Sita sakit

Setelah pulang dari mengajar Hendra mengantar Desy terlebih dahulu seperti biasanya. Sampai dirumah Sita belum pulang ia langsung menemui Ibunya dan berbicara dari hati ke hati, namum Ibunya tetap kekeh ingin tinggal dirumah Hendra.Disana ia tidak usah mengeluarkan uang, mau makan tinggal perintah, kurang cocok tinggal memaki Sita.Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya Ibunya Hendra mau pulang juga, Hari sudah malam namun belum ada tanda-tanda Sita pulang Hendra sangat gelisah lalu ia mengubungi ponsel istrinya.

"Sayang kamu dimana?, ini sudah malam, kenapa belum sampai dirumah" Send pesan terkirim.Beberapa saat kemudian centang dua biru yang artinya Sita sudah membaca pesanya.

"Maaf Mas, sepertinya malam ini aku tidak pulang dulu, aku menginap dirumah Mama. Badanku demam" balas Sita.

"Alasan kamu, pulanglah Ibu sudah pulang dari tadi!" Hendra mengirim pesan lagi.

"Beneran aku lagi sakit mas, kalau kau tak percaya kau boleh tanya Mama atau susul kemari" ucap sita.

Hendra tak membalas lagi pesan Sita, ia kecewa dengan Sita, kenapa harus bohong untuk menghindari Ibunya.Saat hendak kerumah mertuanya untuk menjemput Sita tiba-tiba ponselnya berbunyi rupanya Desy yang mengiriminya pesan. Hendra langsung berbalas pesan dengan Desy sampai malam hari ia tak jadi menjemput Sita.

"Mas, aku lagi beli jagung nih" pesan Desy sambil mengirim foto ia sedang makan jagung di pasar malam.

"Mau dong!"

"Sini aja, deket kok dari rumah kamu, dari pada kamu suntuk dirumah sendirian" balas Desy.

"On the wusss" balas Hendra. Selesai mengirim pesan pada Desy ia menyambar kunci motornya dan menyusul Desy kepasar malam.

Sementara itu Sita sedang merintih menahan sakit, badanya tiba-tiba meriang, karena tadi pagi sehabis diguyur oleh mertuanya ia tak langsung ganti baju dan langsung menyelesaikan pekerjaan rumah.

"Loh Mbak Sita ada disini?, Mas Hendra mana?" tanya Doni adek Sita.

"Mbak kesini sendiri kok Don, mbak males dirumah ada Ibu"

"Wait...wait, tadi aku pas dipasar malam melihat orang sepintas kaya mas Hendra mbak"

"Masak sih?"

"Semoga saja aku salah lihat orang" ucap Doni.

Coba aku telephone mas Hendra.Sita langsung menghubungi Hendra namun, pangilanya tidak dijawab oleh Hendra.

"Nggak di jawab, mungkin dia sudah tidur tadi katanya Ibu sudah pulang, coba aku kirim pesan"

"Mas kamu dimana?" Sent pesan terkirim. Tak lama kemudian Hendra membalas pesan Sita.

"Maaf sayang, Mas tadi ada di toilet mules banget, habis makan pecel lele buatan kamu" balas Hendra.

"Ya,sudah kalau begitu"

"Kamu Istirahat aja, katanya lagi sakit" balas Hendra lagi.

"Iya, Makasih ya Mas" ucap Sita.

tanpa curiga pada suaminya Sita langsung kembali tidur.Tengah malam Sita terbangun badanya panas tinggi, Doni menghubungi Hendra namun ponsel Hendra dimatikan, akhirnya Doni dan Mamanya memutuskan untuk membawa Sita ke puskesmas terdekat.

"Kakak saya sakit apa dok?" tanya Doni

"Dari diagnosis ini, Ibu Sita terkena penyakit tipes, biasanya dipicu oleh makanan yang terlalu pedas, asam, makan tidak teratur atau bisa juga karena stres" ucap sang dokter.

Doni dan Mamanya saling diam mendengar penjelasan dokter, Mamanya berpikir keras.

"Sita bukan penyuka makanan pedas dan asam, berarti kalau nggak makan teratur Sita stres" Batin Mamanya Sita

"Don, Hendra sudah kamu hubungi belum?" tanya Ibunya.

"Udah Ma, tapi ponselnya mati. Mungkin kehabisan daya" ucap Doni berpositif thinking didepan Mamanya agar Mamanya tidak kepikiran.

Sebenarnya Doni sudah mulai curiga dengan kedayangan Sita kerumahnya seorang diri ditambah lagi di Pasar malam ia sempat melihat Hendra. Ia tak ingin salah sangka dulu, tapi dia bertekat untuk menyelidiki Hendra.

"Don, tolong hubungi Mas Hendra"

"Kayaknya batrey ponselnya kehabisan daya deh mbak, Pasti besuk pagi-pagi sekali ia akan kesini" ucap Doni menenangkan Kakaknya.

"Kakak istirahatlah, jangan mikir yang macam-macam" lanjutnya.

"Doni benar nak, Kamu harus banyak istirahat jangan kebanyakan pikiran agar kamu segera pulih" ucap Mamanya Sita sambil membetulkan selimut putrinya.

Keesokan harinya, Hendra meresa kesal sendiri. Ia merasa sudah melakukan hal yang bisa membuat istrinya pulang tapi nyatanya istrinya malah tidak pulang dengan alasan sakit.Sejak semalam ia sengaja mematikan ponselnya.Pagi ini ia seperti biasa memjemput Desy dan sarapan dirumah Desy, tak lupa ia Curhat tentang kekesalanya karena istrinya tidak pulang. Sampai siang hari ia masih mematikan ponselnya Doni sudah menunggu Hendra di depan sekolah Hendra.

"Itu sepertinya Doni?, ngapain dia kesini" guman Hendra. Ia langsung menyuruh Desy untuk pulang sendiri dulu.

"Hai Don, tumben kamu kesekolah Mas" Sapa Hendra

"Nggak usah basa basi mas, kemana ponsel Mas Hendra?"

"Ada, kenapa?" tanyanya tanpa rasa bersalah sama sekali.

"Kalau punya ponsel hanya untuk dimatiin jangan pake ponsel, atau jangan-jangan Mas Hendra punya ponsel dua?" ucap Hendra.

"Apa maksud kamu Don?, dari tadi Mas lihat kamu nyolot terus,"

"Gimana aku nggak nyolot, kami menyerahkan mbak Sita ke Mas Hendra untuk mas Hendra jaga, jangankan menjaga dikabari istrinya sakit aja cuek malah ponselnya dimatikan, Aku peringatkan mas jangan main api kalau tidak mau terbakar" ucap Doni lalu meninggalkan Hendra begitu saja

"Don..don, mau kemana? Apa maksut kamu tadi?" ucap Hendra. Doni tak mengubris sama sekali ucapan Hendra. Ia langsung melesat dengan motor bebeknya.

Hendra menghidupkan ponselnya ada banyak misscall dari Hendra dan beberapa pesan dari Hendra yang mengatakan kalau Sita sedang sakit. Saat ini Sita sedang dirawat di puskesmas. Ada rasa bersalah menelusup dari dalam relung hatinya, harusnya ia ada disaat-saat istrinya sedang sakit, tapi ia malah menghabiskan waktu dengan Desy ke pasar malam.Dengan tergesa Hendra langsung ke puskesmas dimana Sita dirawat.

"Assalamualaikum?" sapa Hendra ketika masuk keruang rawat Sita

"Waalaikum salam nak, baru pulang? Semalam Doni menghubungimu katanya ponselmu kehabisan daya" ucap Mamanya Sita.

"Iya Ma, mohon maaf Hendra benar-benar nggak tau kalau Sita dirawat, pulang dari ngajar langsung mengecek tugas anak-anak dan langsung tidur Ma" ucap Hendra berbohong.

"Iya, nggak apa-apa. Repot ya ternyata jadi PNS" ucap Mamanya Sita

"Iya ma" ucap Hendra tidak ebak

"Sayang maafkan Mas," ucap Hendra menangis menyesali perbuatanya

"Kenapa sampai nangis begini mas?, aku nggak apa-apa kok, cuma tipes aja ntar juga sembuh" ucap Sita yang berpikir bahwa Hendra menangis karena melihat keadaanya.

"Mama pulang aja, kasian adek-adek dirumah sendirian, biar Sita Hendra yang jaga"

"Ya sudah kalau begitu, Mama pulang dulu kasian adek kamu pasti sudah nangis dirumah karena mama Nggak ada" ucap Mamanya Sita

Jangan lupa guys, like, comment dan favoritenya ya guys ya.

Episodes
1 Seatap dengan Mertua
2 Wacana pindah rumah
3 Pindah Rumah
4 Temen Curhat
5 Semakin nyaman
6 Sita sakit
7 Amel kecelakaan
8 Solusi sementara
9 Sita dilabrak
10 Lari dari masalah
11 Makin kacau
12 Skandal
13 Dilabrak mertua
14 Rizal
15 Makan malam bertiga
16 Huru hara
17 Makin terjerumus
18 Amel minta Dres
19 Tarno
20 Mulai curiga
21 Mulai menyelidiki Hendra
22 Waspada
23 Pengakuan
24 Dihadang Istri Erwin
25 Terbakar api cemburu
26 Rencana promil
27 Desy Hamil
28 Masalah baru
29 Kembali berulah
30 Tak dapat mengelak lagi
31 Memanas
32 Desy
33 Masih tentang Desy
34 Kena batunya
35 Pisah rumah
36 Rencana bercerai
37 Suami Desy pulang
38 Wali murid berdemo
39 Surat panggilan dari pengadilan agama
40 Sidang perdana
41 Sidang putusan
42 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43 Banting stir
44 Susah move on (Sumo)
45 Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46 Desy menikah dengan Hendra
47 Demo warga
48 Sita makin bersinar
49 Diambang batas
50 Terhalang restu
51 Masih belum dapat restu
52 Bertemu Alien
53 Lamaran untuk Amel
54 Keributan dipagi hari
55 Masih harus bersabar
56 Mamanya Sita kecelakaan
57 Kondisi Mamanya Sita membaik
58 Kejadian tak terduga
59 H-3
60 Sah
61 Sita Hamil
62 Dipermalukan
63 Ultimatum
64 Desy melahirkan
65 Fakta yang mengejutkan
66 Rendra putra kandung Yoga
67 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68 Cauvade sydrome
69 Tak terima
70 Diluar Nurul
71 Pelajaran berharga
72 Drama belum berakir
73 Terusir dari rumah
74 Nasib Hendra
75 Rini
76 Madu yang pahit
77 Kejutan ulang tahun
78 Masih tentang mantan
79 Wina mengamuk
80 Adu bogem mentah
81 Lupakan aku
82 Rini meminta maaf pada Sita
83 Semprawut
84 Pasrah
85 Marahan
86 Drama yang tak berujung
87 Aksi nekat Hendra
88 Tragis
89 Mulai menata diri
90 Situasi yang tidak kondusif
91 Memanas
92 Meminta untuk berpisah
93 Simalakama
94 Meminta waktu
95 Keputusan akhir
96 Aksi Wina
97 Adu domba
98 Rini di Demo
99 Hanya demi anak
100 Didatangi dept collector
101 Santet
102 Tidak puas
103 Pengobatan
104 Undangan pesta anggota DPR
105 Panik
106 Tragis
107 Boni di tahan
108 Rini kecelakaan
109 Cinta buta
110 Penangkapan Boni
111 Drama tak kunjung usai
112 Ending
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Seatap dengan Mertua
2
Wacana pindah rumah
3
Pindah Rumah
4
Temen Curhat
5
Semakin nyaman
6
Sita sakit
7
Amel kecelakaan
8
Solusi sementara
9
Sita dilabrak
10
Lari dari masalah
11
Makin kacau
12
Skandal
13
Dilabrak mertua
14
Rizal
15
Makan malam bertiga
16
Huru hara
17
Makin terjerumus
18
Amel minta Dres
19
Tarno
20
Mulai curiga
21
Mulai menyelidiki Hendra
22
Waspada
23
Pengakuan
24
Dihadang Istri Erwin
25
Terbakar api cemburu
26
Rencana promil
27
Desy Hamil
28
Masalah baru
29
Kembali berulah
30
Tak dapat mengelak lagi
31
Memanas
32
Desy
33
Masih tentang Desy
34
Kena batunya
35
Pisah rumah
36
Rencana bercerai
37
Suami Desy pulang
38
Wali murid berdemo
39
Surat panggilan dari pengadilan agama
40
Sidang perdana
41
Sidang putusan
42
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43
Banting stir
44
Susah move on (Sumo)
45
Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46
Desy menikah dengan Hendra
47
Demo warga
48
Sita makin bersinar
49
Diambang batas
50
Terhalang restu
51
Masih belum dapat restu
52
Bertemu Alien
53
Lamaran untuk Amel
54
Keributan dipagi hari
55
Masih harus bersabar
56
Mamanya Sita kecelakaan
57
Kondisi Mamanya Sita membaik
58
Kejadian tak terduga
59
H-3
60
Sah
61
Sita Hamil
62
Dipermalukan
63
Ultimatum
64
Desy melahirkan
65
Fakta yang mengejutkan
66
Rendra putra kandung Yoga
67
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68
Cauvade sydrome
69
Tak terima
70
Diluar Nurul
71
Pelajaran berharga
72
Drama belum berakir
73
Terusir dari rumah
74
Nasib Hendra
75
Rini
76
Madu yang pahit
77
Kejutan ulang tahun
78
Masih tentang mantan
79
Wina mengamuk
80
Adu bogem mentah
81
Lupakan aku
82
Rini meminta maaf pada Sita
83
Semprawut
84
Pasrah
85
Marahan
86
Drama yang tak berujung
87
Aksi nekat Hendra
88
Tragis
89
Mulai menata diri
90
Situasi yang tidak kondusif
91
Memanas
92
Meminta untuk berpisah
93
Simalakama
94
Meminta waktu
95
Keputusan akhir
96
Aksi Wina
97
Adu domba
98
Rini di Demo
99
Hanya demi anak
100
Didatangi dept collector
101
Santet
102
Tidak puas
103
Pengobatan
104
Undangan pesta anggota DPR
105
Panik
106
Tragis
107
Boni di tahan
108
Rini kecelakaan
109
Cinta buta
110
Penangkapan Boni
111
Drama tak kunjung usai
112
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!