Sudah Lunas Tapi Masih Hutang

Aku berjalan menuju jalan besar dengan langkah lebar, walau aku sekarang tak pegang uang tapi paling tidak aku bisa naik ojek dan nanti bayar di rumah.

Uang yang ibu berikan padaku uang hasil jualan kemarin, dan rasanya sedih juga karena hasil yang belum besar itu tak kami nikmati, melainkan malah diberikan pada emih.

"Duh, pusing begini kepalaku.."

Kuurut pelipis, tiba-tiba pusing melayang seperti efek mabuk kendaraan. Mual pula. Aku ingin tidur, istirahat, tapi sampai rumah pun belum.

"Apa efek hamil muda, ya?" batinku bertanya.

"Winda, kamu di sini?" sapa seseorang.

Aku menoleh, dan sebuah motor berhenti di sebelahku, Hasan.

"Eh Hasan, iya. Habis dari rumah emih." jawabku sambil menunjuk ke belakang, ke arah rumah emih.

"Ohh, begitu. Sekarang mau ke mana?"

"Pulang."

"Ke rumah ibu? Apa ke rumah yang di sini?"

Aku terdiam sesaat, tak enak menjawab karena malu ketahuan sudah janda.

"Ngg.. Ke rumah ibu."

Hasan mengangguk, lalu menyuruhku naik ke boncengan.

"Ayo aku yang anter aja sampai rumah."

"Tapi.."

"Apa mau ada yang nganter ke sana?"

Kugelengkan kepala, karena memang tak ada yang akan menjemputku. Hanya saja aku tak enak hati.

"Ya udah, mendingan kuanter sekalian. Aku juga mau pulang." Hasan memaksa.

Kutengok kanan kiri, tak ada siapapun dan kuharap tak ada yang melihat. Bukannya apa-apa, takut kena fitnah saja.

"Aku naik angkot aja, deh."

"Lho malah naik angkot, ada yang gratis antar sampai rumah malah mau naik angkot." protes Hasan, mimik mukanya lucu.

Kepalaku makin pusing, pandanganku berputar dan aku limbung. Syukurlah masih bisa pegangan ke motor sehingga tak jatuh.

"Nah kan! Ayo naik aja, pegangan biar gak jatuh!" kata Hasan, terdengar khawatir.

Mau tak mau aku pun naik dan sedikit menjaga jarak. Kupegangi bagian belakang motor dengan kuat, aku tak boleh jatuh.

"Kamu habis dari mana?" tanyaku basa-basi.

"Dari rumah bibiku."

"Lho, punya bibi di sini?"

"Iya, bu RT. Kamu juga pasti kenal kan?"

Deg.

Bu RT? Jangan-jangan Hasan sudah dengar ceritaku yang ditalak? Hanya bu RT yang tahu soal itu.

Tapi ah sudahlah, memangnya kenapa jika aku sudah janda karena ditalak? Memang begitu keadaannya kok!

Akhirnya aku sampai ke rumah, ibu ada di dalam sedang merapikan barang sebelum pindah.

Kami tak akan membawa apapun, kecuali beberapa baju dan perlengkapan pribadi. Di rumah pak Sofyan pasti sudah lengkap, perabotan usang di rumahku ini tak akan berguna di sana.

"Mampir dulu, Hasan."

Dia menggeleng, "Aku buru-buru, ada perlu." katanya.

Lelaki berbahu lebar itu pun lantas pulang, dan aku masuk ke rumah. Ingin membantu ibu, tapi kepalaku masih pusing.

Kuputuskan tiduran saja setelah minta izin untuk istirahat sebentar.

Tring!

Datang pesan masuk, dari ceu Rodiah.

[Neng, maaf. Katanya cicilan panci disuruh minta ke Neng aja. Soalnya Neng Winda yang ngeridit pancinya.]

Aku sampai terbangun dari tidur dan duduk dengan kaget, lho kok malah aku yang teruskan cicilannya?

Bukannya tadi sudah kulunasi kontan pada emih?

[Aku udah bayar ke emih, Ceu. Tagih aja sama emih, bahkan teh Rina dan teh Siti saksinya.] jawabku pendek.

Tak berselang lama, ceu Rodiah kembali membalas,

[Mereka malah marah, Neng. Tolong lah Neng, dicicil aja ya per minggunya.]

[Kalo nyampe enggak dibayar, aduh.. Euceu rugi bandar. Mana untung gak seberapa, masa harus nombokin?]

Kutepuk jidat, lalu kuraup wajah dengan sebelah tangan. Kenapa jadi harus bayar dua kali begini?

[Ceu.. Maaf banget ya? Tapi aku udah bayar Ceu, duitnya di emih.]

Tapi urung kukirimkan pesan itu, aku berniat menghubungi emih dulu untuk mengkonfirmasi hal ini.

Tapi ternyata aku diblokir, begitu pula nomor teh Rina dan teh Siti, dua-duanya tak bisa kuhubungi.

"Ya Allah ada-ada aja sih! urusan duit aja, langsung blokir!" gerutuku sebal.

Kucoba nomor kang Iwan, rupanya masih bisa dan belum diblokir. Terhubung, namun kemudian di-reject berkali-kali. Segera kukirim chat.

[Kang, bilang ke emih buat lunasin cicilan panci ke ceu Rodiah. Aku tadi udah bayar 300 ke emih buat ganti rugi uangmu yang kupake buat nyicil panci, sekaligus buat ngelunasin. Tanya teh Rina dan teh Siti kalo enggak percaya, mereka tadi juga tau. Bayarin. Jangan nyampe ceu Rodiah malah nagih-nagih aku!] kataku, tegas dan tak menye-menye.

Pesanku dibaca, namun tak kunjung dibalas. Kutunggu, dan kucoba hubungi lagi ternyata sudah tak bisa. Profilnya juga sudah hilang,

"Haduh, diblokir juga."

Geram sekali hatiku, bisa-bisanya sudah bayar dua kali lipat masih saja harus melunasi sisa tagihan!

Aku sengaja tak membalas ceu Rodiah lagi, biar saja. Kepalaku mumet!

Sore harinya, aku dan ibu sudah siap berangkat hanya tinggal menunggu jemputan saja. Barang-barang yang tak akan kami gunakan lagi ditutup kain, barang elektronik dicabut supaya tak korslet. Kami hanya menyalakan lampu luar, supaya kalau malam tak gelap gulita.

"Sedih ya, Bu. Enggak nyangka bakal ninggalin rumah ini.. Penuh kenangan kita bertiga, aku, ibu dan ayah."

"Hidup harus berjalan, Win. Ibu lakuin ini demi kamu."

Berulang ibu mengatakan hal itu, dan aku masih bingung kenapa demi aku?

Memangnya apa yang akan terjadi padaku jika ibu menikahi orang kaya?

"Ayo, sudah siap? Cuma ini bawaannya?" tanya pak Sofyan, beliau mengangkat tasku dan tas ibu.

"Iya Kang." sahut ibu pelan.

Kami bertiga naik mobil, melesat menuju kediaman pak dewan yang kini menjadi ayah tiriku.

Karena acaranya dadakan, belum ada selametan apapun untuk pernikahan ibu dan pak Sofyan, katanya nanti saja sambil agenda keliling mesjid untuk tarawih. Bagi-bagi makanan selepas tarawih.

Setibanya di rumah pak Sofyan, begitu luas dan mewah. Seperti rumah-rumah yang kulihat di TV-TV, gerbangnya tinggi, berlantai dua dengan lampu gantung besar yang indah.

"Kamu tidur di sini, Winda. Sebelahan sama kamar Rensi.. Tapi kalo agak berisik jangan kaget ya? Soalnya dia suka karoke sambil joget-joget di kamar." kata pak Sofyan.

Kuanggukkan kepala, dan memasuki kamar. Besar sekali, mungkin ukuran kamarnya hampir seukuran rumah lamaku. Catnya putih, perabotannya bagus-bagus sekali.

Aku sampai sungkan duduk di ranjangnya, empuk dan beraroma wangi.

"Dedek, liat.. Kita mau tidur di kasur bagus." bisikku pada si kecil di dalam perutku.

Entahlah harus senang atau bagaimana, rasanya aneh dan begitu mendadak.

Kubaringkan tubuhku, dan tak terasa aku malah tertidur. Aku bangun saat mendengar ketukan di pintu, tak lama seseorang masuk dan mengguncang tubuhku,

"Teh Winda! Ayo kita buka, udah adzan!"

Rupanya Rensi. Anak SMA itu mengenakan kaftan putih dengan payet hitam, setengah menyeretku untuk bangun dan ikut dengannya.

"I-Iya.. Sebentar, kepalaku masih pusing." keluhku. Tapi dia tak peduli dan terus menarikku keluar.

Kami menuju ruang makan, nampak sudah hadir pak Sofyan, kedua anaknya yang sudah dewasa beserta pasangan mereka, dan ibuku.

Terlihat canggung, duduk menunduk dan tidak percaya diri.

Tatapan mereka mengarah padaku, seperti ingin menelan aku bulat-bulat. Rasanya aneh, tak nyaman. Aku tak suka seperti ini.

"Bangun juga. Enak tidurnya? sampai lupa buat buka bareng." cetus Yulia. Ketus.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!