"Ini sudah malam, kami pamit pulang dulu." Kata Yuli.
"Iya, Yul. Terima masih sudah mau datang kemari." Kata Tantri.
"Iya sama-sama. Aku titip Alea ya." Kata Yuli lagi
"Iya, Yul aku akan menjaganya dengan baik." Kata Tantri.
"Alea. ibu, ayah dan kakak pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik." Kata Yuli sambil memeluk Alea dengan penuh kasih sayang.
Alea hanya diam menahan rasa sesak di dadanya, sudah lama sekali ia tidak mendapatkan pelukan hangat dari ibunya. Kini ia mendapatkannya lagi namun, yang terakhir kalinya dan dia tidak akan mendapatkannya lagi.
"Jangan nakal ya, kamu sudah besar belajarlah menjadi orang yang baik ya, Nak." Kata Yuli sambil memengan kedua pipi Alea sambil menahan air matanya.
Meski pun selama ini Ibunya kurang perhatian kepada dirinya namun, rasa sedih akan berpisah dari putrinya tidak terelakkan. Mau bagaimana pun Alea adalah putri kandungnya dan ikatan ibu dan anak itu lebih kuat dari pada ikatan dengan yang lainnya. Sedangkan ayah dan kakaknya terlihat biasa saja, seakan Alea bukan anggota keluarganya.
Setelah kepergian keluarganya, Alea masih saja terdiam mematung di tempatnya.
"Alea." Panggil Tantri menepuk bahu Alea pelan.
"Eh. Iya, Bik." Kata Alea tersadar dari lamunannya.
"Panggil ibu, sekarang kamu adalah putri ibu. Ini sudah malam beristirahatlah." Kata Tantri dengan lembut.
"Iya, Ibu." Kata Alea.
"Ardi!" Seru Tantri memanggil Ardi.
"Iya, Bu." Sahut Ardi sambil berjalan menghampiri ibunya.
"Ajak Alea ke kamar untuk istirahat, kasihan sudah malam." Kata Tantri.
"Maksudnya aku harus tidur sekamar dengan dia gitu?" Tanya Alea terkejut.
"Ya kaliankan suami istri sekarang." Jawab Tantri.
"Aku tidak mau tidur dengannya, Ibu." Kata Alea.
"Tidak apa-apa, lama-lama nanti juga terbiasa." Kata Tantri.
"Sudah sana."
"Ayo ikut aku!" Ajak Ardi.
"Dih nyebelin banget sih." Gerutu Alea.
"Katanya guru, tapi tega banget nikahi mahasiswi SMA." Kata Alea sambil berjalan mengikuti Ardi namun tidak di respon.
"Guru apa coba. Gak pantes deh di sebut guru." Kata Alea lagi.
"Heh dengar ya, aku nikahin kamu hanya karena aku kasihan kepadamu." Kata Ardi berhenti dan membalikkan badannya.
"Tapi aku tidak butuh belas kasihanmu." Kata Alea.
"Tidurlah di ranjang, aku akan tidur di sofa." Kata Ardi mengambil bantal.
"Tidak, aku yang akan tidur di sofa." Kata Alea merebut bantal yang di pegang Ardi.
"Terserah." Kata Ardi tidak peduli.
Alea pun langsung berbaring di sofa menghadap ke bagian belakang sofa.
Malam semakin larut namun belum ada satu pun yang tidur di antara mereka. Ardi merasa tidak nyaman karena ada seorang gadis di kamarnya sesekali dia melihat ke arah Alea. Ia melihat tubuh Alea bergetar karena menangis dalam diam. Ardi sebenarnya merasa kasihan melihatnya namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.
.....
Keesokan harinya Ardi bangun lebih dulu sedangkan Alea masih tidur, Ardi menghampiri Alea untuk membenarkan selimut yang Alea kenakan dan ia melihat Alea tertidur pulas dengan matanya yang sembab akibat terlalu lama menangis. Kemudian Ardi membiarkan Alea tidur, ia pergi keluar kamar menemui ibunya sedang memasak di dapur.
"Ibu!"
"Iya."
"Sudah bangun, Alea mana?" Tanya Tantri.
"Masih tidur, Bu. Biarkan saja hampir semalaman dia menangis. Aku kasihan padanya, Bu. Tidakkah lebih baik di putuskan saja pernikahan ini, Bu." Jawab Ardi
"Pernikahan itu bukan ikatan sembarangan yang mudah di putus begitu saja. Ibu mengerti bagaimana perasaan Alea, dia kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya dan pasti tertekan karena pernikahan ini. Untuk itu kita yang akan menjaga dan menyayanginya dan semua ini bukanlah sebuah kebetulan, Nak." Jelas Tantri.
"Seiring berjalannya waktu kalian pasti juga bisa saling menerima, terlebih Alea sangat membutuhkan dirimu, karena itulah kalian di pertemukan." Lanjut Tantri.
"Iya, Bu." Kata Ardi mengerti.
"Ya sudah, bangunkan Alea untuk sarapan bersama-sama." Kata Tantri.
"Iya, Bu."
.....
"Alea bangun, sarapan dulu." Kata Ardi membangunkan Alea tanpa menyentuhnya.
"Aku tidak lapar." Jawab Alea dengan suara parau dan masih memejamkan mata.
"Ibu, Nenek dan Kakek sudah menunggu di luar." Kata Ardi lagi.
"Sudahku bilang aku tidak lapar." Kata Alea lagi masih memejamkan mata.
"Mereka tidak akan mau makan, sebelum kamu ikut makan bersama mereka." Jelas Ardi namun tidak direspon oleh Alea.
"Kamu ingin membiarkan keluargaku kelaparan." Kata Ardi sedikit membentak.
"Hah iya iya aku bangun, aku akan cuci muka dulu." Kata Alea sambil duduk.
Alea pun segera berdiri dan mencuci mukanya di kamar mandi karena Ardi menunggunya. Setelah selesai mereka pergi ke meja makan bersama.
"Alea sini, Nak. Sarapan dulu." Kata Tantri.
"Iya, Bu."
"Makan yang banyak, tidak perlu sungkan." Kata Alma.
"Iya, Nek."
"Iya, Al. Makan yang banyak nantikan kalian akan melakukan perjalanan cukup jauh." Lanjut Yuda.
"Iya, Kek."
Setelah sarapan Tantri, Ardi dan Alea segera berangkat kembali ke kota dimana mereka tinggal. Di sepanjang perjalanan Alea hanya termenung bersandar di dekat pintu mobil sambil melihat ke luar.
"Ibu, apa ayah sudah tahu?" Tanya Ardi.
"Belum, nanti biar ibu yang memberi tahu ayahmu." Jawab Tantri.
"Tapi nanti kalau ayah marah bagaimana, Bu?" Tanya Ardi.
"Tenang saja, ibu akan menjelaskannya nanti. Ayahmu pasti bisa mengerti." Jawab Tantri.
"Lalu bagaimana dengan para tetangga, Bu. Apa kata mereka nanti aku menikahi seorang mahasiswi SMA." Kata Ardi.
"Hm, iya juga ya. Bilang aja kalau Alea itu keponakan kamu." Kata Tantri.
Setelah menempuh perjalanan yang membosankan itu akhirnya mereka pun tiba di rumah. Mereka di sambut oleh Rama ayah dari Ardi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Bagaimana perjalanan kalian?" Tanya Rama.
"Alhamdulillah lancar, Yah." Jawab Ardi.
"Eh ini siapa?" Tanya Rama melihat ada seorang gadis pulang bersana mereka.
"Istrinya Ardi, Mas." Jawab Tantri.
"Hah istri? pulang-pulang bawa istri aja, jangan bercanda kamu, Ar." Kata Rama terkejut.
"Gak bercanda, Mas. Mereka memang sudah menikah." Jelas Tantri.
"Bagaimana ceritanya? Kok aku gak di kabari?" Tanya Rama.
"Nanti akan ku jelaskan." Jawab Tantri.
"Kalian pasti lelah, istirahatlah." Kata Tantri.
"Iya, Bu." Kata Ardi.
"Bibik em maksudku Ibu, apa tidak ada kamar lain? Masa aku sekamar dengan dia." Tanya Alea sambil menunjuk Ardi.
"Ada, tapi belum di bersihkan, untuk sementara satu kamar dulu dengan Ardi ya. Lagiankan kalian suami istri, kenapa harus pisah kamar." Jelas Tantri.
"Menyebalkan." Kata Alea dengan menghentakkan kakinya.
"Sudahlah, mana sini biarku bawakan kopermu." Kata Ardi.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Kata Alea ketus.
Ardi pun hanya pasrah dan pergi berjalan menuju kamar lebih dulu di ikuti Alea dari belakang. Sedangkan Rama menatap tajam istrinya seakan meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tenanglah akan aku jelaskan." Kata Tantri mengerti isyarat dari suaminya itu. Kemudian Tantri pun mulai menjelaskannya.
"Kenapa kamu setuju saja? Harusnya kamu bilang dulu sama aku. Bagaimana sekolahnya Alea nanti? Dan bagaimana kamu menjelaskan ke tetangga kita nanti? Apa kata mereka?" Tanya Rama bertubi-tubi setelah mendengar penjelasan dari Tantri.
"Alea akan tetap melanjutkan sekolahnya, masalah tetangga bilang aja kalau Alea itu keponakannya Ardi." Jawab Tantri.
"Hah ya sudahlah." Kata Rama pasrah.
....
Setelah masuk kamar Alea langsung saja merebahkan diri di sofa sambil bermain ponsel. Begitu juga dengan Ardi ia juga merebahkan diri di ranjang sambil memainkan ponselnya. Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya sibuk dengan ponsel mereka masing-masing hingga mereka ketiduran.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments