Alea sendirian saja di kelas, ia sedang duduk bersandar sambil menyangga dagunya, memikirkan kejadian tadi malam.
"Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas, bagaimana aku bisa tidur bersama dengannya, bahkan memeluknya. Tapi jujur saja aku merasa nyaman." Batin Alea sambil melamun.
"Alea, sedang apa sendirian di sini?" Tanya Mico duduk di sampingnya.
"Alea!" Kata Mico dengan nada lebih keras.
"Eh iya."
"Lagi mikirin apa sih kok melamun?" Tanya Mico.
"Gak kok, gak mikirin apa-apa." Jawab Alea.
"Kenapa kamu tidak ke kantin?" Tanya Mico.
"Lagi malas." Jawab Alea.
"Apa ada masalah, kamu terlihat kurang baik hari ini?" Tanya Mico.
"Tidak." Jawab Alea.
"Tidak apa-apa, Al. Cerita saja." Kata Mico.
"Tadi malam traumaku kambuh." Jawab Alea pelan.
"Kamu punya trauma? Sejak kapan?" Tanya Mico.
"Iya, tadi malam saat aku sendiri di kamar tiba-tiba mati lampu. Sejak kecil sekitar usia tujuh tahun." Jawab Alea.
"Kenapa tidak ke psikiater?" Tanya Mico.
"Aku tidak mau." Jawab Alea.
"Sebenarnya tidak ada yang peduli." Batin Alea.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin sembuh?" Tanya Mico heran.
"Aku takut." Jawab Alea.
"Kenapa takut, apa tidak ada yang ingin menemanimu?" Tanya Mico lagi.
"Tidak bukan begitu." Jawab Alea.
"Bagaimana aku menjelaskannya, kenapa juga aku bercerita kepadanya." Batin Alea bingung.
"Lalu kenapa?" Tanya Mico.
"Kenapa dia begitu cerewet." Batin Alea.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku akan kekantin sekarang." Kata Alea kemudian pergi begitu saja.
"Ada apa dengannya, sepertinya ada yang dia sembunyikan." Batin Mico sambil melihat kepergian Alea.
.....
Ardi dan Alea sedang menonton televisi di ruang tamu sambil makan camilan. Tiba-tiba saja ada seekor kecoa merayap di sofa entah dari mana asalnya, tepatnya di samping Ardi.
"Aaaa!! Ada kecoa!" Teriak Ardi kemudian meluk Alea.
"Haduh, mengganggu saja." Kata Alea.
"Mana kecoanya, sudah pergi. Lagi pula kenapa kamu sangat takut dengan kecoa?" Tanya Alea heran.
"Dulu waktu aku masih kecil, bermimpi di kejar kecoa raksasa dan setelah aku bangun ada seekor kecoa di hudungku. Seakan kecoa itu ingin memakanku. Hiiii" Jelas Ardi.
"Hahaha." Tawa Alea mendengar penjelasan Ardi.
"Kenapa tertawa, aku serius." Protes Ardi.
"Oke oke. Kenapa masih memelukku?" Tanya Alea.
"Refleks." Jawab Ardi sambil melepaskan pelukannya dari Alea.
Belum selesai sampai di situ, kecoa tadi masih saja berkeliaran di ruang tamu. Kini kecoa itu malah naik ke kaki Ardi.
"Aaaa!! Alea!! Kecoa!!" Teriak Ardi sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Jangan berteriak!!" Teriak Alea kesal.
Belum sempat Ardi meredamkan rasa takutnya, tiba-tiba saja mati lampu.
"Aaaa!!" Teriak Alea kemudian memeluk Ardi.
"Alea! Kecoanya!" Teriak Ardi.
"Gelap!" Teriak Alea.
"Kecoanya Alea, kecoanya." Kata Ardi.
"Gelap dasar payah, gelap." Kata Alea.
"Kecoanya Alea." Kata Ardi dengan suara pelan.
"Gelap payah." Kata Alea dengan suara pelan juga.
"Aaaaa!! Ibuuu!!" Teriak Alea dan Ardi bersama sambil berpelukan meringkuk di sofa karena sama-sama ketakutan.
"Kenapa tetangga sebelah berisik sekali, mereka sedang apa." Kata para tetangga mendengar suara berisik Alea dan Ardi.
Tak lama kemudian lampunya menyala lagi dan kebetulan Rama dan Tantri sudah pulang.
"Astaghfirullah, kalian kenapa?" Tanya Tantri setelah melihat Alea dan Ardi sedang berpelukan dengan berlinangan air mata.
"Ibuuu." Kata Ardi dan Alea bersama dengan nada pelan.
Tantri dan Rama pun hanya saling pandang bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian Alea dan Ardi menceritakan apa yang terjadi, setelah mereka sudah bisa tenang.
"Ingin ketawa tapi kok kasihan." Batin Rama sambil memegang jidatnya setelah mendengar cerita dari Alea dan Ardi.
"Haduh, lihatlah kalian ini sudah besar. Bukan anak kecil lagi." Kata Rama.
"Semua orang punya rasa takutnya sendiri-sendiri, Ayah." Kata Ardi.
"Kalau begitu kalian harus saling kerja sama untuk mengalahkan rasa takut kalian." Kata Tantri.
"Bagaimana caranya, Ibu. Jika kejadiannya secara bersama seperti tadi. Untung saja ibu dan ayah segera pulang, jika tidak entah bagaimana nasip kita." Kata Ardi.
"Cobalah pelan-pelan. Saling memberi dukungan, saling memberi semangat, saling memberi solusi bagaimana melawan rasa takut itu. Kalian mengerti" Jelas Tantri.
Alea dan Ardi hanya menggelengkan kepala tanda tidak mengerti, karena otak mereka ngebleng gara-gara ketakutan.
"Jadi gini, Ardi takut kecoa sedangkan Alea tidak, jadi Alea membantu Ardi untuk tidak takut lagi dengan kecoa. Begitu juga sebaliknya. Sudah paham." Jelas Tantri lagi.
Alea dan Ardi pun menggangguk mengerti.
"Ini sudah malam, pergi tidur sana." Kata Tantri.
"Iya, Bu." Kata Ardi dan Alea bersama, kemudian pergi ke kamarnya Ardi. Mereka akan tidur bersama lagi.
"Hahaha, mereka itu ada-ada saja." Kata Rama terkekeh melihat tingkah putra dan menantunya.
"Jangan di ketawain, Mas." Kata Tantri.
"Abis mereka lucu." Kata Rama.
.....
"Alea, coba periksa dulu nanti ada kecoanya." Kata Ardi sambil menunjuk tempat tidur.
"Ya sebentar." Kata Alea kemudian memeriksa tempat tidur, mulai dari selimut kemudian memeriksa di bawah bantal hingga di sekeliling kamar.
"Alea, itu ada di sana." Kata Ardi sambil menunjuk seekor kecoa berada di sudut kamar.
"Tenang, biar aku yang urus." Kata Alea sambil celingak-celinguk mencari benda untuk di gunakan memukul kecoa.
"Lihat baik-baik, kecoa itu kecil. Kamu tinggal mencari benda untuk memukulnya." Kata Alea menunjukkan sapu penebah di tangannya.
"Seperti ini." Kata Alea sambil memukul kecoa.
"Nah kan kecoanya mati. Tinggal di buang, dia tidak akan menggigitmu." Kata Alea menunjukkan kecoa yang telah mati.
"Kamu pikir mudah, meski kecil tetap saja menyeramkan." Kata Ardi.
"Iya memang tidak, sebentar aku buang dulu." Kata Alea berjalan keluar kamar.
"Kenapa kembali?" Tanya Ardi melihat Alea kembali setelah baru melewati pintu.
"Di luar gelap." Jawab Alea teringat kalau waktu sudah malam.
"Lewat jendela saja." Kata Ardi memberi saran.
"Benar juga, kenapa tidak kepikiran." Kata Alea kemudian membuka sedikit jendela dan membuang kecoanya.
"Ya sudah, ayo tidur sudah malam!" Kata Ardi.
Baru satu langkah Alea berjalan, tiba-tiba saja mati lampu lagi, Ardi pun segera menghampiri Alea dan memeluknya.
"Jangan takut, aku ada disini."
Kata Ardi menenangkan Alea.
"Tidak akan terjadi apa-apa, aku akan selalu menjagamu." Kata Ardi lagi.
Alea merasa lebih aman karena mendengar perkataan Ardi dan membalas pelukannya dengan lembut.
"Ya sudah, ayo kita tidur!" Ajak Ardi setelah lampunya kembali menyala.
"Sebenarnya ada apa dengan hari ini, banyak kecoa muncul dan sering mati lampu. Menyebalkan." Batin Ardi kesal.
Mulai hari itu Alea dan Ardi saling bekerja sama untuk menyembuhkan trauma yang di miliki satu sama lain.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments