Bab 14

Aku memalingkan wajahku ke sebelah kanan, tak mau sampai dia melihatku. Aku tengadahkan kepala untuk menghalau cairan lolos dari mata yang sudah berkaca kaca.

Sesak terasa di dada ini. Kebahagian selama belasan tahun yang kita rasakan bersama, apakah hanya sekedar ilusi? tapi mengapa terasa sangat nyata?

Namun rasa sakit yang ditorehkan hanya dalam waktu satu hari, menghancurkan ilusi indah belasan tahun dengan seketika.

Tak menyangka jika selama ini kami hidup dalam mimpi indah, lalu terbangun dalam kenyataan yang menyakitkan.

"Hik... maafkan aku... maafkan aku...." aku terkesiap dari lamunanku kala mendengar rintihan yang sedikit tersamar oleh ramainya suasana. Membuatku menoleh sedikit demi sedikit kearahnya karena rasa penasaran ini sangat tinggi.

"Maafkan aku, sayang... maafkan aku... kembalilah padaku..." bahunya bergetar dengan kedua tangan menutup wajahnya.

Dia menangis.

Ayah menangisi seseorang.

Apa dia melakukan kesalahan yang sama sehingga kembali ditinggalkan istri mudanya?

Aku merasakan amarah yang begitu menggebu kala membayangkan bagaimana pedihnya hati mama saat mengetahui perilaku ayah dibelakangnya selama ini.

Wajahku terasa panas, nafasku memburu dengan jantung yang berdetak cepat.

Tenggorokanku serasa diganjal batu yang sangat besar.

Sakit

Sesak

Benar benar menyakitkan.

Meski kenyataannya aku sangat merindukannya, merindukan pelukan hangatnya, namun rasa rinduku seketika menguap. Tergantikan oleh rasa benci yang teramat sangat.

Air mata ini...

Air mata yang menetes dari mataku merupakan air mata kebencian.

Tak perduli jika dia adalah ayah kandungku, aku sangat membencinya melebihi apapun di dunia ini.

"Nany?"

Panggilan suara mungil mengalihkan emosiku.

"Tangan nany berdarah.. apa nany jatuh?" tanyanya dengan ekspresi khawatir.

Segera kuseka air mata yang luruh ke pipi.

Kulihat telapak tanganku memanglah berdarah. Tapi hanya sedikit. Dan itu dikarenakan oleh kuku jariku yang menancap karena tanganku mengepal dengan sangat kuat.

Aku bahkan tak menyadari luka pada fisik ini, karena teralihkan oleh luka bathin yang sangat dalam.

"Nany... nany baik baik saja. Apa kalian sudah selesai?" tanyaku mengalihkan perhatian Ethan dari tanganku.

Bocah ini, tampak sangat mengkhawatirkanku. Terlihat dari kedua alisnya yang saling bertaut, lantas menatapku dalam, seolah memberitahuku jika semua akan baik baik saja.

Ya, semua akan baik baik saja

Untuk saat ini.

Kami menghabiskan waktu kami seharian ini di taman hiburan itu dengan penuh canda tawa.

Layaknya keluarga kecil, semua mata yang melirik kearah kami tampak iri, tak sedikit juga yang tampak senang dengan keasyikan kami.

Aku dan majikanku yang saling membalas kejahilan, membuat Ethan tampak sangat bahagia dengan tawa lepasnya.

Ayah dan anak itu juga tampak sangat protektif padaku. Kala aku tengah mengantri membeli es krim untuk kami bertiga, ada seorang pengunjung muda yang sangat tampan, juga mengantri di sebelahku, dan mulai bertanya segala hal.

Dia bahkan menyodorkan tangannya untuk mengajakku berkenalan.

Antrian yang mengular membuatku tak bisa mengabaikan pertanyaannya.

Ku nilai pemuda itu cukup luas pengetahuannya. Dan aku suka berbagi pengetahuan.

Oleh karena itulah aku merespon obrolannya.

Saat aku hendak menyambut uluran tangannya

"Momyyyy..... " seruan Ethan mengalihkan perhatianku.

Aku mengenal suaranya, namun panggilan 'momy'? Apa ibunya ada disekitar sini, pikirku.

Aku menoleh kesana kemari mencari sosok yang mungkin mirip dengan wajah Ethan. Namun tak kutemukan. Hingga Ethan berdiri disebelahku dengan tangan direntangkan keatas minta digendong seraya berkata "Momy... apa es krim nya belum dapat?" ujarnya seraya menyerukkan wajahnya ke leherku.

Aku mengernyitkan dahi karena panggilan itu.

'Momy?' batinku bertanya.

Saat aku membuka mulutku untuk menjawab pertanyaannya, tiba tiba sebuah lengan meraih pinggangku dan mendaratkan kecupan pada kepalaku.

"Sayang, maaf menunggu lama. Tapi sepertinya antriannya juga masih lama. Apa kamu pegal?" ucap suara bariton bertanya dengan penuh kelembutan. Sebelah tangannya menyelipkan helaian rambutku yang keluar dari ikatannya.

Dia bahkan membuka cepolan rambutku dan membetulkannya dengan penuh kehati hatian.

Meski tak sesempurna ikatanku, namun dia bisa melakukannya.

Wajahku tersipu diperlakukan lembut seperti itu.

Aku bahkan tak bisa menolak atau berontak karena tengah menggendong Ethan.

Kami bahkan kembali bercanda sembari menunggu antrian yang semakin mendekati giliran kami.

Tak ku sadari pemuda tadi sudah tak ada di tempatnya. Aku mengedikkan bahu seraya berfikir, mungkin dia sudah mendapat bagiannya.

Kebersamaan kami menghangatkan hatiku. Sekaligus mengingatkanku akan hangatnya hubungan keluargaku dahulu.

Tanpa kusadari setetes cairan luruh ke pipi saat sekilas ingatan masa lalu yang indah menghampiri. Membuat Nathan dan Ethan seketika menghentikan tawa mereka.

"Momy..."

"Sayang, kamu kenapa?"

Kedua ayah dan anak itu bertanya secara bersamaan.

Telapak tangan mereka berlomba menyeka pipiku yang sedikit basah. Membuatku menyemburkan tawa karena tingkah mereka.

Namun perasaan sesak kembali muncul dan aku tak bisa menahan perasaan lagi.

Aku menangis saat menertawakan tingkah mereka. Tanpa perduli status hubungan kami, aku langsung memeluk leher Nathan dan menumpahkan tangisku sejadi jadinya.

Tak perduli sikap majikanku yang mematung karena pelukan tiba tiba yang ku lakukan.

Aku membutuhkan sandaran saat ini.

Namun tampaknya dia mengerti. Dia mengangkat telapak tangannya dan menepuk lembut punggungku dengan sebelah tangannya dan sebelah tangan yang lain melingkar di pinggangku. Tanpa bertanya apapun yang membuatku melankolis seperti ini.

Tak hanya Nathan, Ethan pun melakukan hal yang sama.

Bocah kecil itu menepuk nepuk pinggang belakangku karena tingginya yang hanya sebatas pinggangku, pastilah tangan pendeknya tak sampai pada punggungku.

Kami ekhem.. tepatnya dia yang membeli beberapa pakaian dari toko penjual souvenir pakaian di dalam wahana.

Banyak sekali yang dia beli. Hampir semua model pakaian dengan 3 ukuran dia beli untuk kami.

Aku sempat protes karena dia hampir memborong satu toko mungil itu.

Bayangkan saja, baju baju yang tadinya digantung menggunakan hanger kini berpindah kedalam beberapa paper bag.

"Kenapa gak sekalian buka toko aja?" protesku dengan sewot sambil memajukan bibirku.

Aku tak suka menghamburkan uang di kehidupan baruku, jadi aku merasa sayang jika harus belanja sebanyak ini dan nantinya hanya untuk 1 kali pakai.

Nathan tergelak dengan tingkahku lantas menjapit ujung hidungku seraya berkata "Ini kan buat keperluan kita di resort nanti, sayang. Biar gak balik dulu ke rumah. Ucapnya lembut membujuk.

Entahlah, dipanggil dengan sebutan 'Sayang' membuatku merona, namun aku menyukainya dan mulai terbiasa. Meski aku tahu jika hal itu pastilah dia lakukan untuk menyelamatkan harga diriku.

Sebelum memutuskan untuk berangkat ke resort, aku memohon pada majikanku untuk menaiki wahana ekstrim seorang diri. Karena tak mungkin mengajak Ethan yang belum memenuhi syarat untuk menaiki wahana ekstrim tersebut.

Entahlah, aku tak masalah menaiki roller coaster, namun aku pengecut untuk menaiki carousel.

Tampak sangat terpaksa, akhirnya Nathan mengijinkanku. Membuatku seketika bertepuk tangan dengan girang, Diiringi senyum lebar dan kecupan singkat kulayangkan pada pipi sebelah kanannya untuk berterimakasih.

Membuat wajahnya tertegun dan memerah.

"Maaf" ucapku lantas melipat bibir kala menyadari kesalahanku bertingkah murahan padanya.

EKHEM.. EKHEM...

LIPETIN JEMURAN MAK😆

JEMPOLNYA GAK USAH IKUT NGELIPET YAK😉

Terpopuler

Comments

mar

mar

senyam senyum ndili🤭

2023-07-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!