POV AUREL
Pengacara kurang asem. Berani beraninya dia ngetawain aku. Awas aja kalo sampe macem macem, belom ngerasain di geret di tiang bendera ya.
Aku kesal dengan pengacara Mama yang baru aku kenal 3 tahun ini. Kompeten sih, tapi banyakan ngeselinnya.
Kayak sekarang, enak bener nyindir nyindir aku dibilang kakak Ethan.
Bahkan pelototan mataku tak membuatnya ciut.
Sialan. Dia kenal banget sama sifatku yang gak bisa marah. Katanya, mataku doang yang keliatan garang, tapi nyaliku selembek tahu.
Cih
Minta di bejek tuh pengacara model begini.
Aku terus menggumamkan kekesalanku akan ledekan om Alfred, hingga notifikasi pesan pada ponselku membuyarkan ancamanku lewat tatapan mata padanya.
"Gak usah melotot terus, saya gak punya insto"
Isi pesan dari pengacara laknat itu membuat mulutku seketika menganga. Semakin geram dibuatnya.
Ingin rasanya mengumpatinya sekarang juga di depan majikan yang sama error nya.
"Apa benar dia pengasuh putra anda, tuan?" kudengar dia sedikit berbisik pada majikanku itu. Namun matanya sekilas melirikku diiringi senyum miring menyebalkan.
Aku sengaja duduk di sofa yang berada di belakang kursi yang diduduki majikanku agar aku bisa melihat dan menyimak apa yang mereka bicarakan. Selain itu juga agar Ethan tak merasa bosan.
Bocah itu bahkan tiduran berbantalkan paha ku sembari memainkan PS Portable nya.
"Menurutmu?"
Tuh kan, majikan sableng malah ikutan ngeselin.
"Menurutku dia pantas berada di sisi anda" bisik pengacara laknat yang bisa kudengar membuatku kembali memelototkan mata seraya mengangakan mulut.
"Saya pikir juga seperti itu" jawaban majikan sablengku lebih membuat mulutku semakin lebar menganga.
Konspirasi macam apa ini?
Selesai dengan akad jual-beli, kami meluncur kearah taman hiburan.
Aku sedikit terhenyak kala menyadari jika tempat ini banyak mengukir kenangan indah keluargaku.
Ayah selalu mengajak kami main ke taman hiburan ini dan menjajal setiap wahana.
Seketika langkahku mematung dan sedikit menitikan air mata kala teringat bagaimana wajah ceria mama kala kami menghabiskan waktu bertiga.
Hanya kami bertiga.
Lamunanku buyar kala Ethan menarik tanganku agar mengikuti dady nya melangkah kearah loket pembelian karcis.
"Permisi, tuan, nyonya. Minta waktunya sebentar, boleh? Perkenalkan kami dari majalah web keluarga..." tiba tiba seorang pria menghampiri kami yang baru menempati barisan antrian hendak membeli karcis. Lalu datang 1 orang lagi menyodorkan selebaran yang merupakan media promosi mereka dengan mencantumkan berbagai penawaran promo perusahaan mereka terkait taman hiburan yang akan kami jelajahi.
Mereka menawarkan paket liburan untuk keluarga dengan harga yang cukup terjangkau karena bukan hanya tiket terusan selama 4x dalam sebulan, melainkan plus menginap di resort yang dekat dengan taman hiburan di waktu yang sama.
Aku mengangakan mulutku kala Nathan, si majikan sableng itu dengan serius bertanya ini dan itu tanpa menyanggah status hubungan kami, dan lebih gila nya lagi, dia mengambil salah satu paket promosi itu.
"Tapi...."
"Kita beli aja pakaian di toko dekat sini. Atau.. di dalam juga banyak souvenir pakaian, bukan?" sergah majikan sableng memotong sanggahanku.
Lihat, betapa bahagianya wajah wajah para SPB yang baru saja berhasil mendapatkan konsumen.
Mereka bahkan tak memperdulikan ekspresi wajahku yang berubah cemberut.
Parahnya lagi, mereka juga saling berbisik jika aku adalah istri yang pelit dan perhitungan, dan mereka beruntung berhasil meyakinkan lelaki yang mereka kira adalah suamiku.
Cih
Suami dari Hongkong.
Kami resmi terdaftar sebagai pasangan exclusive, karena majikan sablengku ini mendaftar dengan memilih paket exclusive selama setahun.
Hhhh.... mereka bahkan meminta salinan dari kartu identitasku.
Aku sempat menolak karena tak merasa sebagai pasangan sah majikan sableng yang mimiknya sok romantis ikut ikutan membujukku.
Kalau identitasku mereka gunakan untuk apply pinjol bagai mana? itu sebenarnya yang ada dalam benakku. Karena selama ini aku tak pernah sembarangan memberikan identitasku.
"Aurelia Alma. Nama yang familiar" kudengar majikanku membaca nama dalam kartu identitasku dengan menggumam.
Mampus
Kalo ketauan gimana? Dia kan baru saja menandatangani akad jual-beli rumah mama.
Aku panik sambil menggigit kuku jari tanganku hingga habis. Berharap dia tak menyadarinya.
Namun sepertinya dia memang tak menyadarinya karena ekpresinya berubah lebih menyebalkan saat kami.. ekhem.. dia menerima kartu anggota berwarna hitam dengan nama kami tertera diatasnya. Jadi kami tak bisa menyalah gunakan fasilitas itu untuk membawa selingkuhan kami.
What the..
Belum tahu saja mereka, kalau kita bahkan bukan pasangan suami istri.
Wajah majikan edan ku itu berseri seri. Menyebalkan bukan?
Aku mengusap kasar wajahku karena kesal. Tiba tiba aku dikejutkan dengan tangannya yang meraih tanganku dengan lembut seraya memberikan ekspresi khawatir dan lembut.
"Kamu kenapa? gak suka main kesini?" tanyanya dengan tatapan lembut dan sendu.
Sok perhatian.
Ingin rasanya aku menjambak rambutnya.
"Nany, ayo temenin Ethan main itu" ajakan Ethan membuyarkan rasa kesalku pada ayahnya.
Ethan menunjuk pada wahana carousel.
Salah satu wahana kelemahanku.
"Eeee... Ethan sama dady aja ya... mmm... nany mau nyari toilet dulu, sakit perut, okay... ayo mulai mengantri, nanti gak kebagian" ujarku beralasan sembari mendorong tubuh keduanya kearah antrian yang mengular.
"Kamu yakin gak ikut?" tanya majikan ku sedikit berteriak karena aku sudah sedikit menjauh.
"Perutku sedang tak bisa diajak kompromi" balasku berteriak tak memperdulikan orang orang yang memperhatikan tingkahku, lantas segera mencari bangku untuk duduk.
Bisa ancur reputasiku kalo sampe naik wahana yang hanya naik turun dan berputar di tempat. Dahulu kala ayah mengajakku naik wahana itu, kepalaku tiba tiba terasa pusing, perutku mual, dan seketika aku muntah di tempat, mengotori apa yang ada di depanku. Bahkan orang yang tengah duduk di depanku terkena imbasnya lantas memarahiku habis habisan.
Saat aku tengah menenangkan diri dari bayangan trauma masa kecil, kepalaku tak sengaja menoleh pada sisi sebelah kiriku.
Tepat di bangku yang jaraknya tak jauh dariku.
Alisku saling bertaut, memastikan penglihatanku.
Mataku seketika membola kala menyadari siapa sosok yang tengah duduk bersandar di bangku itu dengan tatapan menerawang kearah depannya.
Tatapan yang kosong.
"Ayah.." lirihku reflek memanggil namanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Mom Dee🥰🥰
vote untukmu thor
2023-07-03
2
La Rue
vote 👍
2023-07-03
1
mar
lanjut thor
2023-07-03
0