Aminah sang kepala asisten merasa lega, akhirnya tak perlu menunggu 1 hari dia mendapat pengganti pengasuh yang sore ini mengundurkan diri.
Namun kelegaan itu tak berlangsung lama.
"Siapa yang menentukan seseorang diterima bekerja disini?" suara baritone seseorang mengejutkan para asisten.
Seketika kepala mereka menunduk tanpa menoleh pada asal suara karena hafal siapa pemilik suara berat itu.
"Kamu orang baru?" tanya Nathan, sang majikan, diikuti bocah kecil yang mengekor bersembunyi di belakang tubuhnya dan tampak sedikit ketakutan sekaligus penasaran.
Aurel menoleh pada asal suara lantas mengangguk tanpa ada ekspresi apapun, membenarkan ucapan Nathan.
Dia bahkan sempat melambaikan tangan lalu tersenyum manis pada Ethan si bocah tampan berusia 3 tahun itu yang langsung menarik kepalanya bersembunyi dibalik kaki jenjang Nathan agar tak terlihat Aurel.
"Ekhem.. kamu gak diterima disini" lanjut Nathan setelah menetralkan tenggorokannya kala melihat penampakkan Aurel.
Dia mengenalnya. Maksudnya dia pernah bertemu dengannya sekali, namun langsung mengenalinya meski penampilannya berbeda saat pertama melihatnya.
Nathan menilai penampilannya kini terlihat lebih manusiawi. Feminim tentu saja. Karena Aurel mengenakan celana slim fit berwarna mocca dengan blouse berlengan pendek berwarna gading.
Jangan lupa dengan rambutnya yang diikat ekor kuda dan ujung rambutnya dibuat curly, membiarkan beberapa helai lolos dari ikat rambutnya, membuat leher putih jenjangnya terlihat seksi.
"Baiklah, tak masalah.." jawab Aurel tenang.
"Tapi, tuan.." sang kepala asisten memotong ucapan Aurel. Entah kenapa ada rasa menyayangkan jika wanita muda ini tidak direkrut sang majikan.
"Tak ada yang boleh membantahku" tegas Nathan menjeda sanggahan Aminah lantas berbalik masuk ke dalam dengan menggendong Ethan yang terus menatap Aurel.
Aurel lantas melambaikan tangannya lagi seraya tersenyum dan mengucap kata "Bye..".
Tanpa diduga, tangan mungil itu membalas lambaian tangan Aurel saat langkah lebar kaki Nathan menapaki anak tangga satu per satu.
"Maafkan saya" ucap kepala asisten penuh penyesalan. Bukan karena apa, melainkan jika tak segera merekrut pegawai baru maka dia yang akan kerepotan mengambil alih pekerjaan mengasuh bocah nakal itu. Karena baby sitter di sebelahnya ini mengundurkan diri.
Terhitung sudah puluhan orang yang melamar sebagai pengasuh Ethan selalu mengundurkan diri sebelum 7 hari karena tidak tahan dengan kenakalan bocah itu.
Baru kali ini dia melihat Ethan mendengarkan ucapan orang dewasa meski terkesan menakut nakuti.
"Gak apa apa, bu. Saya masih punya pekerjaan kok" ucap Aurel ramah menenangkan.
"Bisakah saya menyimpan nomormu? hanya berjaga jaga" pinta Aminah si kepala asisten.
Aurel pun memberikan nomornya. Dia sangat yakin jika dia akan dibutuhkan esok lusa.
"Dady.." suara lirih Ethan menginterupsi fokus Nathan pada laptopnya. Mereka tengah berada di kamar sang anak saat ini karena Nathan bersiap me nina bobo kan sang anak.
"Ya, jagoan. Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Nathan lantas kembali menatap laptopnya.
"Apa dady sudah di sunat?"
"......."
Keesokan hari
"Den Ethan cari siapa? sini makan dulu" tanya ibu Aminah yang heran dengan sikap Ethan.
Biasanya saat matanya sudah terbuka, rumah selalu ramai karena ulahnya. Namun tidak dengan pagi ini yang lebih tenang dari biasanya meski Ethan ada di rumah itu.
"Nany Ethan kok gak bangunin Ethan?" tanya bocah itu yang terus celingukan mencari keberadaan seseorang.
"Nany Ethan kan kemaren udah keluar. Sekarang sama bu Minah dulu ya" bujuk Aminah seraya menyimpan segelas susu dan hendak menyuapi nya sarapan.
"Bukan yang itu. Ethan gak suka Nany yang itu" kesal Ethan merajuk. Dia lantas naik ke kursi yang disediakan.
Aminah mengernyitkan dahi. Merasa bingung dengan maksud bocah tampan itu.
"Yang bilang mau sunat Ethan" lanjutnya lirih seraya menunduk.
Aminah mengulum senyum.
"Oooh.. yang itu. Kan tuan Nathan gak terima dia kerja disini" pancing Aminah mengompori. Dia yakin jika Ethan akan membantunya memanggil gadis itu.
"Dadyyy....." pekik Ethan seraya turun dari kursi dan berlari ke kamar sang ayah.
Aminah seketika merasa mendapat jalan keluar.
"Dady.. dady.. dady... dady harus panggil Nany Ethan lagi" Ethan mengguncang tubuh Nathan yang masih bergelung dengan selimut.
"Engh.. Ethan.. ini masih terlalu pagi" ucap serak Nathan mencoba membuka matanya. Semalam dia tak bisa tidur karena bingung menjawab pertanyaan Ethan yang sulit untuk dimengerti anak seusianya.
Salah salah, si anak malah ketakutan dan tak akan mau di sunat jika sudah saatnya nanti.
"No dady, ini sudah jam 7 dan dady terlambat bekerja" Ethan mengingatkan, meski belum tahu cara membaca jam, membuat Nathan seketika bangkit terkejut.
"Kenapa gak bangunin dady dari tadi" gumam Nathan seraya menghambur masuk ke dalam kamar mandi dan diikuti sang anak yang terkikik.
Kebiasaan mereka adalah mandi bersama kala pagi hari. Terkadang jika Nathan pulang lebih awal, maka mereka akan mandi bersama pada sore hari. Nathan mencoba menebus waktunya yang hilang bersama anak selama dia bekerja.
Sang istri yang memilih pergi bersama pria asing membuat Nathan tak mau membuka hatinya kembali.
Beruntung Ethan tidak pernah merengek untuk memberikannya seorang ibu pengganti atau bahkan menanyakan siapa ibunya dan dimana dia sekarang.
"Dady.. bagaimana dengan nany-ku?" tanya Ethan disela kunyahannya.
Aminah terpaksa memanaskan kembali makanan untuk majikan kecilnya.
"Hmm.. nanti dady cari lagi" jawab singkat Nathan seraya kembali melihat benda berkilau yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Tapi Ethan mau nany yang kemarin" rengek Ethan membuat Nathan mengernyit.
Pasalnya Ethan tak pernah merengek seperti ini sebelumnya.
"Kalau begitu panggilah kembali" jawab singkat Nathan lantas meneguk jus nya dan mengecup pucuk kepala Ethan lalu bergegas pergi karena dia sudah sangat terlambat.
"Tapi gimana manggilnya. Kan dady kemarin gak terima dia" gumam Ethan sendu kala Nathan sudah berlalu.
Aminah yang mendengar pun tersenyum dan mendekat "Bu Minah punya kok nomor telfonnya" ucapnya seraya mengacungkan ponsel pintarnya dengan senyum mengembang.
Ekspresi Ethan berubah cerah. Dia lantas melahap sarapannya hingga tandas.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi, namun panasnya sinar matahari sudah terasa menusuk kulit.
Para pekerja lapangan membungkus tubuhnya rapat agar tak terkena paparan sinar ultra violet yang membakar kulit.
Tring tring
Suara notifikasi pesan pada ponsel Aurel tak ia gubris karena tengah berada di ketinggian.
Aurel lupa untuk menyimpannya sebelum naik untuk melanjutkan pekerjaannya.
Suara notifikasi pesan lantas berlanjut menjadi panggilan masuk.
"Damn it. Lagi nanggung juga" kesal Aurel bergumam.
Ia lantas merogoh saku celana cargo nya dan melihat nomor tak dikenal yang menghubungi.
"Halo.. siapa ini?" sapa Aurel sambil terengah. Sebelah tangannya yang lain mencoba untuk membuka pengait safety helmet nya agar bisa menyelipkan ponsel dengan leluasa pada telinganya.
"Siapa? bu Aminah?" Aurel mengernyitkan dahi mencoba mengingat nama itu.
"Aaaa.... iya bu Aminah. Ada apa ya bu?" tanya Aurel kala teringat dengan kejadian kemarin sore di rumah Nathan dan mengingat sosok wanita paruh baya yang meminta nomornya.
"Apa itu benar? tapi.. bukankah saya tidak... Ethan yang minta?... baiklah... saya akan datang lagi nanti sore... tidak bisa sekarang bu, maaf, saya masih kerja... saya usahakan jam 2 selesai.... di PT. ELANG CORP, bu... tidak perlu dijemput bu, biar saya naik motor ke sana.. iya... sampaikan salamku pada Ethan ya bu, terimakasih" Aurel menutup percakapan itu dengan perasaan penuh kemenangan. Senyumnya mengembang seraya mengangkat tinggi kedua tangannya yang mengepal.
"Yess... selangkah lebih maju.. woohooo..." pekiknya menari nari sambil bergelantungan.
"Reeeel.... jangan banyak tingkah nanti jatoh kamu" teriak Tomo dari sisi barat kala menyadari tingkah tak biasa rekannya itu.
"Bang Tomo, Aurel hari ini beresin 6 lantai ya, biar besok beres" balas Aurel tak menghiraukan peringatan Tomo.
"Ngaco kamu. Diluar schedule lah" timpal Tomo berteriak.
"Bodo amat. Yang penting kerjaan aku kelar" Aurel bergegas kembali mengerjakan pekerjaannya dengan lincah dan cekatan. Semangatnya membara karena rencananya berjalan lancar.
sreeet
brukk
Aurel mendarat mantap dengan kedua kakinya kala pekerjaannya selesai tepat jam makan siang tiba.
Peluh yang bercucuran hanya ia seka pada bagian keningnya saja.
"Rel, ada yang nyariin tuh" tunjuk Tomo dengan dagunya kearah belakang.
Sedikitnya Aurel terkejut kala mendapati 2 orang beda generasi itu tengah menunggunya di siang nan terik ini.
PASTI UDAH KETEBAK KAAN SIAPA YANG DATENG
LANJUT JANGAAAN😆
JEMPOL NYA JANGAN PELIT PELIT DOOONG👍🏻👍🏻👍🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Chauli Maulidiah
ayoo.. ndang lanjuut..
2023-06-28
1
mar
ayoo dadyy jawaaab...
udaj sunat beloooom😂
2023-06-28
1