Dikira Suami Istri

Ibu menatapku dengan bingung, tak percaya mendengar pertanyaanku.

"Apa maksudnya kamu nanya gitu, Win?"

Kupalingkan muka,

"Ya itu.. Ibu seneng jadi orang kaya? Bisa belanja macam-macam, duit bulanan banyak, enggak.perlu kerja banting tulang buat bantu cari nafkah."

"Win.."

"Baru berapa hari jadi istri pak Sofyan, Ibu kayak aji mumpung. Udah enggak pernah ke dapur, setiap hari keluar belanja. Norak Bu!"

Sepasang bola mata ibu nampak basah, berkaca-kaca. Sepertinya ibu sakit hati mendengar ucapanku, namun aku harus mengatakannya.

Aku memang tak suka ibu tiba-tiba seolah jadi kacang lupa kulitnya, namun aku lebih tak suka jika orang lain yang menyebut ibu sebagai orang kaya baru yang aji mumpung.

"Win, kamu kok ngomong begitu sama Ibu?"

"Maaf kalo aku ngomongnya kasar, aku cuma enggak mau Ibu diomongin orang."

"Tapi.. Bukan Ibu yang minta, ini semua bapak yang maksa Ibu beli."

Aku tak menjawab, entahlah. Walau memang pak Sofyan yang memaksa ibu belanja ini itu. Aku tetap tak suka.

Mungkin aku cemburu, karena pikiranku masih berada di masa lalu. Saat hidup ibu dan ayahku sangat sederhana.

Jangankan belanja sampai berkantong-kantong begini, belanja satu stel baju per orang saja harus menunggu momen lebaran.

Ibu tak bicara apapun, sepertinya beliau sangat sedih dan kecewa dengan sikapku. Diambilnya salah satu kantong belanja,

"Ini, Ibu juga belikan baju buatmu. Bajumu udah lusuh-lusuh.. Ibu takut kamu minder."

Dengan ragu kuterima bungkusan itu, dan ibu memalingkan mukanya.

"Pergilah, Ibu mau mandi dulu.. Habis itu mau siap-siap masak buat nanti kita semua buka." katanya dengan nada lesu.

Aku melangkah menuju pintu keluar kamar, dan ibu memanggilku lagi,

"Asal kamu tau, Win.. Ibu tetaplah Ibu. Perempuan biasa yang berusaha selalu tunduk dan setia pada suaminya. Ibu menyayangi dan menghormati ayahmu, apapun kondisinya.."

"..tetapi sekarang Ibu adalah istrinya bapak, tentu Ibu pun harus bisa melayaninya dengan baik, sepenuh hati."

"Ada batasan di mana pengabdian seorang istri, enggak boleh terpengaruh sejarah masa lalu. Ibu berharap kamu bisa paham tentang itu, walaupun Ibu enggak bisa maksa kamu untuk ngerti semua yang Ibu lakuin ini."

Aku jadi merasa bersalah, merasa sudah jadi anak yang egois.

Tak seharusnya aku bicara sekasar itu pada ibu, dan sangat wajar jika kemudian kehidupan ibu saat ini benar-benar berbeda dari kehidupannya yang lalu dengan ayah.

Wajar jika ibu pun ingin bersenang-senang, menikmati sesuatunyang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Aku ingin minta maaf, tetapi egoku cukup besar dan akhirnya aku lebih memilih untuk meninggalkan kamar ibu.

Selepas ashar, seperti biasa aku sudah bersiap mau pergi ke bazaar, dan taraa!

Ternyata Hasan sudah nongkrong di depan gerbang, ngobrol bersama satpam.

"Hasan, kamu ke mari lagi. Mamahmu marah nanti." tegurku, dan dia malah cengengesan.

"Enggak. Ayo berangkat cepetan.. Aku ada kejutan yang harus kamu liat."

Kugaruk kepalaku yang tak gatal, kejutan apa yang dia maksud?

Sesampainya di tempat bazaar, Hasan menunjukkan hasil karyanya.

"Ayam ketumbar viral by Teh Winda. Gimana, Win? Bagus kan desainnya? Sekarang orang-orang bisa ngeliat jualan kamu dari jauh."

Muka Hasan berseri saat menjelaskan banner yang dia pasang di depan lapakku.

"Kamu.. Kamu yang bikin ini?"

"Iya, aku desain sendiri terus kucetak tadi pagi dan sekarang sudah jadi. Bagus kan? Kamu suka?"

Kuanggukkan kepala, banner dengan nuansa hijau muda itu terlihat sangat bagus dan mencolok.

"Bagus banget, ini berapa biaya bikinnya?"

"Hmm? Enggak ada, gratis."

"Ah yang bener."

"Iya, itu hadiah. Haha."

Aku tak enak hati, banner seperti ini pasti mahal.

"Hasan, jangan gitu dong. Semua-semua gratis.. Aku enggak enak lho. Kamu itu bikin aku salah paham nantinya. Nanti kalo aku keGRan gimana?"

"Yaa emang kenapa? Aku mau begini.."

Aku berniat bertanya lagi, namun seseorang menyapa dari belakang,

"Teh, baru mau buka yah?"

"Eh, iya Teh. Ini baru dateng.. Teteh mau beli?"

"Iya."

"Ohh ya udah, sebentar ya Teh. Aku aampar dulu, beresin dagangannya biar gampang milihinnya." kataku sambil tersenyum.

Dibantu Hasan, aku merapikan daganganku dan sebentar saja semuanya sudah tersusun rapi.

"Teh ayamnya enam, sama ini.. Osengnya empat, takjilnya dua aja deh."

Aku mengucap syukur dalam hati, senangnya baru buka sudah ada yang borong.

"Teh nanti kalo udah selese bazaarnya, jualan di rumah gak?"

"Aduh, kurang tau tuh Teh. Liat nanti aja, takut enggak ada yang beli nanti."

"Lho, masa gak ada yang beli? Ayamnya enak banget, Teh. Masakan yang lain juga enak-enak.. Bikin warung nasi pasti laris deh! Mana murah-murah, porsinya besar juga."

Pikiranku melayang, membayangkan aku punya warung nasi sendiri. Aku pasti bisa menghidupi anakku sendirian tanpa membebani siapapun.

Tidak ibuku, apalagi kang Iwan.

Aku akan bisa berdiri sendiri.

"Liat nanti aja deh Teh, soalnya khawatir enggak ada yang bantuin juga, takut keteteran. Hehe."

"Kan ada suaminya tuh, enak bisa usaha berdua di rumah." cetus pembeli itu sambil mengedikkan dagunya ke arah Hasan.

Aku langsung salah tingkah,

"E-eh Teh.. Ini.."

"Insyaallah ya Teh, soalnya akunya juga berlayar sih. Kasian enggak ada yang bantu nanti sendirian di rumah." Hasan malah memotong pembicaraanku.

Mukaku sudah tak jelas warnanya, malu sekali!

Aku sampai tak bisa berkata-kata lagi, Hasan juga tak mengatakan apapun. Jadilah kami canggung, serba salah.

"Maaf ya Win. Tadi ngomong begitu, bukannya apa-apa, cuma kalo misal langsung dijawab bukan, nanti pembelinya malu terus enggak balik lagi ke sini gimana?"

"Hehe, iya.. Aku cuma enggak enak sama kamu. Takutnya ada yang kenal, terus nantinya kita digosipin yang enggak-enggak."

Hasan cuma tersenyum,

"Duduk, dari tadi berdiri aja.. Emangnya gak pegel?" kata Hasan, sambil menunjuk kursi.

"Kamu kok enggak pernah ngidam-ngidam gitu, Win? Ibu hamil muda kan suka ngidam."

Aku langsung menoleh ke arah Hasan, bagaimana dia tahu?

Nampaknya Hasan juga sadar dia sudah salah bicara, dia langsung gugup,

"Kamu.. Tau dari mana?"

Hasan menggaruk kepalanya yang tak gatal,

"Ah itu.."

"Siapa yang bilang? Ibuku?"

Dia menggeleng,

"Terus dari siapa?"

"Bibiku."

Lututku lemas, Hasan tahu dari bu RT dan bu RT pasti tahu setelah melihat status-status mantan mertuaku tempo hari.

Hatiku langsung merasa nelangsa, aku pasti terlihat sangat menyedihkan.

Aku janda yang sedang hamil muda, dijelekkan mantan mertua dan mantan ipar. Semua itu pasti sudah tersebar di kampungku yang lama.

Ya allah, memalukan sekali.

Pasti Hasan bersikap baik padaku karena dia kasihan, ah.. Aku sempat berpikir dia naksir. Benar-benar tak tahu malu aku ini.

"Ah ternyata bener, Neng Winda ada di sini!"

Seseorang memanggil namaku, kudongakkan kepala dan nampak ceu Rodiah berjalan menghampiri lapakku.

"Neng! Susah banget sih buat ketemu! Itu, Euceu mau ngomongin soal cicilan panci tea!" katanya tanpa basa basi.

Aduh gusti, drama panci ini belum selesai juga?!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!