Alea dan kedua teman barunya sedang asik berjalan-jalan keliling sekolah, ketika melewati lapangan terlihat ramai yang membuat mereka bertiga penasaran dan pergi melihatnya. Ternyata ada yang sedang duel bertanding basket satu lawan satu.
"Mereka berdua tidak pernah akur." Kata Fani.
"Siapa mereka?" Tanya Alea.
"Toni dan Arga, mereka juga teman sekelas kita. Mereka selalu saja berselisih bahkan masalah kecil saja, padahal mereka dulu bersahabat. Entah apa yang membuat mereka jadi begitu." Jawab Fani menjelaskan siapa yang sedang berduel bermain basket.
"Sudahlah, untuk apa melihat mereka. Buang-buang waktu saja, ayo kita pergi dari sini!" Ajak Rita.
Baru saja Rita berbalik badan, tanpa ia duga bola basket menghantam dirinya hingga membuatnya terjatuh.
"Rita!" Teriak Fani dan Alea bersama.
"Kamu gak apa-apa, Rit?" Tanya Fani sambil membantu Rita berdiri.
Sedangkan yang tak sengaja melempar bola, hanya datang mengambil bolanya tanpa peduli dengan Rita dan tidak meminta maaf.
"Heh, Kamu! Main nylonong aja, minta maaf dulu." Kata Alea sedikit berteriak.
"Aku tidak sengaja, lagi pula salah sendiri di situ." Kata orang tersebut yang bernama Toni.
"Yang benar saja." Batin Alea sangat kesal pada Toni, ia pun pergi menghampirinya dan merebut bola yang Toni pegang.
"Begitukah caramu bersikap sebagai mahasiswa?" Tanya Alea.
"Apa maumu?" Bukanya menjawab Toni malah kembali bertanya.
"Minta maaf pada Rita." Jawab Alea.
"Aku tidak punya waktu untuk itu, kembalikan bolanya." Kata Toni.
"Tidak bisa. Jika kamu berani bertandinglah dengan ku, jika aku menang kamu harus minta maaf kepada Rita." Kata Alea menantang Toni bermain basket.
"Apa yang ingin di lakukan oleh Alea?" Tanya Rita.
"Kita lihat saja." Jawab Fani.
"Apa? Aku tidak salah dengar, heh gak usah sok-sokan deh, mending kamu main boneka sana." Kata Toni mengejek.
"Kenapa? Takut bilang aja." Kata Alea tidak mau kalah.
"Aku, takut denganmu, heh aku hasihan padamu." Kata Toni lagi.
"Oh jadi kamu meremehkan aku. Oke, akan aku buktikan." Kata Alea sambil bersiap melempar bola ke ring dari jauh.
"Wah bolanya masuk." Ucap beberapa orang yang ada di sana.
"Oke, siapa takut, aku terima tantanganmu." Kata Toni menerima tantangan dari Alea setelah melihatnya dengan mudah memasukkan bola ke ring.
Alea dan Toni pun bertanding satu lawan satu, beberapa orang melihat pertandingan itu dengan antusias karena melihat kemampuan Alea bermain basket.
"Wah Alea ternyata jago main basket." Kata Rita.
"Iya benar, biar kapok tuh anak sombong." Kata Fani.
"Alea kalahkan dia!" Teriak Fani.
"Apa yang di lakukan bocah ingusan itu? Awas saja kalau membuat masalah." Kata Ardi melihat Alea dari jauh.
"Sedang apa, Pak Ardi?" Tanya seorang guru wanita bernama Indah.
"Mengawasi keponakanku, baru saja pindah ke sini." Jawab Ardi datar sambil memandang lurus kearah lapangan.
"Yang mana keponakan, Pak Ardi?" Tanya Indah.
"Cewek yang sedang bermain basket." Jawab Ardi dengan nada dan posisi yang sama.
"Beruntung sekali Pak Ardi punya keponakan yang cantik dan jago bermain basket." Kata Indah.
"Beruntung? Yang benar saja." Batin Ardi.
"Bukankah cewek itu murid baru di kelas kita?" Tanya Riki.
"Iya, dia luar biasa." Jawab Mico.
"Apa kamu tertarik padanya?" Tanya Riki.
"Hmm, dia cantik, pemberani dan juga hebat. Tentu saja kenapa tidak." Jawab Mico dengan pandangannya tak lepas dari Alea karena terpesona.
"Ada apasih rame-rame?" Tanya Natasya.
"Gak tahu, coba kita lihat." Jawab Cantika.
"Ternyata Toni lagi." Kata Natasya.
"Bukankah cewek itu murid baru dia kelas kita?" Tanya Cantika.
"Iya benar, dia jago main basket ternyata." Jawab Natasya.
"Tapi kenapa dia bisa bertanding dengan Toni?" Tanya Cantika penasaran.
Pertandingan mereka akhirnya berakhir dan Alealah yang menang, orang-orang yang melihatnya pun bersorak gembira sambil bertepuk tangan. Seakan ada di pertandingan sungguhan dan jagoan yang mereka dukung meraih kemenangan.
"Jadi kamu akan meminta maaf kepada Rita bukan." Kata Alea.
"Ya." Kata Toni pergi menghampiri Rita.
"Aku minta maaf." Ucap Toni.
"Begitukah caranya meminta maaf? Lakukan dengan benar!" Kata Alea.
"Huh. " Toni menghela nafas kasar karena kesal.
"Rita aku minta maaf karena tidak sengaja melempar bola kearahmu." Ucap Toni dengan nada pelan dan penuh penyesalan.
"Iya, aku maafkan." Ucap Rita.
Plok plok plok
Alea tepuk tangan.
"Puas." Ucap Toni kesal kepada Alea dan langsung pergi begitu saja.
"Alea kamu benar-benar hebat." Puji Fani sambil mengacungkan dua jempol.
"Terima kasih." Ucap Alea sambil tersenyum.
"Hai, permainanmu sungguh luar biasa. Aku kagum denganmu." Kata Mico tiba-tiba datang.
"Terima kasih." Ucap Alea sambil tersenyum manis.
"Oh ya, kenalin namaku Mico." Kata Mico memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
"Namaku Alea." Kata Alea membalas uluran tangan Mico.
"Senang berkenalan denganmu." Kata Mico.
"Sama-sama." Ucap Alea sambil tersenyum.
"Oke, sampai jumpa lagi." Kata Mico sambil melmbaikan tangan.
"Iya." Kata Alea membalas lambaian tangan dari Mico.
"Wah Alea, kamu sangat beruntung." Kata Fani.
"Kenapa memangnya?" Tanya Alea bingung.
"Mico itu bintang idola di sekolah ini, dan pertama kalinya aku melihat dia mau berkenalan dengan cewek." Jawab Fani.
"Iya benar, mungkin saja dia menyukaimu. Selama ini dia cuek saja sama banyak cewek yang menyukainya." Kata Rita.
"Eh, tapi kamu sudah pacar apa belum?" Tanya Fani.
"Tidak." Jawab Alea.
"Bukannya pacar tapi aku punya suami, aku sudah menikah." Batin Alea.
"Kalau begitu ini kesempatan emas, Alea. Jangan di sia-siakan." Kata Rita.
Alea hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Rita.
"Iya, Al. Kita juga satu kelas dengannya." Kata Fani.
"Tapi kamu juga punya saingan dan satu kelas juga." Lanjut Fani.
"Siapa?" Tanya Alea penasaran.
"Natasya." Jawab Fani.
"Siapa Natasya?" Tanya Alea lagi.
"Natasya itu adalah cewek yang paling populer di sekolah ini, dia juga sudah lama menyukai Mico. Dia berusaha terus untuk mendekatinya tapi, sampai sekarang Mico cuek aja gitu sama Natasya." Jelas Fani.
"Hmm, menarik juga." Kata Alea.
"Siapa sih tuh cewek sok jadi pahlawan dan kenapa Mico berkenalan sama dia." Kata Natasya kesal.
"Mungkin saja Mico menyukainya." Kata Cantika.
"Yang benar saja, bagaimana Mico bisa suka sama cewek kaya dia, aku lebih baik darinya." Protes Natasya.
"Ya aku tidak tahu, yang jelas kamu punya saingan lagi. Dan tentunya bukan lawan yang mudah." Kata Cantika.
"Seperti apa pun dia, yang jelas Mico hanya milikku." Kata Natasya.
"Berlaga sok jadi pahlawan untuk membantu temanya, kemudian mencari perhatian pada cowok bintang sekolah. Bagaimana aku bisa dapat istri seperti dia." Batin Ardi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa dia lupa kalau sudah punya suami? Menyebalkan sekali." Lanjut Ardi di dalam hati.
"Kenapa, Pak?" Tanya Indah.
"Tidak." Kata Ardi kemudian pergi begitu saja.
"Kenapa pak Ardi menjadi lebih dingin dari biasanya?" Batin Indah.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Biasanya pasti gak jauh2 dari masalah cewek..
2024-10-27
0