Lima jam berlalu sejak Hasan merasakan manisnya bibir Alkea, sekarang pria itu sedang mengenakan pakaian pengantinnya. Ia akan menikah namun pikirannya hanya tertuju pada Alkea saja. Dira yang akan menjadi pendamping hidupnya, sesaat pun Hasan tidak pernah memikirkan gadis itu. Bisa di bilang Hasan tidak tahu bagaimana rasanya benar-benar merindukan Dira.
Sungguh, hanya Alkea saja yang ada dalam benak Hasan Dinata.
Untuk kesekian kalinya Hasan kembali tersenyum membayangkan manisnya bibir Alkea. Dan Hasan juga sedih saat memikirkan gadis itu menangis karena ulahnya. Jika ia tahu Alkea akan bertingkah seperti kucing liar, ia tidak akan berani menempelkan bibirnya.
"Apa yang sedang di lakukan gadis itu? Apa dia masih marah padaku? Tidak. Tidak." Hasan mencoba meyakinkan dirinya kalau semuanya baik-baik saja.
"Aku yakin dia ada di sini, aku harap dia baik-baik saja saat melihatku mengikat janji dengan Dira." Ucap Hasan lagi sembari menatap pantulan wajah sempurnanya di cermin.
"Tuhan... aku akan menikah, tapi kenapa aku tidak merasakan bahagia? Aku merasa menjadi pria merdeka saat bersama Alkea saja. Sementara dengan Dira...?" Ucapan Hasan tertahan di tenggorokannya, ia membayangkan satu setengah tahun yang sudah ia habiskan dengan Dira sebagai kekasih hatinya.
"Dira memang cantik, tapi aku tidak pernah sebahagia saat bersama Alkea ketika aku bersamanya. Tuhan... ini benar-benar membingungkan, apa aku salah mengambil keputusan ini?" Hasan bertanya pada dirinya sendiri, dan buruknya ia tidak akan pernah tahu jawabannya mengingat dirinya sosok yang selama ini tidak pernah memikirkan Alkea dengan segenap jiwanya.
Pikiran Hasan hanya tertuju pada Alkea saja, perasaan ini serasa membunuhnya. Terus-menerus memikirkan Alkea membuatnya tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Haruskah ia mundur di menit terakhir? Ini benar-benar mustahil mengingat semua tamu yang datang berasal dari kalangan atas saja. Di mulai dari rekan bisnis Hasan, kemudian sampai pada menteri yang merupakan tamu undangan Dira yang merupakan anggota politisi muda.
Tok.Tok.Tok.
Tatapan Hasan tertuju pada pintu, entah siapa yang berada di luar sana yang telah berani mengganggu fokusnya.
"Kenapa kak Hasan lama sekali, sih? Semua orang menunggu kakak karena sekarang saatnya kakak ME-NI-KAH." Maryam menegaskan pada kata menikah setelah melihat wajah murung kakaknya.
"Ada apa?"
"Apa kak Hasan tidak ingin menikah?"
"Masih ada waktu, kak Hasan bisa pergi jika kakak mau." Celetuk Maryam tanpa memikirkan dampak dari ucapannya. Maklum saja, ia hanya gadis remaja yang mencintai Alkea.
"Kakak akan menikah, dan kakak tidak terlihat bahagia. Apa ini sungguh wajah seorang pengantin?" Maryam kembali meledek Hasan, ia menyebikkan bibirnya sambil menatap kakaknya dengan tatapan tajam. Yang membuat Maryam kesal, Hasan benar-benar mengabaikannya.
Sungguh, bagi Maryam, enam jam ini terasa bagai di medan perang, entah berapa kali ia memanjatkan doa pada Tuhan agar pernikahan menyebalkan ini tidak akan pernah terjadi. Akankah Tuhan mendengarkannya? Maryam sendiri tidak tahu jawabannya, yang ia tahu, memikirkan Dira menjadi iparnya membuatnya meradang. Popularitas dan wajah bak Bidadari yang turun dari kayangan, semua itu ada dalam diri Dira, namun Maryam gadis yang cerdas, ia tidak melihat itu sebagai syarat untuk menjadi calon iparnya, karena baginya kesatu Alkea, kedua Alkea dan selamanya Alkea, hanya Alkea yang pantas menjadi kakak iparnya.
"Apa Alkea sudah datang?"
"Apa dia bersama tante Yuna?"
"Dimana dia duduk?"
"Di depan, atau di belakang?" Hasan mencecar Maryam dengan pertanyaan menuntutnya. Ia terlalu penasaran, ia ingin melihat wajah Alkea untuk terahir kalinya sebelum ia benar-benar mengabaikan gadis itu untuk masa yang akan datang.
"Kenapa?" Maryam menaikkan kedua alisnya, bibirnya mengukir senyuman hanya untuk menggoda Hasan.
"Apa kakak merindukan kak Alkea?" Maryam menuntut jawaban, bibir tipisnya tak bisa berhenti tersenyum.
Pletak!
Bukannya mendapat jawaban, Hasan malah menyentil jidat adik kesayangannya. Sontak, hal itu langsung membuat Maryam menggeliat, kulit putihnya tampak memerah bekas sentilan Hasan.
"Dasar, kau kakak yang jahat." Celetuk Maryam sembari mengusap jidatnya.
"Kau masih kecil, jadi jangan campuri urusan orang dewasa. Apa kau paham?" Hasan menunjuk Maryam sambil memegang dagu adik kesayangannya.
"Iya, baiklah." Jawab Maryam dengan suara nyaris tak terdengar.
"Sekarang jawab pertanyaan kakak, apa Alkea sudah datang?"
"Belum!"
"Lalu kemana gadis itu pergi? Bukankah ia berjanji akan menghadiri pernikahan kakak!"
"Kakak benar-benar gila, untuk apa kakak meminta kak Alkea menghadiri pernikahan pria yang paling ia cinta? Jika aku jadi kak Alkea, aku juga tidak akan pernah datang walau hanya di dalam mimpi." Ujar Maryam kesal.
"Apa aku salah?" Hasan bertanya pada dirinya sendiri, suaranya sangat kecil namun bisa di pahami oleh Maryam setelah melihat gerakan bibir kakaknya.
"Iya, tentu saja. Maksudku, kakak sangat bersalah. Seharusnya kakak tidak perlu memaksa kak Alkea untuk datang, itu akan menyakitinya.
Aku tahu kakak tidak pernah kehilangan siapapun, namun yang pasti, kehilangan orang yang kita cintai itu benar-benar menyakitkan.
Aits, jangan salah paham, aku tahu itu karena aku sering membacanya di surat kabar." Setelah mengatakan hal yang ia pikirkan, Maryam langsung meninggalkan Hasan. Ia berharap kakaknya itu akan mengurungkan niatnya dan mengusir Dira dari hidup mereka. Apa itu terlalu mustahil? Jawabannya mungkin saja tidak karena segalanya bisa saja berubah di menit terakhir.
"O iya, satu lagi. Semua orang sedang menunggu kakak di bawah. Sepuluh menit lagi pernikahan kakak akan di langsungkan dengan kak Alkea. Upps, maaf, maksudku DI-RA." Maryam pura-pura lupa nama calon kakak iparnya, setidaknya Hasan bisa menangkap maksud tersembunyi adik kesayangannya. Selama ini, Hasan memang tahu kalau adik perempuannya itu tidak menyukai Dira, namun tetap saja ia tidak ingin menyerah karena bagi Hasan bahagianya tidak tergantung pada orang lain, namun bahagia ada di tangannya sendiri.
Sepuluh menit kemudian, Hasan benar-benar berada di ballroom hotel. Butuh keberanian besar untuk melangkahkan kakinya, dan saat ini ia sedang menyalami beberapa tamu penting yang hadir di acara besarnya. Sungguh, senyuman paksaan tak sekalipun lepas dari bibir indahnya, bibir yang beberapa jam lalu telah berhasil mencium bibir Alkea secara paksa.
"Para tamu undangan di persilahkan untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan, waktunya untuk mempelai pria mengikrarkan sumpah setianya untuk mempelai wanita tercintanya." Ucap MC dengan suara merdunya.
Dag.Dig.Dug.
Dada Hasan berdebar, netranya menyapu kesegala arah, mencoba mencari satu sosok yang entah kenapa tiba-tiba ia rindukan. Ia kecewa karena tak bisa menemukan sosok yang ingin di lihat netranya.
Kau di mana? Seharusnya kau ada di sini dan melepasku dengan senyuman. Jika kau tidak ada, apa yang harus ku lakukan? Batin Hasan sembari menatap kedua penghulu yang duduk di depannya.
Tepuk tangan para tamu undangan bergema di indra pendengaran Hasan kala Dira muncul di Ballroom hotel, semua mata tertuju pada gadis itu, pesona indahnya berhasil membuat pada pemuda yang hadir sore ini merasa iri pada Hasan.
Balutan gaun pengantin berwarna keemasan nampak indah di tubuh langsing Dira Handoko. Wajah cantik sempurna, di tambah popularitasnya sebagai politisi muda benar-benar membuat seluruh gadis di semesta merasa iri padanya.
"Masya Allah... menantumu benar-benar sempurna kakak ipar." Sanjung Baba Zain tatkala melihat Dira duduk di samping Hasan.
"Aku berharap putriku akan mendapatkan pendamping yang baik seperti Hasan." Sambung Baba Zain lagi.
Sungguh, ucapan Baba Zain kembali membuat Umma Yuna meneteskan air mata, ia membayangkan putri berharganya yang duduk di samping Hasan.
"Kau di mana, nak? Kenapa belum datang?" Umma Yuna menatap arlogi di pergelangan tangannya, ia merasa khawatir karena Alkea tak kunjung datang.
"Kakak, aku khawatir. Kenapa putriku belum datang?" Umma Yuna berbisik di telinga Ummi Raina.
"Kau tenang saja, dek. Aku yakin Alkea kita dalam perjalanan. Dia tidak akan mengingkari janjinya untuk datang." Balas Ummi Raina mencoba meyakinkan Umma Yuna. Hasan yang duduk di depan penghulu pun tampak khawatir setelah melihat Umma Yuna yang tampak gusar.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Sry C'cipit Tea
meskipun salah...tp aku berharap pernikahan Hasan batal
2023-07-29
4