Di detik pertama Hasan menempelkan bibirnya, Alkea mulai berontak. Di detik selanjutnya, Alkea mulai tenang, ia menerima perlakuan manis Hasan tanpa berontak lagi.
Sapuan lembut bibir Hasan di bibir pucatnya berhasil membuat Alkea terbang ke awan, gadis seindah purnama itu bahkan memejamkan matanya menerima dengan ikhlas setiap belain lembut bibir Hasan di bibir dan wajahnya. Semuanya terlalu indah sampai Alkea tidak bisa mengendalikan dirinya.
Alkea, gadis manis itu memutuskan mengenakan hijab saat ia mendapati dirinya menstruasi untuk pertama kalinya. Ia berusaha keras menjaga diri dari tatapan pria yang tidak halal baginya dengan cara menutupi aurat.
Duar.
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Alkea bergetar hebat setelah menyadari perbuatan hinanya. Ia membuka mata secara perlahan, berusaha memahami keadaan di mana ia berdiri saat ini. Sapuan lembut nafas Hasan masih membelai wajah pucatnya.
"Ti-tidak." Alkea mendorong Hasan hingga tubuh kekar itu tersungkur ke ranjang berukuran besar.
"A-apa yang kau lakukan? D-dan apa yang ku lakukan? Aa-aku bukan pezina." Alkea berteriak hingga dinding-dinding kamar Hasan bisa merasakan kepedihan hatinya.
Hasan yang terlanjur terkejut melihat sikap kasar Alkea hanya bisa mematung di atas ranjang, ia ingin mendekati gadis itu namun tangan dan kakinya seolah terikat oleh perasaan bersalah.
"Tetap di sana, dan jangan coba-coba." Alkea kembali berteriak, mata merahnya menyala. Ia menatap Hasan dengan tatapan tajam seolah ingin menelan pria itu hidup-hidup.
"Beraninya kau..." Alkea menampar dirinya sendiri, suara tamparan itu bergema di indra pendengaran Hasan. Jujur, hal itu membuat Hasan semakin merasa bersalah. Ia sadar, seharusnya ia tidak melakukan itu sekuat apa pun gejolak yang menyelimuti raganya.
"Ke... hentikan!" Hasan mencoba menenangkan Alkea.
"Diam di sana dan jangan berani mendekat." Untuk kesekian kalinya Alkea berteriak, membuat Hasan kembali terpaku di tempatnya.
Alkea mengusap kasar bibirnya hingga bibir pucat itu mengeluarkan darah segar. Air matanya pun tak bisa berhenti menetes, dosa ini seolah mencabik raganya.
Melihat Alkea bertingkah seperti gadis gila, Hasan terpaksa mendekati sepupunya itu. Ia mencoba memegang kedua lengan Alkea dengan tangan kekarnya. Seperti sebelumnya, Alkea yang terlanjur jijik kembali mendorong Hasan. Sayangnya, nasib baik tidak berpihak pada gadis itu, Hasan tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun, karena ia tahu tenaga Alkea tidak akan bisa mengusir tubuh jangkungnya.
"Kenapa kau bertingkah seperti gadis gila? Itu hanya ciuman." Sentak Hasan tak kalah menakutkan, ia melempar vas bunga yang ada di dekatnya, dan hal itu berhasil membuat Alkea berhenti mengusap bibirnya. Sungguh, ucapan Hasan adalah penghinaan terbesar yang pernah Alkea dengarkan selama hidupnya.
Brukk!
Alkea tersungkur, ia bersimpuh di lantai dengan air mata yang tidak bisa berhenti menetes. Rasanya ia ingin berdiri dan menampar sosok indah yang telah berani mengejeknya.
Lima menit lamanya Alkea duduk di lantai, dan selama itu pula Hasan tidak berani membuka mulutnya.
"Kau bilang itu hanya ciuman? Haha." Alkea bertanya sambil berusaha untuk bangun dari lantai, setelah itu ia mulai terkekeh. Lebih dari rasa kesalnya pada Hasan, ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena Iblis terkutuk berhasil menempatkannya dalam dosa zina.
Sekujur tubuh Hasan merinding, untuk pertama kalinya ia menyadari Alkea yang ia kenal menjengkelkan dan selalu mengejarnya dengan alasan cinta berubah menjadi monster menakutkan. Otak Hasan terus berpikir dengan cara apa ia akan menenangkan gadis itu. Sepertinya akan sulit melihat Alkea yang mulai tidak terkendali.
"Kau bilang itu hanya ciuman, hah? Kau pikir siapa dirimu? Aku mencintaimu bukan berarti kau memiliki hak untuk memeluk dan menciumku." Suara Alkea bergetar, hal itu membuat Hasan kembali tak berani menatap gadis itu. Sungguh, air mata Alkea membuatnya tak berdaya.
Tuhan... ada apa denganku? Kenapa aku merasa tersakiti melihatnya menangis. Batin Hasan sembari mundur menjauhi Alkea.
"Bagimu mungkin itu hanya sekedar ciuman, tapi bagiku? Itu adalah musibah besar." Alkea melanjutkan ucapannya.
Kamar Hasan menjadi saksi bisu betapa terpukulnya Alkea dengan aksi ciuman singkat mereka.
"Aku seorang muslimah, menjaga diriku dari tangan-tangan yang tidak halal untukku adalah tanggung jawabku. Tapi kali ini?" Alkea menghentikan ucapannya, untuk sesaat ia menatap wajah menyesal Hasan.
"Tapi kali ini, aku yang paling bersalah. Atas izin dariku, kita melakukan perbuatan hina itu. Dan lupakan untuk menghukummu, aku bahkan tidak ingin bertemu denganmu lagi.
Mulai hari ini, aku tidak akan pernah menunjukkan wajahku di hadapanmu. Aku anggap apa yang terjadi adalah mimpi burukku." Celoteh Alkea pelan, ia berjalan kearah ranjang, tangannya meraih kunci, tanpa menatap Hasan, Alkea keluar dari kamar sambil membanting pintu.
Kesalahan, itulah yang Alkea pikirkan. Seharusnya ia tidak masuk kedalam kamar Hasan, maka hal buruk itu bisa saja di hindari.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Asri Rahayu
mampus Lo.. aku ikutan emosi
2024-03-31
3
Rita Riau
sadar Hasan jgn terlalu percaya diri,,,
jgn memandang rendah orang lain,,
2023-12-22
1
Sry C'cipit Tea
smoga Hasan bisa batal nikah...
2023-07-27
0