Bab 10

"Ethan, tolong bukakan pintunya" kedua tanganku membopong Aurel yang beberapa kali minta diturunkan.

Sedari wahana trampolin tadi aku bersikeras membopongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

Ya untungnya saran dokter sangat menguntungkanku.

"Usahakan kepalanya menengadah sementara waktu ini" pesan sang dokter yang langsung kuangguki dengan mantap.

"Tapi gak gini juga" kudengar dirinya bergumam dalam gendonganku.

"Dady, Ethan mau digendong juga" rengek anakku yang tampak sudah kelelahan. Dia tak mau menunggu di mobil dan bersikeras ikut ke dalam rumah sakit hingga ke ruang periksa.

"Nanti ya, jagoan dady. Sekarang nany nya lagi sakit gara gara dady, jadi dady harus bertanggung jawab" ujarku beralasan.

Ethan membukakan pintu lantas segera membuka kamar Aurel agar aku bisa merebahkannya di ranjangnya.

Uhh, bolehkah aku menemaninya semalaman?

"Dady, Ethan mau jagain nany malem ini, boleh?"

Bocah ini...

Kenapa dia bisa mengucapkannya dengan lantang? tak tahu kah kamu nak, dady mati matian menahan diri untuk tak mengucapkannya.

"Ethan bobo nya kan gak bisa diem. Gimana nanti kalo gak sengaja mukul idung nany lagi, hayo" timpalku memberi alasan.

Harusnya juga dady yang jagain. Maksudku seperti itu.

"Kan dady juga ikut jagain"

"Aaaa....." suaraku tertahan, tak menyangka anak ini benar benar genius.

"Sudah sudah.. saya bisa sendiri kok. Tuan bisakah anda melepaskan saya" tukas Aurel membuatku terkesiap.

Aku menggendongnya hingga ranjangnya, namun aku memangkunya saat duduk di ranjang alih alih merebahkannya.

"Ah, iya maaf. Terlalu nyaman" gumamku pada akhir kalimat.

"Apa?" kudengar dirinya bertanya lirih. Tapi aku memilih pura pura tak mendengar.

Tentu saja karena tak tahu harus memberi alasan apa.

"Apa perlu saya ambilkan minum?" ujarku menawarkannya minum. Sepertinya dia haus karena beberapa kali mencoba menelan salivanya.

"Boleh. Maaf merepotkan" jawabnya setelah berbaring namun ia usahakan agar hidung mungilnya tetap mengarah keatas.

Akhirnya aku menyelipkan guling ke lehernya agar tak terasa pegal.

"Terimakasih" ucapnya dengan wajah memerah.

Entahlah.

Wajahku pun terasa panas.

Saat aku menyelipkan guling dibelakang lehernya, aku sedikit mengangkat lehernya sehingga wajah kami sedikit lebih dekat.

Ethan terus membujukku untuk menemani Aurel malam ini. Cukup membingungkan karena aku juga diminta ikut menjaganya seperti saat Ethan sakit, aku selalu menjaganya semalaman di tempat tidurnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyuruhnya tidur di sofa ruang tengah. Dan aku duduk di karpet mengerjakan pekerjaanku semalaman ini.

"Tuan.. tuan.. " kudengar samar samar suaranya memanggilku. Aku melihat samar samar wajah seseorang tegah menunduk dengan rambut panjang menjuntai.

Kucoba mempertajam penglihatanku dengan menguceknya.

Kini wajah cantik itu terpampang jelas.

"Cantik..." gumamku secara reflek.

"Tuan, bangunlah.... " lanjut suara merdu itu mengguncang bahuku.

Mengembalikan kesadaranku dari... tidur...

Ternyata aku tertidur.

"Sebaiknya anda pindah ke kamar atau anda akan menyakiti leher anda sendiri" ucapnya memberi saran.

Ahh.. senangnya jika ada yang memperhatikan.

Aku mencoba mengembalikan kesadaranku secara utuh. Saat menoleh kearah sofa, Ethan sudah tidak ada disana. Aku meraba sofa kosong itu seperti orang linglung, hingga Aurel memberi tahu "Ethan sudah aku pindahkan ke kamarnya" ujarnya membuatku ber ooh ria.

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku heran kala melihat Aurel merapikan selimut Ethan lalu menumpuknya diatas bantal dan memindahkannya ke sofa single. Lantas menaruh bantalnya sendiri berikut selimutnya.

"Saya tidak bisa tidur di kamar, tuan. Biasanya saya tidur di ruang tengah sambil nonton tv" ujarnya seraya duduk memangku keripik singkong yang tak pernah ku lihat ada di rumah ini.

"Kamu.. membangunkan ku untuk mengusirku? hey, ini rumahku, terserah aku mau tidur dimana, kenapa kamu berani mengusirku" tukasku bersungut melayangkan protes seraya mencomot keripik singkong dan mencicipinya, dan ternyata enak.

Aurel tampak mengangakan mulut dengan keripik singkong yang siap ia suapkan ke mulutnya, mematung didepan mulutnya.

"Ya sudah kalau kamu mau tidur disini, saya juga masih harus beresin kerjaan saya" imbuhku seraya kembali mencomot keripik yang rasanya gurih gurih gimana gitu.

"Baiklah, terserah anda" balasnya cuek, lantas menghidupkan tv tanpa memperbesar suaranya.

Bisa dikatakan menonton gambar karena aku tak bisa mendengar suara dari layar persegi empat itu.

Ah, mungkin dia tak mau mengganggu ku bekerja.

Istri yang pengertian. Aku mengulum senyum membelakanginya.

Aku semangat mengerjakan pekerjaanku yang sempat tertunda. Suara kunyahan keripik dari mulutnya sama sekali tak menggangguku.

Aku bahkan sesekali mencomotnya.

"Tuan, sepertinya anda membutuhkan ini" ucapnya mengalihkan fokusku pada laptop di pangkuan. Aku mendongak untuk melihatnya.

Sedikit bingung karena dia menyodorkan buku tebal padaku.

"Aku tak membutuhkan ensiklopedia" tolakku mengernyitkan dahi.

"Hhh... anda membutuhkan ini untuk menghalau radiasi dari laptop pada alat reproduksi anda" imbuhnya seraya mengangkat laptop dan menaruh buku tebal di pangkuanku dan menaruh kembali laptopnya diatas buku tebal itu.

"Apa anda butuh sesuatu untuk mengganjal perut anda?" tawarnya seraya berlalu kearah dapur.

Aku yang mematung melihat pangkuanku hanya bisa menjawab "iya". Milikku kembali bangkit kala dia mengingatkan tentang 'alat reproduksi' yang berarti adalah...

Kenapa dia harus menyinggungnya? batinku menangis.

Aku memilih menenangkan diri dan kembali fokus pada pekerjaanku.

Tanpa berbicara, dia menaruh sepiring nasi goreng dan teh panas diatas meja.

"Kamu..." ucapanku menggantung kala mendongak melihat menu yang mengepul panas diatas meja, namun yang kudengar dari mulutnya adalah seruputan makanan berkuah.

"Mi instant?" tanyaku terheran. Sejak kapan di rumah ini ada mi instant?

"Ah, iya. Saya lihat nasinya tinggal sedikit. Pasti kurang bagi anda jika dibagi dua dengan saya, jadi saya membuat mi instant persediaanku. Hanya untuk berjaga jaga jika tak bisa tidur" terangnya lantas kembali menyeruput kuah mi instant.

"Tampaknya enak" gumamku sedikit meneteskan air liur karena lezatnya aroma bumbu instant meguar menggelitik hidungku. Aku lantas merebut mangkok panas itu dan garpu dari tangannya.

Aku sedikit meniup mi yang mengepul lantas menyuap dan menyeruput kuahnya langsung dari mangkok.

"Ahh... ternyata seenak ini. Pantas saja banyak yang menggilai makanan ini" ucapku sambil terus menyuap makanan terlarang di rumahku ini.

"Tuan.." ucapnya menggantung.

"Kamu makan nasi goreng saja" imbuhku seraya terus menyeruput kuah yang terasa sangat gurih dan membuat ketagihan.

Sluuurrpp...

"Ahhhhh....." semangkuk mi terlarang itu tandas tak bersisa.

Kulihat dia menyunggingkan sebelah bibirnya sambil mendengus.

Dia lantas mengambil sepiring nasi goreng dan memakannya dengan lahap.

"Apa kamu gak takut gemuk?" tanyaku terheran.

Kebanyakan wanita sangat menjaga makanan demi berat badan ideal. Namun wanita ini tampaknya tak perduli karena pada jam seperti ini dengan leluasanya makan nasi goreng.

"Apa itu enak?" tanyaku karena melihat caranya makan, menggugah seleraku.

Dia menjawabnya dengan mengangguk.

Lagi lagi aku mengambil alih sendok yang dia pegang dan menyuapkannya pada mulutku sendiri.

"Enyak.." ujarku meneruskan sesendok demi sesendok memasukannya pada mulutku. Membuatnya menggigit garpu dan menatapku dengan tatapan yang tak bisa digambarkan.

Bukan karena lapar, tapi karena sendok yang bekas mulutnya.

Haha..

MASIH SELOW YA MAK

JEMPOLNYA JAN DULU DITINGGALIN👌👍🏻

Terpopuler

Comments

Mom Dee🥰🥰

Mom Dee🥰🥰

ambyar ya pak sisi coolnya gara² nanny Ethan 😂😂

2023-07-02

2

mar

mar

karyamu ini yg sengklek cowoknya😂

2023-07-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!