Jantungku langsung berdebar sangat kencang mendengar teriakan ceu Rodiah, perempuan bertubuh gempal itu agaknya sudah lupa dengan apa yang kuamanatkan tadi.
"Aduh, bisa repot ini kalo sampai kanh Iwan denger!"
Aku buru-buru ke depan rumah dengan perasaan tak karuan, kulihat kang Iwan masih tertidur di depan TV. Sedikit rasa lega menjalar di dadaku.
"Aduhh Ceu, udah dibilangin jangan nyampe suamiku tau!"
Kuletakkan jari telunjukku di depan bibir, ekspresi panik karena benar-benar takut jika kang Iwan terbangun tiba-tiba.
"Lupa Neng, maafin Euceu ya!"
Ceu Rodiah meminta maaf sambil tersenyum canggung, dia buru-buru menyodorkan kotak besar kepadaku. Ada gambar panci teflon yang kudamba-damba di bagian depannya.
"Nih pancinya, sok selamat memasak yah!"
"Iya, iya Ceu.. Makasih ya udah dianterin." kataku sambil mengecilkan suaraku.
Kulirik ke belakang, belum ada tanda-tanda kang Iwan bangun. Semoga saja tak usah terbangun, sebelum aku menyembunyikan panci-panci ini.
"Ya udah, Euceu pulang dulu yah! Maafin tadi berisik, hehe."
"Iya Ceu.. Enggak apa-apa."
Ceu Rodiah pun meninggalkan aku, dan setelah perempuan itu pergi segera kubawa kotak panciku ke dalam rumah.
Kudekap erat di dada, sambil berjalan berjingkat di depan TV supaya tak menimbulkan suara apapun.
"Jangan dulu bangun.. Kalo nyampe keburu bangun, bisa berabe." batinku takut.
Kalau sampai kang Iwan bangun, bisa bahaya ini. Dia bisa memarahiku habis-habisan soal panci, dan pasti akan membawa-bawa emih.
"Aduh, cantiknya panci-panciku. Sesuai sama yang kumau.. Mirip lah sama punya teh Rina."
Tak henti kukagumi panci baruku, yang tinggal 15 kali cicilan ini. Rasanya bangga bisa menyisihkan seperak dua perak dari uang belanja yang tak seberapa itu. Untuk membeli alat dapur idamanku.
"Panci siapa itu?"
DEG.
Rasanya copot jantungku mendengar pertanyaan itu kang Iwan bangun!
Aku berniat menyembunyikan dus panci, tapi jelas terlambat karena kang Iwan sudah terlanjur melihatnya.
"I-ini, ini punya.."
"Punyamu ya? Siapa yang suruh beli panci beginian, hah?!" Hardiknya, sambil meraih dus panci dengan kasar.
"Jangan Kang! Jangan diambil!" teriakku spontan, karena kaget dan takut.
Karuan saja kang Iwan membeliakkan matanya dengan marah,
"Beli dari mana ini? Dari si tukang kredit itu?!"
Aku cuma bisa mengangguk pasrah, sambil gemetar ketakutan.
"Berapa duit ini?"
"10 ribu seminggu Kang, selama 30 minggu.."
"Apa?! Beginian doang 300 rebu?! Aduh bloon banget kamu jadi perempuan itu, Winda!"
Batinku nyeri mendengar penghinaan itu, kang Iwan menatapku dengan kening mengerut. Ditunjuk-tunjuknya dus panciku dengan ekspresi kesal,
"Coba kalo kamu enggak sok tau beli ginian, bisa beli katel bagus selemari! Apaan kayak beginian 300 rebu! Sok kaya kamu hah?!"
BRAK!
Dia membantingkan dus panciku ke lantai dapur, dan aku cuma bisa melongo dengan batin terluka.
"Duit dari mana kamu bisa beli begini? Nyolong di dompet ya?! Ahh pantesan duitku suka kurang terus. Ternyata kamu sekarang nyolong?!"
"Enggak, Kanh! Enggak! ini dari ngumpulin sisa belanja.. Ini.."
"Apa sih ribut-ribut? Nyampe kedengeran ke luar segala."
Lututku langsung lunglai saat mendengar suara emih, mertua perempuanku itu tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Tak tahu kapan datangnya, dia juga tak memberi tahu bahwa dia akan datang.
"Mih, udah dateng?"
Kang Iwan mencium tangan ibunya, aku yang masih gemetar juga menyalaminya. Perempuan itu menatapku angkuh,
"Kenapa lagi si Winda?"
Dia langsung menghakimi aku, bukannya bertanya senetral mungkin.
"Tuh, dia beli panci enggak ngomong dulu. Kurang ajar emang dia. Pantesan aja tiap kukasih uang belanja dia bilang kurang, kurang, kurang melulu!" sahut suamiku, mengomel.
Kugelengkan kepala, tapi tak bisa membantah. Uang belanja yang hanya 35 ribu sehari itu memang kurang, apalagi jika kang Iwan mintanya lauk yang enak-enak atau pas gas dan bumbu dapur lainnya habis.
Tapi dengan memutar otak, aku bisa mengirit biaya bumbu dapur dan menyisihkan untuk beli panci.
"Ckk ckk. Emih nih, seumur-umur belum pernah ngomong begitu sama apih. Enggak pernah Emih mah bikin suami marah kayak kamu Winda!" cetusnya, dengan ekspresi menghina.
"Enggak pernah diem-diem beli barang tanpa sepengetahuan apih, karena Emih menghargai apih sebagai suami. Lah kamu?! Ckk ckk, gak habis pikir Emih!" sambungnya.
Padahal aku tahu, apih tak akan tega memberikan emih uang belanja cuma 35 ribu karena dia pria yang bertanggung jawab. Gajinya juga besar.
Jadi sudah pasti kebutuhan dapur tercukupi dan emih tak perlu menyicil barang dapur idaman secara diam-diam begini.
Tinggal bilang ke apih, dan apih pasti belikan.
Sementara aku?
Kulirik suamiku, lelaki itu nampak marah sekali hanya karena masalah sepele ini. Dia berkacak pinggang, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur dan pandangannya tertuju ke piring di pojok ruangan.
Matanya melotot lagi,
"Kamu makan rendangnya, Winda?!"
Aduh, celaka dua kali! Aku lupa belum menghabiskan makanku!
"Ini.. Kamu kenapa makan rendang hah?! Kamu kan lagi kuhukum cuma boleh makan kueh yang tadi!"
Kang Iwan mengangkat piring, menunjukkannya ke mukaku lalu membantingkannya ke bak cuci piring. Padahal masih ada setengahnya lagi rendang yang belum kuhabiskan.
"Tapi Kang.. Aku kan.."
"Haduh Winda, Winda. Jadi istri kok enggak nurut banget sama suami? Enggak bisa kamu tuh nyenengin hati aku sekali aja?!"
Emih menatapku dengan sinis, lalu mengusap-usap punggung anaknya.
"Sabar ya Wan, kan udah Emih bilangin kalo istri kurang pinter kayak si Winda ini pasti bakalan bikin capek. Makan ati tiap hari.. Ckk andai aja dulu apih enggak maksa-maksa supaya si Winda dijodohin sama kamu.."
Kulirik mertuaku, dia pasti mau cerita masa lalu. Ketika apih begitu antusias menjodohkan aku dengan anaknya.
Saat itu aku sebenarnya sedang berpacaran dengan kang Nata, tetapi bapak memaksaku menikahi anak apih karena mereka bersahabat dan bapak berhutang budi pada apih.
Akhirnya begini, kang Iwan selalu memandangku sebelah mata, aku pun tak bahagia.
".. Pasti kamu udah bahagia menikah sama Vera. Dia itu sarjana, kerja kantoran, cantik, pinter ngurus badan, pinter dandan. Enggak kayak si Winda, taunya nyusahin suami aja!"
Kutundukkan kepalaku dalam-dalam, hatiku rasanya seperti dicabik-cabik tak karuan. Perkara panci, merembet ke mana-mana.
Kang Iwan menghadapkan tubuhnya padaku, lalu menunjuk mukaku dengan bengis,
"Winda, aku capek banget sama kelakuanmu yang kurang ajar ini. Saat ini juga aku talak kamu!"
DEG!
Jantungku terasa berhenti, dan aku tak sanggup berkata-kata lagi. Aku ditalak? Di depan mertuaku yang tersenyum girang dan melirikku penuh cemooh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments