Beberapa hari kemudian Sita sudah dijinkan pulang.Kondisinya juga sudah membaik, namum Hendra belum mengijinkan Sita untuk bekerja, selama di peskesmas tak satupun dari keluarga yang menjenguk Sita.
"Sayang, aku udah masak bubur untukmu nanti kalau mau makan siang tinggal diangetin aja, hari ini aku usahakan pulang cepat" ucap Hendra.
Sita hanya menganguk patuh.Semenjak Sita sakit Hendra lebih perhatian, ia merasa bersalah karena disaat Sita sakit ia malah menghabiskan waktu bersama Desy.Hendra menepati janjinya pulang mengajar langsung pulang dan merawat istrinya dirumah.Sita sangat bahagia merasa diratukan oleh Hendra.
Hari terus berlalu, tak ada yang berubah dari sikab Hendra ia semakin romantis pada Sita. Beberapa hari Ibunya Hendra juga tidak merecokinya.Sita merasa hidupnya kini benar-benar tenang.
"Mas kelihatanya, rumah tanggamu sudah adem ayem aja.Makanya sekarang kamu jarang curhat" ujar Desy
"Alhamdulillah, sekarang sudah tidak ada masalah lagi Ibu juga tidak pernah datang lagi kerumah jadi adem ayem aja" ungkap Hendra dengan wajah sumringah.
"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang Hen" ujar Desy.
Ponsel Hendra berdering, ia lalu mengambil ponselnya.
"Hallo, Ibu ada apa?"
"Bagus ya, sekarang sudah nggak ingat Ibu, nggak pernah main ketempat Ibu"
"Bukan begitu Bu, Sita baru saja masuk rumah sakit dan baru pulih aku nggak bisa kemana-mana, bukankah saya sudah kasih tau Ibu sebelumnya?"
"Sebegitu pentingnya istrimu dibanding Ibumu!" Sarkas Ibunya
"Oh ya, Ibu ada apa hubungi Hendra" tanya Hendra to the point, dari pada Ibunya malah ngoceh kesana kemari. Ia hafal betul watak Ibunya kalau menghuhunginya pasti butuh sesuatu.
"Gini Hen, Si Rini anaknya kan sudah mulai masuk sekolah.Kasian kalau dia itu antar jemput pakai motor, belum lagi kalau kehujanan anaknya masih kecil-kecil"
"Terus?"
"Rencananya Rini mau beli mobil"
"Ya bagus dong, apa masalahnya?"
"Masalahnya dia nggak punya duit, maka dari itu kamu sebagai saudaranya yang lebih mampu secara financial tolong bantu adekmu pinjami uang buat beli mobil"
"Memangnya berapa Rini mau pinjam?"
"Sekitar tiga ratus juta" ucap Ibunya
"Tiga ratus juta?, mana ada uang segitu aku bu"
"Kamu pelit banget jadi orang, sama saudara sendiri peritungan banget!.Itu pinjam loh bukan minta. Kamu itu saudaranya yang sukses. Kamu nggak kasian lihat adekmu, kamu mau hidup enak sendiri"
"Ya Tuhan, Hendra nggak bohong bu"
"Dasar anak nggak berbakti!, pelit sama saudara sendiri"
"Klik" sambungan telephone langsung dimatikan.
Hendra menghela nafas, baru saja ia bernafas lega kini masalah baru menghampirinya.
"Ada apa Hen?, kelihatanya kamu stres banget?" tanya Desy
"Ibu mau pinjam uang tiga ratus juta untuk beli mobil adekku"
"Ya pinjamilah sama saudara sendiri kasian"
"Masalahnya aku nggak ada uang"
"Kamu bilang Istri kamu ada uang tiga ratus juta direkeningnya, kenapa kamu nggak pake dulu?"
"Itu bukan uang istriku, Itu uang mertuaku yang dititipkan pada istriku"
"Gini aja, kamu bilang pada Ibumu atau saudaramu untuk memastikan uang itu kembali dalam jangka waktu tertentu, tapi jangan kasih tau istrimu, toh uang itu juga belum akan digunakan" Desy membeli saran.
"Ide bagus itu, kenapa aku nggak kepikiran sampai kesitu?, dengan begitu Ibu dan Sita tidak akan kembali berseteru aman dua-duanya, Makasih ya Des, untung ada kamu"
"Sama-sama itulah gunanya teman" ucap Desy.
Setalah pembicaraanya dengan Desy Hendra langsung menghubungi Ibunya dan memintanya untuk mengembalikan uang itu segera karena itu uang Sita, Ibunya Hendra menyetujuinya dan memberikan janji-janji manisnya pada Hendra.Tak lama kemudian Hendra langsung mentransfer uang tiga ratus juta kerekening Ibunya.
"Masalah teratasi tanpa masalah" guman Hendra.
Hendra membelikan Desy gamis sebagai tanda terima kasihnya atas bantuanya tanpa sepengetahuan Sita.Hari berikutnya Rini langsung membeli mobil baru dan sengaja ia pamerkan pada Sita, namun Sita cuek-cuek saja pura-pura tidak lihat.
"Mas, tadi aku lihat Rini naik mobil sepertinya dia habis membeli mobil"
"Ahhh...biarkan saja sayang, mungkin dia punya rejeki lebih"
"Aku juga senang, Ibu tidak bikin heboh lagi" ucap Sita
"Maafkan aku Sita, terpaksa aku pakai uang Mamamu, tapi secepatnya Ibu akan kembalikan uangmu" batin Hendra
"Mas aku berangkat kantor dulu ya, sarapanya sudah aku siapin di meja makan beserta bekalnya juga sudah siap" Pamit Sita sambil mencium tangan suaminya.
"Kamu nggak usah cape-cape sayang bikinin aku sarapan, kalau nggak sempat masak aku bisa beli di kantin sekolah" ucap Hendra
"Sweet banget suami aku" ucap Sita
Setelah itu ia langsung ke kantor untuk bekerja, saat ia tengah sibuk bekerja tiba-tiba ia menerima pangilan telephone dari Doni, kalau Amel adek bungsunya kecelakaan.
"Kenapa sit?, kok mukamu panik begitu?" tanya Erwin Boss Sita
"Maaf pak, boleh saya ijin?, adek saya kecelakaan"
"Iya, nggak apa-apa. Kamu pasti kepikiran adekmu. Dirumah sakit mana Adekmu di rawat?"
"Di Rumah sakit Mitra Husada pak"
"Kebetulan aku mau kesana, mertuaku juga dirawat disana.Kita bareng aja!, kalau kamu pake motor sendiri bahaya pikiran kamu sedang kalut" ucap Erwin
"Makasih Pak" ucap Sita.
Setelah itu mereka kerumah sakit bersama, sampai disana hanya ada Doni karena Mamanya Sita pingsan melihat kondisi Amel.
"Kak, Amel harus segera dioperasi sekarang juga"
"Ok, lakukan yang terbaik buat Amel. Biar Kakak urus administrasinya" ucap Sita. Ia langsung ke ruang admnistrasi untuk melakukan pembayaran agar Adeknya segera ditangani.Begitu sampai diruang administrasi kartunya selalu ditolak.Ia langsung ke ATM untuk tarik tunai alangkah terkejutnya dia saat tau saldo tabunganya enol rupiah. Ia hampir pingsan beruntung Erwin melihat Sita dan membantu Sita memberikan pinjaman uang untuk administrasinya.
Kini Amel sudah ditangani dokter, ia juga sudah selesai operasinya dan sudah dipindah keruang perawatan.
"Don, Ibu, Sita pamit dulu ya. Sekarang Amel tinggal masa pemulihanya saja" ucap Sita.
"Iya kamu hati-hati dijalan ya nak" ucap Ibunya.
Setelah ia keluar dari rumah sakit ia langsung mengecek mutasi uang dalam rekeningnya alangkah terkejutnya ia saat tau mutasi uang tiga ratus juta itu kerekening Ibu mertuanya. Ia sangat geram pada Hendra bisa-bisanya ia mengeluarkan uang tiga ratus juta tanpa sepengetahuanya padahal jelas-jelas itu uang Mamanya, disaat Mamanya butuh uang itu, malah tidak ada. Untung ada Erwin.Dengan langkah tergesa ia langsung pulang untuk menanyakan uang itu pada Hendra.
"Mas Hendra kemana uang Mama yang tiga ratus juta itu?" tanya Sita pada Hendra ketika sampai dirumah. Ia memang belum memberitau kalau Amel kecelakaan.Semua terlalu mendadak dan ia juga sempat ngeblank saat tau uangnya raib.
Hai sayang-sayang author jangan lupa like comment dan favorite ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments