Dream 10

Esok paginya, sekolah dibuat gencar dengan kedatangan beberapa polisi yang tengah menyelidiki kasus kematian Lucas plus Mark.

Awalnya mereka mengira kasus Mark dianggap sebagai kasus bunuh diri. Tapi setelah kematian Lucas dan ditemukan beberapa catatan di rumah Lucas yang berisikan info tentang Mark yang dibunuh, polisi akhirnya memutuskan untuk menyelidiki kembali.

Kedatangan mereka jelas mengganggu aktivitas belajar yang sedang berlangsung. Apalagi kelas Jaemin yang jelas-jelas ada sangkut pautnya. Udah nggak ketolong lagi. Bubar sudah semua pembelajaran.

"Pak, ini sampe kapan sih kita dikurung begini?" protes Haechan kemusuhan. "Noh lihat diluar, yang lain kok pada main sementara kita dikurung kayak tahanan. Pak, kita juga mau keluar, dah laper nih!"

Sebenarnya bukan hanya Haechan saja yang mau keluar tapi semua murid juga mau keluar namun dilarang.

"Anak-anak... pak polisi datang buat nyelidiki kasus teman kalian jadi bapak harap kerja samanya " kata pak Kim sang wali kelas.

"Ya tapi nggak selama ini kali. Kita udah diinterogasi satu persatu lalu mau apa lagi coba?" heran Jisung. "Bapak nggak bisa seenaknya dong, jangan maksa kita. Saya telpon ayah baru tau rasa!" ancamnya.

Sang wali kelas langsung gelisah. Dia lalu berdiskusi dengan para polisi supaya membiarkan siswa yang tidak berkepentingan diizinkan keluar. Maklum dia sendiri takut sama ancaman Jisung. Alasannya cuma satu, ayah Jisung pemilik Yayasan ini.

"Pak ini udah dua jam loh, masih ada yang mau ditanyain ?" sambar Renjun. "Kalo nggak saya cabut ya!"

Renjun bangkit dari duduknya dan segera menyambar tasnya. Tak ada yang berani menghentikan. Bahkan kepala polisi hanya bisa menghela nafas pasrah. Dan setelah aksi tersebut, para siswa yang lain ikut keluar meski tak dapat izin. Kini hanya tersisa pak polisi, sang wali kelas, dan beberapa murid yang tak ikut keluar.

"Maaf atas ketidaknyamanan-nya pak. Murid-murid disini memang susah diatur. Kita bisa jadwalkan sesi konseling lagi kalau bapak mau"

Pak Kim berjalan mendekati kepala polisi yang masih terlihat kebingungan. Si kepala polisi hanya menggelengkan kepalanya pelan.

"Ini lebih dari cukup. Buktinya memang sedikit tapi saya bakal berusaha semaksimal mungkin" ucapnya sambil menatap berkas catatan interogasi para murid.

"Pak kita pergi sekarang?" ajak bawahannya. Dia segera mengemas berkas-berkas setelah dapat persetujuan.

Namun sebelum pergi, tiba-tiba ada seorang murid yang datang dan menawarkan diri untuk interogasi lagi. Bahasa halusnya sih wawancara. Dia menawarkan diri.

"Saya punya info penting pak"

"Apa itu? Kenapa nggak bilang tadi? " tanya si polisi.

Murid itu menundukkan pandangannya. Pak Kim dan para polisi terdiam menunggu. "Kenapa kamu tidak katakan saat sesi konseling tadi?" ulang pak Kim.

Murid itu tersenyum miring. "Sesi konseling? Maksud bapak interogasi tadi kan. Saya nggak bilang karna ada banyak orang di kelas. Info saya nggak bisa di dengar sembarang orang pak"

Kepala polisi mendekati murid itu. Dia mencoba bertatap mata dengannya. "Kok kamu bisa yakin kalo ini info penting?"

Hingga akhirnya murid itu membalas tatapan kepala polisi sambil menjawab dengan pandangan tajam, "karna saya ada di tempat kejadian saat Mark dan Lucas terbunuh"

"Jackpot!" seru salah satu polisi di sana merasa girang.

Tanpa mereka sadari semua percakapan itu telah direkam oleh seseorang yang kini tengah bersembunyi dibalik pintu. Orang itu tersenyum sinis sambil menatap rekaman yang berhasil ia dapatkan.

"Salah. Langkah yang lo ambil jelas salah. lo sama aja ngundang maut lo sendiri Lee Jeno " guraunya lalu segera pergi. Dengan senyum yang sulit di artikan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!