Temen Curhat

Tak lama setelah itu Hendra kembali, Ibunya langsung mengadukan perbuatan Sita, tentu saja menurut versinya.Hendra memijit pelipisnya.Baru beberapa hari ia merasakan ketenangan.Kini seolah badai datang kembali.Ia langsung mentransfer gajinya pada Ibunya, agar tidak bikin huru hara dirumahnya.Begitu dapat apa yang ia mau, Ibunya Hendra langsung pulang membawa apa saja yang bisa ia bawa pulang.

Beberapa hari setelahnya Ibunya datang lagi, kerumah Hendra untuk meminta uang lagi.

"Bu, Hendra sudah tidak ada uang, semua sudah Hendra kasih pada Ibu"

"Kamu sekarang kok jadi pelit begini sih!"

"Lagian buat apa uang sebanyak itu?, hendra benar-benar nggak ada uang" ucap Hendra.

"Buat beli tanah, Ibu sudah janjian sama juragan Rahmat mau beli tanahnya"

"Ibukan bisa pakai uang Ibu, atau jual perhiasan Ibukan banyak" tutur Hendra.

"Kamu semenjak menikah dengan Sita, kamu sudah nggak sayang lagi sama Ibu, hiks...hikss...hiks" Ibunya Hendra mulai ngedrama.Hendra panik melihat Ibunya menangis.

"Yes,berhasil!. Kamu memang lemah nak kalau lihat air mata Ibu" batin Ibunya Hendra

Sementara itu Sita memang sengaja berdiam diri dikamar, jika saja ia bergabung maka ia akan menjadi orang pertama yang tetkena semprotan Ibu mertuanya.

"Ceklek!" perlahan pintu dibuka, nampak Hendra lesu. Sita sudah tau penyebabnya ia pura-pura tidak tau.

"Sayang, boleh nggak pinjam uang seratus juta buat Ibu?" tanya Sita

"Mas, bukanya aku pelit Mas.Kalau Ibu itu, jatuhnya minta bukan pinjam. Terus kalau sudah dikasih dia akan datang lagi minta yang lainya, lagian Ibukan punya banyak uang dari kamu. Aku aja istri kamu nggak pernah kamu kasih uang bahkan biaya hidup aku yang tanggung, suruh kurangi perhiasanya yang kaya toko mas berjalan itu" ucap Sita kesal.

"Nanti Mas ganti,"

"Pakai apa?, sedangkan seluruh gajimu dikasih sama Ibu.Lagian uang ini mau aku gunakan untuk promil agar tidak dicap mandul oleh Ibu" ucap Sita.

Hendra menunduk lesu, semua yang dikatakan Sita adalah kebenaran, masalahnya ia tidak berani berterus terang masalah gajinya selama ini.Dia takut Ibunya kecewa dan egonya juga terlalu tinggi untuk mengakui seberapa besar penghasilanya.

"Ya sudah, aku keluar dulu. Aku akan bicara lagi sama Ibu"

"Harusnya dari tadi kamu tegas mas"

Dengan langkah gontai Hendra keluar Kamar dan menemui Ibunya yang sudah menunggunya di ruang tamu.

"Mana uangnya? Sudah transfer?" cecar Ibunya.

"Ibu, Hendra minta maaf. Hendra benar-benar tidak punya uang lagi" ucap Hendra

"Semua gara-gara istri kamu, lihat sekarang kamu jadi peritungan gini. Beliin rumah dan perabotan aja kamu bisa masak cuma kasih uang Ibu seratus juta aja bilang nggak punya" makinya.

Perempuan paruh baya itu sudah kehabisan kesabatan ia langsung menuju Kamar Sita dan mengedornya.

"Sita!, keluar kamu! Mana uang anakku kenapa kamu kuasai semua, ingat aku yang merawat membesarkan menyekolahkan sampai dia sukses seperti ini. Enak saja kamu mau nikmati hasilnya sendiri" teriak Ibunya Hendra sambil mengedor-gedor pintu.

"Ceklek" pintu dibuka Sita

"Plak..." sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Sita.

"Ibu!, kenapa Ibu tampar Sita?" tanya Sita

"Jangan belagak pilon kamu!, mana uang anakku atau sertifikat rumah ini. Kalau kamu keberatan kasih uang mana sertifikat rumah ini biar Ibu gadaikan"

"Sertifikat apa? Ini rumah saya dan sertifikatnya belum ada karena rumah ini masih kredit" ucap Sita

"Besar kepala kamu, mungkin rumah ini atas nama kamu karena anakku bodoh, tapi aku Ibunya tidak bodoh cepat berikan sertifikat rumah ini, aku tidak akan membiarkan rumah ini jatuh ketangan wanita serakah seperti kamu"

"Mas Hendra!" panggil Sita

"Iya sayang ada apa?, jelasin ini rumah siapa dan sertifikat rumah dimana?"

"Maaf bu, rumah ini sertifikatnya belum ada karena kami masih kredit bu" ucap Hendra tanpa memberitau siapa pemilik rumah ini.

"Ooo...jadi ini kredit, dasar perempuan nggak bener!, bukanya bantu suami cari uang malah bikin suami tambah beban"

"Apa maksud Ibu?"

"Sudah, Sudah, sekarang Hendra antar Ibu pulang, ini sudah sore nanti kemalaman di jalan"ucap Hendra

"Kamu ngusir Ibu Hen?,"

"Bukan begitu bu, kalau Ibu marah-marah terus yang ada darah tinggi Ibu kumat"

"Iya darah tinggi Ibu sering kambuh, setalah kamu menikahi perempuan ini"

"Ayo bu, Hendra antar pulang, Tadi Bapak telephone katanya Ibu suruh antar pulang" dusta Hendra.

Mau tidak mau Ibunya Hendra pulang sebenarnya ia masih kesal karena tujuanya belum tercapai.

Keesokan harinya Sita dan Hendra kembali memulai aktivitasnya seperti biasanya.Sita langsung berangkat ke kantor dengan mobil dinasnya dan Hendra langsung kesekolah tempat ia mengajar mengendarai sepeda motornya.

"Kucel banget mukanya Pak? Nggak dapat jatah dari istri ya" tanya Desy rekan sesama guru di tempat ia mengajar.

Hendra hanya tersenyum saja, ia sebenarnya enggan menceritakan kisruh rumah tangganya.Tapi kepalanya terasa mau pecah saat melihat Istri dan Ibunya tidak akur.

"Sepertinya butuh temen curhat pak, saya siap kok Pak mendengarkanya" ucap Desy. Sambil membuka bekal sarapanya dilihatnya Hendra masih melamun lalu ia mendekati Hendra dan membagi sarapanya untuk Hendra.

"Ayo pak sarapan dulu, biar siap menghadapi kenyataan" ucap Desy sambil tersenyum manis lalu membagi bekalnya untuk Hendra.

"Makasih bu, saya memang belum sarapan sebenarnya tadi istri saya itu sudah masak, cuma saya nggak berselera makan mungkin karena terlalu mumet bu" ucap Hendra sambil tertawa.

Sampai jam pelajaran dimulai mereka baru menyelesaikan sarapanya sambil ngobrol ngalor ngidul.Desy adalah guru baru yang mengajar di sekolah tempat Hendra mengajar, Orangnya ramah, mudah bergaul dan suka mencairkan suasana.

"Ternyata mengobrol sama Bu Desy semenyengkan ini, sampai lupa waktu bahwa kita harus segara mengajar"

"Ya udah Pak, kita langsung kekelas masing-masing.Nanti disambung lagi obrolanya dijam istirahat, toh setiap hari juga masih ketemu" ucap Desy

Hendra tersenyum, sejenak ia bisa melupakan masalah Ibunya dan Istrinya yang tak pernah akur.Ia akui Sita adalah sosok Istri yang Ideal tidak pernah mengeluh tanpa ia beri uang sepeserpun, tapi ia juga tidak bisa membela Istrinya didepan Ibunya.Akhinya ia pusing sendiri.

Hari terus berganti Hendra dan Desy semakin dekat sebagai teman curhat tak jarang bila Ibunya sering berkunjung dan ribut-ribut dengan Istrinya ia berkeluh kesah pada Desy, setelah berkeluh kesah dengan Desy ia menjadi plong seolah bebanya berkurang.Semakin lama ia semakin nyaman bila bersama Desy ketimbang dengan Istrinya, dari kaca mata Hendra Desy lebih memahami perasaan Hendra ketimbang Sita istrinya sendiri. Setiap pagi ia berangkat lebih awal dengan berbagai alasan padahal ia hanya ingin sarapan bareng Desy di kantin atau di ruang guru.

Tbc...

Penasaran kan gimana kelanjutanya, jangan lupa like, comment dan favorite ya

Terpopuler

Comments

Ranny

Ranny

awal mulanya dr curhat lama² jadi selingkuhan nya Hendra 🤦🏻‍♀️

2024-02-11

0

Zhu Yun💫

Zhu Yun💫

Hendra, jangan sampai kamu curhat sama wanita lain. nanti ujung-ujungnya merasa nyaman.

2023-07-09

0

Zhu Yun💫

Zhu Yun💫

udah minta maksa pula nih ibunya 🤦

2023-07-09

0

lihat semua
Episodes
1 Seatap dengan Mertua
2 Wacana pindah rumah
3 Pindah Rumah
4 Temen Curhat
5 Semakin nyaman
6 Sita sakit
7 Amel kecelakaan
8 Solusi sementara
9 Sita dilabrak
10 Lari dari masalah
11 Makin kacau
12 Skandal
13 Dilabrak mertua
14 Rizal
15 Makan malam bertiga
16 Huru hara
17 Makin terjerumus
18 Amel minta Dres
19 Tarno
20 Mulai curiga
21 Mulai menyelidiki Hendra
22 Waspada
23 Pengakuan
24 Dihadang Istri Erwin
25 Terbakar api cemburu
26 Rencana promil
27 Desy Hamil
28 Masalah baru
29 Kembali berulah
30 Tak dapat mengelak lagi
31 Memanas
32 Desy
33 Masih tentang Desy
34 Kena batunya
35 Pisah rumah
36 Rencana bercerai
37 Suami Desy pulang
38 Wali murid berdemo
39 Surat panggilan dari pengadilan agama
40 Sidang perdana
41 Sidang putusan
42 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43 Banting stir
44 Susah move on (Sumo)
45 Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46 Desy menikah dengan Hendra
47 Demo warga
48 Sita makin bersinar
49 Diambang batas
50 Terhalang restu
51 Masih belum dapat restu
52 Bertemu Alien
53 Lamaran untuk Amel
54 Keributan dipagi hari
55 Masih harus bersabar
56 Mamanya Sita kecelakaan
57 Kondisi Mamanya Sita membaik
58 Kejadian tak terduga
59 H-3
60 Sah
61 Sita Hamil
62 Dipermalukan
63 Ultimatum
64 Desy melahirkan
65 Fakta yang mengejutkan
66 Rendra putra kandung Yoga
67 Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68 Cauvade sydrome
69 Tak terima
70 Diluar Nurul
71 Pelajaran berharga
72 Drama belum berakir
73 Terusir dari rumah
74 Nasib Hendra
75 Rini
76 Madu yang pahit
77 Kejutan ulang tahun
78 Masih tentang mantan
79 Wina mengamuk
80 Adu bogem mentah
81 Lupakan aku
82 Rini meminta maaf pada Sita
83 Semprawut
84 Pasrah
85 Marahan
86 Drama yang tak berujung
87 Aksi nekat Hendra
88 Tragis
89 Mulai menata diri
90 Situasi yang tidak kondusif
91 Memanas
92 Meminta untuk berpisah
93 Simalakama
94 Meminta waktu
95 Keputusan akhir
96 Aksi Wina
97 Adu domba
98 Rini di Demo
99 Hanya demi anak
100 Didatangi dept collector
101 Santet
102 Tidak puas
103 Pengobatan
104 Undangan pesta anggota DPR
105 Panik
106 Tragis
107 Boni di tahan
108 Rini kecelakaan
109 Cinta buta
110 Penangkapan Boni
111 Drama tak kunjung usai
112 Ending
Episodes

Updated 112 Episodes

1
Seatap dengan Mertua
2
Wacana pindah rumah
3
Pindah Rumah
4
Temen Curhat
5
Semakin nyaman
6
Sita sakit
7
Amel kecelakaan
8
Solusi sementara
9
Sita dilabrak
10
Lari dari masalah
11
Makin kacau
12
Skandal
13
Dilabrak mertua
14
Rizal
15
Makan malam bertiga
16
Huru hara
17
Makin terjerumus
18
Amel minta Dres
19
Tarno
20
Mulai curiga
21
Mulai menyelidiki Hendra
22
Waspada
23
Pengakuan
24
Dihadang Istri Erwin
25
Terbakar api cemburu
26
Rencana promil
27
Desy Hamil
28
Masalah baru
29
Kembali berulah
30
Tak dapat mengelak lagi
31
Memanas
32
Desy
33
Masih tentang Desy
34
Kena batunya
35
Pisah rumah
36
Rencana bercerai
37
Suami Desy pulang
38
Wali murid berdemo
39
Surat panggilan dari pengadilan agama
40
Sidang perdana
41
Sidang putusan
42
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
43
Banting stir
44
Susah move on (Sumo)
45
Omset penjualan Warung Mama Sita naik pesat
46
Desy menikah dengan Hendra
47
Demo warga
48
Sita makin bersinar
49
Diambang batas
50
Terhalang restu
51
Masih belum dapat restu
52
Bertemu Alien
53
Lamaran untuk Amel
54
Keributan dipagi hari
55
Masih harus bersabar
56
Mamanya Sita kecelakaan
57
Kondisi Mamanya Sita membaik
58
Kejadian tak terduga
59
H-3
60
Sah
61
Sita Hamil
62
Dipermalukan
63
Ultimatum
64
Desy melahirkan
65
Fakta yang mengejutkan
66
Rendra putra kandung Yoga
67
Sudah jatuh tertimpa tangga pula
68
Cauvade sydrome
69
Tak terima
70
Diluar Nurul
71
Pelajaran berharga
72
Drama belum berakir
73
Terusir dari rumah
74
Nasib Hendra
75
Rini
76
Madu yang pahit
77
Kejutan ulang tahun
78
Masih tentang mantan
79
Wina mengamuk
80
Adu bogem mentah
81
Lupakan aku
82
Rini meminta maaf pada Sita
83
Semprawut
84
Pasrah
85
Marahan
86
Drama yang tak berujung
87
Aksi nekat Hendra
88
Tragis
89
Mulai menata diri
90
Situasi yang tidak kondusif
91
Memanas
92
Meminta untuk berpisah
93
Simalakama
94
Meminta waktu
95
Keputusan akhir
96
Aksi Wina
97
Adu domba
98
Rini di Demo
99
Hanya demi anak
100
Didatangi dept collector
101
Santet
102
Tidak puas
103
Pengobatan
104
Undangan pesta anggota DPR
105
Panik
106
Tragis
107
Boni di tahan
108
Rini kecelakaan
109
Cinta buta
110
Penangkapan Boni
111
Drama tak kunjung usai
112
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!