"Ethan, bu Aminah, sedang apa disini?" tanya Aurel lantas mengambil payung yang berada di pos teknisi lalu membukanya agar kedua orang itu tak terkena sengatan matahari. Padahal mereka berlindung dibawah bayangan pos teknisi.
"Mau jemput katanya" ungkap Aminah menampilkan senyum semringah sambil menelengkan mata kearah Ethan.
Aurel balas tersenyum.
"Ya ampun, kan sudah saya bilang gak usah repot repot jemput" Aurel lantas memberikan sebotol minuman mineral yang ada manis manisnya dan masih tersegel pada Ethan dan langsung diteguknya
"Tante.. kenapa naik naik? enggak takut jatuh?" tanya Ethan yang sedari tadi menatap tali yang menjuntai setelah Aurel lepas dari tubuhnya.
"Enggak, sayang. Kan pake pengaman" jawab Aurel tanpa ragu sambil menunjuk safety harnes.
"Apa Ethan mau coba?" tawar Aurel karena melihat mata Ethan tak bisa lepas dari area memanjat.
Ethan menoleh pada Aurel dengan ekspresi berharap. "Boleh?" tanyanya antusias.
"Tapi non.." sanggah Aminah yang terkejut dengan tawaran Aurel pada bocah cilik itu.
"Tentu saja boleh. Tapi Ethan harus janji gak boleh takut dan harus nurut" tukas Aurel memotong keraguan Aminah.
"Hn" Ethan mengangguk antusias lantas meraih tangan Aurel dan segera menariknya. Tak sabar ingin mencoba wahana ekstrim yang hanya diperbolehkan untuk orang dewasa.
"Ibu tenang saja. Kita gak akan tinggi tinggi kok" Aurel mengedipkan sebelah matanya lantas berlari kecil mengikuti tarikan tangan Ethan yang antusias dengan wahana baru, pikirnya.
Aurel memastikan safety harnes nya terpasang dengan aman di tubuh mungil Ethan. Dia lantas memasangkan satu set lagi pada tubuhnya untuk menjaganya dari belakang, dan memasangkan helm meski kebesaran.
Mereka tertawa geli karena helm yang cukup besar di kepala Ethan yang kecil. Namun Ethan tak protes dengan hal itu.
Tak mungkin Aurel membiarkan bocah dibawah umur itu bergelantungan sendirian tanpa pengawasan.
"Apa yang kalian lakukan pada anakku?" raung Nathan tiba tiba mengejutkan semua orang kecuali Ethan dan Aurel.
"Dady.. dady.. Ethan mau coba permainan ini sama nany Ethan. Nanti gantian sama dady ya" pekik Ethan dengan girang alih alih meminta izin padanya.
"Apa? tapi ini bukan untuk anak kecil" tolak Nathan dengan hati hati. Dia tak mau memarahinya di depan umum.
"Kenapa kamu membiarkannya?" Nathan kembali hendak menyalahkan Aurel.
"Sudahlah tuan. Anak laki laki harus besar nyali, bukan besar kepala. Toh cepat atau lambat dia akan mencari jati dirinya" tukas Aurel diiringi kikikan Ethan yang tak sabar untuk segera berada diatas.
Nathan tak bisa mencegahnya karena melihat ekspresi sang anak.
Aurel lantas meminta Tomo untuk menariknya naik dengan perlahan.
Tak terlalu tinggi memang, namun hal itu membuat Ethan tampak bahagia.
Ekspresi yang belum pernah Nathan lihat dari sang anak.
Hati Nathan menghangat kala melihat kebahagiaan sang anak. Sesuatu yang belum pernah dia berikan selama ini.
"Dady, kenapa nany Ethan gak diajak pake mobil aja?" rengek Ethan tanpa mengalihkan pandangannya dari Aurel yang tengah meliuk liukan motor trail di belakang mobil yang mereka tumpangi.
Ethan bahkan berdiri dengan lututnya menghadap belakang dengan mata yang tak lepas dari pergerakan Aurel.
"Nanti motornya siapa yang bawa?" jawab singkat Nathan yang merasa tersaingi karena Ethan kini lebih antusias pada Aurel dibanding dengannya.
"Kenapa gak bolehin Ethan naik motor bareng nany?" lanjut Ethan tampak khawatir.
"Pak Komar jangan cepet cepet nyetirnya, nanti nany ketinggalan" pekik Ethan pada sang supir kala melihat Aurel terjebak lampu merah.
Nathan hanya bisa menghela nafasnya sedangkan Aminah yang duduk di samping pak Komar tengah mengulum senyum.
"Ayolah, nany..." gumam Ethan cemas. Sang supir bahkan menghentikan mobilnya atas perintah Nathan melalui isyarat.
"Nah... dia datang dia datang... pak Komar cepetaaan... nanti ditinggal nanyyy..." rengek Ethan antusias kala Aurel mulai menjalankan motornya dengan cepat meninggalkan mobil mereka.
Untuk pertama kalinya Ethan menangisi seseorang karena merasa ditinggal, dan itu bukan siapa siapa mereka.
"Ethan.." sergah Nathan menahan tangan mungilnya kala mereka tiba dan Ethan hendak bergegas keluar dari mobil.
"Apa kamu yakin akan menangis didepan wanita?" tanya Nathan pada Ethan yang sesenggukan.
"No, dady" jawab Ethan lantas menghapus jejak air matanya dan tersenyum lebar pada sang dady.
"Good boy" puji Nathan mengacak rambut anak semata wayangnya.
"Setidaknya tuan muda tidak main pisau lagi, tuan" ucap Aminah bersiap turun.
Nathan memijat pelipisnya seraya berkata "Iya tapi main wanita dewasa".
Aminah terkekeh karena ucapan majikannya yang ambigu.
"Dia sangat tahu mana wanita yang menarik" celetuk Aminah membuat Nathan menoleh pada anaknya yang tengah berinteraksi dengan Aurel tanpa mengalihkan pandangannya.
Nathan menyadari jika insting ke lelakian bocah itu mungkin sudah tumbuh sejak dini.
"Ya ampun" gumamnya seraya mengusap kasar wajahnya.
Nathan kembali ke kantor tanpa sepengetahuan Ethan karena Ethan tampak asik bercengkerama bersama Aurel.
Separuh hari itu Ethan habiskan untuk bermain bersama Aurel. Dia bahkan makan dengan tangannya sendiri atas saran dari Aurel.
Ethan benar benar menjadi anak yang penurut.
"Ethan mana bi?" tanya Nathan sore hari sepulang kerja. Biasanya Ethan selalu menelfonnya hampir satu jam sekali, namun hari itu, tak sekalipun Ethan menelfonnya.
"Ke kamar tuan, mau mandi katanya" jawab singkat bu Aminah.
Nathan lantas melangkah ke kamarnya untuk bergabung mandi bersama Ethan.
"Halo jagoan dady" sapa Nathan kala mendapati Ethan tengah duduk melompat lompat di bibir ranjangnya.
"Dadyy.." pekik Ethan girang lantas melompat ke pelukan Nathan.
"Kita mandi?" ajak Nathan.
"Hn" Ethan mengangguk antusias.
Nathan menyadari jika seharian ini sang anak sangatlah ceria.
"Ethan mana, bu?" tanya Aurel sambil membawa pakaian ganti untuk Ethan dari kamarnya sesuai permintaan bocah tampan itu.
"Di kamar tuan. Biasanya dia mandi di sana" jawab bu Aminah.
"Tapi tuan sudah- lah kemana itu orang?" ucapan bu Aminah terpotong kala menyadari Aurel telah berlalu dari hadapannya.
Sepengetahuan Aurel, Nathan kembali ke kantor siang tadi, dan kemungkinan belum kembali, jadi dia dengan leluasa membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk.
Aurel memindai isi kamar dan menemukan pintu kaca buram yang ia tebak adalah kamar mandi.
Tampak dari luar jika uap panas memenuhi ruangan lembab itu.
Aurel memutar kenop pintu yang tak terkunci.
Hawa panas dari air panas yang keluar dari shower menyeruak di seluruh ruangan menciptakan uap yang mengepul menghalangi pandangan.
Suara gemericik air dari shower membuat Aurel melangkah kearah shower.
"Ethan, ini terlalu..... WAAAAAAAA...." teriak Aurel histeris.
JEMPOLNYA DIGOYAAAANG😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
saya cantikkj
😄
2024-04-15
0
R yuyun Saribanon
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-02-19
1
Mastini M. Pd
huahahaha..... Aurel Aurel..../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2023-12-06
0