"Ah, iya. Kami.. kami berencana menetap selama 2 minggu. Tapi.." kepalanya kembali menoleh kearah ist... mm.. pengasuh anakku.
Hhh... bolehkah aku menyebutnya istriku saja? ini adalah pikiranku, toh dia tak mendengarnya.
"Apa ada masalah?" tanyaku memancing, namun sudah menebak pikirannya.
"Ah, tidak tidak. Tidak ada masalah. Hanya saja... situasi disini lebih menarik dari saat aku memutuskan menetap di UK" lanjutnya kembali menoleh padaku, namun kembali menoleh kearah istriku.
"Papa.. Alex juga mau main" rengek Alex anaknya yang tampak beberapa kali menolak suapan dari ibunya.
Berbeda sekali dengan anakku yang sudah mandiri. Dan itu berkat istriku.
Lucu rasanya memanggilnya 'istriku' seandainya-
"Ya sudah, kamu main saja. Nanti papa nyusul" tukas Chandra semringah seolah mendapat kesempatan untuk lebih dekat melihat istriku.
Enak saja, dia milikku. Hanya milikku.
Ya, benar begitu.
Dia bekerja padaku, jadi dia milikku.
Aku bergegas menyelesaikan makananku.
Berbeda dengannya yang membiarkan makanannya bersisa di piring karena tak sabar ingin segera mendekati istriku.
Aku harus menghabiskan makananku atau Ethan akan marah padaku karena memberikan contoh yang tak baik.
uhuk uhuk
Nasi yang tak berkuah itu menyangkut di tenggorokkan karena aku terlalu terburu buru.
Salahkan Chandra yang sudah melangkah pergi menyusul anak dan istrinya, tepatnya menyusul istriku.
"Persetan dengan kali ini. Maafkan dady, nak" gumamku seraya bergegas pergi meninggalkan sisa makanan yang masih tersisa setengah porsi dan merasa mubazir karena terbuang.
"Terus nany.. terus... hahaha...." Ethan tampak bertepuk tangan dengan riang menatap pada satu arah, pun dengan ketiga orang yang lebih dulu sampai itu.
"My Goodness, she's beautiful..." gumamku kala melihat aksi istriku.. ekhem.. melompat lompat dengan tinggi lantas melakukan salto kedepan lalu ke belakang, diiringi seorang instruktur trampolin.
Yap, mereka masuk ke arena trampolin nan luas, dan istriku sangat pandai melakukan atraksi tersebut.
"She's georgeous" gumam suara pria di sampingku dengan tatapan takjub.
"Mama, kenapa dia manggil ibunya 'Nany'?" tanya Alex, putra Chandra dengan penasaran.
"Karena dia memang nany-nya" jawab Chandra membuat ku terkejut.
Dari mana dia tahu kalau Aurel pengasuh anakku? Dia bahkan tak memakai seragam 'Nany'.
Pantas saja Chandra tampak tak memperdulikanku karena dia tahu jika Aurel bukanlah istriku.
Dia juga bahkan tak memperdulikan keberadaan istrinya.
Gawat.. apa dia seorang player?
Apa yang harus ku katakan agar dia tak melancarkan aksinya?
"Ya, dia nany-nya, dan akan segera menjadi momy nya" akhirnya kalimat itu yang kugunakan sebagai tameng dari status Aurel.
Tak kuhiraukan mereka yang menoleh padaku dengan penuh pertanyaan. Aku langsung masuk ke arena untuk bergabung dengan mereka.
Aku membayar tiket dan mendapatkan nomor locker untuk menyimpan barang barang pribadiku. Aku menanggalkan jas dan arloji serta ponselku untuk dimasukkan kedalam locker, menggulung kedua lengan kemejaku hingga siku, lantas memakai kaos kaki pemberian wahana trampolin.
"Ethan, apa kamu mau melompat ?" sapaku bertanya pada Ethan yangvtengah takjub melihat atraksi nany-nya.
"Ethan mau nunggu many aja. Dady kan gak bisa main" tokas polos anakku tanpa menoleh padaku.
Seketika aku membuka mulut tapi tak tahu harus berkata apa.
Itu kenyataan.
Hari hariku diisi dengan belajar dan bekerja, mungkin ke gym di sisa waktu untuk menjaga stamina.
"Makanya temani dady, biar dady bisa ngajak Ethan lagi" pintaku membujuk Ethan. Tentu saja hal itu membuatnya senang karena sangat jarang jalan jalan dan bermain diluar rumah bersamaku.
Aku menggenggam kedua tangan anakku dan membimbingnya untuk melompat kecil. Sedangkan aku tak berani melompat karena pasti membuat tubuh mungilnya terpental melambung.
"Hei, kamu bisa melakukannya Ethan" sapa Aurel tiba tiba dengan nafas terengah.
Gosh.. keringatnya... ingin rasanya kuseka keringat itu yang menjalar turun ke leher jenjangnya, melintasi tulang selangka dan masuk kedalam kaos indies nya.
Dan aku tahu kemana larinya cairan itu meluncur.
Hhh... seandainya aku bisa bertransformasi menjadi keringatnya, aku akan menyusuri seluruh tubuh yang ramping itu.
"Dady ayo lompat.." seru Ethan membuyarkan khayalanku menjadi keringat.
Kami membentuk lingkaran dan mulai melompat kecil agar tubuh Ethan tak terhempas.
Kurasa tanganku sedikit bergetar karena kami saling berpegangan atas permintaan cerdas anakku.
Dan jantungku ikut melompat lompat saat beberapa kali beradu pandang dengannya.
Senyumnya, yang membentuk lubang dalam di sebelah pipinya membuatnya semakin terlihat cantik dan menarik.
Sudah sangat lama aku tak terpesona oleh kecantikan seseorang.
Tanpa sadar mataku terus terpaku padanya.
Hingga salah seorang instruktur mengambil alih Ethan untuk bergabung bersama anak anak lain.
Genggaman tanganku melepas tangan mungil Ethan seiring tatapanku beralih pada bocah tampanku dan mengangguk tanda setuju.
Kapan lagi aku bisa berduaan dengannya.
Mungkin inilah yang Ethan rasakan semenjak mengenal Aurel.
Hati ku selalu tak karuan jika berdekatan dengannya.
Oh, tidak. Jangan sampai bocah polosku mengenal rasa ini sebelum waktunya.
Bisa jadi saingan berat untukku.
Lalu aku kembali menatapnya dan tubuh kami masih memantul perlahan.
"Apa anda mau sedikit lebih ekstrim?" tanyanya tanpa menyurutkan senyum manisnya.
Gosh, ingin rasanya aku mengulum senyumnya di mulutku.
Aku mengerutkan kening karena tak mengerti maksudnya.
"Saya pernah bekerja disini, jadi saya bisa membimbing anda jika anda bersedia" lanjutnya membuat senyumku mengembang.
"Baiklah. Jangan terlalu kasar mengajariku, okay. Aku masih amatir" kelakarku membuatnya tergelak.
"Jangan khawatir. Aku tak akan bermain kasar" timpalnya berbisik dengan mengerlingkan sebelah mata, namun terdengar ambigu, dan seketika membuat wajahku memanas.
Ya Lord, apa yang sedang kami bicarakan?
Dia memberi contoh teknik melompat vertikal dan teknik melompat ke depan.
Sumpah, berbeda saat kita berada di tanah.
Disini sulit untuk dikendalikan jika kita belum terbiasa.
Aku mencoba beberapa kali dan mulai terbiasa untuk mengendalikan lompatan vertikal, namun saat mencoba melompat kedepan dengan mencondongkan sedikit tubuh.
brukk
Tubuhku tak bisa dikendalikan dan tiba tiba menubruknya.
Kami terjatuh dengan tubuhku yang menimpa tubuhnya.
Aku terkejut. Ternyata kepalaku menyundul hidungnya hingga mengeluarkan darah.
"Rel.. Aurel.. apa kamu baik baik saja? maafkan aku, sayang.. maafkan aku" ujarku panik hingga tak menyadari perkataanku menyebutnya dengan panggilan 'sayang'.
Percayalah itu hanya reflek. Keluar dari mulutku begitu saja.
Tanganku menyentuh wajahnya dan mendongakkannya agar darah tak deras keluar.
Seorang instruktur yang melihat insiden kami segera mendekat dengan membawa sekotak tissue untuk menyumbat hidungnya.
"Bisakah anda menyingkir dari tubuhku?" pintanya dengan suara yang aneh karena hidungnya disumbat.
Aku terkejut dan segera menyingkir karena sedari tadi aku mengangkangi tubuhnya yang berbaring.
Seandainya aku bisa mengangkanginya di ranjang, aku tak akan pernah melepaskannya.
Ya Tuhan.. ada apa denganku seharian ini?
Menyingkirlah otak kotor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Mastini M. Pd
berbalut modus nih babang Nathan /Drool/
2023-12-06
1
mar
gegara kepancing di km mandi jd nagih😅
2023-07-01
0
Chauli Maulidiah
wkkwkwkw dasar duda kurang belaian.. 😂😂
2023-07-01
0