Bab 8

POV NATHAN

Seharian ini sedikit aneh melihat sikap wanita tarzan yang duduk di kursi depan, sebelahku, karena aku yang mengemudi dan motornya aku perintahkan Komar yang membawanya pulang ke rumahku.

Ethan entah kenapa sangat lengket padanya.

Sedikitpun tak mau terpisah darinya.

Bahkan saat dia pergi ke toilet pun baru berselang tak berapa lama, anak semata wayangku itu panik karena pengasuhnya ini tak kunjung kembali.

Belum tahu saja dia apa yang akan seorang wanita lakukan kala di toilet.

Hm, akupun demikian. Masih mencari tahu apa saja yang wanita lakukan di toilet sehingga membutuhkan waktu cukup lama dihabiskan di ruangan dengan beberapa bilik itu.

Bukan hanya mempertanyakan sikapnya saja, aku pun mempertanyakan diriku sendiri.

Kenapa perasaan gundah merasuk kala diperlakukan seperti ini.

Hei, akulah sang majikan, kenapa aku yang merasa terintimidasi.

Meski tersadar akan statusku, tetap saja ada perasaan aneh, perasaan takut.

Tunggu

Apa tadi dia benar benar bisa melihatku dengan wanita itu?

Aku harus menemui kontraktor gedung ini.

Bisa bisanya mereka memasangkan kaca yang tembus pandang.

"Dady kenapa pukul pukul kepala?" tanya Ethan yang tak kusadari ternyata memperhatikanku.

Memperhatikan tingkah bodohku.

Tapi tidak dengannya.

"Ah.. dady cuma.. cuma lapar.." akhirnya alasan itu yang kugunakan.

Tapi kenapa dia tak menghiraukanku? apa dia marah padaku?

Ah bodohnya aku menanyakan hal itu.

Ekspresi dingin dan acuhnya membuatku semakin penasaran.

"Kita makan di luar?" tawarku pada bocah tampanku. Sebenarnya hanya alasanku agar bisa jalan dengannya.

Mmmm....

Entahlah...

Otakku kurasa sudah tak beres.

Mungkin karena terlalu lama sendiri, dan dia terlalu menarik untuk dilewatkan.

Benarkah...

Ya Tuhan, pikiran apa ini...

"Yeeeaayy... Nany nany.. Ethan mau makan ayam chicken, boleh?" anakku meminta izin pada nany nya, seolah pada ibunya sendiri.

Secara reflek, seulas senyum terbit dari sudut bibirku kala membayangkan jika dia akan menjadi ibu sambung Ethan.

Dan dia menjadi istriku, lalu kita akan melewatkan malam malam kami dengan penuh gairah setelah Ethan tertidur.

Gosh... batangku kembali bangkit kala membayangkan hal itu. Aku bahkan secara reflek mengusapnya untuk menenangkan.

Mungkinkah aku akan kembali merasakan malam panas itu?

Entah kenapa sekarang aku mendamba sentuhan wanita. Tak seperti sebelum sebelumnya yang seolah barangku sudah tak berfungsi lagi karena tak pernah memberikan reaksi saat seorang wanita memancingnya.

"Sekali ini aja ya. Tapi Ethan harus banyak makan buah buahan, okay?" ucapnya memberikan persyaratan yang langsung diangguki anakku.

Lihat, betapa patuhnya bocah itu padanya. Sesuatu yang sangat langka Ethan lakukan pada para pengasuhnya terdahulu.

Kami tiba di area drop off. Kami lantas turun bersama, hingga seorang sekuriti menegurku.

"Tuan, maaf. Anda harus memarkirkannya di basement" ujarnya membuatku semakin tampak bodoh.

"Ah, iya maaf" aku menoleh padanya, dan hanya helaan nafas panjang yang dia tampilkan.

Bodohnya aku yang ikut ikutan bocah tampanku untuk terus menempel padanya.

Lebih bodoh lagi kala aku sudah mendapat tempat parkir namun tak tahu harus ke lantai berapa untuk menemui mereka.

Kenapa tak terpikirkan untuk janjian dulu tadi.

Aku terus merutuki kebodohanku sambil melangkahkan kaki ini ke lift dan mengarahkannya ke lantai GF (Ground Floor). Yaitu 2 lantai berada diatas basement tempat mobilku parkir.

Semoga instingku benar.

Dan yup, instingku benar. Mereka menungguku di lobby, tak jauh dari lift.

Dengan Ethan yang asyik berlarian mengelilingi Aurel yang berdiri tengah mengobrol dengan seseorang.

Dengan senyum merekah.

Seketika langkahku terpaku kala melihat senyum itu lagi. Tapi hatiku merasa tak suka karena dia tersenyum lebar pada lelaki yang tengah mengajaknya mengobrol.

Kenapa sedari tadi dia tak menampakkan senyumnya padaku? apa dia benar benar marah? kalaupun dia marah, mengapa mesti marah? apa dia tak suka dengan kedekatanku dengan wanita lain? apa dia menyukaiku?

Pertanyaan pertanyaan konyol itu memenuhi otakku seraya kaki ku langkahkan kearahnya.

"Nunggu lama?" tanyaku menginterupsi percakapan mereka.

Cih, enak saja mereka bersantai sementara aku harus pusing mencari tempat parkir yang kosong.

Seharusnya tadi Komar kubawa saja agar aku tak perlu repot mencari parkiran.

"Dadyy...." pekik Ethan kala menyadari kedatanganku.

"Ah, sudah datang rupanya. Oke Erik, sampai ketemu lagi" wanita itu malah pamit pada lelaki yang memakai seragam khas sekuriti Mall, tapi bukan sekuriti yang telah menegurku tadi. Mungkin dia rekannya.

Tapi kenapa seorang sekuriti bisa bisanya iseng berkenalan dengan pengunjung.

Dan kenapa juga sekarang ekspresinya berubah cerah? apa dia senang berkenalan dengan pria tadi? apa mereka saling bertukar nomor?

Ah, hati. Kenapa mendadak bermasalah?

Kami makan dengan aku yang bersikap diam. Sedangkan mereka, betapa bahagianya mereka saling menimpali celotehan satu sama lain. Tangan Aurel tak hentinya mencubit daging ayam dan memindahkannya ke piring anakku yang makan dengan lahapnya menggunakan tangannya sendiri.

Ajaib memang gadis ini.

"Pak Nathan? Anda pak Nathan bukan?" sapa seseorang membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh padanya dan menggali ingatanku.

"Pak Chandra? apa kabar?" balasku saat teringat dengan kolega lama ku yang beberapa tahun ini menetap di UK untuk mengurus cabang perusahaannya. Dia adalah rekan pertama yang menandatangani kontrak kerjasama, dan tubuhnya kini berisi membuatku merasa pangling.

Aku lantas menoleh pada wanita cantik blasteran di sebelahnya sambil menggandeng tangan seorang anak yang kira kira usianya sedikit lebih tua dari Ethan.

Aku menyalaminya karena dikenalkan Chandra sebagai istrinya.

"Apa mereka anak dan istrimu? tak kusangka kamu mendapatkan yang jauh lebih fresh" kelakarnya lantas mengajak Aurel bersalaman seraya memperkenalkan diri.

Aurel tampak ingin menyanggah sangkaannya namun segera ku alihkan perhatiannya.

"Apa kalian sedang berlibur?" tanyaku mengalihkan pertanyaan Chandra yang terus melirik pada Aurel.

Hei, man... sadarlah.. disebelahmu ada istrimu. Ucapku kesal membatin.

"Ya, sebenarnya kami kembali karena ingin menjenguk ayahku. Dia terus menanyakan Alex, anak kami. Dia sudah sangat tua dan kesepian, dia ingin bertemu cucu satu satunya" jelasnya dengan mata yang kembali melirik Istriku.

Hhh...

Semoga..

Wait.. what?

"Bolehkah kami bergabung?" tanyanya meminta izin. Sebagai bentuk sopan santun, aku terpaksa mengijinkannya.

Dia lantas meminta kursi dan meja tambahan pada waiter agar bisa makan bersama dengan kami.

Kami berbincang disela makan kami,dengan sesekali memperhatikan interaksi para istri dan anak anak kami.

Ya Lord, bisakah aku menyebutnya seperti itu. Mohonku dalam hati pada Sang Maha Kuasa.

"Istrimu benar benar cantik dan muda" bisiknya sedikit mencondongkan tubuh padaku agar istrinya tak mendengarnya.

Aku hanya menyunggingkan senyum menimpalinya.

"Dady.. Ethan sudah selesai, bisakah Ethan main?" tanya Ethan setelah mencuci tangannya diikuti Aurel yang memang memancarkan aura seorang dewi.

Gosh.. andai dia bisa kujadikan pendampingku, pastilah membuat semua kaum adam iri padaku.

"Jangan dulu loncat loncat ya, nanti takut muntah" pesanku memberikan ijin seraya mengacak rambutnya.

"Ekhem.. jadi.. berapa lama kamu berencana menetap?" tanyaku setelah menetralkan tenggorokkan untuk menyadarkannya karena memergokinya menatap belakang tubuh istriku.. maksudku pengasuh anakku menjauh

Terpopuler

Comments

Mastini M. Pd

Mastini M. Pd

semangat Nathan....aq padamu.../Smile/

2023-12-06

1

Chauli Maulidiah

Chauli Maulidiah

ah masaaa.. kmrn dipancing sama lily aja udh kesenengen itu batangmu. cih..!

2023-07-01

0

Mom Dee🥰🥰

Mom Dee🥰🥰

makasih up nya thor 🤗

2023-07-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!