Permainan pun berakhir, kali ini tim Toni dan Arga yang lebih banyak mencetak gol.
"Lihat sendirikan, kami bisa mengalahkanmu." Kata Arga.
"Ya aku akui, kalian memang hebat." Kata Alea.
"Makanya jadi orang jangan sombong." Kata Toni.
"Iya deh, aku ngaku kalah. Tim kalian yang terbaik." Kata Alea.
"Tentu, iyakan bro." Kata Toni.
"Iya dong bro." Kata Arga sambil tos dengan Toni.
"Udah sore nih, kita pulang yuk!" Kata Mico.
"Iya benar juga." Kata Alea.
"Tunggu dulu!" Kata Rita.
"Ada apa, Rit?" Tanya Alea.
"Hei,Toni! Kamu belum minta maaf kepadaku." Kata Rita.
"Untuk apa aku minta maaf padamu?" Tanya Toni.
"Tentu saja karena telah berbuat salah, pake nanya lagi." Jawab Rita.
"Memangnya aku punya masalah apa padamu?" Tanya Toni santay.
"Kamu ini benar-benar menyebalkan ya. Kemarin karena sudah menabrakku." Kata Rita kesal.
"Ooo itu, aku tidak ingat." Kata Toni.
"Hei, Ton. Jangan begitu, lihat itu dia sudah mengeluarkan tanduknya. Nanti kamu di sruduk lo." Kata Arga.
"Oh iya, aku baru ingat diakan putri banteng." Kata Toni.
"Hahaha." Tawa Toni dan Arga.
"Apa katamu?" Tanya Rita sambil mengngkat sepatunya.
"Putri banteng sudah marah, Ton." Kata Arga.
"Gawat, ayo kita kabur." Kata Toni mengajak Arga untuk lari.
"Hei berhenti! Mau kemana kalian! Pengecut!" Teriak Rita.
"Daaa putri banteng!!" Teriak Toni dari jauh.
"Ih nyebelin banget sih, awas saja nanti." Kata Rita sambil menghentakkan kakinya.
"Hihihi." Tawa Alea, Fani dan Mico.
"Kenapa kalian ketawa?" Tanya Rita kesal.
"Ayo pulang!" Kata Fani berjalan lebih dulu.
"Iya." Kata Fani.
"Alea, Mico kita duluan ya." Kata Fani.
"Iya, sampai jumpa besuk." Kata Alea.
"Hei, putri banteng tunggu!" Kata Fani sambil mengejar Rita.
"Diam, gak usah ikut-ikutan." Kata Rita.
"Alea, rencanamu berhasil untuk mendamaikan Toni dan Arga." Kata Mico.
"Luar biasa." Kata Mico sambil mengacungkan dua jempol.
Alea hanya tersenyum menanggapinya.
Alea memang sengaja merencanakan itu untuk mendamaikan Toni dan Arga dan ia meminta bantuan kepada Mico.
"Alea, kamu mau jalan-jalan gak." Kata Mico.
"Kemana?" Tanya Alea.
"Naik motor, kalau perlu aku anterin pulang." Jawab Mico.
"Boleh, tapi sampai depan komplek aja." Kata Alea.
"Oke." Kata Mico.
"Ya udah ayo, keburu maghrib." Kata Alea sambil menarik tangan Mico.
Mico pun tersenyum bahagia, karena dapat kesempatan bisa berdua dengan Alea.
"Mico!" Teriak Alea.
"Iya." Jawab Mico.
"Kenapa hanya pelan, tambah kecepatannya." Kata Alea.
"Biar lama berduanya." Kata Mico pelan.
"Apa, aku tidak dengar?" Tanya Alea.
"Udara sore dingin, bisa masuk angin nanti." Jawab Mico.
"Oo."
"Oke, sudah sampai." Kata Mico menghentikan motornya setelah sampai di depan komplek, dimana Alea tinggal.
"Terima kasih, Mic." Ucap Alea setelah turun dari motor.
"Sama-sama." Ucap Mico.
"Oke, daaa sampai jumpa besok." Kata Alea sambil melambaikan tangan.
"Iya." Kata Mico sambil melambaikan tangan juga, sambil tetap setia melihat Alea hingga tidak terlihat lagi.
.....
Waktu sudah memasuki maghrib, Ardi pergi memeriksa Alea yang sedang tidur sejak tadi, hingga sekarang belum keluar kamar juga.
Tok tok tok
Ardi mengetuk pintu kamar Alea.
"Alea, bangun sudah maghrib." Kata Ardi mencoba membangunkan Alea, namun tidak ada respon dari dalam.
"Alea!" Teriak Ardi memangil Alea.
"Apa di kamar mandi?" Kata Ardi sambil menempelkan telinganya di pintu.
"Tidak ada suara apa-apa." Kata Ardi setelah mengetahui hanya kesunyian yang ada.
"Pintunya di kunci." Kata Ardi ingin membuka pintunya.
"Alea cepat keluar, atau ku dobrak pintunya." Teriak Ardi lagi.
"Oh iya, sepertinya aku punya kunci cadangannya." Kata Ardi ingat sesuatu dan pergi mencarinya.
Ceklek
Ardi membuka pintu kamar Alea.
"Alea!" Kata Ardi memanggil Alea yang tidak terlihat di kamar.
"Alea!" Kata Ardi memeriksa kamar mandi, namun tidak ada juga.
"Kemana dia?" Kata Ardi sambil melihat sekeliling kamar Alea.
"Jendelanya terbuka." Kata Ardi melihat jendela yang sedikit terbuka.
"Ooo, jadi dia pergi diam-diam. Awas saja nanti." Kata Ardi pergi kearah jendela.
"Nah itu dia orangnya." Kata Ardi melihat Alea yang sedang celingak-celinguk seperti maling yang ingin masuk ke rumah.
Setelah Alea memastikan keadaanya aman, ia langsung memanjat jendela yang setinggi dada. Setelah berhasil masuk, ia di kejutkan oleh Ardi yang sudah menunggunya berdiri di depannya dengan melipat kedua tangannya sambil menatap tajam.
"Waaa." Teriak Alea terkejut.
"Hah mangagetkanku saja." Kata Alea sambil menetralkan detak jantungnya.
"Dari mana kamu?" Tanya Ardi dalam posisi semula.
"Main futsal." Jawab Alea santay.
"Sampai maghrib begini." Kata Ardi.
"Kenapa kamu itu sesukamu sendiri?" Tanya Ardi.
"Kamu sendiri bagaimana, kamu juga mengurung ku di rumah dan memberkan aturan ini itu dengan sesuka hatimu." Protes Alea.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi keluar, karena kamu tidak tahu waktu. Lihat saja ini magrib baru pulang, kemarin sampai malam. Entah pergi kemana." Jelas Ardi.
"Berisik, awas aku mau mandi." Kata Alea ingin pergi ke kamar mandi, namun Ardi menarik tangan Alea kasar dan mendorongnya ke tembok.
"Begitukah caramu bicara kepadaku?" Tanya Ardi mulai emosi.
"Kenapa?" Tanya balik Alea sambil melipat kedua tangannya.
"Apa kamu lupa, perlu ku ingatkan lagi." Kata Ardi sambil menatap tajam Alea.
"Nanti saja, aku mau mandi." Kata Alea ingin pergi namun di hadang oleh Ardi dengan tangan kirinya menapakannya di tembok. Mata mereka saling menatap, tapi bukan tatapan romantis melainkan tatapan tajam.
"Apa maumu?" Tanya Alea.
"Aku ingatkan lagi kepadamu, bahwa aku ini adalah suamimu dan kamu itu tanggung jawabku." Jawab Ardi sambil menatap tajam.
"Lalu, aku ingin mandi. Minggir." Kata Alea berjalan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Ardi.
"Alea! Aku belum selesai bicara denganmu. Keluar!" Teriak Ardi berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Sudah ku bilang aku ingin mandi, bicara lagi nanti." Kata Alea dari dalam kamar mandi.
"Aku ingin bicara denganmu sekarang, cepat keluar atau aku yang masuk!" Teriak Ardi lagi yang sudah tersulut emosi.
"Coba saja kalau berani." Kata Alea membuka sediktit pintu kamar mandi dengan memperlihatkan seekor kecoa di tangannya. Kemudian menutupnya kembali.
Brakk
Ardi memukul pintu kamar mandi karena marah.
"Huft, sabar Ardi sabar." Kata Ardi berusaha meredam amarahnya.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku tahu, kamu bertingkah seperti ini karena kurangnya kasih sayang dari orang tuamu. Tapi di sini kamu sudah mendapatkannya bukan. Jika kamu tidak bisa menghormatiku, setidaknya hormati ayah dan ibu. Mereka menyayangimu seperti putrinya sendiri, apakah begitu caramu membalasnya. Pergi tanpa pamit, keluyuran entah kemana. Kamu itu bukan anak kecil lagi Al. Aku memang keras padamu, tapi sebenarnya aku itu peduli." Jelas Ardi panjang kali lebar.
"Fikirkan itu baik-baik." Kata Ardi kemudian pergi dari kamar Alea.
"Benar juga kata si payah itu, ayah Rama dan Ibu Tantri sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri." Batin Alea merenung di kamar mandi.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Nah kan akhirnya mereka akur,Itulah strategi nya Alea,menyatukan mereka..Hebaatt Alea 👏👏👍👍👍
2024-10-27
0