"Yo what's up bro, jadi kesini kan? Semua udah dateng nih tinggal elo" beritahu Chenle sambil menuang minuman ke gelas. "Isi Yang Penuh Ya!!" teriak Haechan dari kejauhan.
"OKEY!" balas Chenle tak kalah kerasnya. "Ah tunggu napa tadi? Kok bisa sih mendadak begini?" tanya Chenle ketika seseorang di balik telepon itu mengatakan sesuatu. "Maaf tp beneran nggak bisa ditinggal, maaf banget nih!"
"Yah padahal gue berharap banget lo bakal dateng kesini secara lo kan udah nunggu hari ini datang. Beneran nggak bisa ditunda gitu? Dateng telat aja deh, gue nggak papa kok. Asal lo dateng!" bujuk Chenle.
"Sorry banget, Le. Kata papa nggak bisa ditinggal jadi gue nurut aja, takut nanti dimarahin nanti gue juga yang kena" nego orang tersebut.
Chenle tersenyum kecut. "Ya udah deh, apa boleh buat. Tapi lo janji ya harus dateng ke acara gue Minggu depan. Awas aja kalo minggat lagi nggak bakalan gue akuin lo sebagai sahabat gue!!" ancam Chenle dengan nada sebel.
"Iya iya gue janji bakal dateng nanti. Udah ya gue tutup, acaranya udah mau mulai nih"
"Ok, selamat senang-senang bro!" Chenle lalu telponpun tertutup. "Zhong Chenle! LO LAGI NGAMBIL MINUMAN APA NGANCURIN ES DI KUTUB SIH LAMA BANGET!" teriak Haechan lagi.
"Sabar Dong!!" teriak Chenle. Kebiasaan Haechan nih kalo ngomong nggak pernah ngenalin hati. Hobinya tuh buat darah mendidih. "Bantuin napa jangan bisanya cuma teriak mulu!"
"INI KAN ACARA LO, RUMAH LO, YA LO LAKUIN SENDIRI AJA. MASA MAKSA TAMU BUAT KERJA. INGAT YA,TAMU ITU RAJA. ITUKAN PRINSIP YANG SELALU LO BILANG"
Rasanya ingin sekali Chenle membanting nampan dihadapannya ini ke orang yang namanya Lee Haechan itu. Kenapa sih kalo ngomong pedes mulu nggak pernah manis sedikitpun.
"Oi.. Lee-"
"Biar gue bawa sini!" tawar Winwin. Seketika senyum mekar di wajah Chenle yang mau murka tadi jika dibiarkan.
Dengan cepat Winwin membawa semua minuman di nampan ke depan. Dibelakang Chenle menyusul tak lupa juga dengan snack yang sudah ia siapkan.
"Silakan dinikmati wahai kaum kelaparan!" kata Chenle sambil duduk di samping Renjun yang masih sibuk dengan ponselnya. "Njun makan dulu jangan main ponsel mulu"
"Ah, iya.."
Kalo temen Chenle yang lain nggak usah ditawari. Belum ditawari aja tuh jajan pasti udah mau abis. Chenle berani jamin deh karena kalo lagi kumpul-kumpul gini yang mereka inginkan bukan kangen-kangenan nya tapi makanan gratisnya.
Hehe Maklumi aja ya, mereka emang se rakus itu kok. Kecuali Renjun, Jaemin, dan Jeno. Itu karena mereka jarang sekali berkumpul. Renjun selalu sibuk dengan kerjaan orang tuanya, dia selalu hadir di acara resmi mereka. Sementara Jaemin dan Jeno itu karna Chenle belum terlalu kenal mereka jadi ia tak tau serakus apa kedua orang itu.
"Woy kok keripiknya udah abis sih gue baru makan dikit loh!" protes Haechan.
Siapa lagi kalo bukan dia. Disaat tak ada Jisung dia pasti yang paling rakus. Sedangkan Winwin hanya diam memperhatikan yang lain. Chenle sendiri pun bingung dengan perubahan sikap Winwin. Sekarang dia lebih sering diam dibanding biasanya. Dia jadi sering melamun semenjak kejadian Mark. Biasanya dia yang paling semangat kalo ada makanan tapi sekarang.....
"Lucas hyung kemana kok nggak ada sih?" tanya Chenle membuka pembicaraan.
"Oh itu..."jawab Haechan tergantung karna dia sendiri bingung mau jawab apa. Orang dia nggak tau apa-apa.
"Waktu disekolah sih dia ngajak gue ketemu di taman tapi sore harinya dia batalin karna ada urusan mendadak. Setelah itu gue dapet telpon dari lo buat pesta ini" tutur Jaemin.
"Dia bilang nggak mau kemana?" saut Winwin. Jaemin hanya menggelengkan kepalanya. "lo nggak nanya gitu?" tanya Winwin lagi.
"Nggak. Habisnya dia kayak lagi buru-buru banget jadi nggak sempet nanya"jelas Jaemin.
"Kalo Jisung kemana dia?"
"Katanya ada acara penting bareng bokap nya, jadi nggak bisa ditinggal" ungkap Chenle dengan nada sedikit kecewa.
"Tadi gue ketemu dia di supermarket lagi beli minuman, katanya buat temen belajar malam ini!" tutur Jaemin kebingungan.
"Lah, kok Jisung bohong sih sama lo, Le? Dia nggak pernah boong kan sama lo?" heran Haechan. Sontak Renjun langsung memandangnya dengan tajam. "Napa Njun? Kenapa jadi lo yang sewot sama gue? Perasaan nggak ada deh sama ucapan gue?" Tutur Haechan karena Renjun masih menatap nya sinis.
"Emang nggak ada yang salah tapi dari nada lo bicara, kayaknya lo seneng deh lihat kita semua cemas "ucap Renjun ambigu.
Haechan menyipitkan matanya keheranan. "Maksud lo?? Gue seneng lihat kalian susah ?" tanya Haechan ragu.
"Oh jadi lo nangkep nya gitu ya? Seolah-olah lo kayak ketahuan lagi adu domba" ledek Renjun.
"Udah ah. Gue nggak mau denger kalian bertengkar!! Stop nggak !" keluh Winwin.
"Kawan-kawan... kita kan lagi di pestanya Chenle jadi kita nikmati saja pesta ini. Ten sama Kun kan lagi ngambil daging buat kita panggang nanti. Selagi nunggu mereka gimana kalo kita karaoke dulu!" ajak Jaemin berusaha mencairkan suasana yang mulai memanas.
Segera Chenle pergi mengambil alat karoke miliknya. Sementara yang lain masih diam ditempatnya tanpa ada keniatan buat bantu Jaemin dan Chenle.
"Jaemin pulang yuk!" ajak Jeno yang dari tadi diam dipojokan. Sontak Jaemin dan Chenle langsung menatapnya kaget.
"Lah? kan Jaemin mau karaoke-an dulu masa diajak pulang sih?" Tanya Chenle.
"Jen, gue mau nyanyi dulu. Masa udah nyiapin ini malah balik sih" tolak Jaemin. Eh bukannya didengar Jeno malah nyambar kunci motor dimeja dengan cepat.
"Ya udah gue pulang duluan" pamit Jeno.
Jaemin segera berlari ke arah Jeno. "Gue pulang naik apa dong? Masa naik bis sih??"protes Jaemin.
"Terserah. Lagian percuma lo siapin itu semua. Paling bentar lagi bubar"
Jaemin merasa sangat kesal. Pemuda itu lalu menonjok lengan kembarannya itu lalu berlari kembali ke tempat karaoke yang kini sudah siap mengudara. Jaemin segera menyalakan musik dan bersenandung ria bersama Chenle.
"Hah" ucap Jeno singkat. Ia menutup matanya sebentar lalu pergi dari tempat itu meninggalkan Jaemin yang mungkin bakal mencarinya. Tapi itu nanti ya! Sekarang kan dia lagi asik goyang bareng Chenle plus Xiaojun dan Haechan yang ikut ggabung
Sedangkan Renjun dan Winwin hanya duduk di sofa sembari memperhatikan keempatnya beraksi.
"Gue denger lo ada acara penting malam ini, rupanya nggak ada ya?" kata Winwin membuka kesunyian. Renjun melirik pemuda itu sekilas. Winwin tersenyum kecut melihatnya.
"Syukur deh kalo nggak ada" tambah Winwin kemudian. Pemuda itu lalu bangkit dari duduknya. "Chenle mau izin ke toilet ya" pamit Winwin.
"Ok"
Setelahnya Winwin pergi namun tiba-tiba Renjun bicara yang membuat langkahnya terhenti untuk sesaat.
"Gue kabur dari acara itu. Pasti sekarang paman lagi nyariin gue. lo mau nanya soal bokap lo,kan? Dia ada di acara itu bareng bokap gue" ungkap Renjun lalu tersenyum simpul.
Winwin membalikkan badannya menghadap Renjun kemudian tersenyum senang. "Ah...rupanya dia lagi sibuk ya"
"Emangnya kenapa kalo bokap lo nggak sibuk? Kenapa nanya gitu?" tanya Renjun serius.
"Enggak kok" jawab Winwin sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Gue cuma mau nanya doang. Takut ganggu dia, jadi..."
"Njunnn!!! Sini dong karaoke bareng kita jangan duduk doang. Gerak dikit napa!"ajak Jaemin sambil narik tangan Renjun keras.
Mau tak mau Renjun ikutan nari bareng mereka sedangkan Winwin pergi ke kamar mandi dengan wajah lesu. Begitu Winwin sampai pemuda itu langsung jongkok di belakang pintu sambil menundukkan kepalanya.
Cukup lama Winwin tak merubah posisinya. Pemuda itu justru terdiam di posisi seperti orang yang lagi banyak pikiran saja. Tak ada gerakan,tak ada perubahan. Hanya ada Winwin yang mungkin lagi sedih.
Sepuluh menit. Itulah waktu yang Winwin butuhkan untuk merenung. Setelah dirasa cukup,dia mengambil beberapa air untuk di basuhkan ke wajahnya. Ia butuh banyak air untuk menjernihkan pikirannya yang sudah bertumpuk.
"Gue mesti balik nih takutnya yang lain bakal nyariin kalo lama" gumam Winwin lalu menarik pintu dengan cepat.
"Lah kok sepi sih, yang lain kemana?" tanya Winwin begitu sampai di tempat pesta. "Perasaan tadi masih rame deh. Kok ditinggal ke kamar mandi jadi sepi sih?" Apa mungkin dia yang kelamaan?
Tadi masih ada lima orang termasuk dia, tapi sekarang hanya ada dirinya, Renjun, Jaemin, dan Xiaojun. Mungkin mereka pada bubar ya. Tapi kok Chenle juga ikutan pergi?
"Dagingnya udah ada disini, Ten sama Kun udah balik ya?" ucap Winwin sambil meraba daging sapi bawaan Ten. Entah kemana perginya Ten sekarang. "Ini mau dibakar kan. Gue buatin bumbu deh"
Winwin membawa kantong berisi daging itu ke dapur namun tangannya langsung dicekal oleh Renjun secara cepat. Lantas Winwin segera menatapnya kebingungan. Winwin menoleh, ia mendapati Jaemin dan Renjun dengan wajah panik.
"Ada apa sih? Kok muka lo berdua kaget gitu? yang lain kemana?" tanya Winwin.
"Win, gue ada dua kabar. Yang satu kabar buruk dan satu lagi kabar baik." ujar Jaemin tegang. Winwin mengerutkan dahi. "Kabar apaan?"
"Lucas mati dibunuh dan sekarang mayat nya udah dirumah sakit. Yang lain udah pada kesana tinggal kita berempat" jelas Jaemin datar.
Winwin terkejut bukan main. Genggaman nya pada bongkahan daging itu pun terlepas. "M-mat*? M-maksud lo apa Jaem!?" Winwin meraih kera baju Jaemin. bermaksud meminta penjelasan.
"Tenang dulu! Dan berita baiknya pelakunya udah ditemukan" sambung Jaemin lalu segera menyambar jaket miliknya di sofa. "Kita ke rumah sakit sekarang" sambung Renjun.
Winwin masih shock. Tapi ada yang mengganjal di pikirannya. Dan itu benar-benar buat dia penasaran. "Jaemin! Gue nggak paham!!! Mati? di bunuh??? maksud nya apa???" panggil Winwin.
Jaemin yang tengah berjalan dengan tergesa-gesa pun menjadi kesal. Pemuda itu berbalik dan menatap Winwin. "Kun pelakunya, Win. Dia yang udah bunuh Lucas!!!! " Teriak Jaemin sukses buat Winwin kaget tak percaya.
"Nggak mungkin, nggak mungkin dia" Winwin memilih buat nggak percaya akan kebenaran yang ia dengar.
"Ucapan orang itu bener, bahwa temen-temen gue bakal mati satu persatu. Gue salah kalo menganggap semua berakhir dengan kematian Mark. tapi nyatanya itu malah jadi awal dari bencana ini" ucap Winwin lirih.
"Apa jangan-jangan ini perbuatan dia?" ucap Winwin lirih namun masih terdengar oleh Jaemin.
"Elo bilang apa tadi?" sambar Jaemin dengan cepat. Winwin segera menggeleng. Ia lalu mengajak Jaemin untuk pergi ke rumah sakit takut yang lain sudah menunggu.
Winwin menggeleng. Pemuda itu terus berjalan tanpa menghiraukan Jaemin. "Gue nggak yakin Kun yang bunuh Lucas, ada yang nggak beres di sini" gumam Jaemin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments