...cuma mau minta blender aja ceramah panjang kali lebar" batin Sita
"Suamimu mana?,"
"Masih kerja bu" ucap Sita
"Suami masih kerja, kamu sudah pulang enak-enakan!, Ibu mau minta jatah Ibu bulan ini belum ditranfer"
"Kalau gitu nunggu Mas Hendra saja dulu"
"Kelamaan, sini aku minta uang sama kamu!"
Sita mengeluarkan uang berwarna merah tiga lembar pada Ibu mertuanya agar segera pergi.Sudah bosan ia mendengar ceramahnya yang tak ada ujungnya.
"Apa ini?, kenapa cuma segini, kamu mau nilep?" tuduhnya
"Bu,itu uang Sita sendiri.Mas Hendranya belum pulang" ucap Sita mencoba bersabar walau dalam hatinya dongkol tidak karuan.
"Hallah, palingan juga duit dari Hendra. Jangan sok kaya kamu, pegawai rendahan saja sombong,lihat anakku yang PNS saja biasa aja"
"Maaf bu, asal Ibu tau saya tidak pernah meminta uang dari mas Hendra. Semua kebutuhan saya penuhi sendiri"
"Jangan membual kamu, Mana uangnya? jangan kamu kuasai sendiri
uang Hendra!"
"Terserah Ibu mau bilang apa?, saya sudah tidak ada uang lagi" ucap Sita kesal.
"Dasar menantu tidak tau diuntung!"
Sita sudah kenyang cacian dari mertuanya, ia langsung meninggalkan mertuanya demi menjaga kewarasanya.
Tbc
Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Zhu Yun💫
Semangat kakak, abaikan saja komentar negatif 🥰🤗
2023-07-09
0
cipon
perempuan ltolol pantas untuk dicaci
2023-07-08
0