Pacar Baru Suamiku

"Kang Iwan.." panggilku dengan suara pelan, nyaris berbisik.

Aku tak yakin harus memanggilnya atau tak usah, lagipula kami sudah bercerai walaupun baru sebatas agama.

"Ayo Neng, kamu mau beli apa buat buka nanti? Nyari es buah mau?"

Terdengar suara kang Iwan bicara dengan sangat lembut pada wanita di sebelahnya, dan wanita itu mengangkat bahu sambil tersenyum senang.

"Enggak tau, Kang. Kita liat-liat aja dulu lah."

"Ya udah, terserah Neng aja. Akang ngikut deh!"

Aku cuma bisa terdiam melihat kang Iwan dan perempuan itu, dia benar-benar terlihat berbeda. Bibirnya terus tersenyum, berjalan sambil menggandeng tangan perempuan di sebelahnya, dia juga berpakaian rapi.

"I-itu, suami kamu kan?" tanya Hasan tiba-tiba, dan aku gelagapan sendiri.

"A-anu.. Itu, iya.. Itu.."

Aku tak bisa bicara jujur, malu jika temanku tahu aku sudah ditalak cuma gara-gara masalah sepele. Kupalingkan muka, karena perempuan dengan rambut dicat pirang itu menoleh ke arah jualanku.

"Kang, ada ayam ketumbar. Beli itu aja yuk?!"

Aduh sial! Kenapa malah pengen ke mari, sih?!

Aku salah tingkah, mau kusembunyikan ke mana mukaku ini?

"Ya udah beli, mau beli berapa? Dua apa empat?"

"Banyak banget empat, dua aja cukup Kang." sahut perempuan itu dengan nada manja.

Hasan melirikku dan mata kami bersitatap sebentar, tak tahu bagaimana rupa mukaku saat ini, pasti terlihat bodoh.

"Ayam ketumbarnya dua ya Teh!" kata perempuan itu, aku meraih capitan dengan gugup.

karena tanganku gemetar, capitan itu jatuh dan ibu memungutnya.

"Biar Ibu yang layani." kata ibu dengan suara sedikit bergetar.

Kang Iwan baru sadar siapa yang jualan, wajahnya nampak jengah dan melirik perempuan necis di sebelahnya dengan khawatir.

Namun karena perempuan itu juga tak mengenalku dan ibu, jadinya dia pura-pura tak kenal kami juga.

Jelas ibu juga melihat kang Iwan dengan perempuan lain, dadanya nampak naik turun menahan amarah namun dia berusaha tetap profesional.

Ibu menggunakan capitan lain, dan mengemas pesanan pasangan kang Iwan dengan cepat.

"Enambelas ribu."

Kang Iwan menyodorkan seratus ribuan,

"Enggak ada kembalian, uang pas aja." Tolak ibu ketus, dan perempuan itu mengeluarkan uang dua puluh ribu.

"Ini Bu, sekalian kembaliannya ambil aja."

"Enggak perlu. Ini ada kembaliannya kalo cuma segini."

Ibu mengeluarkan dua lembar dua ribuan, dan menyodorkannya pada pasangan kang Iwan dengan muka jutek.

Nampak perempuan itu tak senang, namun dia tak ambil pusing dan mengajak kang Iwan pergi.

Suasana jadi terasa aneh, aku gemetar tak karuan, ibu menahan tangis karena kesal dan Hasan melongo menerka-nerka apa yang sedang terjadi.

"Pasti gara-gara dia punya perempuan lain, Win! Makanya dia nalak kamu!!" ujar ibu, di tengah usahanya menahan tangis.

"Bu.. Nanti aja kita bahas di rumah.."

"Enggak terima Ibu! Kamu ditalak begitu aja, disuruh pergi sendiri, kamu hamil juga dia enggak peduli. Ternyata dia punya pacar baru!" ibu malah semakin menjadi.

Aku tak enak pada Hasan, dan nampaknya lelaki itu juga sama-sama tak enak terjebak dalam situasi ini. Dia pamitan dengan muka canggung,

"Maaf ya?" kataku, dia menggoyangkan tangannya.

"Enggak apa, santai aja." katanya sambil pergi.

Setelah Hasan pergi, aku memeluk ibu sementara pandanganku mengarah ke arah kang Iwan dan perempuannya pergi.

Mereka sedang belanja di stand jajanan, dan mereka tertawa lebar dengan bahagia. Sama sekali tak merasa canggung, apalagi merasa bersalah.

"Ya Allah, aku tau kang Iwan enggak ada perasaan buatku sama sekali. Tapi paling enggak jangan kayak begini.. Sama sekali enggak menghargai aku, bahkan anak kami." batinku sedih.

Ibu melepas pelukanku, lalu tiba-tiba berjalan ke arah kang Iwan. Sontak saja aku kaget dan mengejarnya,

"Ibu mau ngapain?! Ibu!" panggilku.

Terlambat, ibu sudah berada di dekat kang Iwan dan menarik tangannya. Dia nampak tak suka,

"Maaf bisa bicara sebentar?" kata ibu.

"Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba begini, Bu?"

"Maaf Neng, tapi ini urusan penting antara saya dan mantan men.."

"Sebentar Neng Vera, Neng duluan aja ke sana.. Akang bentar lagi nyusul ya? Sana, ada masalah dikit." sela kang Iwan, sebelum ibu menyelesaikan kalimatnya.

Perempuan yang dipanggil Vera itu lantas menurut, walau mukanya terheran-heran.

"Apa sih?! Sengaja ya kalian mau bikin malu aku?!" hardik kang Iwan, segera setelah Vera pergi.

Aku memegangi lengan ibu, berusaha menahan takutnya ibu melakukan hal yang tak perlu dilakukan di sini.

"Kamu lelaki kurang ajar! Apa salah anakku sampai kamu talak dan kamu usir dari rumah?! Sudah begitu, anakku hamil anakmu pun enggak kamu pedulikan?! Kurang ajar!"

Ibu balas menghardik, beberapa orang di sekitr kami menoleh. Karena suara ibu cukup kencang, sehingga menarik perhatian.

"Sekarang kamu malah enak-enakan jalan sama perempuan lain?! lelaki kurang ajar!" sambungnya.

Muka kang Iwan tersinggung, dia mengernyitkan alis,

"Heh Bu, anakmu ini perempuan yang enggak tau etika! Dia melawan suami, dia kurang ajar sama mertua. Apa yang harus aku pertahankan?!"

"Apa kamu bilang? Anakku kurang ajar?!" suara ibu makin meninggi, sampai-sampai aku harus menarik tubuh ibu ke belakang karena beliau berusaha merangsek menghajar kang Iwan.

"Urusan dia hamil atau enggak, bukan urusanku. Aku enggak pernah mau punya anak dari perempuan modelan si Winda! Najis cuih!!"

Kedua kalinya aku diludahi kang Iwan, dan hatiku tak berasa apapun lagi.

"Sudah Bu, ayo pergi. Malu diliat orang.."

"Tapi Win, mantan suamimu ini harus tanggung jawab sama anakmu! Anak dia!"

"Anakku? siapa yang bisa jamin kalo itu memang anakku, hah? Siapa tau si Winda itu selingkuh sama laki lain dan hamil. Aku itu jijik nyentuh dia!"

PLAK!!

Aku melayangkan sebuah tamparan telak ke pipi kang Iwan, lelaki itu memelototkan mata sambil memegangi pipinya yang merah.

"Kamu.."

"Cukup menghinaku, Kang. Silahkan kalo kamu talak aku karena hal sepele, kumaafkan semua kelakuan jahatmu selama kita menikah, aku enggak peduli juga kalo ternyata kamu udah pacaran lagi. Tapi jangan pernah menuduhku perempuan enggak bener!"

Kuletakkan tanganku di atas perut,

"Aku bersumpah, selalu setia walau kamu sejahat itu sama aku, Kang. Janin di rahimku ini anakmu, darah dagingmu.." tangisku sudah menyumbat kerongkongan, membuatku tak bisa melanjutkan kalimatku,

"..tapi, aku enggak akan memintamu buat tanggung jawab. Aku masih mampu dan aku berjanji, kamu enggak akan pernah ketemu sama anakmu, sampai kapan pun!!"

Mendengar janjiku, malah membuat kang Iwan tertawa sinis.

"Ya silahkan, silahkan aja aku enggak peduli. Aku enggak minat ketemu sama anak yang enggak jelas siapa bapaknya itu."

Setelah mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan dan merendahkan aku, lelaki itu pergi dengan arogannya.

Meninggalkan aku dan ibu, tubuhku merosot ke atas rumput, lunglai dan tak tahu harus melakukan apa setelah ini.

"Ya Allah Nak, nasibmu.." tangis ibu pecah, dia memelukku yang terduduk dengan tatapan kosong.

Orang-orang di sekitar kami sudah kembali dengan aktivitas mereka masing-masing.

Rasanya menyedihkan, aku ingin pergi sekarang juga walau tak tahu mau pergi ke mana.

"Jangan sedih Nak, jangan sedih.. Ada Ibu, Ibu yang akan ngurus kamu. Enggak usah peduliin si Iwan!" hibur ibu dengan tangisan di kedua belah pipinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!