Seseorang dengan seragam sekolahnya tengah menggaruk tanah dengan cepat. Tangannya begitu cepat dan cekatan mencongkel tanah didepannya itu.
Setelah terbentuk sebuah lubang yang cukup dalam, ia memasukkan sesuatu ke dalam sana. Tak lupa ia membersihkan tempat sekitarnya supaya galiannya tadi tak berbekas.
Namun ada satu hal unik yang ia lakukan sebelum mengubur benda yang ia sebut sebagai mahakarya agung. Orang itu tersenyum cukup lebar menatap karyanya itu yang siap dikubur.
"Kata dokter kita harus minum obat tiga kali sehari, tapi gue itu jenis orang yang nggak nurut sama omongannya. Gue cuma minum obat satu kali sehari. Bandel juga ya gue!"
Pemuda itu lalu bersiap untuk langkah terakhir dalam setiap aksinya tersebut, yaitu mengubur mahakaryanya. Meski terdengar menyia-nyiakan barang, tapi apa boleh buat. Aksinya ini harus bersih dari pandangan orang. Semuanya tak boleh tau apa yang sudah ia lakukan.
"Bye....lain kali jangan buat gue susah. Rasa lo emang enak sih tapi gue agak jijik lihatnya!" ucapnya lalu beralih mengangkat kayu yang sudah siap dihadapannya sedari tadi.
Bruk!
Tiba-tiba terdengar bunyi seseorang jatuh yang tak jauh dari sana. Dengan cepat orang itu segera mengubur mahakaryanya dan segera kabur dari sana sebelum ketahuan.
Dia rupanya tak sadar kalau benda yang ia sebut mahakarya belum sepenuhnya terkubur. Ada bagian yang masih kelihatan dari atas. Apalagi itu bagian yang penting.
Tak lama seseorang datang dan langsung berteriak dengan keras setelah melihat apa yang ada di lubang itu.
"WAH....YAAAAAKKKKK!!!! APA ITU??" teriaknya sambil menutupi kedua bola matanya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia keburu melihat apa yang ada didalam lubang tersebut.
Kedua bola matanya refleks tertutup secara cepat sebagai respon. Dan kedua tangannya maju ke depan sebagai bahan perlindungan, meski itu percuma sih, namun begini lebih baik.
"Sumpah gue nggak mau lihat itu lagi, gue nggak mau lihat itu" tolaknya dengan kedua matanya mengintip sedikit.
"Chenle-A.....!!"teriak Jisung tak jauh dari sana. Chenle segera mengubur benda tersebut hingga tak terlihat lagi dari pandangan.
"Ah elah, kenapa gue mesti lihat yang begituan sih! bikin kepikiran aja deh!" rutuknya sambil mempercepat pekerjaannya supaya cepat selesai.
"WOY Chenle...!" sapa Jisung yang rupanya sudah berdiri disamping tubuh pemuda Zhong itu. "Lagi ngapain sih? Sibuk amat sampe nggak jawab gue?"
Chenle yang masih ketakutan cuma mendengus kesal. "cabut aja yuk dari sini! Gue nggak betah!!"
"Dih, yang ngajakin kesini siapa? Elo juga kan? Emang ada apaan sih kok mukanya sewot gitu?"
"Ah males ngomongin itu, mending pergi dulu aja dari sini!" ajak Chenle sambil menggeret tubuh Jisung sekuat tenaga. "Ayo! Kalo nggak gue tinggal loh!!"
"Ngomong dulu di lubang itu ada apaan sampe lo ngubur itu?"
"Kepo banget sih! kesel gue dengernya!" dengus Chenle sambil mengerutkan wajah. "Lo mau tau banget ya yang ada didalam sana. Sini gue beritahu!"
"Apaan? Cepet ngomong itu ada apaan?"
"BANGKAI KUCING YANG DICINCANG JADI BEBERAPA BAGIAN!! DAH PUAS SEKARANG??" teriak Chenle lalu nyelonong pergi meninggalkan Jisung yang termenung sendiri.
"Mustika dong namanya, eh maksudnya mutilasi!" koreksi Jisung akan kesalahan ucapannya. "siapa juga yang tega lakuin ini, kan kasihan tuh kucingnya. Emangnya dia bawang putih dicincang kecil. Menurut lo gimana?" tanya Jisung tanpa tau kalau orang yang sedari tadi ia ajak bicara sudah pergi.
Begitu mengetahui kalau Chenle sudah pergi, Jisung langsung kesal."Woi Dasar Abang Laknat!!! TEGA LO TINGGALIN GUE SENDIRIAN!!" teriak Jisung.
"Siapa suruh buta dan nggak lihat gue pergi!!" balas Chenle dari kejauhan.
Jisung menganga tak percaya kala mendengar ejekan dari orang yang sudah buat dia emosi. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman yang tak dapat diartikan. Sayang Chenle sudah pergi jauh. Kalau dia ada disini pasti dia bakal ketakutan melihat ekspresi yang tengah Jisung lakukan ini. Itu pasti.
Jisung menatap tempat galian itu sekilas. Lalu matanya berbinar setelah itu. "Ah...ide bagus Jisung. Bakalan seru nih nantinya" ucapnya sambil menyeringai lalu pergi dari sana.
🌱🌱🌱
Sebelumnya Jaemin tengah duduk tenang sambil merenungi impiannya. Namun semua hancur lebur kala datangnya seorang manusia yang mengaku masih polos namun kelakuannya sungguh buat Jaemin ngelus dada.
Mau tau apa yang dia perbuat hingga seorang Lee Jaemin hilang kendali ?
Dia diseruduk hingga nyungsep ke depan secara estetik. Dimana kepala dan tangannya dibawah dan kedua kakinya setengah terangkat.
"WOI KALO JALAN LIHAT-LIHAT DONG! ADA ORANG NIH!" sewot Jaemin. Gimana nggak sewot? Orang Jaemin diem aja eh tiba-tiba datang makhluk sebesar gajah main menyeruduk saja. Habis sudah ketenangan yang ada.
Tubuh mungil Jaemin langsung terjungkal ke depan begitu dapat hantaman keras dari pelaku yang sekarang masih berdiri dengan santai.
Jaemin segera berdiri berusaha meluruskan tinggi badannya dengan si pelaku. Tapi sayangnya ia masih kalah tinggi. Alhasil dia cuma bisa mendengus kesal.
"Napa lo main nyeruduk gue hah!? Nggak lihat apa ada orang lagi duduk tenang disitu?" oceh Jaemin.
Orang itu mengangkat alisnya keheranan. "Siapa suruh duduk di tengah pintu, emang nggak ada tempat lain? Apa karna rumah lo yang kekecilan sampe nggak ada ruang buat elo duduk ?!!"
"Renjun jangan asal bicara loh ya! Rumah segede ini lo bilang kecil? Buta kali loh!" amuk Jaemin tak tertahan lagi. Pemuda Lee itu menaruh kedua tangannya di pinggul dengan mata melotot siap untuk mengamuk.
"Auah gue nggak ada urusan sama lo. Minggir nggak!" usirnya. "Gue datang mau ngambil jaket gue yang ketinggalan semalam, mana jaketnya cepet!"
Jaemin mendecih kesal. "Oh jadi mau ambil jaket ya. Bentar ya" balas Jaemin lalu nyelonong pergi dengan cerianya.
Renjun tersenyum melihat tingkah Jaemin yang super duper aneh itu. Tadi marah, eh sekarang balik ceria lagi. Sungguh keajaiban dunia yang langka.
Beberapa saat kemudian pemuda koala itu datang tapi tidak dengan jaket yang Renjun tunggu kedatangannya. Jaket itu tidak kelihatan wujudnya dimana pun.
Jaemin gimana sih, katanya mau ngambil malah datang dengan tangan kosong. Alhasil hal ini membuat Renjun keheranan. Apa jangan-jangan tuh anak lupa mau ngambil.
Ah...bikin pusing aja.
Renjun menarik ujung bibirnya sehingga tercipta sebuah senyum kecut di wajahnya. Jaemin yang lihat tau kalau Renjun pasti lagi kesal.
"Lo mau marah-marah lagi? Mau marah karna gue nggak bawa jaketnya?" tebak Jaemin begitu sampai dihadapan pemuda Huang itu. "Eh Renjun! Emang gue pembantu elo! Main nyuruh-nyuruh aja. Jaketnya emang nggak ada dikamar, awas kalo lo marah sama gue!"
"Nggak lo jual kan?"
Mata Jaemin seketika membulat penuh. Tak menyangka hal itu yang akan keluar dari mulut pemuda Jepang dihadapannya ini. Entah sebuah tebakan atau ledekan. Entahlah Jaemin tak tau.
"Haha.." kekehnya dengan riang. "Siapa tau elo butuh duit buat jajan. Resiko punya barang mewah ya gitu, nggak boleh oleng dikit. Oleng satu detik aja barang ilang. Wush...ilang kayak disihir!" Ledek Renjun didepan wajah Jaemin.
Renjun sengaja menaruh tangannya yang memegang sebuah koin dan saat kata 'wush' ia ucapkan koin itu akan menghilang.
Niat bener tuh bocah ngeledek Jaemin. Jangan ditiru ya kawan-kawan itu perbuatan yang nggak baik. Tapi baik buat ningkatin mood kita:>
"Lo kira gue miskin sampe nyuri jaket buluk milik elo!??? Hello...Nggak lah" balas Jaemin sambil meledek. "Lagian ya, gue juga punya kali jaket yang kayak lo bahkan-"
"AAAAKHHHH........!!" teriak seseorang dari dalam rumah yang sukses menarik atensi kedua pemuda tersebut. Keduanya kompak menatap ke arah yang dipastikan sebagai sumber suara itu. "Siapa yang teriak?" tanya Jaemin sambil celingukan kedalam.
"Mana gue tau. Inikan rumah lo!" jawab Renjun. Jaemin langsung cengengesan mendengarnya.
"Hehe..kok gue jadi lupa ya" balasnya lalu menepuk jidatnya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Renjun segera berlari ke arah teriakan itu berasal. Dibelakangnya ada Jaemin yang ikut berlari. Keduanya sama-sama diliputi rasa penasaran.
Segera setelah mereka tiba, hal pertama yang terlihat adalah bibi yang tengah terdiam dengan sebuah pisau kecil ditangannya serta jaket Renjun tergeletak dibawah.
Wajah bibi begitu kaget seakan mengisyaratkan kalau dia habis melihat atau menyaksikan hal yang tak terduga.
Jaemin segera mendekat untuk memastikan kalau tidak terjadi hal buruk sama sekali. "Bi' kenapa sih kok teriak? Dan ini juga, kenapa tangannya berdarah?" tanya Jaemin cemas.
Dia meraba tangan bibinya itu untuk melihat seberapa dalam luka yang ada. Sementara bibi hanya terdiam seperti kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat. Sampai akhirnya dia mengatakan sesuatu yang kembali sukses buat dua orang itu kembali kebingungan.
"N-nono...N-nono...Dia...." ucapnya seperti orang linglung sambil menunjuk ke pintu samping yang tak jauh dari sana.
Tak lama kemudian terdengar kembali suara keras yang asalnya dari tempat yang tadi bibi tunjuk disertai dengan teriakan Jeno setelahnya.
Hanya dalam hitungan sepersekian detik saja, Renjun segera berlari ketempat. Setibanya disana dia melihat Jeno yang tengah berbaring dilantai dengan lengan yang berlumuran darah beserta kertas-kertas bergambar emoticon yang berserakan disekitarnya.
Deg...
Renjun terdiam mematung. Ia tau persis apa yang terjadi di sini. "JX- Man?" Tanya pemuda Huang itu pada Jeno.
Jeno terdiam. Dia tak menjawab pertanyaan tersebut dan sepertinya tak berniat untuk dijawab karena mungkin Renjun sudah tau apa yang terjadi disini.
"Ah...!" kali ini pemuda bertubuh tinggi itu mengeluarkan senyum smirknya. Dia lalu mengambil salah satu kertas yang berserakan tadi. "Rupanya dia mulai bertindak lagi ya? Menarik. Biar gue liat seberapa jauh dia akan bertindak!"
"Siapa itu? Siapa yang sedang kau bicarakan?" tanya Jaemin yang baru tiba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments