Tiga puluh menit dan lima belas detik, itulah yang Alkea butuhkan agar bisa sampai di perusahaan Genius Group yang di kepalai Abbi Shawn. Ralat, bukan Abbi Shawn lagi, tapi putra satu-satunya, Hasan Dinata.
Sekuat apa pun Hasan mencoba mengusirnya, Alkea selalu kembali laksana surga yang tak di rindukan. Selangkah demi selangkah ia lakukan agar bisa dekat dengan Hasan-nya. Walau ingin berhenti, tetap saja hati dan pikirannya menolak. Inilah alasannya Islam melarang pacaran dan mengajarkan pada penganutnya mencintai seseorang sekedarnya saja agar tidak ada keterikatan.
Jika hati tak terikat pada siapa pun sebelum akad pernikahan, maka mustahil bagi hati untuk merasakan penghianatan, penolakan apa lagi rasa sakit tak berdasar.
Terlanjur basah, ya sudah mau bagaimana lagi! Memang tidak ada jalan untuk kembali, namun masih ada harapan utuk selalu bertahan. Bukan bertahan untuk kembali di patahkan seperti ranting kering yang tak di butuhkan, namun bertahan untuk hidup dalam harapan dan meminta berkah dari Tuhan agar di mudahkan, karena sejatinya segala yang ada di langit dan di bumi adalah miliknya.
Alkea berjalan di lobi sembari menahan kekhawatiran, gadis itu terlihat gugup namun ia berusaha menahan diri agar tidak melakukan kesalahan. Terakhir kali datang, Alkea mengacaukan segalanya karena membuat rapat Hasan berantakan. Jangan tanyakan apakah pria itu marah atau tidak? Karena jawabannya tentu saja si kasar itu membentak Alkea dengan mata menyala, menakutkan.
"No-nona Alkea..." Seorang wanita menyapa Alkea, matanya terlihat bengkak. Bukan satu atau dua orang yang mencegah langkahnya, namun tujuh wanita yang rata-rata usianya di atas Alkea. Mereka menenteng kotak di tangannya. Bukankah ini masih jam kerja? Lalu kenapa mereka pulang bersamaan, Alkea yakin pasti ada yang salah.
"Ya, ada yang bisa ku bantu?" Alkea bertanya dengan nada suara lembut. Bukannya menjawab pertanyaan, wanita itu malah berlutut. Wajahnya terlihat layu layaknya tanaman yang di singkirkan dari taman.
Apa yang di lakukan Baby Hasan? Kenapa dia menindas wanita-wanita ini? Kesalahan apa yang mereka buat sampai tak termaafkan? Alkea bergumam di dalam hatinya sembari membantu wanita itu bangun dari lantai.
"Ada apa?"
"Kenapa kalian menangis?"
"Aku rasa kita tidak saling mengenal sampai aku menjadi penyebab tangis kalian!" Ujar Alkea sambil melipat lengan di depan dada.
"Hiks.Hiks. Nona, kami minta maaf, tolong bicaralah dengan tuan Hasan." Wanita itu memelas, wajahnya terlihat kelam. Alkea yakin dia tidak sedang berpura-pura.
"Maafkan aku. Aku tidak punya urusan dengan urusan kantor. Jika kak Hasan sudah memutuskan, maka aku yakin itu keputusan yang benar. Permisi." Alkea melangkah pergi, sejujurnya ia merasa kasihan. Namun mau bagaimana lagi. Kebenarannya, Alkea tidak memiliki andil apa pun, jika ia mengiba pada Hasan Dinata, sama saja dengan bunuh diri, pria itu tidak akan mendengar siapa pun jika sudah memutuskan.
Tok.Tok.Tok.
Alkea mengetuk pintu begitu ia tiba di depan kantor Hasan, tak ada jawaban membuat Alkea masuk tanpa beban.
Huh. Huh.
Begitu daun pintu mulai terbuka, Alkea terlihat sedih, ia menatap Hasan yang sedang meniup kakinya yang terluka.
"Apa itu sangat sakit?"
"Biarkan aku yang melakukannya." Alkea mengambil obat yang ada di tangan Hasan. Pria itu menolak, ia menarik obat itu dari tangan Alkea secara paksa.
"Aku tidak suka meminta bantuan pada siapa pun selama aku bisa melakukannya. Singkirkan tangan mu atau aku akan merasa bersalah pada Dira."
"Aku tidak akan mendengarmu, aku juga tidak perduli pada pendapat Dira tentang diriku. Yang aku tahu, aku merasakan sakit saat melihatmu terluka." Alkea mulai menggerakkan tangannya, ia membersihkan luka Hasan dengan perlahan. Entah bagaimana pria menyebalkan itu bisa terluka.
Lima menit berlalu sejak Alkea mulai mengobati kaki Hasan, tak ada sepatah kata pun keluar dari lisannya. Begitu pun dengan Hasan, pria menyebalkan itu berubah menjadi pendiam.
Sementara Bayu, asistennya. Pria itu berdiri di dekat pintu, gara-gara pesan singkatnya Alkea berlari menemui Hasan. Jika Alkea bisa, dia ingin menjitak kepala pria konyol itu. Ia tahu tuannya tidak suka di ganggu, namun setiap saat ia bertingkah seperti informan rahasia, memberitahukan kondisi Hasan pada Alkea dari waktu ke waktu. Apakah Bayu teman atau lawan, Alkea sendiri tidak bisa menyimpulkannya. Yang jelas, setiap kali ia bersama Hasan, semuanya atas andil Bayu, pria cuek namun baik hati.
"Ak... aku, aku bertemu dengan beberapa wanita di lobi, mereka terlihat sedih dan memintaku bicara dengan Baby Hasan. Ahh, maaf. Maksudku, kak Hasan." Alkea mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Ia menutup kotak obat kemudian meletakkannya di atas meja. Wajahnya terlihat takut, namun ia harus bicara. Ia tidak ingin gara-gara dirinya orang lain mengalami ketidak adilan.
"Apa mereka di pecat? Apa karena mereka membicarakan ku? Jangan lakukan itu!" Sambung Alkea lagi.
Hasan kembali kesal. Ia merasa wanita di depannya telah berani melewati batasan antara apa yang boleh dan yang tidak boleh ia lakukan.
"Haha!" Hasan terkekeh, seolah sedang mendengar lelucon.
"Kenapa? Apa ucapanku salah? Tidak, kan?" Ucap Alkea dengan wajah heran. Tawa Hasan seketika menghilang.
Oh my god. Dua makhluk itu pasti akan mulai berdebat. Apa yang harus ku lakukan? Saat tuan bicara dengan nona Alkea, tidak ada yang bisa menahannya. Bayu berusaha keras menahan langkahnya, ia merasa bersalah. Dia juga ikut andil dalam masalah ini, seandainya ia tidak berperan menjatuhkan Hasan, pria itu tidak akan terluka dan dia pun tidak perlu memanggil Alkea. Rencananya gagal total untuk memastikan Hasan dekat dengan Alkea, bukan dengan rubah yang selalu berpura-pura baik di depannya, siapa lagi kalau bukan Dira Handoko.
"Salah! Kau salah besar." Balas Hasan sembari menggerakkan jari tengahnya, tatapan mata pria itu seolah sedang meledek lawannya.
"Untuk apa kau mencampuri urusan kantor yang tidak ada kaitannya denganmu? Wanita payah itu memintamu bicara padaku, lalu kau tanpa takut mulai menampakkan wajahmu. Kau tahu aku kan? Jadi, jangan pernah ikut campur dalam urusanku.
Entah di kantor atau di rumah, bagiku kau bukan siapa-siapa. Menjauh dariku sebelum kau terluka. Aku benci pada orang yang pura-pura tuli." Hasan mengungkapkan apa yang tidak ingin ia ungkapkan, entah apa alasannya sampai ia berusaha keras menendang Alkea.
"Seperti dirimu!" Sambung Hasan lagi.
Ini bukan yang pertama kalinya Hasan bicara kasar pada Alkea, namun tetap saja wanita itu terkejut setiap kali mendengar ucapan sepupunya itu.
"Aku tidak pernah berpura-pura tuli, aku juga tidak pernah bersikap pura-pura perduli. Semua yang ku lakukan, hanya atas nama cinta. Maafkan aku karena membuat Baby Hasan merasa terbebani." Berat bagi Alkea mengakui kebenarannya, ia bahkan menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tipis yang coba ia paksakan.
"Baby Hasan? Kau tahu aku tidak suka mendengarnya?" Sentak Hasan dengan nada suara tinggi.
Alkea yang malang, ia mundur selangkah, ia terlihat shock. Walau cukup lama mengenal Hasan, untuk pertama kalinya pria itu berteriak di depannya.
"Jangan pernah ulangi kesalahan itu, cukup lama aku mendengar omong-kosong mu. Atas nama cinta? Cih, persetan dengan semua itu. Menjauhlah dariku dan jangan pernah berkeliaran di dekatku."
Bagai di sambar petir, sekujur tubuh Alkea tiba-tiba luruh ke lantai. Hasan terkejut namun ia lebih memilih mengabaikan Alkea, ia membelakangi gadis itu tanpa menyesali ucapan kasarnya.
"Dan kau, Bayu!" Sentak Hasan lagi, kali ini ia menatap tajam pada asistennya.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan, kau membuatku terluka dan memanggil Alkea. Jangan ulangi lagi, atau kau akan menyesalinya seumur hidupmu."
Glekk!
Bayu menelan saliva, ia tidak takut pada tuannya. Ia merasa bersalah pada Alkea, ia berpikir tuannya akan menyadari perasaannya, namun sebaliknya sikap yang di tunjukkan tuannya seperti api yang siap membakar segala hal yang ada di sekitarnya.
"Ii... itu, itu bukan salah Bayu. Jangan memarahinya. Baby... ahh, maaf, maksudku dia... dia." Alkea terlaku gugup, ia berusaha bangun dari lantai sembari menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.
"Kebiasaan lama memang sulit di lepaskan. Aku akan berusaha untuk tidak memanggilmu Baby lagi. Aku juga akan menjauhimu. Baby... ahh, maaf. Maksudku, kau tidak perlu lagi menghiraukanku. Aku minta maaf untuk tujuh tahun yang ku lewati dengan mengganggumu.
Sekarang, tidak ada lagi Alkea si pengganggu. Dan tidak ada lagi Alkea yang selalu berkeliaran disisi mu." Alkea berjalan perlahan, ia melewati Bayu. Pria itu tidak berani menatapnya, ia terlalu malu gara-gara dirinya perdebantan itu terjadi. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri.
Cinta itu bagai air, sanggup menghilangkan dahaga dan menyenangkan jiwa. Namun, bagi srbagian orang, terkadang cinta itu bagai kegelapan, membunuh dalam diam dan memaksa pengagumnya untuk terlibat dalam tangis kesedihan. Cinta, bahagia, dan duka, Alkea merasakan ketiganya. Semoga Tuhan membimbingnya hingga ia tak perlu larut dalam kesedihan panjang akibat penolakan yang berhasil membuatnya mati rasa.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
udahlah.. alkea...
cowok udah bicara kasar gitu pun
masih jg disamperin....
yok cabut!!!
2024-09-19
0
Asri Rahayu
kalau nanti sudah jauh baru terasa
2024-03-31
4
Rita Riau
udah Al tinggalin aja cowok sombong,,, songong arogan kayak si Hasan itu,,, buat dia nyesel
ga usah kamu peduliin lagi,,,
2023-12-22
1