"Kenapa kau sedih, Hasan?" Umma Yuna bertanya sambil menatap wajah pucat Hasan, tergambar dengan jelas ketakutan di wajah itu, ketakuakan akan kehilangan Alkea.
Koridor rumah sakit yang di ramaikan oleh keluarga Lucca dan Dinata sejak tiga jam terakhir tiba-tiba terasa menegangkan setelah Umma Yuna membuka suara. Semua mata menatapnya, kecuali Ummi Raina.
"Kenapa Umma bertanya seperti itu? Bukankah sudah jelas kenapa Hasan bersedih? Kita juga sedih!" Baba Zain tak tahan untuk tidak angkat bicara, otak cerdasnya menolak dan tak bisa terima dengan ucapan istri cantiknya.
"Tidak sama, Ba. Ini tidak sama." Sentak Umma Yuna dengan mata menyala.
"Putri ku menolak untuk datang, tapi dia memaksanya. Dia!" Umma Yuna yang awalnya biasa saja tak tahan untuk tidak memarahi Hasan. Ummi Raina yang duduk di samping Abbi Shawn hanya bisa merunduk, ia tahu dengan jelas alasan kemarahan adik iparnya itu.
"Alkea sudah bilang tidak, tapi dia terus saja mendesaknya. Seandainya putriku tidak meninggalkan rumah, peristiwa buruk ini tidak akan terjadi." Sentak Umma Yuna lagi, beruntung tidak ada perawat di sana, jika ada yang berjaga, sudah jelas umma Yuna akan mendapat teguran kerasnya.
"Alasan kemarahanmu tidak berdasar Yuna, kenapa Hasan harus memaksa Alkea?" Kali ini Abbi Shawn yang angkat bicara, beliau berusaha membela putranya, dan beliau tidak tahan mendengar ucapan ketus Umma Yuna.
"Ada alasannya, kak. Itu karena putriku mencintai putramu!" Umma Yuna kembali bicara dengan nada suara tinggi, ia menatap Abbi Shawn dengan tatapan tajam.
"Putramu ini tahu putriku sangat mencintainya." Umma Yuna menunjuk Hasan, ia sangat marah.
Umma Yuna tahu musibah ini murni karena kehendak Tuhan, namun nalurinya sebagai ibu gagal memahami itu, ia hanya ingin menyalahkan Hasan karena telah memaksa putrinya, itu saja.
"Putramu yang berharga ini menolak putriku, kak. Ia ingin menunjukkan putriku bukan apa-apa di banding calon istrinya. Hiks.Hiks." Umma Yuna mulai terisak. Sementara Baba Zain? Pria paruh banya itu tampak tak bertenaga, ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia begitu menyanjung Dira. Seandainya ia tahu putri berharganya mencintai Hasan, ia tidak akan pernah menyanjung gadis manapun. Abbi Shawn pun terlihat sama, ia sama sedihnya dengan Baba Zain.
"Sungguh Ummi, Abbi tidak pernah tahu kalau Alkea mencintai Hasan. Abbi pikir anak itu bercanda hanya untuk menggoda Hasan saja. Ini di luar ekspektasi Abbi." Abbi Shawn mengusap wajahnya dengan kasar, ia duduk di bangku dengan perasaan bersalah. Jika saja ia tahu lebih awal, ia pasti akan melakukan segala cara untuk menyatukan Hasan dan Alkea.
Semua orang tahu Hasan dan Alkea halal untuk menikah, bahkan dalam agama sekalipun, semuanya tercantum dengan jelas.
"Sejak kapan Umma mengetahui Alkea mencintai Hasan?" Baba Zain mulai mengurai tanyanya, ia membelakangi semua orang.
"Dua tahun yang lalu." Balas Umma Yuna dengan dada yang terasa semakin sesak.
"Ummi juga tahu itu, tapi Ummi tidak pernah mengatakan apa pun. Sekarang katakan, sejak kapan Ummi mengetahui semua ini?" Giliran Abbi Shawn yang bertanya, ia menginginkan jawaban singkat istrinya.
"Sudah lama, Bi. Maksudku, aku tahu sudah sejak lama, jauh sebelum Yuna mengetahuinya." Balas Ummi Raina tanpa berani menatap wajah suami tersayangnya.
"Sudah lama? Sejak kapan, Mi?" Abbi Shawn kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
"Se-sejak Alkea duduk di bangku SMA!" Ummi Raina kembali mengabarkan beritanya. Ia terlalu gugup
"What?" Baba Zain sangat terkejut, di antara semua masalah yang pernah ia hadapi, untuk pertama kalinya ia merasa menjadi orang yang paling tidak berguna.
"Ummi yakin selama itu? Jika Ummi tahu itu, kenapa Ummi tidak pernah mengatakannya? Abbi merasa buruk untuk Alkea." Untuk pertama kalinya Abbi Shawn menyalahkan Ummi Raina.
"Kenapa kalian berdebat? Aku tahu ini salahku, dan aku sadar akulah penyebab kondisi ini." Hasan tak tahan dengan perdebatan ini, ia menatap Umma Yuna, namun wanita paruh baya itu memalingkan wajahnya. Hasan kecewa, untuk pertama kalinya ia di abaikan oleh tante favoritnya.
"Aku sudah memikirkan ini matang-matang, dan aku sudah mengambil keputusan..." Ucapan Hasan tertahan di tenggorokannya, ia menatap Baba Zain yang tampak kebingungan.
"Keputusan? Keputusan apa maksudmu, nak?" Ummi Raina berjalan mendekati Hasan, ia menangkup wajah tampan putranya.
"Ummi percaya padaku, kan?
Ummi Raina mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Hasan.
"Maka itu sudah cukup." Sambubg Hasan lagi, ia melepaskan tangan Ummi Raina dari wajahnya, kemudian berjalan mendekati Umma Yuna yang masih terlihat kesal.
"Tante mengenalku sejak kecil, dan aku selalu menyayangi Tante sama seperti aku menyayangi Ummi. Kali ini aku memohon izinmu!" Hasan merunduk, ia bersimpuh di depan Umma Yuna dengan lelehan air mata. Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya Hasan meneteskan air mata di depan seluruh anggota keluarganya.
"Izin? Izin apa maksudmu?" Lagi-lagi Umma Yuna bicara dengan ketus.
"Aku ingin menikahi putri Tante dan Om Zain, aku ingin menjadikan Alkea sebagai milikku. Aku mohon, izinkan aku melakukan itu." Hasan menangkupkan kedua tangan di depan dada, tak ia sangka reaksi Umma Yuna akan membuatnya terluka.
Pernikahan?
Satu kata itu terdengar bagai tamparan untuk Umma Yuna, bukannya bahagia, ia malah mendorong Hasan hingga tubuh jangkung itu membentur dinding. Baba Zain dan Abbi Shawn tampak shock melihat kelakuan spontan Umma Yuna. Sementara Ummi Raina, ia hanya bisa meneteskan air mata melihat putranya menjadi pelampiasan kemarahan setiap orang.
Orang bilang, kau secantik rembulan yang bersinar, namun itu tidak benar. Yang benar itu adalah, Rembulanlah yang secantik dirimu. Maafkan aku karena telah lama membuatmu menunggu, setelah ini tak ada lagi yang bisa mencegahku untuk berlari kearahmu. Genggam erat tanganku, maka kan ku pastikan untuk selalu menempatkan surga dalam hidupmu. I love you kadal kecilku. Batin Hasan sembari bangkit dari lantai.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Karin Iza
kayak tupai yang gampang melompat
2025-03-26
0
Asri Rahayu
cihhh... kemana selama ini kamu
2024-03-31
3
Lilik Juhariah
kereeeen ,
2024-01-04
0