Bab 5

"Apa yang kamu lakukan disini.."

pekik Nathan terkejut kala Aurel berteriak saat mematikan shower dan mendapati dirinya yang tengah menikmati guyuran air hangat tanpa sehelai benangpun.

Sontak Nathan menutup area intinya dengan sebelah tangan dan menutup sebagian dadanya dengan tangan lain.

"Hahaha.. nany, Ethan disini.. ayo mandii.. hahaha" Ethan tergelak di dalam bath tube tengah berendam dengan beberapa bebek karet mengambang.

"Shitt...." desis Aurel, tak bisa berkata kata lagi, selain menutup matanya dengan sebelah tangan, dan memilih keluar dari situasi membagongkan itu.

"Sialan" gumam Nathan kesal karena situasi yang membuat intinya mengeras setelah vacum beberapa waktu ini.

Aurel berlari kecil menuju belakang rumah dengan wajah masih ia tutupi, hanya memberikan celah kecil bagi matanya agar tak salah melangkah.

"Kamu kenapa, Rel?" tanya Aminah bingung dengan tingkahnya. Sejurus kemudian dia mengulum senyum tanda mengerti apa yang mungkin telah terjadi.

"Sialan. Apes bener liat begituan" gerutu Aurel di gazeebo belakang rumah seraya mengibaskan tangannya pada wajah agar angin segar mendinginkan wajahnya yang memanas.

"Gawat, gak bisa tidur ini mah" lanjutnya frustasi kala memejamkan mata dan pemandangan polos Nathan datang tanpa diundang.

"Bi Minaah... Nany Ethan mana?" tanya Ethan setelah berkeliling rumah dengan seksama mencari keberadaan nany kesayangannya itu.

Nathan turun untuk makan malam bersama Ethan sang anak.

"Nany Aurel sedang pulang dulu ngambil buku sekolah. Nanti balik lagi kesini kok" jawab Aminah dengan hati hati.

"Ethan, ayo makan" ajak Nathan menepuk kursi disebelahnya.

Ethan menurut. Melangkah gontai dan duduk di kursi yang sudah disediakan Nathan.

"Ethan mau nunggu nany aja" tukas Ethan melipat kedua tangannya di atas meja dengan kepala bertumpu diatasnya, menghentikan pergerakan Nathan yang hendak menyuapinya makan.

"Kamu harus makan, Ethan. Ini sudah hampir lewat jadwal makan kamu" bujuk Nathan lembut.

Nathan mulai merasa terasingkan dan terabaikan dengan kehadiran Aurel di rumah mereka.

"Pokoknya Ethan mau nunggu nany dateng. Nanti gimana kalo nany belum makan? kan kesian ga ada temen nya" lanjut Ethan dengan suara bergetar.

Nathan heran, kenapa anaknya jadi secengeng ini, pikirnya.

"Makanlah dulu sedikit. Nanti kalo nany dateng, Ethan makan lagi temenin nany" Nathan terus membujuk Ethan.

Iya kalau gadis itu pulang dengan perut kosong. Kalau ternyata dia makan diluar bagaimana. Pikir Nathan lagi.

Ethan lantas menarik piring yang ada dihadapan Nathan, dan mengambil alih sendok yang Nathan pegangi.

Aminah mengangguk saat Nathan menatapnya dengan pertanyaan. Seolah anggukannya itu memberitahu jika dalam sekejap, Aurel bisa mengubah kebiasaan Ethan.

Tanpa mereka duga, Ethan menghabiskan sepiring penuh makanan yang telah di alaskan untuknya.

Aurel kembali pukul 10 malam. Sengaja mendorong motornya setelah masuk dan mendekati rumah mewah dengan desain ala Eropa itu agar tak mengganggu penghuni didalamnya.

"Kok baru dateng jam segini?" sapa Aminah berbisik kala membukakan pintu belakang rumah.

"Ada tugas dari dosen. Bagaimana Ethan, apa dia mencariku?" balas Aurel beralasan.

"Dia hampir tak mau makan dan bersikeras menunggumu" jawab Aminah seraya menuntun Aurel ke kamar yang telah disediakan untuknya.

"Lalu sekarang?" tanya Aurel dengan cemas.

"Dia berhasil menghabiskan sepiring makan malamnya dan berharap makan lagi bersamamu" jawab Aminah membuat Aurel tertegun.

"Benarkah? Tidak mungkin" Aurel mencoba menyanggah pikirannya sendiri.

"Apa yang kamu katakan padanya hingga dia sepenurut itu?" tanya Aminah penasaran kala mereka tengah berada di dalam kamar Aurel.

"Aku hanya memberitahukan padanya bahwa kita harus menghabiskan makanan kalau tidak mau dihantui sisa makanan" jawab Aurel membuat Aminah menggelengkan kepala.

Malam semakin larut, namun Aurel tak dapat memejamkan matanya karena berada di tempat baru.

Butuh waktu untuk menyesuaikan diri saat tinggal di tempat baru.

Aurel memilih membuka laptop dan mempelajari tugas essai yang dosennya berikan.

Dia memilih ruang makan agar dekat dengan kulkas saat ingin minum.

Selain itu, meja makan baginya tempat tepat untuk bekerja dengan laptop karena ketinggian meja dan sandaran kursi yang bisa menyangga tulang punggungnya, karena di kamarnya tak ada meja khusus untuk belajar.

"Apa yang kamu kerjakan?"

"Astaga.."

Aurel berjenggit kaget kala sedang menatap laptop sambil menggigit kuku, sehingga tak menyadari keberadaan seseorang.

Aurel mengusap dadanya untuk menetralkan denyut jantungnya yang berdegup kencang.

Nathan turun untuk mengambil air minum, namun ia tak menyangka akan bertemu Aurel di dapur.

"Aku.. saya.. " ucapan Aurel menggantung kala melihat Nathan tengah meneguk air minum yang diambilnya dari dalam kulkas.

Setetes cairan berhasil lolos dari mulutnya dan merambat ke leher berototnya.

glek

Seketika bayangan tubuh polos Nathan bergerilya di otaknya.

Aurel segera memalingkan wajah dan menghalanginya dengan telapak tangan seraya menjawab "Saya lagi revisi tugas essai". Keringatnya mulai bermunculan di pelipis.

"Dasar otak mesum" umpatnya pada diri sendiri.

"Oh" jawab singkat Nathan membuat Aurel lega karena tak perlu berinteraksi lebih lama lagi.

grekk...

Tanpa ia duga, Nathan menarik kursi dan duduk di sebelahnya, bahkan mencondongkan tubuh agar lebih dekat melihat layar laptop.

Namun hal itu terlalu dekat dengan Aurel yang kini hati dan jantungnya tengah berperang.

"Kamu kuliah di jurusan apa?" tanya Nathan sambil menatap isi tugas pada layar laptop Aurel.

"Manajemen bisnis.. maaf bisakah anda meninggalkan saya sendiri? saya tidak bisa konsentrasi jika ada orang disekitar saya" ucap Aurel mengusir Nathan seraya memeluk layar laptopnya agar Nathan tak bisa melihatnya.

"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Nathan kala melihat wajah Aurel yang memerah.

"Wajahku.. wajahku baik baik saja. Bisa tinggalkan saya?" pintanya lagi berharap bisa mengenyahkan keberadaan Nathan beserta bayangannya.

"Baiklah" Nathan bangkit dan meninggalkan Aurel.

"Fuhh.." Aurel menghela nafas dengan lega.

"Apa kamu memikirkan kejadian tadi sore?" tanya Nathan tiba tiba membuat Aurel tersedak air liurnya sendiri.

uhuk uhuk

"Pppfft..." Nathan hampir menyemburkan tawanya kala tebakannya benar.

Nathan berlalu ke kamarnya membawa perasaan geli karena tak sengaja menggoda pengasuh anaknya.

