Mentari telah tiba, ia datang dengan cerita barunya. Segala di semesta pun telah mendapat porsinya.
Hasan Dinata, pria rupawan itu beranjak dari tempat tidur empuknya, ia meremas rambut hitamnya. Sejak semalam ia tidak bisa tidur, berkali-kali mencoba memejamkan mata namun sayangnya ia tidak bisa. Insomnia ini serasa membunuhnya, dan inilah puncaknya.
"Ummi, ada apa denganku? Sekujur tubuh ini terasa kaku. Apa yang harus ku lakukan?" Hasan mencoba menggerakkan kakinya, ia berjalan pelan kearah sofa, duduk disana sembari mendongakkan kepala, menatap langit-langit kamarnya.
Sementara itu di lantai bawah, semua orang sedang sibuk menyiapkan diri untuk segera berangkat menuju hotel tempat akad Hasan dan Dira di adakan. Wajah Abbi Shawn terlihat bersinar, ia bahagia karena putra satu-satunya akan melangsungkan akadnya. Sungguh, bagi Abbi Shawn, pernikahan adalah hal yang paling menakjubkan dalam hidupnya. Dan semenjak ia bersama Ummi Raina, hidupnya di penuhi dengan kebahagiaan yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata, kebahagian yang sempurna. Ia berharap putranya akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang ia lalui selama ini.
"Umma, di mana putri kita?" Baba Zain bertanya sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja. Kepalanya menoleh kekanan dan kiri mencari sosok Alkea yang tidak ia temui sejak pagi.
"Dia mengeluh sakit kepala, mungkin Alkea akan sedikit terlambat hari ini. Biarkan dia beristirahat, Umma jamin putri kita akan datang tepat waktu ketempat acara Hasan." Ujar Umma Yuna, tangannya sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam koper.
Sejujurnya, Umma Yuna tidak ingin melihat Alkea. Ia terlalu takut untuk menatap wajah sedih putri berharganya. Walau Alkea tidak menangis di depannya, ia tahu putrinya itu sedang berperang dengan hatinya.
Ya Rabb... bagaimana putriku akan tersenyum di saat dirinya sedang patah hati? Aku bertanya-tanya bagaimana putriku akan bahagia lagi? Umma Yuna menghapus sudut mata dengan punggung tangannya, ia sengaja menoleh kearah lain agar Baba Zain tidak menyadarinya. Sayangnya, Umma Yuna gagal menyembunyikan kesedihannya.
"Umma kenapa?" Baba Zain bertanya sembari mengelus kepala Umma Yuna.
"Apa lagi yang bisa di lakukan istrimu selain menangis? Melihat keponakan berharganya menikah dengan wanita yang di cintainya membuatnya terharu." Timpal Ummi Raina, ia tahu Umma Yuna tidak akan bisa mengatakan apa pun untuk mengekspresikan kesedihannya.
"Iya, kakak ipar benar. Istriku ini memang sangat unik. Aku tidak bisa menebak kapan ia bahagia dan kapan ia sedih karena selama aku mengenalnya, ia selalu mengekspresikan perasaannya dengan air mata." Sahut Baba Zain, ia mencium kepala Umma Yuna yang di tutupi pasmina biru.
Dua jam kemudian, semua orang telah pergi menuju hotel tempat acara akan di adakan. Enam jam lagi Hasan benar-benar akan mengikat sumpah setianya pada Dira.
Kriukkk.
Perut rata Alkea mulai berbunyi, ia kelaparan. Dan buruknya ia tidak menyadari semua orang telah pergi meninggalkan Mansion Dinata kecuali Hasan.
Tak ada yang menyadari Hasan masih di rumah, biasanya pria itu akan bangun di pagi hari, menikmati sarapannya lalu berangkat menuju kantor. Entah kenapa hari ini semua orang seolah sibuk dengan gawainya sehingga ia di lupakan, benar-benar di lupakan.
"Ummi tolong berikan aku obat. Insomnia ini benar-benar membunuhku." Cicit Hasan dengan nada suara berat, kepalanya terasa pening setelah semalaman terjaga.
Alkea yang melintas di depan kamar Hasan terpaksa menghetikan langkah kakinya, ia tahu pria itu kesakitan dan itu membuatnya kurang nyaman.
"Dimana semua orang? Kenapa rumah ini terlihat sepi?" Kepala Alkea menoleh ke lantai bawah. Ia tidak melihat siapa pun.
"Apa semua orang telah pergi? Kenapa Umma tidak mengajakku? Hiks, aku kecewa." Yuna menyebikkan bibir tipisnya.
"Ummi, berikan aku obat. Aku tidak tahan." Celoteh Hasan lagi.
Pintu kamar Hasan yang terbuka setengahnya membuat Alkea mendengar dengan jelas ucapan pria itu.
"Apa aku harus membantunya? Bagaimana jika dia menyalahkanku? Aku tidak suka itu, dan aku lebih tidak suka lagi jika dia sampai salah paham karena tindakan spontanku." Pikiran Alkea berperang dengan hatinya. Jujur, ia ingin membantu Hasan, namun akal sehatnya mencegahnya untuk melakukan tindakan itu.
"Hanya demi kemanusiaan aku akan membantumu, jadi jangan pernah salah paham walau itu di dalam mimpi sekalipun." Celoteh Alkea sembari berjalan meninggalkan lantai dua, dia bergegas menuju laci tempat Ummi Raina biasa menyimpan kotak obat.
Setelah mendapatkan apa yang di carinya, Alkea kembali ke lantai atas. Membawa sarapan untuk Hasan, di tambah dengan obat dan segelas air mineral.
Tok.Tok.Tok.
"Apa aku boleh masuk?"
Alkea masuk ke dalam kamar sebelum Hasan memberikan izinnya. Ia terdiam melihat tempat tidur yang masih berantakan, namun itu tidak mengurangi keindahan kamar itu. Segala sesuatu di tata dengan rapi, semua barang ada pada tempatnya, sehingga siapa pun yang mencoba menemukan setitik debu ia tidak akan menemukannya. Pria rupawan itu suka dengan kebersihan, ia bahkan tidak segan-segan memarahi Art jika ia menemukan barang-barangnya tidak ada pada tempatnya.
"Semua orang sudah pergi, jadi aku yang bawakan obat untukmu." Alkea meletakkan nampan di atas meja depan Hasan.
Jujur, kehadiran Alkea berhasil mengusir setengah dari rasa sakit Hasan. Pria itu duduk tegap sembari menatap wajah cantik Alkea, wajah itu terlihat pucat namun tidak mengurangi kecantikannya. Mata indah itu terlihat sembab, entah sebayak apa ia menangis sampai Hasan tidak bisa menebak jawabannya.
"Jika ada yang kau butuhkan, katakan saja."
Sedetik.
Dua detik.
Hingga satu menit berlalu tak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan Hasan, membuat Alkea sadar kalau Hasan tidak suka dengan kehadirannya. Sementara Hasan, hanya ia yang tahu apa yang di rasakannya, ia bahagia melihat Alkea di kamarnya sampai ia tidak bisa berkata-kata. Ia tidak tahu gadis itu akan salah paham dengan kebisuannya.
"Aku tahu kau tidak suka melihatku, maafkan aku karena melompat dan menampakkan diri di depanmu." Alkea berbalik, ia akan keluar namun Hasan buru-buru berlari kearah pintu.
Hasan mengunci pintu kamarnya kemudian melempar kunci itu ke atas ranjang. Netra merah Alkea membulat, ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Kau datang ke kamar ku? Apa cintamu begitu besar sampai kau tidak bisa untuk tidak melihatku?" Ucap Hasan ketus.
"Aku memanggil Ummi, lalu kenapa kau yang datang?" Sarkas Hasan sambil memukul daun pintu kamarnya, Alkea terkejut. Gadis manis itu memejamkan mata, untuk pertama kalinya Hasan berteriak padanya.
"Apa kau pikir aku tidak punya akal sehingga mencintaimu? Bahkan jika hanya kau wanita di dunia, aku tidak akan pernah tertarik padamu."
Ucapan kasar Hasan seolah mencabik raga Alkea, gadis manis itu ingin berteriak, sekuat tenaga ia menahan diri. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Alkea berjalan kearah ranjang, tangannya ingin meraih kunci namun sekuat tenaga Hasan menarik tangan itu hingga dada mereka saling berbenturan.
"Bukankah kau sangat mencintaiku? Maka biarkan aku melihat seberapa besar cinta yang kau miliki untukku." Ucap Hasan lagi sambil menatap mata basah Alkea.
Tanpa berpikir panjang Hasan langsung menempelkan bibir indahnya di bibir pucat Alkea. Ia merasakan desiran darahnya, seolah ada aliran listrik di tubuhnya.
Alkea, gadis seindah purnama itu meneteskan air mata, ia masih berontak namun tenaga Hasan bukan tandingannya. Itu ciuman perdananya, seharusnya semuanya tidak seperti ini.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
ihhhhhhhh
j*jik laaah begitu..
ngaku benci, kok kissing kissing???
2024-09-19
0
martina melati
kan akan nikah masak masik masuk kantor ker? biasa cuti ker kalo nikahan
2024-03-05
3
Rita Riau
dasar Hasan lucknut udah kasar,,, tambah kurang ajar,,, kasihan Alkea
bakal nyesel ntar kamu Hasan
sudah pasti Alkea akan membenci mu,,,
2023-12-22
0