Jatuh cinta memang mudah. Yang sulit itu, akankah kau menyambut uluran tanganku? Tangan yang selalu terangkat di sepertiga malam hanya untuk mendo'akanmu.
Apakah aku salah jika mengharapkanmu? Apakah menurutmu aku tidak layak merasakan manisnya cintamu?
Pasrah memang tidak mudah, namun hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menghibur hatiku yang terlanjur di penuhi dilema.
Katakan padaku, apa aku salah meminta pada Tuhan untuk menjadikanmu milikku? Itu karena namamu terlanjur terukir dengan indah di lubuk hati terdalamku, si sempurna yang memiliki pesona berjuta-juta.
Awalnya semuanya baik-baik saja, namun sejak aku tergoda semuanya berubah seketika. Mengharapkanmu dan mendo'akanmu selalu saja menjadi kebiasaan lamaku. Katakan padaku, apakah aku salah untuk itu?
Sungguh, semenjak kau hadir di dalam mimpiku, senja di sore hari, rembulan di malam gelap, dan surya di pagi hari menjadi saksi bisu betapa besar cinta yang ku miliki untukmu.
Ah sudahlah, seindah apa pun bait-bait syair cintaku, ku putuskan untuk menyimpannya di dasar samudra hatiku. Karena aku tahu kamu tidak akan pernah menyadari perasaan itu, perasaan yang hanya aku dan Tuhanku saja yang tahu.
Hasan menghela nafas kasar sembari melipat surat kabar yang ada di tangannya, surat kabar yang ia baca sejak sepuluh menit yang lalu.
Tok.Tok.Tok.
"Tuan ini..." Bayu menghentikan langkah kakinya setelah menyadari tuannya sedang memegang surat kabar yang sama seperti yang ia bawa.
"Maaf, saya terlambat." Sambung Bayu lagi, ia terlihat menyesal. Dalam hati ia berharap tuan pemarahnya tidak akan memuntahkan kata-kata sampah.
"Iya, tidak apa-apa." Balas Hasan acuh.
"Kau akan bertanya dari mana aku mendapatkan surat kabar ini? Aku membelinya dari pria tua yang berdiri di lampu merah. Dia terlihat kasihan, dan aku melakukannya bukan untuk mendapat pujian." Hasan berucap dengan nada santai, ia tahu Bayu ingin bertanya namun ia juga tahu asistennya itu tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya.
Bayu tersenyum.
"Jangan tersenyum, aku tidak suka itu. Dan satu lagi, kau terlihat seperti orang bodoh." Celetuk Hasan sembari menatap tajam pada pria muda yang bekerja dengannya sejak ia bergabung dan menjadi CEO Genius Group warisan dari Abbinya, Shawn Praja Dinata.
"Apa saya boleh bertanya?"
Dua menit kemudian.
"Tayakan saja, apa aku akan memakanmu?" Hasan kembali membuka suara, namun wajahnya menyiratkan tidak suka.
"Akhirnya tuan terlihat mirip dengan nona Alkea. Maksudku, tuan memiliki kesamaan, sama-sama tidak suka melihat orang lain menderita."
Hasan yang tadinya sibuk membaca dokumen yang ada di tangannya mulai menatap asistennya dengan tatapan setajam belati.
"Apa kau tidak waras? Kenapa kau membandingkanku dengan kadal itu? Dia selalu berkeliaran di dekatku. Memikirkannya saja membuatku merinding." Hasan berucap sembari memejamkan mata, mengingat Alkea selalu saja membuatnya tidak nyaman. Entah apa yang di pikirkan pria itu sehingga ia tidak bisa membedakan antara benci dan cinta. Benarkah ia membenci Alkea? Hasan sendiri tidak tahu jawabannya, yang ia tahu Alkea selalu berkeliaran di sekitarnya seperti kadal nakal tak tahu arah pulang.
"Apa saya boleh bertanya?" Bayu kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Hasan menatapnya hanya untuk sesaat saja, setelah itu Hasan kembali sibuk dengan gawainya.
"Kau tahu aku tidak suka memberikan jawaban. Lalu, untuk apa kau bertanya? Seolah aku anak buahmu yang akan memberikan jawaban seperti yang kau minta." Hasan memberikan jawabannya, namun tetap saja setiap kali pria itu membuka mulutnya, baik Alkea atau Bayu tidak bisa membalas ucapannya seolah dunia telah kehabisan kosakata indahnya.
Lima menit berlalu sejak kantor Hasan senyap tanpa suara, Hasan yang sibuk dengan gawainya. Sementara Bayu? Pria itu berdiri di depan pintu seperti patung tanpa gerakan apa pun.
"Tanyakan, apa yang ingin kau ketahui." Hasan memberikan lampu hijau, tanpa ia sadari Bayu tersenyum sembali bersorak gembira, hanya di dalam hatinya.
"Lima tahun berlalu, kenapa tuan selalu membutuhkan surat kabar Senin dan Kamis pagi? Apa ada yang istimewa?"
Hem.
Hasan terdengar menghela nafas kasar, antara menahan rindu dan juga penasaran.
"Terkadang kau bisa menebak jalan pikiranku, dan aku tidak suka itu. Walau seperti itu aku akan memberitahukan padamu." Hasan menutup berkas yang ia baca kemudian meletakkannya di atas meja. Ia berjalan mendekati jendela, menatap ke arah bawah. Sungguh, semua yang ia lihat dari lantai dua puluh lima terlihat bagai semut berjalan.
"Entah kenapa aku merasa terikat pada setiap bait yang di tulis oleh nona Faza." Untuk pertama kalinya Hasan mengungkapkan isi hatinya.
Terikat?
Satu kata itu mengalihkan fokus Buyu. Pria muda itu bergegas membuka surat kabar yang ada di tangannya, membaca bait-bait cinta secara perlahan. Bayu mengerutkan dahinya seolah mengetahui siapa sang pemilik kata-kata yang di penuhi cinta namun tak terlihat oleh mata.
"Memiliki kata-katanya bersamaku membuatku merasa berharga, aku merasa bahagia untuk hal yang tidak ku ketahui alasannya. Sekarang katakan, apa aku terlalu berlebihan dalam mengekspresikan hatiku?"
"Ini..." Bayu menghetikan ucapannya saat menyadari apa yang ia baca sesuai dengan apa yang Nona Alkea rasakan selama ini.
"Aku berharap bisa bertemu dengan penulis itu. Setiap kali membaca pesan cinta darinya membuatku menyadari kalau hatinya sedang tidak baik-baik saja." Hasan menutup kalimatnya kemudian berjalan kembali kearah meja kerjanya, duduk disana seolah hatinya sedang baik-baik saja.
"Lupakan semua yang ku katakan, besok aku akan menikah. Itu artinya, gunakan matamu dengan benar, jangan sampai terjadi hal yang salah. Aku benci kesalahan dan aku benci pengacau." Hasan mencoba memperingatkan Bayu. Tanpa di jelaskan, Bayu sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Tuan, apa saya boleh mengatakan sesuatu?" Bayu kembali bertanya, padahal ia tahu Hasan tidak pernah memberikan hak pada siapa pun untuk bertanya padanya kecuali Ummi dan Abbinya.
"Untuk apa bertanya jika kau sudah tahu jawabannya, dasar payah." Celetuk Hasan dengan mata melotot. Bayu yang di tatap langsung merunduk, namun sayangnya ia tidak bisa menutup mulutnya.
"Tuan, aku yakin nona Alkea tidak akan mengacaukan acara pernikahan tuan. Dia gadis pengertian. Mungkin tuan tidak begitu mengenalnya, sejauh yang ku ketahui tentang nona Alkea, dia akan memilih untuk mengalah demi kebahagiaan tuan.
Tuan memilih nona Dira, dan hal itu membuat nona Alkea merasakan kesedihan mendalam. Walau seperti itu, gadis malang itu akan tetap bersikap tegar dan tidak akan pernah membuat tuan mengeluh tentang dirinya.
Bukankah sudah jelas, sejak pagi nona Alkea tidak mengirim pesan pada tuan. Itu artinya, nona Alkea sudah menyerah pada perasaannya." Tanpa berpikir panjang dan tanpa rasa takut Bayu mulai menguraikan pendapatnya. Ia memang dekat dekat Alkea, dan alasan kedekatan itu memberinya hak untuk membela Alkea.
Hasan pun mulai berpikir apa yang di katakan Bayu ada benarnya, Alkea tidak mengiriminya pesan sejak pagi. Biasanya gadis itu selalu mengirim belasan pesan sebagai teman seorang Hasan Dinata menikmati kopi paginya, apakah itu alasan Hasan tidak fokus pada pekerjaannya karena Alkea tak lagi menghiraukannya?
Tidak mungkin. Batin Hasan sembari memijit pelipisnya.
Kadal nakal itu selalu menggangguku dengan segala tingkah anehnya. Kadang dia menggunakan Maryam sebagai mata-mata, terkadang dia juga memprovokasi Ummi untuk menentangku. Batin Hasan lagi.
Tanpa Hasan sadari ia terlalu banyak memikirkan Alkea.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Rita Riau
Hasan ga akhlak nya,,, bikin gregetan aja
2023-12-22
3