Malam telah menyapa. Cahaya dari lampu-lampu jalan sudah menyala sedari tadi. Biasanya dijam-jam seperti ini orang-orang bakal sibuk menyiapkan makan malam bersama keluarga mereka. Entah itu makanan yang dibuat sendiri ataupun makanan yang dipesan dari luar.
Seharusnya sih hal itu tengah Winwin lakukan. Duduk diam di meja makan sambil menunggu makanan datang.
Bercanda dengan sang ayah.
Ahh...hal itu pasti menyenangkan, Pikirnya. Tapi yang terjadi sekarang sangat bertolak belakang. Realita memang tak seindah harapan.
Disini dia sekarang, di taman kota. Sendirian. Menikmati malam ini dalam kegelapan. Berkali-kali ia melirik hp-nya berharap kalau sang ayah akan menelpon dan mengajaknya pergi untuk makan. Tapi lagi-lagi dia dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit.
"Nol..." ucapnya setelah melihat panggilan masuk dari sang ayah menunjukkan angka nol. Winwin tersenyum sinis. Ia melirik kucing jalanan yang disampingnya lalu kembali tersenyum.
"Hei kawan... lo lagi kesepian sama kayak gue ya?" sapa Winwin. "Dunia ini kejam ya. Kenapa orang lain bisa bahagia sementara beberapa orang enggak? Kenapa yang lain bisa tersenyum sementara beberapa orang malah menangis? Kenapa orang lain bisa bercanda sementara beberapa orang malah kesepian?"
"Meong," jawab si kucing. Winwin hanya menanggapinya dengan sebuah senyum. Ironis memang. Kenapa dia bicara dengan kucing kalau sudah tau jawaban yang bakal ia dapat ya itu.
Meong....
'Dddrtttt...
tiba-tiba hp Winwin berdering. Buru-buru ia jawab siapa tau itu dari seseorang yang tengah ia tunggu sejak tadi.
"Hallo appa!" jawabnya senang. Namun lama-kelamaan senyum di bibirnya sirna seiring percakapan itu berlangsung. Kini hanya ada wajah datar saja.
"Ah, iya. Tak apa, urus saja itu dulu kita bisa tunda dilain waktu"
"Winwin maaf ya, appa benar-benar minta maaf. Saranghae" saut ayahnya lalu panggilan terputus.
Selepas panggilan tersebut Winwin termenung. Kepalanya tertunduk lemas. "Sepertinya malam ini gue bakal makan mie instan lagi seperti biasa. Ok, mari kita beli mie instan!" hiburnya pada diri sendiri.
🌱🌱🌱
Di sisi lain...
di tengah gelapnya malam...
"Sakit nggak kalo lo ngalamin ini? Lalu apa yang bakal lo lakuin? Biarin itu semua? Maafin semua yang udah kasar? lo tau apa alasan lo harus mati?" tanya pemuda pada lawan bicaranya yang kini tengah berbaring kesakitan.
Pemuda berjaket hitam tersebut lalu mendekati sang lawan bicaranya dan memegang mulutnya. "Karna ini! Mulut lo itu minta dijahit ya biar nggak nyerocos seenaknya? Gue udah bilang jangan ngomong apapun soal itu. Ya jadi elo tanggung sendiri aja balasan yang setimpal"
Jika yang kalian pikir dia bakal menjahit mulut si korban tentunya kalian salah. Alih-alih menjahitnya pemuda itu malah merobek kedua sisi mulut korbannya hingga selebar wajahnya sendiri.
Langkah selanjutnya yang ia lakukan yaitu menghabisi nyawa korban dengan sebuah batu. Ia pukul kepala si korban hingga si korban tak bernyawa.
"Ah iya gue lupa sesuatu yang penting" ungkapnya setelah ingat hal biasa yang selalu ia lakukan.
"Hmm...bagusnya yang mana ya" desisnya sambil memilih-milih kertas bergambar emoticon berbagai ekspresi.
"Ah yang ini aja"
Pemuda itu lalu menaruh kertas itu disamping wajah si korban yang kini sudah dipenuhi dengan darah, mulutnya robek, dan yang lebih parah adalah ada tulisan 'fine' di keningnya.
"Ada satu ungkapan yang kusukai. 'Mata dibalas mata,gigi dibalas gigi'. Selama hidup lo bahagia, dan gue harap dengan lo mati lo juga bakal bahagia. Selamat tinggal kawan....!"
"Selamat tinggal kak Lucas, hehe"
Tubuh itu terbaring lemah. Dengan kondisi mulut yang robek hingga dahi nya. Lucas berpulang ke sisi yang maha kuasa.
Kode kematian :
Mark : -
Lucas : "😜"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments