"Neng, mertuanya enggak mau bayar. Terus jualan Euceu gimana dong?" keluh ceu Rodiah.
Aku cuma bisa bengong, sampai-sampai lupa berkedip.
Sudah kubayar lunas pun pada emih, rupanya masih terhitung hutang pada ceu Rodiah.
"Minta tolong ya Neng, dicicil aja lagi enggak apa Euceu mah. Asal ada uang masuk aja.." pintanya memelas.
Kuusap dada, sesak rasanya.
Bukannya aku tak kasihan pada ceu Rodiah, tapi jika aku harus membayar lagi untuk barang yang tak kupakai sama sekali.
Aduh, aku tak sebodoh itu kurasa.
"Kalo enggak dibayar, Euceu rugi bandar Neng. Jadi.. Wayahna ini mah yah?"
Kepalaku tiba-tiba pusing, pandanganku jadi berkunang-kunang dan mual tak tertahankan.
"Ya udah, biar kubayar aja Ceu. Lunasin sekalian.. Pusing aku sama cicilan panci ini, padahal barangnya dipegang mantan mertua, bahkan aku udah bayar ke dia.."
"Ya gimana lagi atuda Neng, mertuanya enggak mau bayar. Dia malah ngamuk-ngamuk maki-maki Euceu."
"Mantan mertua. Dia bukan mertuaku lagi Ceu." ralatku sambil merogoh uang dari dalam tas.
Kuambil 150 ribu, kuserahkan pada ceu Rodiah.
"Makasih Neng, padahal dicicil pun Euceu enggak apa-apa."
"Enggak Ceu, dilunasin lebih baik." selaku cepat.
Perempuan bertubuh gemuk itu lantas pamitan, senyuman bahagia melengkung di wajahnya yang bulat.
Aku sendiri langsung duduk sambil menopang dahiku, pusing.
"Kamu enggak apa-apa? Mau minum aja?"
"Enggak. Aku cuma butuh istirahat."
"Tapi kalo enggak kuat, batalin aja."
"Enggak! Aku masih kuat!" tolakku dengan cukup keras.
Hasan pun tak memaksa lagi, namun dia pamit pergi untuk membeli sesuatu. Aku tak begitu memperhatikan, sebab kepalaku benar-benar terasa berputar.
Suasana terasa sangat memusingkan saat ini, aku ingin pulang tapi tak bisa. Jualanku masih banyak, mau membatalkan puasa juga sayang cuma tinggal hitungan jam.
Ponselku bergetar, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Siapa nih?" batinku.
Kuangkat telepon,
[Assalamualaikum, ini siapa ya?]
[Waalaikumsalam, ini nomorku Yulia. Tolong disave ya.] katanya, tanpa basa basi.
[Ohh Yulia, baiklah.]
[Kamu masih jualan?]
[Iya masih.]
[Ibumu masak.]
Kukerutkan kening,
[Memangnya kenapa? Tadi ibu bilang emang mau masak.]
[Enggak. Nanti buka di rumah.]
[Iya, Insyaallah.] sahutku.
Lalu Yulia menutup telepon, membuatku bingung. Apa maksudnya dia menelepon? Hanya untuk mengatakan hal itu saja?
"Ada-ada aja." batinku sambil memasukkan HP ke dalam tas kecil yang kuselempangkan di bahu.
Karena ada orang yang datang menghampiri lapakku, aku pun bangun untuk menyambut kedatangan mereka dengan senyuman walau kepalaku masih pening.
Senyumku memudar saat melihat siapa yang datang.
"Emih.." desisku.
Mantan mertuaku itu datang bersama perempuan berambut pirang yang tempo hari bersama kang Iwan.
"Beli ayam ketumbarnya Teh. Beli berapa Mih? Buat Emih, kang Iwan, sama aku. Tiga aja cukup? Apa mau beli juga buat teh Rina dan teh Siti?"
Kukatupkan rahangku, menggenggam capitan dengan tangan kanan dan kotak kertas di tangan kiri.
"Mm.. Jangan banyak-banyak lah Neng. Beli.buat Neng sama Iwan aja. Emih mah gampang lah." tolak emih.
Ini kali pertama aku mendengar emih bicara dengan nada selembut itu, lengkap dengan seulas senyum palsu yang memuakkan.
"Ih masa cuma dua, kan Emih juga pasti mau. Enak banget lho ini ayamnya, Mih. Waktu itu juga aku beli sama kang Iwan."
"Mm.. Terserah Neng aja, lagian kan kalo beli buat Rina sama Siti, harus beli juga buat anak-anaknya, Dian sama suaminya Rina juga harus beli."
Kupalingkan muka, kocak sekali mantan mertuaku ini. Mau memeras calon mantu barunya, aku sudah paham.
"Ohh ya sudah, belikan aja semuanya Mih. Biar nanti makan bareng juga, kan seru tuh kita bukber!"
Mata emih langsung berbinar-binar,
"Sama ayam doang Neng? Enggak apa-apa, ayam doang juga enak. Tapi kalo tambah lalapan, sambel sama oseng-osengnya lebih enak ya?"
"Ya iya lah! Beli aja Mih, nih di sini lengkep sambel lalapannya juga banyak."
Vera mulai memilah-milah lalapan yang telah kubungkus plastik, satu set dengan sambel racikanku sendiri.
"Teh ayamnya 10 yah? Sama lalapannya tujuh. Oseng-osengnya... Mih, ayo milih yang mana aja yang Emih suka."
Emih langsung semangat memilih-milih bungkusan oseng di hadapannya, ekspresinya terlihat seperti merendahkan masakanku.
Padahal aku tau, dia suka masakanku sebab tiap ada acara apapun di rumahnya pasti aku yang harus masak. Kalau masakanku tak enak, mana mungkin dia membiarkan aku memasak.
"Emangnya enak ya, Neng? Apa enggak cari di tempat lain aja?"
Vera melihatku dengan tak enak, dia tersenyum canggung.
"Enak kok Mih, kan aku udah nyicipin masakan teteh ini. Memang enak!"
Aku sendiri cuma tersenyum samar, sambil melirik emih dengan tatapan sinis. Perempuan itu pura-pura tak melihat.
Dia kembali memilih macam-macam oseng yang kujajakan,
"Ini, ini.. Sama ininya empat, ini juga. Bungkusin cepet." katanya padaku dengan ketus, lalu tersenyum bermanis-manis pada Vera sambil menggandeng tangannya.
"Neng, gimana tadi ceritanya? Katanya Neng naik jabatan di kantor?"
"Ohh itu, hehe. Iya Mih."
"Ceritain lagi dong Neng, gajinya berapa? Jadi tujuh juta?"
Vera nampak bangga tapi juga nampak tak enak hati,
"Yaa segituan lah, Mih."
"Enggak apa-apa, kasih tau aja Neng. Apalagi kalo ada bonusan ya? Bisa 10 nyampe 12 juta ya?"
Aku pura-pura tak mendengar, sibuk melayani pesanan mereka berdua, sementara emih berusaha memamerkan gaji calon menantu barunya itu.
"Sudah Teh, semuanya jadi 135 ribu. Ini aku kasih bonusan, soalnya udah belanja banyak." kataku sambil memasukkan dua bungkus candil.
"Aduh, makasih ya Teh. Ini uangnya."
Vera memberikan selembar 100 dan 50 ribuan, kuberi kembalian dan mereka pun pergi meninggalkan lapakku.
Aku tak habis pikir dengan emih, tingkah lakunya lucu sekali. Mengalahkan pelawak terlucu yang sering muncul di TV-TV.
Kubenahi sisa jualanku yang tersisa, alhamdulillah sudah habis setengahnya. Beberapa pembeli datang, rata-rata membeli ayam ketumbarku, dan lalapan.
"Alhamdulillah, kayaknya mereka pada suka." batinku girang.
Tak lama, emih kembali. Tapi dia sendirian, tanpa Vera. Perempuan itu tergopoh-gopoh menghampiri aku.
"Win, mana tadi duit dari si Vera?"
Kukerutkan kening, kenapa malah bertanya hal aneh macam itu?
"Maksudnya?"
"Ckk masa enggak ngerti? Bloon banget. Duit yang dipake buat belanja tadi!"
"Ya ada lah. Kenapa gitu, Mih?"
Perempuan itu makin mendekati aku, dan tangannya terjulur mau merebut tas selempang di depan tubuhku,
"E-eh! Emih mau ngapain?!"
"Duit si Vera itu untukku, aku mau traktir dia beli es buat buka!"
"Lho, lho! Mana boleh, Mih? Itu kan duit jualan aku!"
Kudekap tasku dengan erat, emih nampak marah.
"Kasih gratis aja sih buat aku sama mantan suamimu! Toh yang mau makan itu semuanya pernah jadi keluargamu! Jangan pelit-pelit!"
Dia kembali mendekat, aku mundur dan kakiku terjegal tepian lapak sehingga jatuh terjengkang.
Emih merebut tasku dan mengambil uang dari dalamnya,
"Mih! Jangan!" cegahku, aku sontak berdiri namun aku tak bisa.
Kepalaku mendadak berputar, pandanganku menghitam dan aku tak sadarkan diri!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Tipa Ghorky
semoga Mak lampir di gebukin warga Krn terang2 an nyuri uang nya Winda dan mencelakan Winda
2023-07-25
2