POV AUTHOR
Malam malam berikutnya Nathan tak mau melewatkan kebersamaannya dengan sang pengasuh. Ternyata semenarik ini menggoda anak gadis, pikirnya. Tak pernah terlintas dalam benaknya sebelum ini. Terutama karena Nathan merasa kepribadian gadis ini berbeda dengan wanita lain. Termasuk dengan mantan istrinya yang cenderung bersikap manis dan berpenampilan feminim.
"Tuan, apa anda tahu kalau makan mi instant tiap hari bisa memicu kanker?" tanya Aurel sedikit kesal karena lagi lagi mi instannya direbut sang majikan.
uhuk uhuk
Nathan tersedak kuah mi karena penuturan tak disangka Aurel.
"Terus kenapa kamu bikin tiap hari?" ketus Nathan tak menyangka akan diingatkan mengenai bahaya mengkonsumsi makanan instant yang bikin ketagihan ini.
"Ya kenapa tuan selalu merebut makananku, saya bahkan baru mencicipinya sesendok, dan tuan memakan sisanya" jawab Aurel bersungut. Dia menatap nanar pada mi yang terkena cipratan air liur Nathan karena tersedak.
"Habis deh persediaan mi aku" gumamnya menyayangkan.
Suatu malam
"Kamu gak bikin mi lagi?" tanya Nathan membawa laptopnya ke ruang tengah.
Aurel menjawab dengan menggeleng seraya berkata "Bosen".
Nathan mengernyitkan dahi. 'Tumben' pikirnya.
"Terus, kamu makan apa dong?" lanjutnya bertanya, pasalnya dia tak bisa makan dari sendok yang Aurel pakai.
Pertanyaan itu membuat mata Aurel melirik padanya dengan tajam.
"Makan keripik. Apa tuan mau yang bekas saya jilat?" ujar Aurel tampak sedikit kesal lantas mengulum kepingan keripik dan mengeluarkannya lagi seraya menyodorkan pada Nathan dengan wajah kesal.
Nathan terkekeh dengan sikap lucu pengasuhnya.
"Makan di luar yuk" ajak Nathan lantas menarik tangan Aurel tanpa aba aba, membuat Aurel terkejut lantas terpaksa bangkit dan hampir jatuh tersungkur menumpahkan se toples keripik. singkong simpanannya.
"Tapi tuan..." Aurel tak bisa menyanggah ataupun menolak karena sang majikan tidak sedang bertanya, namun memerintah.
"Kamu suka sea food?" tanya Nathan sambil menatap kearah depan seolah tengah mencari tempat untuk parkir.
"Suka" jawab Aurel singkat seraya mengangguk.
"Saya juga suka" timpal Nathan mengulum senyum. Namun terdengar ambigu.
Aurel menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Gak usah yang mahal mahal, tuan. Mending di bungkus aja. Tuh beli nya di depan biar dapet banyak" usul Aurel menunjuk pedagang sea food beratapkan tenda biru.
Eeee.... maksudnya tenda berwarna biru.
Aurel sangat hafal berapa harga 1 menu seafood di restoran, karena dia pernah bekerja di restoran sea food beberapa waktu yang lalu. Dan harganya setara dengan 5 porsi jika beli di warung tenda seperti ini.
Tanpa banyak berargumen, Nathan menepikan kendaraannya tepat di depan warung tenda itu.
"Tuan suka apa?" tanya Aurel bersiap membuka seat belt. Dia yakin jika majikannya ini tak pernah ke tempat rakyat jelata seperti ini.
"Kamu" jawab singkat Nathan lagi lagi membuat Aurel menghela nafasnya kasar.
"Hhh... kalo saya mau pesan kepiting asam manis" tukas Aurel memberi tahukan keinginannya.
Nathan mengangguk seraya menatap Aurel dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Bibirnya terkatup rapat.
Sebenarnya dia berharap Aurel peka dengan pernyataannya barusan.
"Lalu tuan mau pesan apa?" lanjut Aurel menjelaskan dengan se jelas jelasnya melebihi dari kejelasan yang ada.
Eee... gimana?
"Terserah kamu saja" akhirnya hanya itu yang bisa diutarakan Nathan.
"Tuan, itu milik saya, makanlah milik tuan sendiri" protes Aurel kala baru mencicipi sebelah kaki kepiting lantas diambil alih oleh Nathan tanpa permisi.
"Kamu makan punyaku saja. Sepertinya punyamu lebih enak" tukas Nathan tak menghiraukan protesan dari Aurel yang meringis kala makanannya kembali direbut majikannya.
"Untung saya lebih suka kerang dari pada kepiting" timpal Aurel seraya mendelik dan membawanya ke dapur untuk dia makan sendiri.
"Gadis itu..." Nathan mematung seraya menghela nafas dengan kasar. Trik nya kali ini tak mempan. Aurel memang pandai dalam strategi.
.................................................................................................................
"Ahh... terus... terus... lebih cepat... ahh... yess... ini luar biasa nikmat.. ahhh..." teriak Lily di dalam kamar kala tengah melakukan hubungan intim yang super panas dengan gigolo yang ia sewa.
"Giliranku, sayang.." penjaja kenikmatan dunia itu membalikkan tubuh Lily membelakangi dengan posisi membungkuk lalu mempenetrasinya dari belakang.
"Ahh.. shitt.. kenapa ini nikmat sekali... ahh.. punyamuh.. bessarr.. aahhh..." lanjut Lily kala kembali merasakan sensasi luar biasa dengan posisi ***** *****, padahal dia baru saja mendapatkan puncak kenikmatan.
"Untuk inilah kau membayarku, sayang.. uhh" pria berkulit coklat dengan usia yang lebih muda darinya, juga berperawakan kekar tanpa lemak bergelambir, menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Menghentak nya lebih dalam, membuat Lily menggelengkan kepala karena rasa nikmat yang teramat sangat.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN..!" hardik Baron yang tiba tiba membuka pintu kamar karena mendengar suara mencurigakan dari dalam kamarnya.
Baron sengaja pulang ke rumah karena beberapa hari ini Lily tak pernah datang ataupun hanya sekedar menelponnya ke kantor.
Pasalnya, Lily beralasan jika sedang tak enak badan. Baron pun khawatir, namun sedikit curiga karena saat setiap berangkat kerja di pagi hari, Lily tampak segar bugar. Namun saat tiba waktunya istirahat siang, dia selalu memberi kabar jika tak bisa datang karena tak enak badan.
"Ahh.. lanjutkan... ahh... aku.. aku datang... AAHHHH..." pekik Lily menikmati permainan sang gigolo yang ia sewa ini ditambah dengan ditontonnya aksi mereka, menambah gairahnya semakin memuncak.
"Oh baby.. I'm coming.. aaahhh..." kini giliran si gigolo yang mendapatkan puncaknya.
"KELUAR KALIAN..." Baron murka karena pasangan laknat ini tampaknya tak perduli bahkan tak ada rasa takut sedikitpun kala terciduk olehnya.
Nafasnya memburu, emosinya memuncak, namun tenaganya tak mungkin bisa menandingi pria bertubuh kekar dihadapannya ini.
"Sayang, tenanglah. Kontrol emosimu... ahhh..." dengan santainya Lily mendesah kala inti sang gigolo dicabut setelah pelepasan. Namun batang itu masih berdiri kokoh, tidak seperti suaminya yang sangat mudah layu. Tapi hal itu dikarenakan Lily memberinya pemanis kimia pada makanan atau minuman sang suami sehingga dia mengidap diabetes dan sulit untuk ereksi, sehingga Lily memiliki alasan untuk mencari kepuasan dari lelaki lain.
"Kamu tahu aku sangat ingin melakukannya denganmu. Tapi..." tubuh polos Lily perlahan mendekat pada Baron yang tengah emosi dengan wajah memerah, tangannya meraba bagian inti sang suami dan mengelusnya dengan penuh gairah. Lily bahkan mendesahkan nafasnya di telinga sang suami agar hasratnya terpancing.
Namun nihil.
"Lihat? kamu bahkan tidak bisa bereaksi. Beruntung aku masih mau mendampingimu. Kamu hanya harus menyediakan semua kebutuhanku" tukas Lily dengan wajah memelas, lantas tersenyum miring. Langkahnya ia bawa kembali kearah sang gigolo yang hendak memakai celananya, namun Lily merebut dan melemparnya sembarangan.
Lily menempelkan tubuh polosnya pada sang gigolo dan melingkarkan sebelah kakinya ke belakang tubuh sang gigolo dengan tangan merangkul lehernya.
Gigolo itu menangkap sebelah kaki Lily dan mengerti akan kode yang Lily berikan.
"Aku mau lagi..." bisiknya serak di telinga sang gigolo dengan senyum miringnya.
"My pleasure, honey..." ucapnya dengan senang hati lantas melesakkan kembali inti nya kedalam inti Lily.
"Ahhh.... gosh... you're great..." racaunya menikmati permainan memabukkan dihadapan sang suami yang kini menitikan air mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
saya cantikkj
ngana rasa itu kalo sadap
2024-04-15
0
Mom Dee🥰🥰
nikmati karma wanita pilihanmu pak baron
2023-07-02
1
mar
tolong ada yang bisa jelaskan bintang bintang di langit?😂😂
2023-07-02
1