"Dasar mesum... hei otak, berhentilah berfikir mesum atau aku akan mengeluarkanmu dari dalam sana" umpat Aurel pada pantulan dirinya di layar ponsel.

"Halo, apa kabar paman... uhuh... aku baik baik saja, seperti biasa. Bagaimana perkembangannya?" Aurel menerima panggilan telfon sesaat sebelum berangkat ke tempat kerjanya di perusahaan Nathan. Hari ini adalah hari terakhirnya membersihkan kaca.

Aurel sedikit mengintai sekitar, tak ingin ada yang mendengarkan percakapannya dengan pengacara sang ibu.

"Benarkah ada yang berani membayar segitu?" bisik Aurel terkejut, wajahnya berseri namun ia menggigit bibirnya karena tak percaya sekaligus senang karena pada akhirnya rumah mewah peninggalan sang ibu ada yang berani membelinya dengan harga fantastis.

"Nathan.. Nathan Abraham?" lanjutnya lebih terkejut lagi kala mendengar nama itu.

"Nany..." suara serak nan lemah terdengar dari pintu, membuat Aurel terkesiap dan menoleh pada asal suara. Dia lantas mematikan sambungan telfon secara sepihak.

"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Aurel lantas berjongkok dan mensejajarkan diri dengan tinggi bocah tampan itu.

Ethan mengucek matanya seraya bertanya "Apa nany mau pergi?"

"Iya, sayang. Nany kerja dulu. Gak lama kok, nanti siang juga pulang" ucap Aurel merapikan rambut Ethan dan menghapus jejak air liur yang mengering hingga pipinya.

"Boleh Ethan ikut?" pintanya penuh harap.

"Mmm.. tapi nanti Ethan gak ada yang nemenin disana, mana panas lagi" Aurel menatap arloji nya, menimbang apakah waktunya cukup jika Ethan bersikeras ikut. Karena dia harus memandikan terlebih dahulu dan menemaninya sarapan.

"Ethan bisa ke kantor dady kalau lelah" jawab suara baritone dari arah dalam.

"Hey boy, kenapa gak bangunin dady lagi heh?" Nathan langsung menggendong Ethan dan mengecupi pipi chuby nya.

"Dady... dady bau belum mandi.. jangan cium cium Ethan iiih..." Ethan menolak sapaan selamat pagi yang biasa ayahnya berikan dengan mendorong pipinya.

"Lihat siapa yang berbicara. Dady bau heh.. bilang dady bau.." Nathan membawanya kedalam dan menggelitiki perut Ethan. Aurel tersenyum melihat interaksi keduanya, membuat perasaannya hangat.

Namun seketika bayangan dirinya yang tengah bercengkerama bersama sang ayah saat masih kecil melintas.

Dahulu dia pun begitu dicintai.

Anak satu satunya dari pasangan Baron Mc Kenzie dan Astrid Emmerson.

Tak pernah terfikirkan hari itu akan tiba.

Hari dimana sang ayah mengkhianati mereka berdua.

Hingga sang ibu harus mendapatkan serangan jantung yang langsung merenggut nyawanya.

Setitik cairan lolos kala bayangan itu menghampiri.

"Baiklah, kalau begitu ayo mandi dulu" ajak Aurel setelah menghapus jejak air mata.

"Ayooo... mandiin Ethan sama dady juga ya.." pekik Ethan sambil berlari kearah lantai 2.

"Ekhem.. biar saya yang memandikan" tukas Nathan menahan senyum seraya berlalu meninggalkan Aurel yang tengah mematung karena ucapan ambigu bocah tampan itu.

"Iiiiiii..... kenapa jadi gini..." pekik Aurel frustasi mengacak rambutnya sendiri.

👍🏻💃👍🏻💃👍🏻💃

Terpopuler

Comments

mar

mar

vote mendaraaaat😆
lanjooooot👌

2023-06-29

2

mar

mar

mandiin gih, lumayan sekali dayung 2 burung tertangkap🐦🤭

2023-06-29

1

La Rue

La Rue

seru 😄👍

2023-06-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!