JMB 05. Bukan Salah, Hanya Kurang Tepat

Wajah sendu dan tangis pilu terdengar dari kamar gadis yang make up nya sudah mulai luntur tersebut. Ia sungguh tidak menyangka, acara yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa tiba-tiba gagal dan bahkan bisa dibilang berantakan. Beruntung tamu yang datang hanyalah dari keluarga dekat jadi rasa malu dan kabar gagalnya pertunangan itu tidak sampai kemana-mana.

" Maaf sepertinya saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, saya benar-bena minta maaf. Saya harus memastikan satu hal terlebih dulu, Beri saya waktu untuk itu."

Untaian kata yang diucapkan Yasa benar-benar mengejutkan semua pihak. Bukan hanya dari pihak perempuan, bahkan ayah dan ibu Yasa serta keluarga besar Dwilaga sangat terkejut. Hasna pun sampai pingsan dengan apa yang dikatakan putra nya secara tiba-tiba tersebut.

" Dasar! Jika belum siap mengapa meminta pertunangan. Jangan mentang-mentang keluarga kaya jadi seenaknya sendiri!"

Septian Prasojo, ayah dari Ciara itu mengerangg marah dengan ulah calon menantunya itu. Bagaiman tidak marah, jika semua yang sudah dipersiapkan tiba-tiba digagalkan begitu saja. Malu, pasti. Di tempatnya bekerja, Septian dengan bangga mengatakan bahwa anaknya akan segera menjadi menantu keluarga Dwilaga. Dan kini, Septian merasa semuanya seakan menguap. Dengan dibatalkan pertunangan ini Septian pun merasa kedepannya tidak akan menjadi bagus.

Septian terus saja mengomel. Laila Humaira, sang istri mendengus kesal kepada suaminya tersebut. Bukannya menenangkan putrinya, Septian malah sibuk sendiri dengan pemikirannya.

" Pah cukup, apa papa tidak lihat siapa yang disini paling merasa sakit? Ciara pa."

Septian langsung melihat ke arah sang putri, sedari tadi tangis gadis itu belum juga usai. Septian langsung menghampiri putrinya dan memeluk nya dengan erat.

" Putri papa, maafkan papa ya nak. Tapi sayang, apa sebelumnya kamu sudah memastikan bahwa Yasa benar-benar menginginkan pertunangan ini?"

Ciara seketika menghentikan tangisnya. Ia mengingat kembali beberapa waktu lalu tentang keputusan pertunangan ini. Yasa memang setuju untuk bertunangan, tapi pria itu tidak pernah mengatakan bahwa dirinya siap untuk menikah. Tidak ada kata-kata dari Yasa yang meminta Ciara untuk menikah.

" Kak Yasa memang tidak pernah meminta ku untuk menikah, tapi dia setuju saat Om Radi mengatakan untuk kita bertunangan."

Septian dan Laila saling pandang lalu sama-sama membuang nafasnya dengan kasar. Jika ditelaah sepertinya Yasa belum siap untuk ini.

" Jikalau begitu, Yasa mungkin belum siap untuk ini. Apa kamu mencintai nya?"

Pertanyaan Laila dijawab dengan anggukan kepala oleh Ciara. Cinta? sangat, bahkan semasa kuliah gadis itu sudah jatuh hati terhadap Yasa. Dosen muda nan cerdas yang menjadi profesor di usia nya yang muda itu selalu tersenyum terhadap siapapun. Ramah dan supel, setiap senyum nya mampu menggetarkan hati Ciara. Mungkin bukan hanya Ciara tapi hati setiap gadis yang melihat senyumnya.

" Jika begitu maka tunjukkan ketulusanmu kepadanya. Mungkin benar apa yang dia katakan bahwa masih ada hal yang harus diurus. Jika cinta, maka bersabarlah untuk menunggu sambil terus memperlihatkan cinta mu kepada nya."

Ciara mengangguk, setiap kata yang keluar dari bibir mama nya membuat gadis itu merasa tenang. Ciara bertekad untuk terus memberikan cinta nya kepada Yasa. Ia sebenarnya sadar jika Yasa belum memiliki hati kepadanya, maka dari itu tugas nya kini meraih hati pria itu. Pria yang sopan, ramah, dan supel itu ternyata hatinya tak semudah sikapnya.

" Bagaimana Sep? Apa Ciara baik-baik saja?"

" Dia sudah tenang. Mas Raf, Mbak Van, terimakasih untuk semua bantuannya. Mas dan mbak pulang aja untuk istirahat. Aku mohon jangan sampai cerita ini sampai kemana-mana."

" Jangan mengkhawatirkan itu, tenang saja. Salam buat Ciara dan istrimu. Kami pamit dulu."

*

*

*

Di kediaman Radian Nareen Dwilaga suasana masih sedikit memanas. Radi jelas marah dengan kelakuan sang putra. Pria paruh baya itu tak habis fikri eh pikir dengan apa yang diperbuat sang putra.

Sedangkan Yasa, ia tentu terima saja dengan semua kemarahan sang ayah. Ia sadar bahwa ini semua adalah kesalahannya.

" Ya Allaah Yas, bagaimana kamu bisa berbuat sepeti itu hah! Ayah tanya, apa ayah memaksamu untuk melakukan pertunangan itu? Memang ayah yang memintanya, tapi bukankah ayah sudah menawarkan kepadamu? Jika kamu tidak siap, maka ayah pun juga tidak memaksa. Tapi kamu mengatakan kamu siap. Tapi ini apa! Ayah tidak pernah mengajarimu untuk menyakiti hati perempuan Yas."

Radi benar-benar dibuat frustasi. Pria itu jika marah benar-benar sangat menakutkan. Andra sang adik pun mendekat ke arah kakaknya dan mencoba untuk menenangkan.

" Kak, sudah. Ayo bicara dengan kepala dingin. Inget, kolesterol dan gula darah."

" Andraaaa!!!"

Andra terkekeh pelan. Hanya Andra yang berani melakukan itu kepada sang kakak. Mereka yang lain ingin tertawa tapi tak berani sehingga hanya menahannya saja.

" Paman!"

" Kak!'

Suara Dika dan Nataya terdengar berteriak bersama. Semua mata langsung menuju kepada dua ayah dan anak itu.

" Kak, kita harus bawa Kak Hasna ke rumah sakit. Dia mengalami sesak napas."

Radi tentu terkejut, tadi istrinya itu memang pingsan tapi sudah siuman. Tapi mengapa tiba-tiba sesak napas, padahal sang istri tidak memiliki riwayat penyakit ISPA. Tidak ingin banyak berprasangka Radi langsung menggendong sang istri diikuti oleh Dika dan Nataya untuk menuju ke rumah sakit.

Wajah Yasa tentu saja langsung pias mengetahui keadaan sang ibu. Ia hendak berlari masuk ke mobil namun ditahan oleh Silvya. Bibinya itu meminta kunci mobil dari tangan Yasa.

" Biar bibi saja yang mengemudi. Kau duduklah di samping. Nai, bawa Neha dan Nayaka pulang dulu. Andra bawa Zanita dan Zara pulang dulu. nanti jika sudah kembali. Jani, kamu juga ya."

" Baik Kak."

" Baik Ma."

Andra, Rinjani, dan Naisha mengangguk patuh dengan instruksi Silvya. Mereka kemudian menaiki mobil masing-masing dan menuju rumah mereka.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Yasa tidak henti-hentinya berdoa agar ibu nya baik-baik saja. Silvya bisa melihat ketakutan dan kekhawatiran dalam wajah sang keponakan. Ia lalu menggenggam tangan Yasa dan mengangguk kecil. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

" Bibi, apakah apa yang kulakukan adalah salah?"

Silvya tersenyum, ia tentu tidak tahu alasan pasti keponakannya melakukan hal tersebut. Tapi ia yakin, Yasa pasti memiliki alasan tersendiri mengapa melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut itu.

" Bukan salah, hanya kurang tepat nak. Bibi tahu kamu pasti punya alasan tersendiri. Akan tetapi seharusnya kamu mempertimbangkan sebuah keputusan itu matang-matang. Kamu seorang profesor muda yang cerdas. Seharusnya kamu bisa berpikir secara rasional. Jika Yasa bertanya apa hubungannya profesor dengan kondisi mu saat ini, jelas berhubungan. Kamu sering melakukan studi kasus untuk penelitian mu, jika kamu tidak bisa menggunakan seluruh hatimu setidaknya kamu bisa menggunakan otak dan pikiranmu untuk mempertimbangkan setiap keputusan termasuk mengenai kehidupanmu kedepannya."

TBC

Terpopuler

Comments

TongTji Tea

TongTji Tea

terlalu banyak nama Dan tokoh yang terlibat ,namanya pun mirip2 jadi bingung .

2024-11-14

4

Sandisalbiah

Sandisalbiah

bisa sebijak itu Silvya.. gak nyangka.. pdahal kalau lagi membantai musuh bisa bengis banget lho 🤭🤭🤭

2024-10-21

0

Danny Muliawati

Danny Muliawati

smga BS ktm yah dg Tara

2024-09-13

0

lihat semua
Episodes
1 JMB 01. Apa Aku Bisa Sembuh?
2 JMB 02. Selamat Datang Putraku
3 JMB 03. Pilihan Sulit
4 JMB 04. Apakah Boleh?
5 JMB 05. Bukan Salah, Hanya Kurang Tepat
6 JMB 06. Opa Nangis?
7 JMB 07. Masa Lalu #1
8 JMB 08. Masa Lalu #2
9 JMB 09. Ayo Kita Cari
10 JMB 10. Cucu Kita?
11 JMB 11. Jalan Pake Kaki Om, Bukan Mata
12 JMB 12. Mari Buktikan
13 JMB 13. Kondisinya Memburuk
14 JMB 14. Jangan Menangis Bunda
15 JMB 15. Semoga Berhasil
16 JMB 16. Keterkejutan Yasa
17 JMB 17. Kamu Kenapa Nak?
18 JMB 18. Mimpi Yang Terwujud
19 JMB 19. Calon Tunangan Sepupumu
20 JMB 20. Tidak Bisa Bersama, Maaf
21 JMB 21. Gagal Healing
22 JMB 22. Kenapa Jahat
23 JMB 23. Seharusnya Begitu
24 JMB 24. Ayo Menikah!
25 JMB 25. Cinta Tak Harus Memiliki
26 JMB 26. Tidak Ingin Kehilangan Ayahku
27 JMB 27. Hasil Dari Sikap Legowo
28 JMB 28. Muncul Saingan
29 JMB 29. Titik Balik
30 JMB 30. Kerisauan Dua Pikiran
31 JMB 31. Kandidat Calon Mantu
32 JMB 32. Identitas Lain
33 JMB 33. Rahasia Apa Lagi?
34 JMB 34. Keputusan Besar
35 JMB 35. Takut Kehilangan
36 JMB 36. Mencari Ridho Nya Bersama
37 JMB 37. Konspirasi?
38 JMB 38. Mau Dibawa Kemana?
39 JMB 39. Kemana Harus Mencari
40 JMB 40. Pergerakan Surya aka Zion
41 JMB 41. Kerusakan Terjadi
42 JMB 42. Menuju Halal
43 JMB 43. SAH!!!
44 JMB 44. Yang Tersembunyi
45 JMB 45. Kaluna Canggung, Ciara Kesal
46 JMB 46. Bantuan Tara
47 JMB 47. Pertanyaan Tara
48 JMB 48. Grebek
49 JMB 49. Belum Tepat
50 JMB 50. Jangan-Jangan
51 JMB 51. Jadi Berita Besar
52 JMB 52. Banyak Yang Menargetkan
53 JMB 53. Dendam Salah Alamat
54 JMB 54. Malam Kedua Yang Malam Pertama
55 JMB 55. Akankah Masih Bertahan?
56 JMB 56. Bukan Selebritis
57 JMB 57. Cinderela Jadi Upik Abu
58 JMB 58. Apakah Harus Keluar?
59 JMB 59. Pingsan
60 JMB 60. Diluar Nalar
61 JMB 61. Ide Gila
62 JMB 62. Maafkan Aku
63 JMB 63. Pembelaan Kaluna
64 JMB 64. Siapa Dalangnya
65 JMB 65. Cantik Tidak Perlu Buka-Bukaan
66 JMB 66. Bantuan Apa?
67 JMB 67. Bagaimana Bisa Terjerat Ulet Bulu
68 JMB 68.
69 JMB 69. Alah Paling Gimik!
70 JMB 70. Aksi Zion
71 JMB 71. Masa Lalu Yang Belum Selesai
72 JMB 72. Aku Mencintaimu, Istriku
73 JMB 73. Kita Hanya Teman
74 JMB 74.
75 JMB 75. Ada Sesuatu
76 JMB 76. Legowo
77 JMB 77. Ini Apa?
78 JMB 78. Maling Teriak Maling
79 JMB 79. Oleng
80 JMB 80. Tolong!
81 JMB 81. Maafkan Kami
82 JMB 82. Ditolong Malah Nodong
83 JMB 83. Meringkus
84 JMB 84. Mulai Curiga
85 JMB 85. Gagal Maning
86 JMB 86. Belum Menyerah
87 JMB 87. Ngidam?
88 JMB 88. Identitas Lain
89 JMB 89. Penjelasan Tara
90 JMB 90. Niat Baik
91 JMB 91. Menemukan Yang Siap
92 JMB 92.
93 JMB 93. Saya Menerima
94 JMB 94. Apa yang Disembunyikan
95 JMB 95. Mari Lakukan
96 JMB 96. Kekhawatiran Benoit
97 JMB 97. Tamu Datang
98 JMB 98. Tempat Seharusnya
99 JMB 99. Takdir Indah
Episodes

Updated 99 Episodes

1
JMB 01. Apa Aku Bisa Sembuh?
2
JMB 02. Selamat Datang Putraku
3
JMB 03. Pilihan Sulit
4
JMB 04. Apakah Boleh?
5
JMB 05. Bukan Salah, Hanya Kurang Tepat
6
JMB 06. Opa Nangis?
7
JMB 07. Masa Lalu #1
8
JMB 08. Masa Lalu #2
9
JMB 09. Ayo Kita Cari
10
JMB 10. Cucu Kita?
11
JMB 11. Jalan Pake Kaki Om, Bukan Mata
12
JMB 12. Mari Buktikan
13
JMB 13. Kondisinya Memburuk
14
JMB 14. Jangan Menangis Bunda
15
JMB 15. Semoga Berhasil
16
JMB 16. Keterkejutan Yasa
17
JMB 17. Kamu Kenapa Nak?
18
JMB 18. Mimpi Yang Terwujud
19
JMB 19. Calon Tunangan Sepupumu
20
JMB 20. Tidak Bisa Bersama, Maaf
21
JMB 21. Gagal Healing
22
JMB 22. Kenapa Jahat
23
JMB 23. Seharusnya Begitu
24
JMB 24. Ayo Menikah!
25
JMB 25. Cinta Tak Harus Memiliki
26
JMB 26. Tidak Ingin Kehilangan Ayahku
27
JMB 27. Hasil Dari Sikap Legowo
28
JMB 28. Muncul Saingan
29
JMB 29. Titik Balik
30
JMB 30. Kerisauan Dua Pikiran
31
JMB 31. Kandidat Calon Mantu
32
JMB 32. Identitas Lain
33
JMB 33. Rahasia Apa Lagi?
34
JMB 34. Keputusan Besar
35
JMB 35. Takut Kehilangan
36
JMB 36. Mencari Ridho Nya Bersama
37
JMB 37. Konspirasi?
38
JMB 38. Mau Dibawa Kemana?
39
JMB 39. Kemana Harus Mencari
40
JMB 40. Pergerakan Surya aka Zion
41
JMB 41. Kerusakan Terjadi
42
JMB 42. Menuju Halal
43
JMB 43. SAH!!!
44
JMB 44. Yang Tersembunyi
45
JMB 45. Kaluna Canggung, Ciara Kesal
46
JMB 46. Bantuan Tara
47
JMB 47. Pertanyaan Tara
48
JMB 48. Grebek
49
JMB 49. Belum Tepat
50
JMB 50. Jangan-Jangan
51
JMB 51. Jadi Berita Besar
52
JMB 52. Banyak Yang Menargetkan
53
JMB 53. Dendam Salah Alamat
54
JMB 54. Malam Kedua Yang Malam Pertama
55
JMB 55. Akankah Masih Bertahan?
56
JMB 56. Bukan Selebritis
57
JMB 57. Cinderela Jadi Upik Abu
58
JMB 58. Apakah Harus Keluar?
59
JMB 59. Pingsan
60
JMB 60. Diluar Nalar
61
JMB 61. Ide Gila
62
JMB 62. Maafkan Aku
63
JMB 63. Pembelaan Kaluna
64
JMB 64. Siapa Dalangnya
65
JMB 65. Cantik Tidak Perlu Buka-Bukaan
66
JMB 66. Bantuan Apa?
67
JMB 67. Bagaimana Bisa Terjerat Ulet Bulu
68
JMB 68.
69
JMB 69. Alah Paling Gimik!
70
JMB 70. Aksi Zion
71
JMB 71. Masa Lalu Yang Belum Selesai
72
JMB 72. Aku Mencintaimu, Istriku
73
JMB 73. Kita Hanya Teman
74
JMB 74.
75
JMB 75. Ada Sesuatu
76
JMB 76. Legowo
77
JMB 77. Ini Apa?
78
JMB 78. Maling Teriak Maling
79
JMB 79. Oleng
80
JMB 80. Tolong!
81
JMB 81. Maafkan Kami
82
JMB 82. Ditolong Malah Nodong
83
JMB 83. Meringkus
84
JMB 84. Mulai Curiga
85
JMB 85. Gagal Maning
86
JMB 86. Belum Menyerah
87
JMB 87. Ngidam?
88
JMB 88. Identitas Lain
89
JMB 89. Penjelasan Tara
90
JMB 90. Niat Baik
91
JMB 91. Menemukan Yang Siap
92
JMB 92.
93
JMB 93. Saya Menerima
94
JMB 94. Apa yang Disembunyikan
95
JMB 95. Mari Lakukan
96
JMB 96. Kekhawatiran Benoit
97
JMB 97. Tamu Datang
98
JMB 98. Tempat Seharusnya
99
JMB 99. Takdir Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!