Sepekan berlalu sejak kejadian Alkea menangkap basah Hasan. Kini gadis itu mulai menghindar, entah pagi, siang dan malam Hasan tak pernah lagi berpapasan. Sungguh, Hasan merasa sebagian dari dirinya telah hilang namun ia tidak paham.
Seperti saat ini, pria rupawan itu tampak uring-uringan, namun ia tidak menunjukkannya di meja makan, ia bersikap santai saat menikmati kopi panasnya. Tetap saja hatinya terasa sangat kosong. Ia ingin mengungkapkan segala resahnya, namun pertanyaannya, pada siapa? Ia bahkan tidak memiliki banyak teman yang bisa ia jadikan tempat berkeluh kesah. Pada Ummi Raina atau Abbi Shawn? Itu tidak mungkin. Pada Maryam adik perempuan satu-satunya? Itu juga tidak mungkin, anak itu seperti ember bocor, rahasia tidak akan bertahan lama di tangannya.
Maka benar lah apa yang di ucapkan Ali Bin Abi Thalib. Tidak ada yang bisa menjaga rahasiamu lebih baik dari pada dirimu sendiri, maka jangan salahkan siapa pun orang yang mengungkapkan rahasiamu, karena kamu sendiri tidak bisa menyembunyikannya. Rahasiamu adalah tawananmu, yang jika di lepaskan, itu akan membuatmu menjadi tahanan.
"Mi, dimana Kak Alkea? Kenapa aku jarang melihatnya? Aku merindukannya, tidak seperti orang lain yang selalu kesal padanya." Maryam menatap kakak lelakinya dengan tatapan tajam, ia menyebikkan bibirnya menandakan permusuhan.
Uhuk. Uhuk.
Tahu dirinya sedang di bicarakan membuat Hasan tersedak. Jujur, ia juga ingin menanyakan hal yang sama pada Ummi Raina, namun lagi-lagi egonya mencegahnya. Semoga saja egonya tidak akan menghancurkan kebahagiaannya.
"Kau menyalahkan kakak? Memangnya apa yang kakak lakukan pada kakak kesayangan mu itu? Kau mulai berubah haluan sejak bergaul dengan Alkea." Gerutu Hasan sambil balas menatap adik kesayangannya dengan tatapan tajam.
Tak bisa di pungkiri, Maryam memang lebih dekat dengan Alkea. Bukankah setiap adik perempuan sama saja? Ia lebih dekat dengan kakak perempuannya ketimbang kakak lelakinya? Dan itulah yang di rasakan Maryam, semua kisah yang tidak bisa ia ungkapkan pada Hasan ia tuangkan pada Alkea, seolah kakak sepupunya itu lebih pintar dari Google yang siap memberikan jawabannya saat di butuhkan.
"Tentu saja aku lebih dekat dengan kak Alkea, kak Hasan terlalu membosankan." Maryam kembali menyebikkan bibir tipisnya, Ummi Raina yang melihat perdebatan kedua buah hatinya hanya bisa tersenyum tipis.
Apa dia masih kesal karena kejadian waktu itu? Seharusnya ia membiasakan diri. Lagi pula, apa perduliku? Toh aku akan menikah dengan Dira. Batin Hasan sembari meraih cangkir kopinya, ia kembali meneguk kopi yang masih tersisa setengahnya, kali ini dengan hati menahan kerinduan.
"Mi, kapan kak Alkea pergi? Bukankah pagi ini aku bangun lebih awal? Kenapa aku tidak bisa menemuinya." Maryam kembali membuka suara.
"Kau tidak akan bisa menemuinya jika kau selalu tidur setelah salat subuh." Abbi Shawn ikut nimbrung kedalam pembicaraan istri dan kedua anaknya.
"Alkea berangkat bahkan sebelum kakak mu bangun dari tidurnya." Sambung Abi Shawn.
"Itu bagus untuk Hasan, bukankah selama ini ia ingin Alkea menjauh darinya? Setidaknya, sekarang dia mulai merasakan kekosongan di dalam hatinya." Tebak Abbi Shawn, ia menatap Hasan yang terlihat mulai bosan. Entah ia bosan karena tidak melihat Alkea, atau karena mendengar tuduhan Abbinya, Hasan benar-benar tidak tahu alasan pastinya. Semua orang mengintrogasinya seolah-olah karena ulahnya gadis aneh itu tidak betah di rumah.
Gadis aneh!
Itulah yang Hasan pikirkan tentang Alkea, ribuan kali ia mengusir gadis itu, ribuan kali pula gadis itu tak mau menyerah. Apa cinta sungguh seperti itu? Menganggap ucapan dan perlakuan kasar orang yang di cintai bagai selembut sutra? Itu bukan cinta, kebodohan namanya, cinta dan kebodohan bagai benang tipis pembatas. Namun manusia punya akal yang di berikan Tuhan untuk bisa membedakan antara salah dan benar.
"Aku berangkat!" Hasan meraih kunci mobil yang ia letakkan di atas meja. Ummi Raina menganggukkan kepala pelan. Sementara Abbi Shawn? Pria paruh baya itu mengangkat ibu jari, memberikan izinnya.
Hasan meninggalkan kediaman Dinata dengan perasaan kacau, tanpa ia sadari ia bahkan melajukan mobilnya menuju kampus Alkea yang ada di pusat kota.
Jakarta dan kemacetannya selalu saja membuat Hasan kesal, belum lagi sikap kedua orang tuanya yang menganggap dirinya bersalah.
Alkea, aku pasti akan menjitak kepalamu begitu kau ada di hadapanku. Gerutu Hasan begitu ia menghentikan mobilnya tepat di depan kampus Alkea. Saat ingin turun dari mobil, langkah kakinya terhenti saat ia menyadari ada seorang pria muda yang berjalan di depan Alkea.
"Pecundang, kenapa dia bersikap sok manis? Dan gadis itu, kenapa ia membiarkan pecundang itu menggodanya? Apa seperti itu karakternya?"
Kesal!
Satu kata itu memenuhi seluruh pori-pori Hasan. Ia kesal saat Alkea menggodanya, dan ia juga kesal saat pria lain bersikap manis pada wanita itu. Seolah-olah Alkea tercipta hanya untuknya dan wanita itu tidak di perbolehkan berkeliaran di depan pria lain.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Hasan langsung meninggalkan kampus Alkea, membawa kekesalan yang masih memenuhi rongga dadanya.
"Cemburu? Haha, tidak mungkin." Gerutu Hasan sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu di tempat berbeda, Alkea dan dua sahabatnya sedang menikmati sarapannya. Bakso pedas selalu menjadi andalan Alkea, jus alpukat dengan banyak susu yang menjadi vaforitnya. Kisah percintaannya sepedas bakso yang ia makan, namun ia tidak ingin bersedih seperti gadis lain yang biasa merasakan galau, ia ingin hidupnya semanis jus alpukat yang menjadi kesukaannya.
"Ayolah, Ke. Aku bersungguh-sungguh!" Natan, yang menyukai Alkea sejak duduk di semester pertama kembali angkat bicara, yang ia ajak bicara tampak acuh, tak mengindahkan ucapannya.
"Aku tahu kau selalu menolakku, dan aku juga tahu tidak ada jalan untuk ku agar bisa memasuki hatimu. Setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan sebagai mantan pengagummu." Sambung Natan. Seperti biasa, Alkea hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepala pelan.
"Ayolah, Ke. Kau coba saja, siapa tahu kau cocok dengannya. Lagi pula, mengharapkan cinta Baby Hasan sama dengan bunuh diri." Celetuk Lala yang duduk di samping Natan. Walau sebelumnya ia setuju mendukung Alkea dengan Hasan, namun kini ia berharap sahabatnya itu segera move on.
"Lala dan Natan benar, Ke. Aku juga setuju kau move on dari kak Hasan. Maafkan aku karena selama ini selalu memintamu bertahan untuk mencintainya. Namun sekarang tidak lagi." Chila mendukung Lala dan Natan, mengingat cerita Alkea tentang apa yang terjadi seminggu lalu antara Hasan dan si rambut jagung membuatnya kesal.
"Move on, move on. Apa kalian pikir aku tidak ingin melakukannya? Aku juga berharap bisa. Hatiku terlalu hancur dan aku butuh waktu untuk menatanya." Alkea beranjak dari tempat duduknya, ia bahkan belum bisa melupakan kejadian itu, lalu bagaimana bisa ketiga makhluk yang ia anggap teman baiknya itu tega mendorongnya untuk jatuh cinta lagi?
"Kau lihat, gadis keras kepala itu tidak akan mendengar ucapanmu atau pun ucapanku. Dia terlalu mencintai kak Hasan, dan dia menganggap pria itu adalah dunianya." Lala kembali membuka suara, ia menatap Natan dengan tatapan kosong. Ia juga kesal.
Tak ada salahnya jatuh cinta, namun usahakan agar cinta itu tak membuatmu buta. Buta karena cinta hanya akan membuatmu menghalalkan segala cara. Sungguh, cinta kepada Allah lebih utama dari pada cinta pada makhluknya. Jika kau jatuh cinta hanya karena rupa, lalu bagaimana kau akan mencintaimu Tuhanmu yang tak pernah terlihat oleh netramu? Rasakan kehadirannya dalam hatimu, karena sesungguhnya Rabb mu lebih dekat dari urat nadimu.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments