Dituduh Pura-Pura Hamil

Tak kuasa aku menahan diri, tangisku jatuh berderai tanpa bisa kutahan.

"Aku hamil? Setelah sekian lama bersama, aku sabar dan bertahan, setelah aku berhasil bebas.. Aku hamil?"

Rasanya tak adil, ini tak adil!

Kupaksa untuk berdiri, sekali lagi kutatap stik tips dengan dua garis merah di permukaannya itu.

"Tapi beneran ini dua garisnya.. Duaaa!"

Tangisku meraung, menjadi-jadi. Kubantingkan tespek ke sudut ruangan, lalu pergi ke kamar dan menangis lagi sambil membenamkan mukaku ke atas bantal.

Tak tahu berapa lama aku menangis, tapi lama sekali dan kepalaku rasanya pusing. Tak kusadari ibu pulang, membawa makanan banyak sekali.

"Win, kamu masak? Nih Ibu dikasih makanan yang ga abis dari hajjah Euis, nanti angetin ya!" perintah ibu dari dapur.

"Iya Bu." sahutku dengan suara parau.

Ibu nampaknya tak menyadari suaraku yang terdengar seperti kodok, gara-gara terlalu banyak menangis. Sepertinya ibu ke kamar mandi.

Tak berselang lama,

"Win, ini punya kamu? Kamu hamil?!"

Nada kaget terdengar dari ibu, dia masuk ke dalam kamar sambil menunjukkan tespek padaku. Wajahnya sumringah, nampak bahagia.

Aku jadi menyesal tadi sembarangan membuang tespek, sehingga ibu menemukannya.

Beliau pasti senang sekali mengetahui aku hamil, hanya saja beliau tak tahu keadaan rumah tanggaku seperti apa saat ini.

"Selamat ya Nak? Ibu bahagia banget. Suamimu udah dikasih tau?"

Kugelengkan kepala, menolak menatap ibu.

"Kenapa?"

"Enggak apa-apa." Aku masih mengelak untuk bicara.

Ibu duduk di atas ranjang, di sebelahku.

"Kamu lagi berantem sama Iwan, ya? Enggak apa-apa, kasih tau aja.. Dia pasti seneng denger kamu hamil. Suami mana sih yang enggak bahagia mau punya anak?"

Mendengar ucapan ibu tak membuatku merasa lebih baik, yang ada malah membuatku jadi makin sedih dan terluka.

"Kang Iwan enggak akan bahagia, Bu."

"Hush.. Jangan ngomong begitu, kasih tau aja dulu.. bilang kalo.."

"Kang Iwan udah nalak aku kemarin! Aku dan kang Iwan udah pisah!!"

Akhirnya tak bisa kutahan lagi, kukatakan juga yang sebenarnya pada ibuku.

Kedua bola mata ibu terbelalak sesaat, dan kulihat ibu juga menelan ludah getir. Sempat mengalihkan pandangannya ke sudut kamar, namun kemudian kembali menatapku dengan ekspresi penuh iba.

"Jadi itu alesannya kamu datang sendiri dan enggak dianter sama Iwan ke mari? Ya Allah Win, nasibmu.."

Aku menangis lagi, mataku yang sudah bengkak dan sembap makin bengkak saja jadinya.

"Enggak apa-apa, coba aja kasih tau. Gimana pun juga ini kan darah daging Iwan.. Dia tetap harus tau, siapa yang tau juga nanti malah jadi rujuk, kan?"

Kugelengkan kepala, aku sama sekali tak mau rujuk dengan lelaki itu. Lelaki yang tak menghargai aku, dan pelitnua naudzubillah!

Belum lagi mertua dan ipar-iparku, tak ada satu pun yang baik padaku.

"Bilang aja dulu, Win. Ini kabar gembira, besan juga pafi senang anak bungsunya punya anak.".

Aku kesal karena ibu masih saja memanggil emih dengan sebutan besan, ibuku sangar menghargai dan menghormati emih sebagai besan.

Sementara emih selalu menyebut ibuku dengan namanya saja, Neni, Neni. Begitu.

Ibu terus mendesakku untuk memberitahu kang Iwan, beliau meletakkan tespek di atas meja belajarku yang sudah usang.

"Kasih tau Iwan, ya? Kasian anakmu nanti kalo sampai bapaknya enggak dikasih tau."

Setelah mengatakan hal itu, ibu keluar kamar dan tak tahu pergi ke mana. Aku sendiri menatap tespek di atas meja.

"Apa harus aku kasih tau kang Iwan? Buat apa juga sebenernya. Enggak akan mengubah apapun.." batinku sambil membaringkan tubuhku di atas ranjang.

Namun tiba-tiba saja terlintas di benakku, masa depan yang bisa saja terjadi. Anakku pasti lahir dan tumbuh dengan sehat, namun dia tak punya ayah.

Kasihan, bisa-bisa dia nantinya sedih karena dibully orang anak yatim. Parahnya lagi bisa saja dianggap anak haram.

"Ah bodo amat, kukasih tau aja dulu.. Urusan dia seneng atau engga mah itu belakangan, yang penting dia tau kalo aku hamil."

Kuambil ponsel kentangku, kufoto tespek dan langsung dikirim ke nomor kang Iwan.

"Centang dua, berarti nomorku belum diblokir. Baguslah." batinku.

[Aku hamil, Kang.]

Pesan itu terkirim, namun belum dibaca sama sekali walaupun statusnya sedang online.

"Ya udahlah, enggak usah ditunggu-tunggu."

Kuletakkan HPku, dan berusaha untuk mengabaikan tindakanku barusan. Sedikit menyesal juga, sudah tahu akan diabaikan tapi masih saja mengabarkan sesuatu yang mungkin tak akan pernah membuat dia senang.

Tanpa tersadar, aku ketiduran dan saat bangun ternyata sudah waktunya shalat ashar.

"Aduh, kelamaan aku tidurnya!" batinku sambil buru-buru bangun, berniat ke kamar mandi untuk ambil wudhu.

Kepalaku pening karena terlalu lama tidur, belum lagi perutku sekarang terasa begah tak nyaman.

"Eh, chatku udah dibaca ternyata.." gumamku saat tak sengaja melihat chatku dengan kang Iwan.

Lelaki itu membaca pesanku, tetapi tak membalasnya sama sekali.

Dasar lelaki tak berperasaan, aku mengandung anaknya saja diabaikan.

"Ah, aku nungguin apa sih? Udah, selesai Win..sekarang ambil keputusan, besarin anak, cari duit yang banyak." tekadku dalam hati.

Setelah shalat, aku mencurahkan semua kekhawatiranku pada Allah. Harapanku, ingin bekerja supaya bisa membiayai anakku tanpa mengandalkan siapapun.

Tring!

Sebuah pesan masuk,

"Kang Iwan bales." batinku, sambil meraih ponsel dan ternyata bukan dia yang mengirimi aku pesan, melainkan teh Siti.

[Gimana Win, kata emih udah ada uangnya apa belum? Kalo udah, anterin aja ke emih uangnya!]

Kuhela napas, masih saja urusan uang panci. Sudah begitu malah diminta mengantarkan uangnya pula!

Aku penasaran, bagaimana reaksi mereka saat tahu aku hamil.

Kuabaikan pesan teh Siti, lantas iseng membuka status-status kontak WA-ku. Rupanya sekeluarga kompak semua membuat status, dari mulai Emih, teh Rina dan teh Siti, sampai kang Dian juga bikin status.

"Tumbenan.."

Kubuka status Emih,

[Cuih, ngaku-ngaku hamil biar bisa rujuk balik lagi. Najis.]

DEG.

Tak lain tak bukan, status ini pasti ditujukan padaku.

Kulihat status teh Rina dan teh Siti juga bernada sama, menyindir aku yang mengabarkan kehamilan pada kang Iwan.

[Kasian, saking takut enggak ada yang biayain sampai ngaku hamil. Jangan ketipu adikku yang ganteng! Perempuan kayak dia mah banyak, di pasar juga obralan!]

Status teh Rina benar-benar tajam, dan menyakitkan. Status teh Siti juga hampir sama,

[Dih kalo aku mah malu, udah ditalak tapi pura-pura hamil!]

Hatiku langsung terasa tak karuan, mau menangis pun rasanya sudah tak mampu.

"Benar kan, Win? Bener kan yang terjadi? Mereka enggak bahagia dengan kabar ini, yang ada malah dikira ngibul!"

Sayatan di dalam hatiku terasa makin dalam dan menyakitkan. Aku tak tahu bagaimana caranya supaya hati ini benar-benar ikhlas!

Kutatap barisan status WA, emih dan anak mantu kesayangan saling sahut menyahut status. Menjadikan aku bulan-bulanan mereka.

Tiba-tiba..

"Assalamualaikum? Assalamualaikum!" terdengar salam dari luar.

Seorang lelaki dengan suara yang aku kenal terdenga ada di depan rumah, apa jangan-jangan itu adalah...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!