Jualan kami di hari pertama ramadhan tersisa beberapa bungkus lagi, itu pun karena aku dan ibu bergegas kemas-kemas lalu memutuskan untuk pulang.
"Bu, sudah.. Jangan nangis lagi. Aku ngerasa bersalah sama Ibu. Maaf Bu.."
"Enggak, kamu enggak salah Win. Enggak salah."
Ibu tetap menangis tersedu di pinggiran jalan yang sepi, sambil menunggu pak Sofyan datang menjemput kami.
"Tapi Ibu nangis karena masalahku, aku harusnya enggak usah kasih tau Ibu.."
"Enggak Win.. Udah, Ibu cuma sakit hati sama nasibmu, tapi bukan salahmu."
Mobil pak Sofyan berhenti di depan kami, lelaki itu nampak bingung kenapa ibu menangis. Dia menatapku untuk meminta penjelasan, tapi aku menunduk menghindari tatapannya.
Kami pun pulang tanpa bicara apapun, kami sama-sama diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga saat kami sampai di depan rumah tiba-tiba saja ibu bicara,
"Kang, ayo kita menikah saja. Lamaran Akang, aku terima."
Aku kaget mendengarnya, tetapi aku tak mau melarang atau protes. Entahlah, pikiranku kacau tak karuan.
Aku segera turun dari mobil dan masuk kamar, kurebahkan tubuhku di atas ranjang dan pikiranku melayang ke mana-mana.
"Kang Iwan benar-benar udah enggak peduli, bahkan aku hamil pun dia malah menuduh yang bukan-bukan." batinku.
Perempuan tadi namanya Vera, sepertinya mereka sudah kenal lama sekali. Apakah dia mantan yang selama ini sering Emih bicarakan?
"Win, Ibu mau ngomong sebentar."
Ibu tiba-tiba masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sebelahku.
"Seperti yang kamu denger tadi, Ibu dan pak Sofyan akan menikah."
"Kapan, Bu?" tanyaku datar.
"Besok. Nikah di KUA aja kok.. Setelah itu, kita pindah ke rumahnya yang di kecamatan."
Aku terdiam, besok?
"Tapi Bu.."
"Ibu ngelakuin ini demi kamu, Winda. Jadi Ibu enggak mau dengar penolakan. Maafin Ibu."
Setelah mengatakan itu, ibu pun keluar meninggalkan aku.
Sekarang perasaanku semakin sedih, besok aku akan pergi dari sini?
Rumah dengan sejuta kenangan ini, akan aku tinggalkan?
"Ya Allah, apa aku harus sedih atau bahagia?" batinku lelah.
Pernikahan ibu diadakan di KUA setempat, prosesnya khidmat dan hanya dihadiri oleh keluarga inti saja.
Anak-anak pak Sofyan pun datang, ada tiga orang. Hendri yang seorang kepala cabang bank swasta daerah, Yulia seorang dokter gigi dan Rensi yang masih duduk di bangku SMA.
"Perkenalkan, ini anak-anak Bapak.. Hendri, Yulia, Rensi.. Ini Winda."
Pak Sofyan resmi mengenalkan ketiga anaknya padaku, kami bersalaman dan rasanya canggung sekali.
Hendri dan Yulia sedikit angkuh, hanya Rensi yang nampaknya bersahabat. Mungkin karena dia masih remaja.
"Teh Winda mau tinggal sama aku sama bapak juga?"
Aku melirik pak Sofyan, lelaki itu mengangguk dan aku pun ikut mengangguk walau hati tak enak.
"Asik! Aku jadi ada temen deh.. Soalnya teh Yulia sama a Hendri udah pisah rumah!"
Rensi menggelayut manja di lenganku, rasanya aneh. Tak biasa, tapi tak apa. Mungkin aku harus membiasakan diri.
Setelah akad nikah, kami semua makan bersama di restoran Sunda yang cukup ternama. Syukurlah makannya di sini, jadi aku tak kesusahan menyesuaikan selera makanku.
Tring!
Ponselku berbunyi, dan ternyata chat dari teh Siti.
[Kapan duit panci mau dikasih? Emih udah nanyain.]
Kuhela napas, benar-benar keterlaluan. Masih saja meminta uang panci yang tak bisa kupakai.
[Satu lagi, jangan nyusahin Iwan dengan kehamilan kamu itu. Kami enggak pernah minta cucu dari kamu, jadi jangan harap Iwan mau rujuk demi itu.]
Hatiku tertohok, langsung kubalas saja,
[Aku enggak mau nyusahin siapapun, aku juga enggak mau rujuk. Enggak usah keGRan Teh. Urusan panci, aku enggak pake pancinya, aku enggak mau bayar.]
Kuhela napas panjang, dan ibu melihatku murung,
"Kenapa?"
"Enggak Bu, agak pusing aja."
Ponselku yang kuletakkan begitu saja di atas meja menyala lagi, bukan balasan dari teh Siti melainkan dari emih dan langsung terbaca oleh ibu.
[Eeh kurang ajar! Udah make duit anakku seenaknya, itu sama aja nyolong tau! Kusumpahi hidupmu melarat selamanya!]
"Apa maksudnya ini, Win?" tanya ibu dengan nada kaku, agaknya ibu mulai emosi.
"Enggak Bu.."
"Kenapa? Ngomong jujur!"
Kujelaskan apa yang terjadi, bahwa emih meminta uang panci yang sudah kubayarkan pada ceu Rodiah. Muka ibu memerah marah,
"Kurang ajar. Bayar lah! Berapa emangnya?"
"150 bu.. Udah lah biarin, orang aku enggak pake pancinya."
"Enggak apa-apa, bayar aja! Ibu pegang duit, kurang ajar mantan mertuamu itu. Semena-mena!"
Ibu mengeluarkan dua lembar seratus ribu dari saku gamisnya, "Kasih sama mantan mertuamu yang mata duitan itu!"
Pak Sofyan menyentuh pundak ibu,
"Kenapa, Nen?"
"Oh enggak Kang."
Ibu menyuruhku memasukkan uang, dan tak bicara apa-apa lagi.
Setelah acara makan-makan selesai, aku memutuskan untuk pergi ke rumah emih. Ingin kuberikan uang ini untuk menuntaskan masalah.
Saat aku sampai, kebetulan emih dan teh Rina serta teh Siti sedang berkumpul. Tatapan mereka sinis melihat kedatanganku,
"Dibawa duitnya, Win?" tanya emih tanpa basa basi, padahal aku masih berdiri di luar.
Menginjak terasnya pun belum,
"Ini Mih uangnya, sudah ya.. Aku enggak ada tanggungan apapun lagi. Jangan hubungin aku lagi." sahutku sambil menyodorkan uang dua ratus ribu.
"Kok cuma segini? Harganya kan 300!" protes emih, kukerutkan kening.
"Aku baru bayar 150, itu uangnya 200 berarti masih lebihan 50."
"Ya enggak bisa lah, harganya itu 300 udah akad sama ceu Rodiah. Berarti kamu bakalan pake uang anakku 300 rebu tanpa sepengetahuan dia!"
"Haram itu Winda!"
"Iya! Bayar sama Emih!"
Teh Rina dan teh Siti sama-sama mendukung pikiran tak normal emih,
"Pokoknya sampai kapanpun hidupmu bakalan melarat lahir bathin, Winda. Kamu udah durhaka sama suami, sama anakku! Duitnya dipake diem-diem buat beli barang yang enggak berguna!"
Darahku rasanya mendidih,
"Kalo memang barangnya enggak berguna ya sini kasih ke aku!"
Emih menjengit,
"Ya enggak bisa! Itu kan pake duit anakku!"
"Tapi kan Emih minta ganti rugi uangnya, bahkan minta diganti full. Yaudah sama aja aku ngebeli pancinya kan? Sini balikin!"
Teh Rina menghampiriku dan menunjuk mukaku,
"Kurang ajar nih si Winda! berani-beraninya ngomong kasar sama emih! Aduhh amit-amit dulu Iwan nikah sama dia, pantesan aja badan dia kurus kering. Pasti ngebatin!!" cerocosnya.
Aku tertawa kecil,
"Aku yang ngebatin! Tiap hari dijatah 35ribu, padahal gajinya gede, makan cuma kangkung tempe tiap hari.. gizinya dari mana? Wajar kalo jadi kurus!"
"Halah pinter aja ngomong, 35 rebu itu cukup. Tapi dikorupsi sama si Wiinda buat beli panci makanya kurang terus duitnya!"
Kupelototkan mata ke arah teh Siti, entah dari mana datangnya keberanian ini. Aku jadi berani melawan mereka, biasanya aku cuma mengalah.
Mungkin karena aku sekarang sudah jadi mantan menantu.
"Pokoknya enggak mau tau, kurang 100 lagi. Kalo masih belum diganti.. Liat aja, kupastikan kamu enggak bakalan nyenyak tidur, Winda. Kudukunin kamu!" ancam emih.
Astagfirullah, kerudungnya dusta. Dia malah mau mengguna-guna aku!
Kurogoh saku rokku, ada uang 100 untuk ongkos pulang pergi dari ibu. Kulemparkan uang itu ke hadapan emih,
"Ambil! Naudzubillahimindzalik ada keluarga seperti kalian. Aku harap seumur hidup enggak perlu berhubungan lagi dengan kalian!"
Setelah mengatakan itu, aku bergegas pergi. Sempat kulihat emih melangkahi uang di tanah beberapa kali, baru menyuruh teh Siti memungutnya.
Mungkin takut kujampi-jampi. Orang gila!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments