"Dady mau kemana? ini hari sabtu" tanya Ethan dengan dahi mengernyit terheran, pasalnya setiap week end mereka akan menghabiskan waktu di rumah untuk quality time, namun pagi ini sang dady sudah tampak rapi.
"Dady mau ketemu sama pengacara, mau ketemu sama yang punya rumah" jawab Nathan menaruh tas kerja berisi dokumen penting di kursi makan di sebelah nya lantas mengecup pucuk kepala sang anak yang sudah wangi.
"Hmm.. wangi.. kok gak mandi sama dady?" tanya Nathan lantas menarik kursi untuk dia duduki. Nathan sedikit melirik pada Aurel yang tengah mengambilkan nasi dan lauk untuk Ethan.
Nathan lantas melirik piring dihadapannya yang telungkup lantas mengangkatnya dan menyodorkannya pada Aurel.
"Ambilkan untukku juga" pintanya membuat Aurel seketika menghentikan pergerakannya, tak lama dan tak banyak bicara, Aurel mengambil piring yang disodorkan Nathan. Mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk lantas menyerahkannya kembali pada sang majikan.
"Terimakasih" ucap Nathan seraya mengulum senyum.
'Jadi kayak main rumah rumahan' ucapnya dalam hati.
"Rumah yang mana, dady?" tanya Ethan masih dengan kebingungannya.
"Dady beli rumah baru. Lebih besar. Katanya hari ini dady sudah bisa akad jual-beli, tapi dady pingin ketemu dulu sama pemilik sebelumnya, biar kalo ada apa apa, dady gampang komplain nya. Mmm... apa kalian mau ikut? sekalian jalan jalan" jelasnya sambil menawarkan. Tentu saja karena Nathan ingin jalan bareng Aurel. Pasti mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Pikirnya lagi.
"Mau mau mau... Ethan mau ikut, Ethan juga mau liat rumah baru nya, dady" pekik Ethan dengan girang sambil bertepuk tangan. Dia pikir sang dady akan meninggalkannya.
"Ya sudah, habis sarapan kalian ganti baju, siap siap berangkat" lanjut Nathan memberi perintah seraya mengacak rambut Ethan.
"Hah, saya juga, ganti baju?" tanya Aurel bingung.
"Iya. Habis dari kantor pengacara, saya ingin mengajak Ethan main ke taman hiburan. Dan saya mau kamu pake pakaian yang pantas" ucapnya seraya menggigit kerupuk yang Aurel sediakan.
Biasanya kedua ayah dan anak ini sarapan dengan roti isi dan susu. Namun semenjak Aurel bekerja di rumah ini sebagai pengurus anak, dia tak pernah memberikan sarapan seperti itu. Karena menurut pemahamannya, roti mengandung pengembang, dan susu sapi mengandung kadar asam, dan kedua makanan dan minuman itu tidak baik dikonsumsi saat perut kosong dan akan memicu naiknya asam lambung.
Nathan dan Ethan lahap memakan sarapan yang Aurel buat, yaitu nasi goreng sea food, ples kerupuk blek berwarna putih.
Aurel memindai seragam nya sendiri. Dia bingung, bagian mana yang tidak pantas? seragam ini toh mereka yang berikan, tidak terbuka juga karena atasan lengan pendek dan bawahan berupa celana panjang.
"Saya gak mau orang orang merendahkanmu karena jadi pengasuh anakku" jelas Nathan yang sedikit dimengerti olehnya.
Tapi, apa perduli majikannya ini dengan penilaian orang terhadapnya? sungguh, Aurel bingung dibuatnya.
Aurel siap dengan pakaian casual nya. Dia mengenakan t-shirt putih bergambar film animasi AOT, dan sedikit menggulung lengan pendeknya. Sedangkan bagian bawahnya mengenakan celana slim fit blue jeans yang sedikit dibuat robek dibagian paha dan lututnya lalu memakai sepatu kets berwarna dominan putih.
Lagi lagi Nathan terpana dengan penampilan sederhana Aurel. Apalagi rambut setengah panjang nya ia ikat model ekor kuda.
Author bingung, kenapa harus kuda?
"Ekhem.." Nathan berdehem melancarkan tenggorokannya. Dia lantas berjalan mendekati Aurel yang tengah merapikan pakaian Ethan dan menyisir rambut bocah tampan itu dengan jarinya.
Sreettt...
Nathan menarik lepas ikat rambut Aurel dengan lembut. Namun hal itu membuat sang pengasuh terkejut.
"Tuan.. apa yang.." Aurel terkesiap. Protesannya terpotong oleh penjelasan Nathan "Bagusan digerai" ujar nya lantas berlalu kearah depan rumah karena mobil sudah disiapkan.
Nathan sedikit menelan ludah kala melihat leher jenjang itu. Membuatnya seketika ingin menggigitnya, oleh karena itu dia memutuskan melepas ikat rambutnya.
"Dasar aneh" gumam Aurel mendecak kesal.
Nathan yang tengah menunggu dan bersandar dengan kedua tangan dilipat didepan dada di samping Maybach seharga 6M itu kembali tercengang dengan kedatangan anak dan pengasuhnya itu.
Pasalnya sang pengasuh kembali mengikat tinggi rambutnya dengan asal namun dia membentuknya menjadi cepolan.
Helaian rambut nakal yang tak terbawa tampak melambai lambai menyapu kulit putih Aurel di leher dan pipinya.
"Dasar bebal" umpatnya mendecak kesal. Bagaimana tidak, penampilan Aurel kini mirip artis k-pop di keseharian mereka.
Sapuan tipis bedak dan lipgloss berwarna pink membuatnya tampak seperti remaja yang bisa dikatakan lebih pantas disebut putrinya dibanding pasangannya.
"Gimana mau nge gandeng kalo gitu tampilannya" gerutunya seraya membuka pintu untuk sang anak dengan wajah ditekuk.
Sepanjang perjalanan, Aurel dan Ethan bernyanyi riang dengan Aurel yang mengikuti lagu yang Ethan bawakan.
Nathan begitu bahagia dalam hatinya melihat keceriaan 2 orang yang duduk di kursi sebelahnya, dengan Ethan dipangku oleh Aurel.
Nathan merasa memiliki keluarga kecil yang utuh, dan tak merasa hampa lagi. Dia bahkan kerap lupa jika dia adalah seorang duda yang ditinggal pergi oleh sang istri.
Tiba di kantor pengacara, Nathan mengajak keduanya untuk ikut bersamanya ke dalam ruangan kantor sang pengacara.
"Halo, tuan Nathan. Apa kabar?" sapa Alfred, pengacara yang dipercaya Aurel untuk mengurusi penjualan rumah peninggalan mendiang ibunya.
Yap. Nathan membeli rumah mewah yang diwariskan sang ibu untuk Aurel, namun dia ingin bertemu dengannya. Dengan alasan yang pernah dia utarakan pada Ethan sebelumnya.
Dia ingin bertanya segala hal mengenai seluk beluk rumah itu pada sang pemilik dan meminta Alfred untuk menghadirkannya saat akad.
"Halo, tuan Alfred. Kabar baik" Nathan membalas sapaan Alfred dengan menyambut jabatan tangannya.
"Ah, siapa anak tampan ini. Apa dia putra anda? Hello boy" Alfred membungkuk dan mencubit lembut pipi chubby Ethan dengan gemas seraya tersenyum.
"Ya, dia putraku. Ethan, sapa paman Alfred" ucap Nathan mengajarkan sopan santun pada anak semata wayangnya.
"Halo, om. Saya Ethan. Senang berkenalan dengan om" ucap Ethan menyodorkan tangan dan memperkenalkan diri seraya memberikan senyum lebar. Membuat pipi tembemnya semakin menggemaskan.
Alfred membalas sapaannya dan menyambut tangan mungilnya.
"Pintarnya. Dan dia adalah..." ucapannya menggantung kala tubuhnya ia tegakkan seraya berhadapan dengan Aurel dan mereka saling bersitatap.
"Dia adalah.."
"Saya nany-nya" jawab Aurel dengan mantap bersuara rendah nan dingin.
"Ah.. begitu.. saya kira dia adalah kakaknya" ucap Alfred seraya tersenyum tipis.
"Tidak mungkin. Saya terlalu muda untuk memiliki anak seumurannya" sanggah Nathan membalas kelakar Alfred. Ingin rasanya Nathan mengakuinya sebagai istri, atau.. sugar baby, mungkin?
Nathan mengangkat sebelah tangan kirinya. Menatap Rolex yang melingkar gagah di pergelangan tangannya setelah dipersilahkan duduk oleh Alfred.
"Apa, anda sudah memberitahu nya tentang pertemuan transaksi ini? Saya kira saya lumayan terlambat" ucap Nathan bertanya pada Alfred yang tengah menunduk memeriksa dokumen dan surat kepemilikan yang akan dia rubah setelah melakukan transaksi sambil menyunggingkan senyum.
Senyuman yang sangat Aurel benci karena pengacaranya ini tengah meledeknya.
"Ah, iya. Beliau menyampaikan permintaan maaf tidak bisa menemui anda karena beliau orang yang sangat sibuk" ucap Alfred memohon maaf seraya menyodorkan secarik kertas yang di print dari email dengan dibubuhi tanda tangan diatas materai digital.
Surat itu merupakan surat kuasa dari Aurel agar Alfred menangani segala sesuatunya tanpa ada masalah sedikitpun.
Saat Nathan membacanya, Alfred mengulum senyumnya seraya menatap Aurel yang tengah memelototinya seolah memberi peringatan padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
mar
soalnya otor gapunya ekor, ga lucu juga kalo bilang 'rambut ekor othor' 😂
2023-07-03
2