Ya Rabb... kenapa jantungku berdebar sangat cepat? Aku sangat khawatir, apa ini terlalu berlebihan? Bagaimana jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada putriku? Aku akan tiada! Batin Umma Yuna sembari menghapus keringat yang memenuhi dahinya. Ballroom hotel sangat dingin, namun Umma Yuna satu-satunya orang yang merasakan kepanasan. Sejak dua jam terakhir ia merasa putri berharganya tak lagi miliknya. Rasa takut itu semakin nyata saat ia menyadari tak sekalipun Alkea memberikan kabar tentang keberadaannya, untuk pertama kalinya Umma Yuna merasakan takut yang berhasil melumpuhkan jiwanya.
"Kak Raina, entah kenapa perasaanku tidak enak, aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi." Umma Yuna berbisik di telinga Ummi Raina, dua wanita paruh baya itu saling menatap, ketakutan jelas tergambar di wajah Umma Yuna, menyadari hal itu membuat Ummi Raina terpaksa memamerkan senyuman palsunya, ia tidak ingin menampakkan kekhawatiran yang sama karena itulah...
"Ayolah, Yuna. Kau tahu sendiri putrimu, Alkea kita sangat nakal. Terkadang ia bertingkah tidak sesuai dengan ucapannya. Aku pikir, sekarang dia pasti duduk di suatu tempat, berusaha menguatkan diri kemudian berlari kemari.
Dia sangat menggemaskan, dan dia tidak akan mengingkari janjinya untuk menghadiri pernikahan Hasan." Ummi Raina menepuk pundak Umma Yuna, begitulah cara singkatnya untuk menenangkan adik iparnya. Hal itu terbukti, Umma Yuna tidak takut lagi. Hanya saja, memikirkan Alkea yang tak kunjung datang membuatnya tidak bisa menepis kekhawatirannya.
Kenapa Ummi dan tante Yuna terlihat khawatir? Apa terjadi hal yang buruk? Aku harap tidak. Hasan bergumam di dalam hatinya. Ia tersenyum sambil menatap wajah cantik Dira, gadis itu tampak bahagia. Dira memang cantik, sayangnya kecantikan itu tidak bisa membuat dadanya berdebar.
Untuk apa pernikahan ini terjadi saat Hasan sendiri tidak bisa merasakan cinta pada wanita yang lima menit lagi akan menyandang status sebagai istrinya? Kata orang, cinta bisa tumbuh jika kita menghabiskan banyak waktu dengan pasangan, Hasan berharap ia bisa menghadirkan cinta di dalam hatinya untuk Dira.
Untuk terakhir kalinya, netra Hasan menatap kearah pintu masuk tamu undangan, ia berharap Alkea akan muncul dari sana dengan senyuman. Sayangnya, itu hanya angan-angannya saja, pintu itu tetap tertutup dan bangku yang di sediakan untuk Alkea pun masih kosong.
Ribuan tamu yang datang tampak bahagia saat melihat Hasan mulai menjabat tangan sang wali nikah, sementara itu Baba Zain dan Abbi Shawn bertindak sebagai saksi. Sungguh, semua orang hanya menunggu satu kata saja, yakni kata 'SAH' dari saksi nikah.
Hasan memejamkan mata, ia menghadirkan wajah Alkea dalam benaknya. Kenapa Alkea, dan kenapa bukan Dira? Sungguh, hal ini sangat mengganggu Hasan yang masih bingung dengan perasaannya. Ia memiliki otak yang cerdas, namun buruknya, ia tidak bisa mengerti keinginan hatiya sendiri.
Hasan kembali menatap wajah Umma Yuna, masih saja ia menangkap kekhawatiran dari wajah tantenya, dan hal itu semakin membuat Hasan hilang akal. Tak ingin memikirkan Alkea, Hasan berusaha kembali ke akal sehatnya. Dan tentu saja ia juga harus melafalkan bagiannya untuk menjadikan Dira sebagai miliknya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dira Handoko binti Handoko dengan maska..." Ucapan Hasan tertahan di tenggorokannya, teriakan Umma Yuna membuatnya hilang fokus. Bukan hanya Hasan, bahkan saat ini semua mata hanya tertuju pada Umma Yuna saja, tangannya memegang benda pipih yang masih tertempel di telinganya, Hasan yakin ada yang tidak beres.
"Tidakkk." Umma Yuna berteriak, air mata mulai membasahi wajahnya.
Apa terjadi hal buruk pada Alkea? Hasan melompat, berlari mendekati Umma Yuna yang kemudian di ikuti oleh Baba Zain dan Abbi Shawn. Ballroom yang tadinya senyap berubah riuh, orang-orang mulai bergosip tak mengerti dengan kondisi ini.
"Ada apa Umma? Kenapa Umma berteriak?" Baba Zain bertanya pada istri tersayangnya dengan kekhawatiran tingkat tinggi.
"Pu-pu-pu..." Umma Yuna tidak bisa bicara, wajahnya pucat, ketakutan ini memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya.
"Ada apa Ummi? Ada apa?" Hasan angkat bicara, ia menatap wajah terkejut Ummi Raina.
"Iya, ada apa Ummi? Kenapa Yuna tiba-tiba histeris?" Kali ini giliran Abbi Shawn yang mengurai tanyanya. Ia juga tak mengerti.
"Ummi tidak tahu, Bi. Yuna menerima panggilan sambil berbisik, setelah itu kondisinya seperti ini." Jawab Ummi Raina jujur.
"Lihat, panggilannya masih terhubung, tanyakan pada Alkea, ada apa? Dengan begitu kita semua akan mengetahui ada apa sebenarnya." Sambung Ummi Raina lagi. Tanpa berpikir panjang, Hasan merebut ponsel Umma Yuna dari tangan Umminya, ia menempelkan benda pipih itu di telinganya.
Tak butuh waktu lama, kondisi Hasan pun terlihat sama seperti Umma Yuna. Ia terkejut, dadanya berdebar sangat kencang seolah jantungnya akan loncat keluar. Kondisi ini sangat menakutkan, dan Hasan pun mulai menyesali tingkahnya pada Alkea.
"Kenapa, nak? Ada apa sebenarnya?"
Hasan menatap Umma Yuna yang terlihat tak berdaya. Kejutan ini menyerang jiwanya.
"Ummi, Abbi, Om Zain, Alkea ada di rumah sakit. Dia tertembak saat dalam perjalanan menuju tempat ini." Hasan memberikan kabar buruknya. Baba Zain hampir saja jatuh namun Abbi Shawn menopang tubuh jangkungnya.
"Kita harus kerumah sakit, sekarang." Ucap Hasan menegaskan. Ia berlari ingin meninggalkan kerumunan.
"Hasan, kau mau kemana? Hari ini kau akan menikahi putriku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi, dan aku tidak perduli dengan yang lain." Sentak pak Handoko, ia menggenggam lengan Hasan cukup keras.
Dira, gadis itu sedang menangis. Semua mata menatapnya dengan kasihan. Untuk pertama kalinya ia mendapat penolakan, dan itu dari pria yang paling ia cintai di semsta.
"Aku tidak perduli dengan pernikahan ini, aku harus pergi. Jangan coba-coba untuk menahanku, karena siapa pun yang berani melakukan itu, aku berjanji akan membuat hidupnya sengsara." Hasan menunjuk tuan Handoko, dengan kasar ia melepaskan tangan pria paruh baya itu dari lengannya.
Di menit selanjutnya, semua anggota keluarga Dinata dan Lucca telah pergi meninggalkan hotel, menyisakan keluarga Dira dan tamu undangan yang satu per satu mulai meninggalkan ballroom hotel.
Kecewa dan dendam. Dua hal itu mulai memenuhi Dira Handoko, sebelumnya tidak ada yang berani mempermalukannya. Namun hari ini wajahnya seolah di penuhi oleh tinta hitam.
Aku bersumpah, aku akan memberikan kalian balasan. Batin Dira sembari menggigit bibir bawahnya, gadis gila itu tidak merasakan sakit walau ia tahu bibirnya berdarah karena ulahnya sendiri.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Asri Rahayu
pertunjukkan segera di mulai
aku suka... aku suka...
2024-03-31
3
Lilik Juhariah
bagus ceritanya , sukaaa
2024-01-04
0
Rita Riau
pasti pria yg ditolong Alkea tadi yg telpon umma Yuna ,,,,
apa ada hubungan nya dgn keluarga Handoko 🤔🤔
2023-12-22
0