Lari dari masalah

Sesampaimya dirumah muka Hendra merah padam.Mendengar laporan dari Rini adeknya darahnya serasa mendidih.Ingin rasanya memaki istrinya karena telah lancang mengirim slip gajinya pada keluarganya, namun sesampainya di rumah ia melihat istrinya menangis sesenggukan.

"Malam ini aku tidur dirumah Ibu" kata Hendra yang masih berusaha meredam emosinya pada Sita.

"Kenapa kau mau tidur disana disaat aku sedang kacau begini, tidakkan ada empati darimu?"

"Masalah kamu buat sendiri, selesaikan sendiri"

"Apa maksudmu mas?" tanya sita mengebu.

"Sudahlah!, aku tak ingin berdebat denganmu, aku tidak ingin menyakitimu lebih baik aku menenangkan diri dulu" ucap Hendra yang langsung pergi begitu saja, tanpa mempedulikan teriakan Sita yang menangis histeris.

"Ya Tuhan, cobaan apalagi yang engkau berikan pada hamba, disaat hamba menangis butuh bahu untuk bersandar mengapa dia malah menghindar." guman Sita sambil terus terisak.

"Bagaimana aku dapat uang seratus juta untuk menganti uang Pak Erwin, bagaimana nasib kuliah Doni.Hiks...hiks...hik" Sita terus saja menangis meratapi nasibnya.

Setelah puas menangis, Sita mengaji untuk menenangkan hatinya.Tak lama setelah Sita mengaji terdengar suara sepeda motor dari depan rumahnya.Sita menyelesaikan acara mengajinya.

"Itu pasti Mas Hendra, dia pasti tidak tega meninggalkanku dalam keadaan begini" guman Sita. Hatinya sedikit berbunga

"Ceklek" pintu dibuka. Sita terkejut yang datang bukanya Hendra suaminya melainkan Doni adeknya.

"Assalamualaikum mbak, maaf malam-malam menganggu"

"Masuk Don!" ucap Sita. Doni merasa tidak enak datang malam-malam kerumah Sita apalagi Sita nampak sangat kacau.

"Ada apa Don?" tanya Sita.

"Emm...enggak apa-apa mbak, cuma mau nengok mbak Sita aja" ucap Doni yang tidak enak pada Sita, namun Sita hafal betul adeknya, pasti ada sesuatu yang mendesak hingga malam-malam begini kerumahnya.

"Don, mbak tau kamu itu bagaimana? Nggak mungkin tidak ada apa-apa kamu malam-malam begini kerumah Mbak"

"Enggak apa-apa kok mbak sungguh!, aku pulang aja mbak, kalau begitu" ucap Doni.

"Lebih baik aku pulang aja, sepertinya kedatanganku tidak tepat waktu. Biarlah sementara aku cuti kuliah dulu" batin Doni.

"Doni!, aku ini kakakmu. Tolong bicaralah apa yang ingin kamu bicarakan kamu nggak mau mbak sedih kan?" ucap Sita yang hampir menangis.Doni menjadi tidak tega.

"Mbak sebenarnya, aku kesini mau minta uang Ibu buat bayar kuliah. Uang kuliahku udah nunggak banyak dan untuk membayar praktikum, tapi kalau uangnya belum ada nggak apa-apa mbak, nanti aku cari cara lain atau nggak kuliah dulu" ucap Doni

"Jangan Don, kamu harus tetap kuliah. kasian Mama, dia pasti sedih kalau kamu mogok kuliah. Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Sita, walaupun ia juga sudah sangat pening memikirkan uang Erwin yang belum dikembalikan. Belum lagi Doni mau berhenti kuliah.

"Sekitar lima puluh juta mbak, karena Doni sudah nunggak banyak biaya Semesteran dan biaya-biaya lainya jadinya numpuk ditambah lagi sekarang banyak praktikum" ucap Doni lemah

Sita memijit pelipisnya, dari mana dapat uang segitu banyak, suaminya yang menghabiskan uang untuk Ibunya malah kabur begitu saja ditengah-tengah masalah yang terjadi.

"Mbak akan usahakan Don, secepatnya! Kamu jangan berhenti kuliah" ucap Sita.

Doni mentap sekilas kakaknya, tampak sekali kakaknya sedang memikul beban yang sangat berat, Doni mendesak Kakaknya untuk bercerita padanya awalnya Sita tidak mau bercerita apapun tapi Doni mengancam tidak akan kuliah kalau Kakaknya tidak menceritakan masalahnya. Mau tidak mau Sita menceritakan masalah yang dihadapinya kini.

"Astagfirullah, Mbak Sita kenapa nggak pernah cerita pada kami, mbak nggak nggangap kami keluarga lagi?"

"Bukan begitu Don, ini masalah rumah tangga mbak, sebenarnya mbak tidak mau berbagi cerita pada siapapun tapi karena kamu ngancam berhenti kuliah terpaksa mbak cerita, sekarang mbak mohon jangan pernah bilang pada Mama, Mbak nggak ingin mama kepikiran lalu sakit" ucap Sita.

"Iya mbak, Doni janji nggak akan cerita ke Mama, tapi mbak harus bilang ke Doni kalau ada apa-apa, Sekarang apa rencana mbak?"

"Entahlah Don, mbak pusing! Mbak rencananya mau jual rumah ini biar diterusin kreditnya sama orang lain lalu mbak ngontrak rumah kecil" ucap Sita.

"Suami tidak bertanggung jawabmu itu pasti tidak akan setuju mbak, lagian Doni nggak apa-apa kalau harus berhenti kuliah.Nanti Doni cari alasan pada Mama. Mbak tenang aja" ucap Doni

"Jangan Don!, Mama akan kecewa kalau kamu tidak kuliah, apalagi kalau ia tau uangnya sudah dihabisin sama kelaurga suami mbak"

"Mbak pikirkan masak-masak sebelum mengambil keputusan"

"Mbak tidak ada pilihan lain, lagian ini rumah punya mbak sendiri mbak yang beli dengan keringat mbak sendiri"

"Tapi walau bagaimanapun juga mbak harus ijin sama suami keparatmu itu. Nanti biar Doni bantu cari pembeli kalau suami keparatmu itu sudah memberi ijin" ucap Doni.

"Iya, setelah Mas Hendra pulang mbak akan bicara denganya"

"Mbak, apa perlu malam ini aku menginap disini menemani mbak"

"Jangan Don!, nanti mama nyari kamu malah tanya yang aneh-aneh kalau kamu tidur disini.Kamu pulang aja mbak nggak apa-apa"

"Mbak, pernikahan mbak ini sudah nggak sehat, mertua mbak terlalu ikut campur.Kalau mbak sudah nggak sanggup kenapa mbak nggak menyerah saja?"

"Enggak Don, bagi mbak mau bagaimanapun juga Mas Hendra tetap suami Mbak, jadi mbak akan tetap bertahan selama tidak ada perselingkuhan" ucap Sita.

"Semoga setelah ini, keluarga toxic itu tidak bikin ulah lagi" ucap Doni jadi geram sendiri.

"Aku selalu berharap akan ada keajaiban hubungan kami membaik layaknya menantu dan mertua dan layaknya Ipar yang saling menyayangi"

"Aamiin mbak, meskipun aku nggak yakin keluarga mbak akan berubah" ucap Doni

"Kamu nyumpahin mbak?"

"Bukan begitu, tapi dilihat keluarga suami mbak itu toxic semua termasuk suamimu, udah ah.... Doni pulang dulu" Pamit Doni.

"Hati-hati, salam buat Mama"

•••

Sementara itu, Hendra yang sedang lari dari masalah ia pergi ke taman dan membuat status seraya berselfi ria.Ia sengaja memprivasi statusnya pada Sita agar tidak ribut lagi.

"Sedang Panas!, butuh yang adem-adem" itulah caption status Hendra.Baru ia muat bebetapa menit langsung diserbu commentar dari teman-temanya.

Melihat postingan Hendra, Desy tidak mengomentarinya tapi langsung mengirimi pesan padanya.

"Kamu dimana?" pesan yang dikirim Desy.

"Ditaman, dekat rumahmu" bals Hendra

"Tunggu!, aku akan kesana" ucap Desy.

Benar saja baru beberapa saat setelah mengirim pesan Desy sudah tiba ditempat Hendra.

"Kamu ada masalah apalagi sih?, bukanya masalah uang sudah clear?" tanya Desy.

"Ini masalahnya tentang harga diri Des, Sita sudah menginjak-injak harga diriku. Ingin sekali aku marah padanya tapi aku tak bisa" ucap Hendra sambil menangis

Tbc

Jangan lupa like, comment dan favorite ya men temen

Terpopuler

Comments

Ranny

Ranny

dasar Hendra bodok pecundang 😡

2024-02-11

0

lihat semua
Episodes
1 Seatap dengan Mertua
2 Wacana pindah rumah
3 Pindah Rumah
4 Temen Curhat
5 Semakin nyaman
6 Sita sakit
7 Amel kecelakaan
8 Solusi sementara
9 Sita dilabrak
10 Lari dari masalah
11 Makin kacau
12 Skandal
13 Dilabrak mertua
14 Rizal
15 Makan malam bertiga
16 Huru hara
17 Makin terjerumus
18 Amel minta Dres
19 Tarno
20 Mulai curiga
21 Mulai menyelidiki Hendra
22 Waspada
23 Pengakuan
24 Dihadang Istri Erwin
25 Terbakar api cemburu
26 Rencana promil
27 Desy Hamil
28 Masalah baru
29 Kembali berulah
30 Tak dapat mengelak lagi
31 Memanas
32 Desy
33 Masih tentang Desy
34 Kena batunya
35 Pisah rumah
36 Rencana bercerai
37 Suami Desy pulang
38 Wali murid berdemo
39 Surat panggilan dari pengadilan agama
40 Sidang perdana
41 Sidang putusan
42 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43 Banting stir
44 Susah move on (Sumo)
45 Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46 Desy menikah dengan Hendra
47 Demo warga
48 Sita makin bersinar
49 Diambang batas
50 Terhalang restu
51 Masih belum dapat restu
52 Bertemu Alien
53 Lamaran untuk Amel
54 Keributan dipagi hari
55 Masih harus bersabar
56 Mamanya Sita kecelakaan
57 Kondisi Mamanya Sita membaik
58 Kejadian tak terduga
59 H-3
60 Sah
61 Sita Hamil
62 Dipermalukan
63 Ultimatum
64 Desy melahirkan
65 Fakta yang mengejutkan
66 Rendra putra kandung Yoga
67 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68 Cauvade sydrome
69 Tak terima
70 Diluar Nurul
71 Pelajaran berharga
72 Drama belum berakir
73 Terusir dari rumah
74 Nasib Hendra
75 Rini
76 Madu yang pahit
77 Kejutan ulang tahun
78 Masih tentang mantan
79 Wina mengamuk
80 Adu bogem mentah
81 Lupakan aku
82 Rini meminta maaf pada Sita
83 Semprawut
84 Pasrah
85 Marahan
86 Drama yang tak berujung
87 Aksi nekat Hendra
88 Tragis
89 Mulai menata diri
90 Situasi yang tidak kondusif
91 Memanas
92 Meminta untuk berpisah
93 Simalakama
94 Meminta waktu
95 Keputusan akhir
96 Aksi Wina
97 Adu domba
98 Rini di Demo
99 Hanya demi anak
100 Didatangi dept collector
101 Santet
102 Tidak puas
103 Pengobatan
104 Undangan pesta anggota DPR
105 Panik
106 Tragis
107 Boni di tahan
108 Rini kecelakaan
109 Cinta buta
110 Penangkapan Boni
111 Drama tak kunjung usai
112 Ending
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Seatap dengan Mertua
2
Wacana pindah rumah
3
Pindah Rumah
4
Temen Curhat
5
Semakin nyaman
6
Sita sakit
7
Amel kecelakaan
8
Solusi sementara
9
Sita dilabrak
10
Lari dari masalah
11
Makin kacau
12
Skandal
13
Dilabrak mertua
14
Rizal
15
Makan malam bertiga
16
Huru hara
17
Makin terjerumus
18
Amel minta Dres
19
Tarno
20
Mulai curiga
21
Mulai menyelidiki Hendra
22
Waspada
23
Pengakuan
24
Dihadang Istri Erwin
25
Terbakar api cemburu
26
Rencana promil
27
Desy Hamil
28
Masalah baru
29
Kembali berulah
30
Tak dapat mengelak lagi
31
Memanas
32
Desy
33
Masih tentang Desy
34
Kena batunya
35
Pisah rumah
36
Rencana bercerai
37
Suami Desy pulang
38
Wali murid berdemo
39
Surat panggilan dari pengadilan agama
40
Sidang perdana
41
Sidang putusan
42
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43
Banting stir
44
Susah move on (Sumo)
45
Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46
Desy menikah dengan Hendra
47
Demo warga
48
Sita makin bersinar
49
Diambang batas
50
Terhalang restu
51
Masih belum dapat restu
52
Bertemu Alien
53
Lamaran untuk Amel
54
Keributan dipagi hari
55
Masih harus bersabar
56
Mamanya Sita kecelakaan
57
Kondisi Mamanya Sita membaik
58
Kejadian tak terduga
59
H-3
60
Sah
61
Sita Hamil
62
Dipermalukan
63
Ultimatum
64
Desy melahirkan
65
Fakta yang mengejutkan
66
Rendra putra kandung Yoga
67
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68
Cauvade sydrome
69
Tak terima
70
Diluar Nurul
71
Pelajaran berharga
72
Drama belum berakir
73
Terusir dari rumah
74
Nasib Hendra
75
Rini
76
Madu yang pahit
77
Kejutan ulang tahun
78
Masih tentang mantan
79
Wina mengamuk
80
Adu bogem mentah
81
Lupakan aku
82
Rini meminta maaf pada Sita
83
Semprawut
84
Pasrah
85
Marahan
86
Drama yang tak berujung
87
Aksi nekat Hendra
88
Tragis
89
Mulai menata diri
90
Situasi yang tidak kondusif
91
Memanas
92
Meminta untuk berpisah
93
Simalakama
94
Meminta waktu
95
Keputusan akhir
96
Aksi Wina
97
Adu domba
98
Rini di Demo
99
Hanya demi anak
100
Didatangi dept collector
101
Santet
102
Tidak puas
103
Pengobatan
104
Undangan pesta anggota DPR
105
Panik
106
Tragis
107
Boni di tahan
108
Rini kecelakaan
109
Cinta buta
110
Penangkapan Boni
111
Drama tak kunjung usai
112
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!