Bab 2

"Seriusan ni kerjaan?" tanya Aurel kala mendapat selebaran dari Tomo. Aurel tak menyangka akan secepat ini mendapat kesempatan untuk lebih dekat dengan pemilik perusahaan rival.

"Iya serius ijaaah.. tapi.. kalo kamu yang jadi baby sitternya, kira kira kalo anaknya badung bakalan di geret di papan panjat gak ya?" Tomo meraih dagunya sendiri seolah tengah berfikir.

"Bapaknya yang saya geret, bang. Suruh siapa nurunin kebadungan sama anak" tukas Aurel menyolot lantas membawa selebaran itu dan melipatnya lalu ia masukkan kedalam tas.

"E eh.. mau kemana? main nyelonong aja" sergah Tomo karena Aurel sudah lebih dulu pergi kearah parkiran motor. Niatnya segera pulang ke kontrakan agar bisa segera bersiap untuk melamar ke lokasi yang tertera pada selebaran.

Aurel tak mau menyiakan waktu sedikitpun. Lebih cepat, lebih baik pikirnya.

"Ya ngelamar kerja lah bang" balas Aurel dengan santai lantas melambaikan tangan tanpa menoleh.

"Bego ya gue. Udah tau tuh cewek tomboynya minta ampun malah disodorin kerjaan feminis. Bisa berabe nih" gumam Tomo yang menyadari kekeliruannya.

Tomo hanya tak tega saja melihat satu satunya rekan kerja kasar sepertinya, berjenis kelamin perempuan.

Ibarat perawan di sarang penyamun, berlian ditengah kerikil.

Aurel dinilai luar biasa, tak memandang level pekerjaan, selama itu halal, dia lakukan demi menyambung hidup. Padahal kebanyakan wanita seusianya tengah sibuk mencari perhatian lawan jenis dengan perawatan diri yang biayanya tak sedikit. Cukup membuat uang bulanan berteriak. Sedangkan Aurel tampil sangat polos nan sederhana tanpa polesan make up, namun kecantikan alaminya terpancar mengalahkan tebalnya bedak berharga ratusan ribu bahkan mungkin jutaan jika mengandung emas.

Sayang, Tomo sudah beristri dan memiliki 2 orang anak, jika belum, mungkin dia akan mempertimbangkan untuk meminangnya.

Aurel menghentikan motor trailnya di depan kontrakan setelah membeli 1 bungkus nasi rames di warung bu Cicih di depan gang.

Waktu menunjukkan pukul 15.45, masih cukup waktunya untuk mandi dan makan sebelum pergi ke alamat tujuan.

"Seperti yang ku duga, dia butuh pengasuh" gumam Aurel menatap selebaran itu. Sesuai informasi yang didapatnya dari sang pengacara, dimana firma hukum nya juga menangani masalah dalam perusahaan Nathan. Entah itu penanda tanganan kontrak yang di sah kan secara hukum, atau transaksi jual-beli dan segala sesuatu yang menyangkut dengan perjanjian.

"Sialan, pedes amat ni sambel" celetuknya memeletkan lidah lantas segera meneguk air dalam gelas hingga tandas kala menyuap nasi yang dicocol sambal terasi.

Wajahnya bahkan berubah merah karena rasa pedas di mulutnya.

ting tong

Aurel memencet bel yang terdapat di luar gerbang. Dia tak mau menyiakan waktu sedikitpun dan bergegas pergi ke alamat yang tertera pada selebaran yang ia dapat dari Tomo setelah membersihkan diri.

Pekerjaan membersihkan kaca nya selesai dalam kurun waktu 3 hari lagi, setidaknya dia bisa memiliki waktu untuk berkemas sebelum pindah ke rumah mewah ini.

Yap, para pengasuh diwajibkan untuk menginap selama bekerja demi efisiensi waktu.

Dia sengaja datang menggunakan jasa ojek online. karena tak mungkin dia memakai motor perkasa untuk melamar sebagai pengasuh anak. Bisa bisa tidak dipercaya untuk mengurus anak jika tampil tomboy pikirnya.

"Siapa?" tanya suara dari interkom.

"Saya Aurel. Mau melamar pekerjaan sebagai baby sitter, nyonya" jawab Aurel sedikit membungkukkan tubuh agar bisa berbicara pada intercom itu.

klek

Kunci gerbang terbuka. Tampaknya dikontrol melalui remote dari dalam.

Aurel tertegun dan bingung kala hendak melangkah masuk.

Pasalnya dia ke tempat ini menggunakan ojek online, sedangkan jarak gerbang ke pintu utama cukup jauh.

Dia lupa jika rumah mewah yang biasa disebut mansion pastilah memiliki halaman luas dan jalan masuk yang cukup jauh dari gerbang, seperti rumahnya dahulu kala masih bersama keluarga tercintanya.

"Buset, tau gitu tadi bawa si komo aja" gumam Aurel yang memperkirakan jaraknya sekitar 300 meter dari gerbang ke rumah utama harus dia tempuh menggunakan sepatu pantofel. Komo adalah motor trail kesayangannya. Dinamakan seperti itu karena pernah menyebabkan macet parah saat mogok di tengah jalan.

tin tin

Aurel berjenggit kaget karena suara klakson mobil yang baru datang dan melintas melewatinya.

Dan itu adalah mobil pemilik rumah yang tadi Aurel lihat di perusahaan tempatnya bekerja.

"Tampaknya putra anda mengusir nany-nya lagi" ucap sang sopir kala melewati Aurel yang tengah berjalan masuk menyusuri jalanan yang rimbun oleh dahan pohon yang menjulur menutupi terik matahari, menuju kediaman utama.

"Hmm.. sulit menemukan orang yang kompeten" jawab enteng Nathan tanpa mengalihkan fokusnya pada laptop.

"Tahan Rel, tahaaaan..." gumam Aurel menyemangati diri kala diperlakukan semena mena oleh kuda besi itu.

Biasanya dia akan langsung bereaksi kala diserempet seperti itu. Entah me maki-maki dengan lantang, atau bahkan bisa sampai mengejarnya.

"Sebelah sini, nona" seru seorang berseragam di samping kiri bangunan utama.

Aurel melangkahkan kakinya mendekati wanita berseragam khas asisten rumah tangga.

"Ethan, hentikan.. berikan pisaunya nak, itu sangat berbahaya" pekik seorang wanita berusia 30an mengenakan seragam berwarna biru muda dengan khawatir. Berbeda dengan seragam asisten rumah tangga yang didominasi warna hitam yang memanggilnya masuk.

Aurel yang menyaksikan kejadian itu saat hendak melakukan interview lantas mendekati sang anak yang ia tebak adalah anak pemilik rumah. Terlihat dari pakaian dan sepatunya yang branded dan Aurel sangat hafal dengan barang bermerek.

"Apa kamu tahu kalau benda yang kamu genggam itu memiliki nyawa?" ucap Aurel lembut dengan tubuh membungkuk dan ekspresi penuh keyakinan, membuat Ethan si bocah mengalihkan perhatiannya.

"Nyawa? maksudmu hidup?" tanya Ethan bingung. Entah kenapa bocah itu tampak tertarik dengan apa yang Aurel sampaikan.

"He em, hidup. Dan kamu tahu gak kalo dia bisa tahu siapa yang pegang dia" lanjut Aurel dengan intonasi penuh misteri seraya menunjuk benda tajam yang digenggam Ethan, bocah laki laki yang berusia 3 tahun itu.

Ethan melirik pada benda tajam yang ia genggam.

"Kalau Mbak mbak ini yang pegang, dia bisa potong daging dan sayuran dengan cepat. Tapi kalo anak yang belum di sunat..." kalimatnya digantung dengan sengaja, mempertahankan kemisteriusannya dan membuat Ethan penasaran menunggu kelanjutannya.

"Dia bakalan SUNAT anak yang belum disunat" lanjut Aurel setengah berbisik dan menekan kata 'sunat' sambil membuat gerakan menggunting dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

klang

Ethan melempar pisau itu ke lantai dengan ekspresi ketakutan. Matanya membola, pupilnya membesar seolah melihat sesuatu yang mengerikan.

"Dadyyyy... Ethan gak mau disunaaat.." pekiknya berlari kearah dalam.

"Fiuhh.. kamu diterima" ucap kepala asisten tiba tiba seeaya menghela nafasnya dalam.

Tak ada yang bisa membujuk anak itu selain ayahnya sendiri.

Kepala asisten yang bernama Aminah selalu kebingungan. Pasalnya, dia telah memerintahkan semua asisten rumah tangga untuk menyembunyikan semua benda tajam, namun selalu berhasil ditemukan bocah ajaib itu.

Baru kali ini seseorang yang bukan ayah sang anak mampu membujuknya.

JEMPOLNYA GOYANGIN MAK😆

Terpopuler

Comments

R yuyun Saribanon

R yuyun Saribanon

keren

2024-02-19

1

Mom Dee🥰🥰

Mom Dee🥰🥰

hayolloh aurel, anaknya jd takut sunat 😂😂

2023-06-29

1

mar

mar

masi nyimak mak

2023-06-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!